
Arkana menyusuri jalan raya di Negara kelahiran ayahnya, bersama Nenek dan Kakeknya. Sepanjang jalan tak henti-hentinya Arkana melontarkan pertanyaan-pertanyaan kecil kepada Oma dan Opa nya itu.
Umi dan Papa berniat mengajak Arkana untuk melihat taman kota, yang kebetulan melewati sekolah usia dini sang ayah waktu semasa kecilnya dulu.
"Disini adalah tempat Almarhum ayah mu sekolah taman kanak-kanak dulu.." ucap Papa sembari menunjukan bangunan sekolah yang sekarang sudah semakin mewah
Arkana melihatnya dengan sangat dalam, ia mengamati setiap sudut bangunan itu. Begitu juga dengan Umi. Dalam penglihatan Umi, ada bayangan semasa kecil Alfath yang sedang berlari-lari dan menaiki perosotan, sembari memanggil-manggil dirinya.
"Umiii.. Umi... Al bisa" ucap Alfath kecil, sembari tersenyum lebar
Teringat semua itu, dengan jelas masih terngiang jelas dalam telinga Umi. Tanpa sadar Umi meneteskan air matanya.
"Jangan sedih.." ucap Papa sembari menepuk pundak Umi dengan lembut
Umi dengap sigap menghapus air matanya, karena ia sadar ada cucunya yang pasti melihat kesedihannya.
"Aku hanya rindu putra ku.." ucap Umi pada Papa dengan senyum yang terlihat dipaksakan
"Ada Arkana sebagai penggantinya, ia begitu mirip dengan Al kecil.." jawab Papa sembari memperhatikan cucunya yang sedang menyusuri bangunan sekolah yang tidak terlalu besar itu.
Seketika Umi tersenyum pada Arkana yang menoleh dengan senyum manis terlukis diwajah bulenya itu.
*******
Ditaman kota Arkana begitu senang, ia bermain di play ground yang ada disana.
Menaiki perosotan, berayun-ayun dan sebagainya.
Papa yang sudah mulai renta, ia hanya bisa duduk sembari memperhatikan Arkana yang bermain dan diawasi oleh Umi, yang sembari mengabadikan setiap moment itu.
Tiba-tiba dikagetkan dengan kehadiran Shaina, Tante Arkana yang berlari kecil menghampiri Arkana.
"Arkaaa...." teriak Shaina begitu antusias saat melihat keponakannya itu bermain
Arkana seketika menghentikan permainannya, dan menoleh ke sumber suara. Begitu juga dengan Umi dan Papa langsung melihat kearah Shaina.
"I miss you, sayangnya Tante..." ucap Shaina sembari memeluk dan menciumi puncak kepala Arkana
__ADS_1
Lalu Arkana menyalami Tantenya itu, mencium punggung tangan Shaina.
"Kan kita yang akan kerumah mu.." ucap Papa dan Umi
"Aku sudah tak sabar ingin bertemu Arkana rasanya, rindu pada Kak Al ini sedikit terobati.." ucap Shaina sembari terlihat menahan tangisnya, sembari memeluk erat tubuh Arkana
Arkana hanya teridam dalam dekapan tantenya itu. Ia begitu merasakan kerinduan yang dirasakan oleh Tantenya pada Almarhum ayahnya.
Yaaa.. Semua orang begitu kehilangan sosok Alfath. Kepergian yang mendadak, tanpa pesan apapun membuat semua orang begitu terpukul. Umi dan Nisa adalah wanita yang begitu Alfath cintai, begitu merasakan kehilangan yang mendalam dan terpukul. Begitu juga dengan sanak saudara, kerabat dan semua orang yang mengenal Alfath merasa sangat kehilangan.
Kini kehadiran Arkana sedikit mengobati kerinduan pada sosok Alfath, wajah Arkana yang semakin besar, semakin terlihat mirip dengan sosok ayahnya pun terlihat jelas.
Semua orang menganggap Arkana adalah Alfath kecil, besar harapan semua orang terhadap Arkana.
*******
Sementara Nisa di Indonesia, ia tetap beraktivitas seperti biasa. Karena sekolah libur, kini Nisa hanya mengisi kajian-kajian di beberapa pengajian Ibu-Ibu.
Nisa baru saja selesai mengisi kajian disebuah madrasah kampung, ia masih tertegun dalam lamunan, ia masih belum beranjak dari tempat duduknya.
