
Semenjak dapat berita bahagia kehamilan Zahra, Arka memutuskan untuk tidak sering ke kantor. Ia memilih untuk bekerja dari rumah agar bisa lebih fokus menjaga istrinya. Begitu juga dengan Tiara, ia lebih sering datang mengunjungi Zahra karena ingin membantu menjaga. Sementara Azam masih sibuk dengan urusan di kampusnya.
Hari ini Arka harus datang ke kantor karena setelah meninggalkan kantor beberapa hari kemarin untuk berlibur, sudah pasti banyak yang harus ia kerjakan disana.
Arka duduk di kursi kebesaranya, didalam ruangannya. Semua berkas sudah menumpuk dihadapannya, dan seakan meronta ingin diperiksa oleh Arka. Dengan cepat Arka memeriksa berkas-berkas itu, ia buka satu persatu. Ada beberapa laporan tentang kerjasama dengan Tuan Rivans yang berhasil, membuat dirinya merasa tenang dan bahagia.
Tiba-tiba matanya seakan terbelalak, melihat laporan kerjasama dengan PT. Hanjaya itu.
Arka membaca dengan sangat baik dan begitu teliti.
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari luar.
"Tttoookk.. tttoookkk" suara pintu yang diketuk
"Iya masuk.." ucap Arka sedikit berteriak
Pintu itu terbuka, Arka tak menoleh ia masih saja fokus pada berkas-berkas yang ada dihadapannya, membuatnya tak tahu siapa yang datang.
"Selamat pagi Tuan Arka, yang terhormat!" sapa seorang wanita dengan nada yang sengaja terdengar lembut
Arka terkesiap mendengar suara itu, ia tak menyangka bahwa seorang wanita yang datang masuk, itu tandanya ia hanya berdua diruangan itu bersama wanita itu.
Arka dengan cepat menoleh kearah sumber suara itu.
"Apa kabar Tuan Arka? Boleh saya duduk?" lagi-lagi ucapnya karena Arka tak juga menjawab dirinya sedari tadi
"Si-silahkan.." jawab Arka terbata-bata
"Ri-risaaa?" ucap Arka tak percaya dengan wanita yang kini ada dihadapannya itu
"Halo Tuan Arka.." ucap Risa sekali lagi karena melihat ekspresi Arka yang sangat terkejut itu
"Kenapa? Kaget?" lanjut tanya Risa
"Kamu.." ucap Arka tertahan
"Yaaa aku sudah kembali menghirup udara bebas kini.." ucap Risa sebelum Arka melanjutkan ucapannya
"Siapa yang membebaskan mu? Kenapa kau datang kemari?" tanya Arka dengan penasaran
"Aku membayar semua dendanya.. Kamu tenang saja, aku tidak akan lagi mengganggu keluarga mu, aku kemari hanya ingin berterimakasih pada mu telah membantu perusahaan ku" ucap Risa panjang lebar
Arka merasa tak enak bila hanya berduaan diruangannya bersama Risa yang berpakaian seksi itu, dengan cepat Arka menghubungi Rio melalui ponselnya agar masuk kedalam ruangannya, tanpa sepengetahuan Risa.
"Tapi ini saham mu kembali turun bukan?" tanya Arka yang sudah membaca laporannya
__ADS_1
"Iya kau benar, tapi dengan adanya aku, aku akan kembali berusaha membangun semuanya" jawab Risa dengan percaya diri
Arka hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Untuk ucapan Papa yang meminta mu untuk menikahi ku, ku harap kau dapat melupakannya. Jangan berpikir aku menyukai mu" ucap Risa lagi
"Kau tenang saja, aku sudah lupa" jawab Arka dengan cepat
Risa tak menjawab apapun, ia hanya menyunggingkan senyum tipis diwajahnya.
"Sial! Ini orang membuat ku malu sendiri!" ucap Risa dalam batinnya. Risa merasa dipermalukan oleh Arka.
Tak lama Rio datang dengan mengetuk pintu, dan langsung masuk karena Arka sudah memerintahkannya untuk langsung masuk.
"Permisi.." ucap Rio yang merasa malu ketika tahu ada tamu diruangan bosnya itu
"Silahkan duduk Pak Rio.. Tunggu sebentar" ucap Arka memberi arahan, dengan menyuruhnya untuk menunggu sebentar
Risa semakin merasa tak nyaman dengan kehadiran Rio, ia takut Arka dan Rio sedang sibuk.
