
Senja mulai menyapa, Arkana diperbolehkan pergi ke perpustakaan untuk meminjam beberapa buku oleh Shaina. Setelah meminjam beberapa buku yang ia perlukan untuk membuat jurnal, ia memutuskan untuk membaca buku itu dan duduk di taman kota, dimana banyak para penjual jajanan. Arkana membeli jajanan kesukaan Ibunya, lalu memakannya sembari membaca buku yang ia bawa.
Senja semakin larut, lampu-lampu taman juga mulai menyala. Arkana memperhatikan setiap lampu yang mulai menyala dengan bergantian, tiba-tiba pandangan itu terhenti pada seorang wanita yang menggandeng anak berusia kira-kira 2 tahunan itu.
Tak disangka, itu adalah Aira dan anaknya. Dengan cepat Arkana menghampiri.
"Assalamu'alaikum.." ucap Arkana dengan sopan
Aira begitu kaget, Arkana sudah ada dihadapannya. Kini Arkana melihat putrinya.
"Eh kamu.." ucap Aira salah tingkah
"Jawablah salam ku.." ucap Arkana dengan senyum menggoda
"Wa-wala-ikum sa-lam" ucap Aira terbata-bata karena tidak terbiasa, tapi ia tahu itu salamnya orang muslim
"Jadi ini anak mu?" tanya Arkana penasaran
"Iya, dia putri ku.." jawab Aira dengan cepat
"Dira ayo kenalkan ini Om Arkana, dia teman Ibu di kampus.." ucap Aira pada putri kecilnya itu
"Halooo cantik.." ucap Arkana sembari menunduk mendekatkan tubuhnya pada Dira
"Kalian mau kemana?" tanya Arkana penasaran
"Aku baru pulang kerja, sudah menjemput Dira dulu di penitipan anak.." ucap Aira dengan jujur
__ADS_1
"Kamu ngapain disini?" tanya Aira balik pada Arkana
"Aku sudah dari perpustakaan dan baca-baca buku disini dulu" jawab Arkana jujur
Aira, Arkana dan Dira duduk di taman itu, karena Dira sedang memakan makanan yang ia bawa sedari tadi.
"Maaf bukan maksud ku mau ikut campur, tapi aku hanya ingin memastikan saja.." ucap Arkana tiba-tiba terhenti karena canggung, takut Aira menghindarinya lagi
"Tidak apa-apa, kamu ingin menanyakan masalah ku lagi bukan?" jawab Aira dengan menebak maksud Arkana
"I-iyaaa.." jawab Arkana
"Semenjak kejadian hari itu di kampus, aku dan Zidan tidak pernah lagi bertemu. Aku juga tidak tahu dia kemana dan dimana.." ucap Aira sembari menundukan pandangannya
"Ya Allah bagaimana dengan pikiran pria itu, kasihan anak kalian.." ucap Arkana spontan
"Aku juga tidak tahu. Dia berubah setelah aku hamil semakin besar, tubuh ku mulai berubah, belum lagi saat melahirkan dan menyusui kata dia tubuh ku sudah semakin berubah. Mungkin itu yang membuatnya selalu bermain dengan wanita lain" jawab Aira dengan menjelaskan yang terjadi
"Wanita memang akan mengalami itu setelah hamil, melahirkan dan menyusui bukan? Wanita seperti itu juga karena melahirkan anaknya bukan? seharusnya dia semakin sayang sama kamu dan anak kalian.." ucap Arkana dengan merasa gemas terhadap prilaku Zidan
"Sudahlah biar saja, aku sudah cape dengan tingkah Zidan. Aku mulai sadar, dia mencintai aku saat tubuh ku memuaskannya saja, dan saat aku secantik dulu saja" jawab Aira yang mulai pasrah dengan keadaan
"Jadi apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Bagaimana nasib rumah tangga kalian?" ucap Arkana bertanya-tanya karena penasaran
"Pernikahan kami tidak sah secara hukum, jadi tentu saja akan berakhir begitu saja. Aku sekarang menjadi wanita tanpa harga diri..
Aaah biarlah, harga diri ku sudah tidak penting, yang terpenting adalah anak ku bisa hidup dengan layak" ucap Aira panjang lebar
__ADS_1
"Semoga Allah senantiasa memberikan mu kekuatan ya Aira.." ucap Arkana memberi semangat
"Daaan kamu anak cantik, semoga Allah selalu melindungi kamu.." lanjut Ucap Arkana pada Dira yang sedari tadi asik memakan coklat hingga belepotan di mulutnya
"Terimakasih Arkana.. Maaf, maafkan saya sudah berani cerita semua ini, saya tidak punya teman untuk cerita.." ucap Aira sembari memandang kearah Arkana
"Tidak apa-apa. Mulai sekarang kita berteman ya.. jangan sungkan untuk meminta bantuan ku, selagi aku bisa akan ku bantu" ucap Arkana sembari terus memandangi Dira yang asik memakan coklatnya
"Gadis cantik, belepotan sekali kamu.. Sini biar om bersihkan" ucap Arkana sembari mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku jaketnya lalu mengusapnya dengan lembut pada tepi-tepi mulut Dira
Aira menyaksikannya dengan sangat dalam.
"Ya Tuhan, andaikan Zidan bisa selembut ini pada Dira, ia pasti akan sangat berbahagia" ucap Aira dalam hatinya
Arkana mengantarkan Dira juga Aira untuk pulang, dan akhirnya Arkana tahu ini adalah rumah kontrakan Aira.
"Terimakasih banyak telah mengantar kami pulang ya Arka" ucap Aira sembari menggendong Dira yang tertidur
"Iya sama-sama. Aku pulang yaaa.." ucap Arka sembari melambaikan tangan, lalu melajukan motornya pelan.
Sesampainya dirumah Arkana langsung menghubungi Nisa, Ibunya yang selalu ia rindukan. Arkana menceritakan semua tentang Aira.
"Bu, Sebenarnya aku bertanya-tanya, Aira itu keluarganya dimana apa hanya sebatang kara?" ucap Arkana setelah menceritakan semuanya pada Nisa
"Mungkin bisa jadi seperti itu, sayang. Ibu sarankan kamu jangan terlalu dalam masuk kedalam permasalahan ini, Ibu takut kamu akan menjadi sasaran amarah Zidan lagi" ucap Nisa memberi masukan pada anaknya
"Iya Bu, Insya Allah aku bisa jaga diri" jawab Arkana meyakinkan Ibunya
__ADS_1
Sambungan telepon itu pun berakhir. Arkana jadi memikirkan pertakataan ibunya.
"Ada benarnya juga apa kata Ibu, aku jangan terlalu dekat dengan Aira. Aku tidak ingin terbawa-bawa lebih jauh dan membuat semua makin runyam, Aku tidak ingin sampai membuat keluarga ku malu" ucap Arkana dalam hati