"Bu Annisa..." ucap Tiara pengantin baru, yang masih berumur muda
"Bu Annisa, saya ingin ngobrol-ngobrol sebentar dengan Ibu, bisa?" tanyanya dengan sopan, sembari memegang tangan Nisa seakan memohon
"Boleh dong.. Silahkan saja.." jawab Nisa dengan ramah
"Bu.. saya tahu cerita ibu, bagaimana perasaan Ibu setelah ditinggal suami tercinta?" tanya Tiara sembari terus memegang tangan Nisa
"Perasaan saya..." jawab Nisa terhenti, Nisa membalas memegang tangan Tiara
"Amat kehilangan, saya tidak bisa pungkiri itu.." lanjut Nisa dengan mata yang berkaca-kaca
"Tapi Ibu bisa terlihat tegar sekali.." ucap Tiara
"Saya rapuh dihadapan Allah, saya rapuh saat sendiri.. Tapi saya harus tegar dihadapan orang banyak.." jawab Nisa sembari memaksakan senyum diwajahnya
"Masya Allah.." ucap Tiara kemudian memeluk tubuh Nisa perlahan
__ADS_1
Nisa membalas pelukan itu dengan hangatnya, air matanya menetes tanpa Tiara tahu.
"Lalu Ibu sekarang memilih untuk tetap sendiri?" tanya Tiara dengan penasaran
"Iyaaa.. Saya tidak ingin menikah lagi, saya hanya ingin sesurga bersama suami dan anak kami nanti. Lagi pula hati ini mati rasa sepertinya..." jawab Nisa mengungkapkan isi hatinya
Tiara begitu merasa kagum dengan Nisa, Tiara terus memandang mata Nisa sangat dalam.
"Bu Annisa, saya ini adalah istri dari Mas Azam dosen pengajar di kampus" ucap Tiara tiba-tiba mengejutkan Nisa
Nisa begitu terkaget-kaget mendengarnya, seketika ia menoleh kearah Tiara, menatapnya dalam-dalam.
"Saya tahu cerita Bu Annisa dengan Mas Azam.." lanjut ucap Tiara, seketika wajahnya tertunduk
Lagi-lagi Nisa kaget mendengarnya, Nisa tak dapat berkata-kata rasanya. Nisa hanya memandangi wajah Tiara yang kini hanya tertunduk dihadapannya.
"Mbak Tiara.." ucap Nisa dengan suara lirihnya
Seketika Tiara menaikan wajahnya yang sedari tadi tertunduk, kembali mencoba menatap Nisa.
"Selamat atas pernikahannya dengan Kak Azam.. Semoga berjodoh sampai di Jannah-Nya Allah..." tiba-tiba ucap Nisa sembari memegang tangan Tiara dengan lembut
Sebenarnya Nisa juga tidak tahu kapan mereka Nikah, tapi Tiara memberi tahu bahwa sekarang sudah menjadi istri dari Azam.
"Terimakasih Bu Annisa.. Pantas saja Mas Azam pernah menyukai Bu Annisa, Bu Annisa adalah wanita sholeha, orang yang baik.." jawab Tiara sembari membalas sentuhan tangan Nisa
"Mungkin sekarang Mas Azam tidak beruntung menikahi saya, saya yang masih perlu banyak di bimbing..." lanjut ucap Tiara sembari menundukan pandangannya
"Kak Azam beruntung mendapatkan mu, wanita yang mau menerima semua baik buruk, lebih kurang, dan masa lalunya Kak Azam.. Tidak ada yang tidak beruntung.." ucap Nisa memberikan semangat
"Tapi Mas Azam dulu menyukai Bu Annisa, jauh levelnya dengan saya, saya tidak ada apa-apanya, saya tidak sebanding dengan Bu Annisa, pasti Mas Azam kecewa.." ucap Tiara merendah sembari mulai deras air matanya
"Jangan berkata seperti itu. Jodoh adalah takdir yang sudah Allah tetapkan, walau dulu Mas Azam pernah menyukai saya, tapi kita tidak berjodoh, dan berjodohnya dengan Mbak ini..." jawab Nisa terhenti seketika karena melihat sosok pria datang yang menghampirinya bersama Tiara didalam madrasah itu
"Betul kata Nisa, aku beruntung menikahi mu. Kamu mau menerima baik buruk ku, kekurangan juga kelemahan ku. Kamu adalah jodoh yang sudah Allah tetapkan untuk ku. Jikalau kamu belum baik, mari kita perbaiki bersama.." ucap Azam tiba-tiba mengejutkan
Tiara terkaget, karena tiba-tiba suami yang ia nikahi beberapa hari lalu kini ada dihadapannya.
__ADS_1
Nisa dengan senyumannya, berdiri bersama Tiara, dan membiarkan Tiara memeluk Azam suaminya.
"Aku bahagia melihat pemandangan ini" ucap Nisa dalam hatinya, sembari terus tersenyum melihat keduanya