Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 66


__ADS_3

Setelah hari dimana Nisa mengisi kajian di ponpes itu, Nisa diajak kerjasama untuk acara-acara ponpes dan beberapa event dari kampus untuk acara keagamaan. Begitu juga dengan Azam, kebetulan sekali mereka selalu bersama dalam setiap acara. Nisa merasa nyaman karena kini Azam adalah besannya, juga sudah ia anggap sebagai Kakaknya sendiri dan seperti keluarga.


Acara-acara itu membuat Nisa jadi sibuk dan memiliki kegiatan tetap. Sementara kegiatan Zahra selalu mengantarkan makan siang untuk suaminya dan pulang bersama setelah selesai di kantor.


Kali ini Nisa mengisi acara menjadi juri disebuah perlombaan baca tulis Al-Qur'an di sebuah sekolah, begitu juga dengan Azam.


"Eh Kak Azam juga jadi jurinya?" tanya Nisa ketika tak sengaja bertemu Azam


"Iya, Nis.." jawab Azam dengan ramahnya


Nisa hanya membalas senyum terbaiknya, lalu mengangguk dan meninggalkan Azam.


Tak sekali Nisa bertemu dan bekerjasama dengan Azam, ini sudah kesekian kalinya. Azam selalu saja memperhatikan Nisa diam-diam.


Nisa sebenarnya sudah melupakan ketakutannya pada Azam yang masih menyimpan perasaan padanya, setelah mengetahui Azam sudah menikah dan kini mereka berdua menjadi besan.


Tapi kali ini Nisa kembali merasakan kecemasan itu kembali. Nisa merasakan kini perhatian Azam berbeda, ada sesuatu yang lain.


Hari berganti hari, kini Nisa sedang mengisi acara disebuah ponpes yang Asri, udara yang sejuk dan tenang, karena tempatnya jauh dari kota juga di kaki gunung.


Begitu juga dengan Azam, ia sama-sama menjadi juri dalam lomba itu.


Acara telah selesai, Nisa dan juga beberapa juri yang lain beristirahat, dan diberi jamuan makan siang. Setelah usai makan siang, Nisa masih menikmati makanan penutup, Nisa sedang menyeruput coklat hangat sembari melihat pemandangan yang begitu indah, hamparan perkebunan sayur yang terlihat indah dari atas.


"Nisa.." sapa seseorang tiba-tiba membuyarkan lamunan Nisa


"Eh kak Azam.." jawab Nisa seketika ia menoleh ke sumber suara yang menyapanya


Azam tersenyum, dengan secangkir kopi hitam panas di tangannya.


"Bagaimana menurut kakak para peserta hari ini?" tanya Nisa, berbasa-basi karena sungguh ia tak tahu harus membuka obrolan apa. Sebenarnya Nisa menghindari dari percakapan yang bersifat sensitif, karena mereka hanya mengobrol berdua tanpa teman-teman yang lain


"Heemm.." Azam masih terdiam


"Ada sesuatu yang ingin saya ucapkan.." lanjut ucap Azam tanpa menghiraukan pertanyaan Nisa tadi


Nisa mulai merasakan jantung yang berdebar dengan cepat, ia mulai cemas baru saja mendengar ucapan itu dari mulut Azam.


"Saya ingin mengungkapkan sesuatu.." lanjut ucap Azam ketika Nisa masih saja terdiam tak menjawab


"Apa?" tanya Nisa singkat


"Sebenarnya Saya masih menyimpan perasaan dulu untuk mu, hingga kini. setelah lama kau ditinggalkan pergi oleh Almarhum suami, kau masih saja sendiri.. Apa tak ada niatan untuk menikah lagi, dan menghabiskan masa tua bersama?" ucap Azam dengan tak berani menatap mata Nisa


Perasaan Nisa semakin dagdigdug, berdebar cepat tak karuan. Nisa tak mampu membuka suaranya, ia begitu terkesiap membuatnya terdiam.


