Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 76


__ADS_3

Di dalam mobil, Anjani terdiam, pikirannya kemana-mana, terbesit dalam ingatannya sewaktu tadi ia memberikan segelas air minum pada Arka. Tak terbendung lagi, senyumnya terus mengembang, menyungging dengan jelas di wajahnya.


"Kak Arka terlihat tampan sekali yaaa.." ucap Anjani dalam batinnya


"Zahra selalu mendapatkan sesuatu yang lebih dari ku" lanjut ucap Anjani dalam batinnya. Tiba-tiba wajahnya menjadi muram.


Perjalanannya sudah hampir tiba, kini dihadapkan dengan pertigaan. Supir yang tak tahu jalannya, mencoba bertanya pada Anjani yang sedang larut dalam lamunannya itu.


"Maaf Mbak ini jalannya yang mana ya?" tanya supir dengan sangat sopan


Anjani tak mendengarnya karena sedang larut dalam lamunannya akan Arka dan Zahra.


"Mbak.." ucap supir dengan sedikit tegas berharap di dengar


"Eh iya Pak.." jawab Anjani terkesiap


"Ini lewat mana Mbak jalannya?" tanya Supir lagi tanpa pedulikan Anjani yang terkaget


Anjani lalu menunjukan jalan hingga menuju kerumahnya.


------


Pagi menyapa, setelah Sholat subuh Nisa dan Zahra terlihat sibuk di dapur dengan membuat sarapan bersama. Nisa yang kekeuh ingin membantu Zahra, membuat Zahra tak bisa menahannya.


Seperti biasa, Arka akan berangkat ke kantor. Ia selalu turun keruang makan dengan baju yang sudah rapi, yang sudah di siapkan istrinya, tentunya.


"Selamat pagi Bu.. Selamat pagi istriku.." ucap Arka dengan sangat manis pada kedua wanita spesial dalam hidupnya itu


"Selamat pagi Nak..'" jawab Nisa dengan cepat


Zahra masih terdiam, wajahnya selalu memerah terlihat malu karena di perlakukan seperti itu oleh suaminya di depan ibu mertuannya.


Arka lalu duduk di kursi makan biasa. Lalu dengan cepat Zahra melayani suaminya dengan menyendoki makanan ke piring suaminya, lalu menuangkan teh hijau hangat ke cangkir suaminya.


Seusai sarapan, Arka belum beranjak dari duduknya, ia ingin berbincang-bincang dulu dengan kedua wanita berharga dalam hidupnya itu.


"Bu.. Arka sedang menjalankan kerjasama dengan PT. Hanjaya.. Tuan Hanjaya sedang sakit parah, dan Risa dia memohon-mohon untuk Arka membantunya" ucap Arka pada Nisa yang juga pemilik dari perusahaan Swain


"Iya tidak apa, kau jalani saja.. Sebaiknya kau juga berhati-hati, Risa terlihat licik" jawab Nisa menanggapi


"Iya Mas.. Kamu hati-hati yaaa.." ucap Zahra yang merasa khawatir karena traumanya masih saja ada.


Setelah lama berbincang-bincang, Arka berangkat ke kantor dengan sengaja agak telat. Jam 9 pagi Arka baru menuju kantornya.


Sesampainya di kantor Arka mendapat laporan dari Yusuf bahwa Rio sedang turun tangan mengurus kerjasama dengan PT. Hanjaya. Arka lalu masuk kedalam ruangannya, dan duduk di kursi kebesarannya dengan berkas-berkas yang sudah menumpuk di hadapannya itu.


"Itu semua adalah laporan kerjasama dengan Tuan Rivans" ucap Yusuf sembari menunjuk semua berkas-berkas itu


Arka lalu membukanya satu persatu, lalu mempelajarinya dengan sangat cermat.


Yusuf yang sudah kembali ke ruangannya, tiba-tiba menerima telepon dari Haris asisten pribadi Risa, yang megabarkan kondisi Tuan Hanjaya.


"Pak Yusuf, tolong sampaikan pada Tuan Arka, kondisi Tuan Hanjaya semakin memburuk.. Kalau bisa Tuan Arka jenguki dulu sekarang" ucap Haris mengabarkan


Yusuf tercengang mendapatkan berita itu, ia sebenarnya tidak perduli hanya saja Arka sudah berjanji pada Risa. Yusuf tahu Arka adalah seseorang yang selalu menepati janjinya.


Yusuf lalu memutuskan untuk memberitahukan Arka akan kabar ini dengan cepat.

__ADS_1


"Ada apa kau kembali?" tanya Arka yang melihat yusuf kembali keruangannya itu


"Hem.." ucap Yusuf tertahan karena dirinya ngosngosan


"I-i-itu Ka.. Tuan Hanjaya semakin drop, Haris mengingatkan kita untuk menjenguknya" lanjut ucap Yusuf memberitahukan


Arka terkaget medengar kabar berita itu. Ia memang janji untuk menjenguk Tuan Hanjaya, tapi belum tahu kapan untuk kesana. Setelah mendengar kabar ini, Arka lalu dengan tergesa-gesa bergerak cepat untuk menjenguk Tuan Hanjaya.


