Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 42


__ADS_3

Arka yang semakin tak nyaman berada dirumah karena kehadiran Aira yang membuatnya merasa tak enak hati. Semakin hari tak mampu menghindari Aira yang selalu ada. Setelah kejadian hari itu, Aira terlihat jelas menghindari Arka, tak lagi berusaha untuk berbicara apapun pada Arka. Aira hanya fokus pada sosok Umi, majikannya. Aira tidak meninggalkan pekerjaannya karena ia harus menyelesaikan kuliahnya yang tertunda dan butuh biaya.


Arka sangat merasa tidak enak hati pada Aira, ia tahu Aira sudah menangis gara-gara perkataannya. Arka masih tetap memperhatikan Aira diam-diam, perasaannya untuk Aira memang belum hilang sepenuhnya. Arka melihat pemandangan Aira yang sedang belajar mengaji bersama Umi, terlihat Umi yang juga sangat senang.


"jim.. haa.. kho.." ucap Aira dengan cadelnya


"Nah iya betul.." ucap Umi sembari memperhatikan buku Iqro yang ia pegang


Aira dan Umi lalu tertawa kecil bersama.


"Aira ini yang aku suka dari mu, mau belajar, penurut, dan kamu adalah sosok wanita kuat" ucap Arka dalam hati dengan terus memperhatikan Aira dan Omanya


"Astagfirullah! Apa-apaan aku ini! tidak! tidak! Arkaaaa kamu haru memikirkan perasaan Zahra, wanita yang sudah kamu ajak taaruf, itu sudah bukan main-main lagi!" lanjut ucap Arka dalam hatinya, ketika menyadari semuanya.


Arka terburu-buru masuk kedalam kamarnya, ia semakin resah tak karuan jika harus melihat sosok Aira dirumahnya setiap hari begini. Arka merebahkan tubuhnya dikasur, tiba-tiba ponselnya berbunyi, bertandakan pesan masuk, dengan cepat Arka membukanya, ternyata pesan itu dari Azam ayahnya Zahra.


"Assalamu'alaikum nak Arka, Bagaimana kabarnya? Saya ingin memberi kabar, hari ini Zahra dirawat di rumah sakit, minta doanya yaaa" pesan WA Azam pada Arka


Seketika Arka terkaget, ada apa sebenarnya, sakit apa Zahra. Dengan cepat Arka langsung menghubungi Azam melalui sambungan teleponnya.


"Assalamu'alaikum Pak.." ucap Arka mendahului ketika sambungan teleponnya diterima oleh Azam


"Walaikumsalam nak Arka.." jawab Azam dengan cepat


"Zahra sakit apa Pak? Dari kapan sakitnya?" tanya Arka bertubi-tubi penasaran


"Kata dokter DBD, demamnya sih sudah seminggu cuma Zahra menolak dibawa kedokter, tapi tadi pagi ia semakin drop jadi kami paksa ke dokter, ternyata harus dirawat" jawab Azam menjelaskan

__ADS_1


"Innalillahi.. Lalu bagaimana sekarang keadaannya Pak? Apa sudah membaik?" lanjut tanya Arka mengkhawatirkan


"Alhamdulillah sekarang sudah sedikit membaik, nak Arka. Maaf ya saya mengabari berita seperti ini, bukan ingin membuat mu kepikiran, sebenarnya Zahra menolak untuk memberitahukan kondisi ini pada Nak Arka, katanya takut mengganggu pekerjaan Nak Arka.." ucap Azam panjang lebar


"Alhamdulillah kalau sudah membaik, semoga lekas sembuh.. Iya Pak tak apa, maaf Arka juga tidak bisa datang menjenguk" ucap Arka pada Azam


Setelah lama berbincang-bincang dengan Azam, akhirnya sambungan telepon itupun dimatikan. Arka langsung menghubungi Ibunya untuk mewakilkan dirinya menjenguk Zahra dirumah sakit, Nisa yang juga baru diberitahu langsung panik, dan memutuskan untuk langsung ke rumah sakit. Sesampainya dirumah sakit, Nisa menghubungi Arka melalui Video call. Zahra langsung dengan cepat memasang cadarnya karena malu.


Dengan sengaja Nisa memberikan kesempatan untuk Arka dan Zahra saling berbicara, Azam dan Tiara hanya memperhatikannya.


"Assalamu'alaikum Zahra.." ucap Arka dengan lembut


"Walaikumsalam Kak Arka.." jawab Zahra dengan suara yang lemah


"Bagaimana sekarang kondisi mu? Sudah membaik?" tanya Arka perhatian pada Zahra


"Alhamdulillah, cepat sehat kembali yaaa.." ucap Arka mengungkapkan harapannya


"Insya Allah.. Mudah-mudahan yaaa, kak Arka jaga kesehatan juga disana.." ucap Zahra pada Arka


"Iya Zahra.." jawab Arka


"Jangan mengkhawatirkan yaaa, aku pasti sembuh" ucap Zahra pada Arka


Arka hanya membalas senyuman, lalu sambungan video call itu dimatikan. Aira yang tidak sengaja mendengar percakapan itu jadi semakin yakin bahwa Arka sudah memiliki pasangan. Dengan cepat Aira berjalan menuju dapur, saat mendengar langkah kaki Arka didalam kamarnya.


Arka lalu berpamitan pada Omanya untuk pergi keluar, untuk menjemput Tante dan Omnya di Bandara.

__ADS_1


Shaina sudah kembali dari Turki, ia langsung menemui Umi dan Arka keponakannya itu.


Waktu sudah malam, kebetulan Aira sudah pulang meninggalkan rumah mereka.


Kini waktunya Shaina dan Alif untuk membicarakan semua rasa ketidak nyamanan Arka.


"Umi.. tinggallah dirumah Shaina, jadi tidak perlu lagi mempekerjakan orang yang menemani.." ucap Shaina dengan sangat lembut


"Iya Umi, kami yang akan merawat Umi, menyiapkan segala kebutuhan Umi.." tambah Ucap Alif meyakinkan


Umi terlihat hanya terdiam, begitu juga dengan Arka, ia tak berani berbicara dulu.


"Kalian kan repot dengan urusan kalian, biarlah Umi disini saja. Semenjak ada Siti, Umi kembali betah tinggal di Inggris.." ucap Umi pada Shaina juga Alif


Arka terlihat begitu panik, lagi-lagi Omanya mengungkapkan tentang sosok Aira.


"Oma, apa Oma mau tinggal di Indonesia bersama Ibu?" tanya Arka, membuka suara


"Oma mau sekali, Oma ingin dekat juga dengan menantu Oma.. Tapiii, Oma tidak ingin merepotkannya.." jawab Oma dengan cepat


"Umi tidak akan merepotkan kami anak Umi.. Justru Umi tidak enaklah pada Siti, dia orang lain walau dia dibayar sekalipun.." ucap Shaina


"Tolong Umi, biarkan ku berbakti pada mu.." lanjut ucap Shaina yang mulai berkaca-kaca


Umi hanya melemparkan senyum manisnya, ia memegang tangan putrinya yang duduk di sampingnya itu.


Shaina kemudian memeluk tubuh Umi, yang kini mulai renta itu.

__ADS_1


Umi mulai setuju dengan keinginan Shaina dan Alif.


__ADS_2