"Apa kau mau menikah dengan ku, dan menjadi istri kedua ku?" lanjut ucap Azam matanya seolah tak berbicara pada Nisa karena ia tak sanggup menatap Nisa


Ucapan itu sontak membuat Nisa seakan-akan tersedak, tenggorokannya tiba-tiba terasa gatal, membuat Nisa menjadi batuk-batuk lalu membalikan tubuhnya kembali menatap keluar jendela.


"Maaf Ka, prinsip Nisa masih sama. Nisa ingin kembali berkumpul dengan Almarhum suami ku nanti.." jawab Nisa dengan mantap setelah ia mengumpulkan keberaniannya


"Maaf Ka, Nisa harap Kakak melupakan perasaan Kakak pada Nisa.. Kakak sudah menikah dengan Tiara, kita juga sudah menjadi besan dengan menikahkan anak-anak kita.. Nisa harap Kakak tidak mengecewakan anak-anak kita.." lanjut ucap Nisa yang sebenarnya merasa geram

__ADS_1


"Kamu benar.. Maaf, maaf untuk semuanya.. Saya lega sudah mengungkapkan semuanya, saya janji mulai sekarang akan membuang perasaan ini jauh-jauh.." jawab Azam dengan penyesalannya


Nisa langsung meninggalkan Azam sendiri, ia tak ingin lagi terlalu berinteraksi dengan Azam. Nisa sangat merasa kesal, bahkan marah dengan tindakan Azam itu.


"Kamu bukan cuma akan menyakiti istri mu, tapi anak mu, Zahra juga anak ku, Arka.." ucap Nisa dalam batinnya


Nisa kembali ke kota Surabaya setelah acara itu selesai. Senja mulai menyapa, sebelum kembali kerumah Nisa mengunjungi makam Almarhum suaminya itu. Nisa bersimpuh dekat Nisa bertuliskan nama suaminya.


"Mas.. Tak ada kata selain rindu.. Sungguh aku sangat merindukan mu, aku ingin segera bertemu dengan mu.." ucap Nisa dalam hatinya semabari mengelus Nisan itu, setelah mengirimkan doa-doa untuk suaminya, lalu menaburkan bunga diatas makam suaminya itu.


Setelah Magrib Nisa baru kembali kerumah, wajahnya lesu, kusut, dan tak bergairah. Itu yang dirasakan oleh Nisa. Semua ucapan Azam membuatnya jadi terbebani.


Zahra dan Arka yang sedang duduk dimeja makan melihat kepulangan Ibunya itu.


"Ibu sudah pulang?" tanya Arka yang melihat lebih dulu Ibunya


"Iya.. Assalamu'alaikum.." jawab Nisa lalu mengucapkan salam pada Arka dan Zahra, tanpa bersemangat dan senyum yang menyungging tipis diwajahnya


"Walaikumasalam.." jawab Arka dan Zahra bersamaan


Arka merasa Ibunya sedang merasakan sesuatu, ia tahu betul dengan Ibunya.


"Mari kita makan bersama bu.." ucap Zahra dengan senyum manisnya


"Kalian makan saja duluan, Ibu belum sholat magrib.." jawab Nisa dengan cepat lalu masuk kedalam kamarnya dan mengunci kamarnya itu


Arka semakin merasa bahwa dugaannya itu benar.


Setelah selesai makan malam, Zahra membantu Ijah dan Rani untuk membereskan semuanya. Arka masih terdiam di meja makan.


"Sayang aku mau menemui Ibu dulu yaaa.." ucap Arka pada istrinya itu


"Iya Mas.." jawab Zahra dengan cepat


Arka berjalan perlahan menuju kamar Ibunya itu. Arka terdiam didepan pintu kamar Ibunya, ia belum berani mengetuk pintunya, ia mencoba mendengarkan suara dari dalam kamar Ibunya itu, tapi benar-benar hening tak ada suara. Arka lalu memberanikan diri untuk mengetuknya.


"Tok.. tok.. tok.." suara pintu diketuk


Belum juga ada sahutan dari dalam.


"Bu..." ucap Arka memberanikan diri


Nisa belum juga menjawab, suasana kamar terdengar sangat hening.