"Innalillahi.. Ayo antar aku kesana" ucap Arka pada Yusuf


Yusuf dengan cepat mengikuti langkah Arka yang lebih dulu keluar dari ruangannya itu.


Tuan Hanjaya di rawat di rumah, karena sudah terlalu lama di rawat di rumah sakit membuatnya merasa bosan, akhirnya Tuan Hanjaya memilih untuk di rawat di rumah saja dengan menyewa tenaga medis dan beberapa alat canggih untuk menopang hidupnya.


Arka dan Yusuf tiba di rumah yang sanga besar, mewah bak istana. Para penjaga pintu yang sudah tahu akan kedatangan Arka, tuan muda dari perusahaan Swain, orang yang dianggap penting, membuat Arka sangat di hormati oleh para pelayan disana.


Arka lalu dipersilahkan masuk kedalam, dan di antar menuju kamar Tuan Hanjaya yang berada di belakang menghadap keluar halaman belakang, kamar dengan tembok kaca membuat pemandangan terlihat jelas dari kamar rawat yang mewah itu.


Arka lalu masuk kedalam setelah matanya melirik sana sini melihat seisi rumah, banyak lukisan, foto-foto keluarga Risa yang bersama kedua orangtuanya itu, juga ada beberapa pelayan yang terlihat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


"Assalamu'alaikum.." ucap Arka dengan sopan, dan melihat tubuh Tuan Hanjaya yang lemah tak berdaya di atas kasurnya


"Wa-lai-kum-sa-lam.." jawab Hanjaya dengan terbata-bata dan susah payah


"Tuan.." sapa Arka dengan sentuhan lembut di tangan keriput yang lemah itu


"Halo Tuan Arka.." ucap Hanjaya dengan susah payah, menyapa Arka dengan senyum tersungging diwajahnya.


"Cepat sembuh Tuan, karena perusahaan tuan dengan kami sedang bekerjasama.." ucap Arka memberitahu kabar baik


"Oya? Kenapa kau mau membantu ku?" tanya Hanjaya dengan perasaan tak percaya


"Hah.. Saya tidak mengerti dengan Risa.." tiba-tiba ucap Tuan Hanjaya setelah membuang nafasnya dengan kasar.


"Ada apa Tuan?" tanya Arka penasaran


"Risa malah pergi kembali ke luar Negri bukan? Dan meninggalkan ku.. Tidak lagi memperdulikan aku" ucap Hanjaya dengan cairan bening yang mengalir perlahan jatuh ke pipinya


Arka terdiam seketika, ia ingat bahwa Risa yang sedang di penjara akibat ulahnya sendiri, jikalau Tuan Hanjaya tahu akan membuatnya semakin terpuruk dan kondisi yang memburuk.


"Aku akan menyuruhnya pulang, Tuan tenang lah.." tiba-tiba ucap Arka pada Tuan Hanjaya


"Masya Allah.. Terimakasih Tuan Arka... Kau sangat baik sekali..." jawab Hanjaya dengan senyum mengembang diwajahnya


"Sama-sama Tuan.. Cepatlah sembuh, perusahaan mu akan bangkit kembali, pasti akan membutuhkan mu" ucap Arka memberi semangat pada Tuan Hanjaya itu


Tak lama Arka berpamitan untuk pulang, setelah memberikan semangatnya untuk tuan Hanjaya. Arka kembali masuk ke dalam mobilnya bersama dengan Yusuf.


"Arkana seorang pengusaha muda yang sangat baik, jika aku mati dia pasti bisa mengurus semuanya untuk mengambil alih perusahaan ku, tidak seperti Risa.. Apa dia sudah menikah dengan orang lain ya? Ahh tidak mungkin, tidak pernah dengar berita pengusaha muda itu menikah. Akan ku jodohkan saja dengan Risa..." ucap Tuan Hanjaya dalam batinnya


Arka memang belum pernah menggelar pesta pernikahan yang mengundang banyak orang, dulu menikah dengan Zahra hanya Akad Nikah dan syukuran biasa yang sangat sederhana di rumah Zahra, tentunya tak banyak kolega yang tahu, karena saat itu Arka sedang sibuk dengan kuliahnya, lalu kembali ke Indonesia dihadapkan lagi dengan kesibukan lain. Membuatnya tak terbersit untuk mengadakan pesta resepsi pernikahan.


--------


Dirumah-


Seperti biasa Anjani ketagihan untuk datang berkunjung kerumah Zahra. Kini dengan dalih memiliki resep baru untuk di coba.

__ADS_1


Tentu saja Zahra mau, karena dirinya semenjak kejadian penculikan waktu itu belum pernah lagi keluar rumah, rasa trauma yang masih ada dan Arka yang belum mengizinkannya juga, membuat Zahra memang butuh teman untuk berdiam di rumah.


