Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 55


__ADS_3

Arka dan Zahra baru saja istirahat di kamar Resort. Arka membuka jas, lalu melonggarkan dasinya, dan membuka kancing kemejanya. Terlihat wajahnya kusut, penuh dengan kebingungan. Zahra memperhatikannya sedari tadi. Kini Arka merebahkan tubuhnya di atas kasur, berguling ke kiri dan ke kanan. Jelas sekali tampak beban di raut wajahnya. Zahra memperhatikannya dari cermin, karena kini ia sedang duduk menghadap cermin di meja rias.


"Mas.. kenapa?" ucap Zahra sembari menghampiri Arka, setelah melepas jilbab dan cadarnya


Arka seketika menoleh ke arah istrinya itu, raut wajahnya masih di tekuk.


"Aku sungguh bingung sayang.." ucap Arka lalu mengelus Zahra yang kini wajahnya berhadapan dengannya cukup dekat


"Aku tidak akan menghalangi langkah mu untuk cita-cita mu, Mas.. Aku akan mendukung mu sepenuh hatiku" ucap Zahra yang masih tetap mendekatkan wajahnya dengan wajah suaminya itu dan membiarkan rambutnya terurai di kasur


Arka hanya tersenyum tipis, lalu mencium Zahra dengan sangat mesra.


*****


Nisa yang juga sedang beristirahat di Bungalow, tiba-tiba merasa kesepian. Ia melihat keluar jendela, banyak sekali pasangan yang juga sedang berlibur disini, dan bermain dipantai.


"Mas, sungguh aku sangat merindukan mu.." ucap Nisa pelan, bibirnya bergetar


"Harusnya kita menghabiskan masa tua bersama, berdua lagi, setelah anak kita menikah. Sekarang aku sendirian, aku sangat rindu kamu" ucap Nisa air matanya mulai meleleh, membasahi pipinya


Nisa merasa semakin sesak dadanya ketika melihat beberapa orang yang bersama dengan pasangannya menikmati angin pantai. Nisa merebahkan tubuhnya, ia membuka foto suaminya dari dalam dompet.


"Terkadang aku merasa iri ketika melihat pasangan yang bisa hidup tua bersama, dengan pasangannya Mas.. Aku butuh kamu" ucap Nisa sembari terus memandangi foto suaminya, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Nisa yang kelelahan setelah acara tadi, juga mata sembab yang sudah menangis itu, membuatnya tertidur sembari memeluk foto suaminya.


Nisa yang tak sadar membuatnya masuk kedalam alam mimpi


*Mimpi Nisa


Nisa menggunakan baju serba putih, entah kenapa baju itu terasa sangat bersinar pikirnya. Tempat yang begitu asri, sejuk, dan sangat damai. Nisa berjalan menyusuri sebuah sungai dengan air yang jernih, arus yang sangat tenang. Sesekali Nisa menyentuh airnya, begitu terasa dingin menyegarkan. Tiba-tiba ia sampai di tempat bertaburan bunga dekat dengan sungai. Dirinya terpana melihat semua keindahan bunga yang tumbuh dengan warna-warni.


Nisa menyentuh bunga-bunga itu dengan lembut.


Tiba-tiba ia terkaget dengan seikat buket bunga cantik yang kini ada dihadapannya. Nisa mencoba melihat wajah yang menyodorkan bunga itu.


"Mas Alfath?" ucap Nisa dengan sangat bahagia, lalu dirinya memeluk erat tubuh suaminya itu


"Iya, Sayang.." ucap Alfath dengan senyum terindahnya

__ADS_1


"Aku sangat merindukan mu, Mas.." ucap Nisa dengan tak melepaskan pelukannya


"Aku juga sangat merindukan mu, istri ku.. Aku disini menunggu mu, untuk hidup bersama lagi" ucap Alfath sembari menatap dalam mata istrinya itu


"Teruslah menjadi wanita kuat, aku menunggu mu disini, menunggu bidadari ku" lanjut ucap Alfath


Nisa hanya tersenyum, lalu kembali memeluk erat lagi tubuh suaminya, dan menghirup aroma wangi tubuh suaminya.


*****


Nisa tersadar semua itu hanyalah mimpi. Air matanya kembali menetes.


"Astagfirullah.." ucap Nisa yang terbangun, langsung terduduk


"Semua itu seperti nyata Mas.. Wangi aroma tubuh mu membuatku seperti nyata dipelukan mu.." lanjut ucap Nisa dengan tersenyum, dan air matanya tetap menetes, sembari terus memandangi foto Alfath yang ia pegang sedari tadi.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Nisa mencoba menghapus air matanya, lalu memasang cadarnya.


"Bu.." teriak Arka dari luar


"Iya sebentar.." jawab Nisa sembari terburu-buru berjalan mendekat ke pintu masuk


"Assalamu'alaikum Bu.." ucap Arka dan Zahra bersamaan lalu mencium tangan Nisa bergantian


"Mari masuk.." ucap Nisa mempersilahkan masuk


Arka dan Zahra lalu masuk kedalam. Kamar yang sangat rapi, Nisa tak mengeluarkan semua barang bawaanya, hanya koper yang terbuka di kursi.