"Bu.. Ibu pasti belum makan malam.. Makan malam dulu yuu Bu.." lanjut ucap Arka


Zahra memperhatikan suaminya yang sedari tadi didepan kamar Ibu mertuanya itu.


Zahra kembali kedapur untuk mengambil air minum untuk dibawa ke kamarnya nanti.


Seketika pintu kamar Nisa terbuka. Nisa masih menggunakan mukenanya.


"Nanti Ibu akan makan setelah sholat isya ya.." ucap Nisa tiba-tiba setelah membuka pintu kamarnya dan melihat wajah putranya itu.

__ADS_1


"Iya Bu, harus makan yaaa.. Nanti Arka temani.. Boleh Arka masuk?" ucap Arka lalu meminta izin untuk masuk kedalam kamar Ibunya itu


"Boleh Nak.. Ibu sedang berdzikir.." jawab Nisa dengan cepat berharap anaknya tidak mencurigainya


Arka lalu duduk di pinggir kasur Ibunya itu, sementara Nisa merapikan sajadahnya terlebih dulu.


"Ibu kenapa? Ada apa? Ceritalah pada Arka Bu.. Jangan menyimpannya sendiri" ucap Arka tiba-tiba mengejutkan Nisa


Nisa lalu berbalik badan menatap putranya itu.


"Ibu tidak apa-apa Nak.. Ibu hanya kelelahan saja.." jawab Nisa dengan cepat


"Arka tahu, Ibu sedang menyimpan sesuatu.. Ceritalah sama Arka Bu.." ucap Arka mendesak


Nisa seketika terdiam, ia membulatkan matanya dan menatap dalam putranya itu.


"Ibu tidak apa-apa Nak.." jawab Nisa ingin lagi-lagi


"Arka tahu sedang ada beban pikiran yang Ibu simpan.." ucap Arka masih tak puas dengan jawaban Ibunya itu


Nisa langsung memandang Arka dengan tatapan berbinar. Matanya menahan beratnya kumpulan air dengan susah payah.


Arka lalu memeluk Nisa dengan erat, seketika air mata Nisa meleleh membasahi baju taqwa Arka pas dipundaknya.


"Ibu tenang lah.." ucap Arka sembari mengelus lembut punggung Ibunya itu


Zahra melihat pemandangan suaminya dan Ibu mertuanya saling berpelukan. Zahra sungkan untuk ikut masuk kedalam kamar, ia membiarkan waktu untuk mereka berdua saja. Zahra memutuskan untuk ke mushola dan mengaji sembari menunggu waktu isya.


Nisa terus larut menumpakan air matanya dalam pelukan anaknya itu.


Arka sangat tahu betul Ibunya, ia begitu paham dengan sifat Ibunya.


"Maafkan Ibu, Nak.." ucap Nisa setelah air matanya ia tahan untuk tak lagi menetes


"Ada Bu? Ibu kenapa? Apa ada yang menyakiti Ibu?" tanya Arka bertubi-tubi dengan nada yang sangat lembut


"Tidak, Nak tidak ada.." jawab Nisa meyakinkan


Nisa lalu menceritakan semuanya yang tadi di ucapkan Azam dengan dirinya pada Arka.


"Ibu tidak habis pikir.." ucap Nisa sembari sesegukan


Arka hanya terdiam, ia tak bisa bicara apa-apa


"Dia tidak memikirkan anaknya.." ucap Nisa lagi sembari menyeka air matanya


"Arka, tolong rahasiakan ini semua dari Zahra.. jangan sampai dia tahu, Ibu takut dia kecewa.. Jangan kamu jadi benci ayah mertua mu itu ya" lanjut ucap Nisa sembari mengelus wajah anaknya itu


Adzan isya sudah berkumandang, Arka dengan cepat mencoba melupakan hal itu lalu menuju ke mushola untuk sholat isya berjamaah dengan istrinya.


"Mana Ibu, Mas?" tanya Zahra setelah menutup Al-Qur'annya


"Ibu mau sholat di kamar saja katanya, Ibu sangat merasa lelah" jawab Arka dengan cepat

__ADS_1


__ADS_2