Anjani membawa bahan-bahan kue untuk resep yang akan ia coba dengan Zahra.


Anjani selalu datang setelah jam pulang sekolah karena selesai mengajar.


Zahra lalu mengajak Anjani untuk masak di dapur seperti biasa, sementara Nisa lebih sering bersantai dengan membaca Al-qur'an kecil miliknya atau mendengarkan murotal dari radio.


Seperti biasa Anjani dan Zahra sangat akrab membuat keduanya selalu tertawa bersama, mengenang masa lalu saat sekolah, dan masih banyak lagi.


Tak lama resep kue brownis meleleh yang mereka buat sudah jadi. Zahra lalu menghidangkan untuk Ibu mertuanya dulu yang sedang duduk di teras halaman belakang rumah. Sementara Zahra dan Anjani akan menikmatinya di taman belakang rumah dekat dengan kolam berenang.


Anjani dan Zahra saling bercerita satu sama lain, termasuk menceritakan dulu pernikahannya dengan Arka.


"Kok kamu bisa mengenal Kak Arka? " tanya Anjani yang memang tidak tahu cerita awalnya


"Mas Arka itu anak temen Abi, Jadi Ibu mertua ku itu teman kuliahnya Abi.. Gitu" jawab Zahra dengan wajah polosnya


"Oh gitu, tahu-tahu kau sudah menikah saja.. Tapi waktu itu aku tidak datang jadi tidak tahu kau menikah dengan siapa" ucap Anjani setelah menelan sesuap kue


"Iya, karena aku dan Mas Arka hanya Taaruf, itupun hanya sebentar. Mas Arka harus kembali ke Inggris, jadi taaruf pun tidak terlalu sering berkomunikasi" ucap Zahra menceritakannya


"Oh gitu.." jawab Anjani sembari mengangguk-anggukan kepalanya


"Lalu bagaimana dengan mu, apa kau tidak ingin segera menikah?" tanya Zahra dengan sedikit bercanda


"Inginlah, tapi sampai sekarang belum ada juga tuh laki-laki yang mengajak ku taaruf.." ucap Anjani dengan nada sedihnya


"Kau selalu bernasib lebih baik dari ku, sewaktu zaman sekolah kau selalu berprestasi membuat kau di unggulkan, sementara aku terlupakan, sekarang kau sudah menikah dengan pria tampan seorang pengusaha muda juga, sementara aku..." lanjut ucap Anjani dengan raut wajah sedih, dan ucapan yang terhenti


"Kamu jangan bicara gitu dong.." ucap Zahra lalu memeluk Anjani


"Jujur saja aku menyukai suami mu.." ucap Anjani dengan pelan


Seketika Zahra terdiam, ia melepaskan pelukannya dari tubuh sahabatnya itu perlahan. Zahra begitu kaget mendengar pengakuan sahabatnya, matanya membulat seakan-akan tak percaya dengan yang di ucapkan oleh Anjani itu, dengan susah payah ia mencoba menelan salivanya.


"Tapi.. kenapa suami ku?" tanya Zahra tak percaya


"Kau tenang saja, sedari dulu aku tidak pernah merebut semua milik mu bukan? Aku hanya mengungkapkannya saja.." jawab Anjani dengan senyum tipis diwajahnya


Zahra masih saja terdiam, jujur saja ia merasa tak enak dengan ungkapan perasaan sahabatnya ini.


"Semoga jodoh mu lebih baik segalanya dari Mas Arka, yaaa" ucap Zahra mendoakan


"Aamiin.. Insya Allah" jawab Anjani dengan senyumnya


Anjani lalu pulang karena waktu yang semakin sore, Anjani yang berharap bisa ketemu Arka itu pun tak bertemu. Sewaktu berjalan keluar rumah ia melihat mobil suami sahabatnya itu sudah terparkir.


"Kak Arka sudah pulang? Kok kita tidak bertemu didalam.." ucap Anjani dalam batinnya sembari berjalan keluar gerbang karena taxi online yang ia pesan sudah tiba


Zahra kembali masuk kedalam, sebenarnya ia pun tak tahu kalau suaminya sudah pulang, karena sedari tadi ia asik bersama sahabatnya itu. Zahra lalu mencari Arka ke dalam kamar, dan benar saja Arka sudah berada di dalam kamar.


"Mas sudah pulang, kok aku tidak tahu?" tanya Zahra sembari mencium punggung tangan suaminya itu


"Sudah sayang.. Mulai besok Anjani jangan main kemari lagi yaaa.." ucap Arka dengan tegas


Zahra sungguh kaget dengan perilaku suaminya itu. Kemarin sewaktu bertemu Anjani suaminya biasa saja, bahkan membolehkan Anjani untuk sering-sering main, tapi kini melarangnya

__ADS_1


"Ada apa memangnya Mas?" tanya Zahra tak mengerti


Arka masih terdiam, ia sedang membuka sepatunya.


__ADS_2