Arka memperhatikan wajah Ibunya itu, matanya jelas terlihat sembab, mukanya sedikit memerah. Begitu juga dengan Zahra, ia memperhatikan wajah Ibu mertuanya itu.


"Bu.. Ibu sakit?" ucap Zahra dengan perhatian sembari mendekat ke arah Ibu mertuanya itu


"Ibu tidak apa-apa Nak.." jawab Nisa dengan senyum dipaksakan, dan kembali memegang tangan Zahra yang ada dipundaknya itu


"Ibu sudah menangis kan?" tanya Arka dengan terus menatap Ibunya itu


"Ibu tidak apa-apa, sayang.." jawab Nisa mencoba menenangkan


"Cerita Bu, sebenarnya ada apa?" tanya Arka sedikit mendesak karena sangat khawatir

__ADS_1


Nisa hanya terdiam, duduk di sofa bersampingan dengan Zahra itu. Arka melihat di kasur ada foto ayahnya. Lalu Arka mendekat dan mengambil foto itu.


"Ibu rindu pada Ayah?" tanya Arka sembari memandangi foto ayahnya itu


Air mata Nisa mulai menetes lagi, membasahi pipinya. Cadar yang sudah dibuka sedari tadi anaknya masuk, semakin tak bisa membohongi anaknya itu.


"Buuu.." ucap Arka dengan lembut, lalu mendekat pada Ibunya itu dan berdiri dengan lututnya di hadapan Nisa


"Iya sayang.. Ibu merasa kesepian saja tadi, terkadang Ibu merasa iri pada pasangan yang tua bersama, sementara Ibu di masa tua harus seorang diri, menghabiskan waktu seorang diri, semakin tua cuma butuh teman ngobrol, tapi sayangnya Allah sudah berkehendak lain.." ucap Nisa dengan suara yang sangat lirih


"Tadi Ibu sempat tertidur, Ibu mimpi ketemu Ayah.. Ah mungkin karena terlalu rindu.." lanjut ucap Nisa dengan senyum yang tersungging di wajahnya


Arka lalu memeluk tubuh Ibunya itu, air matanya mulai meleleh. Sedari dulu Arka sangat tidak bisa melihat Ibunya menangis, apapun alasannya Arka selalu ikut menangis.


Zahra melihatnya begitu merasa terenyuh, hatinya bergetar ketika tahu suaminya pun mulai menangis dipelukan Ibunya itu.


"Buu.. Arka janji, Arka tidak akan meninggalkan Ibu sendirian lagi.. Arka akan selalu menemani Ibu" ucap Arka sembari menyeka air matanya


Nisa hanya mengelus kepala Arka dengan lembut, memandangnya dengan dalam. Wajah Arka yang sangat mirip dengan Almarhum suaminya sewaktu muda saat pertama kali menikahinya, membuatnya tak kehilang suaminya jika bersama dengan Arka putranya itu.


Arka lalu memeluk kembali tubuh Ibunya itu, kali ini ia begitu tegar, air matanya sudah tak jatuh lagi.


"Zahra, ini ayahnya Arka.. Arka sangat mirip sekali dengan Almarhum ayahnya.." ucap Nisa sembari melihatkan foto Alfath yang ada ditangan Arka


"Aku juga tidak mengenalinya, aku ditinggalkan olehnya saat masih bayi, Iyakan Bu?" ucap Arka pada Zahra, lalu meyakinkan pada Ibunya


"Iya, Arka adalah anak yang diinginkan oleh Mas Alfath.." ucap Nisa dengan senyum yang tersungging di wajahnya


"Walau aku tak mengenal langsung sosok Ayahku, tapi aku begitu jatuh cinta pada dirinya, dengan semua cerita tentang ayah, bukan hanya dari Ibu, tapi dari semua orang yang mengenal ayah.." ucap Arka pada Zahra


"Masya Allah.. Ayah orang yang sangat dermawan, Zahra tahu itu dari cerita Abi dan Mama.. Tapi kurang tahu lagi, hanya itu yang Abi dan Mama tau juga" ucap Zahra sembari memandangi foto ayah mertuanya itu


"Iya, Ayah orang yang baik pada siapapun.. Yusuf saja sampai menganggap Ayah seperti ayahnya sendiri, karena Ayah sangat baik pada semua anak di panti" ucap Arka dengan berusaha tersenyum


Zahra hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


"Iya ya, Mas Arka mirip sekali dengan Almarhum ayah.." ucap Zahra dengan tersenyum


"Hehe Iya.." jawab Nisa dengan tawa kecilnya

__ADS_1


"Zahra janji, Zahra dan Mas Arka akan selalu menemani Ibu.." ucap Zahra lalu memeluk Ibu mertuanya itu lalu diikuti oleh Arka yang memeluk tubuh Ibunya itu, mereka jadi berpelukan bertiga


__ADS_2