"Ya sudah kalau begitu Saya pamit.." ucap Risa sembari bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruangan Arka
Arka tak percaya dengan kehadiran Risa ke kantornya, begitu juga dengan Rio.
"Pak Rio, kenapa Risa bisa keluar penjara?" tanya Arka pada Rio
"Tolong cari tahu semuanya, apa maksud dirinya datang kemari" ucap Arka pada Rio
"Siap" jawab Rio dengan cepat
Rio lalu keluar dari ruangan Arka, dan sibuk menghubungi seseorang dengan ponselnya.
Tak lama setelah Rio keluar, Yusuf datang menghampiri Arka.
"Ya masuk.." ucap Arka ketika mendengar suara ketukan pintu
Yusuf masuk dengan tab ditangannya, dan terlihat ada sebuah kecemasan di wajahnya.
"Kamu kenapa?" tanya Arka yang memperhatikan wajah Yusuf itu
"Ini Ka.." ucap Yusuf memberikan Tab yang menyala itu pada Arka
"Risa ingin menjatuhkan nama perusahaan kita setelah ia mendapatkan saham dari PT. Din, Risa ingin mengganti nama saham dengan sepenuhnya atas nama PT. Hanjaya" ucap Yusuf sembari memperlihatkan sebuah data di dalam tabnya.
Arka mencermati semuanya dengan sangat fokus, pikirannya langsung penuh dengan beban. Setelah ia melihat semua data dalam tab Yusuf, lalu menyenderkan punggungnya di kursi kebesarannya itu sembari berputar-putar pelan.
__ADS_1
"Apa mungkin Risa datang kemari ingin mengibarkan kembali bendera peperangannya?" ucap Arka pada Yusuf dengan sedikit berpikir
Yusuf hanya terdiam, ia tak tahu kalau Risa datang kemari.
Dilain tempat, Rio yang sudah mengirimkan anak buah untuk segera berjaga-jaga dan mengikuti Risa, dengan bergerak cepat mencari informasi.
Risa menemui seseorang di sebuah cafe, ia datang bersama Haris, asisten pribadinya itu.
Seseorang tampak sudah menunggu sedari tadi.
"Halo selamat siang Tuan Nata, maaf membuat anda menunggu" ucap Risa sembari menyalami pria yang ada dihadapannya itu
"Silahkan duduk.." ucap pria berjas rapi itu
"Maaf Nyonya saya tidak suka dengan sikap Anda yang tidak tepat waktu" lanjut ucap Nata dengan tegas
"Maafkan kami Tuan.." jawab Risa yang merasa salah
"Maaf setelah kami membaca proposal yang kalian kirim melalui email, untuk menghapuskan PT. Swain dari saham kerjasama ini, kami sangat merasa tidak setuju. Jika tetap PT. Swain mundur, kami juga ikut mundur bersamanya" ucap Nata sebagai pemilik PT. Din, dengan tegasnya
"Tapi kenapa Tuan? Bukankah jika PT. Swain kami hapuskan, saham itu akan jatuh lebih besar pada perusahaan kita?" ucap Risa tak percaya dengan ucapan Nata
"PT. Swain adalah orang yang menarik kami untuk bekerjasama dengan PT. Hanjaya, dan mereka yang sudah membuat berbagai perjanjian yang sangat menjanjikan.. PT. Hanjaya bangkit juga karena PT. Swain bukan?" jawab Tuan Nata apa adanya
Risa terlihat sangat malu setelah mendengar ucapan Tuan Nata itu. Wajahnya merah padam, menahan malunya.
"Kami permisi, silahkan anda pikirkan baik-baik lagi" ucap Tuan Nata lalu bangkit dari kursinya dan berjalan menuju pintu keluar bersama dengan asisten pribadinya itu.
Risa merasa kesal dengan ucapan Tuan Nata yang keras kepala itu, dan juga orang yang angkuh.
"Maaf Nyonya.. Sepertinya kami akan susah lepas dari Tuan Arka, karena memang PT. Swain yang membangun semua dari Nol lagi" ucap Haris yang sebenarnya juga tak setuju dengan kemauan bosnya itu
Lagi-lagi Risa hanya terdiam, ia tak mampu berkata-kata. Sebenarnya ia juga merasa kesal dengan ucapan asisten pribadinya itu.
Risa lalu melangkahkan kakinya keluar dari cafe dan menuju mobilnya.
"Sial! Si Arka sulit sekali untuk dibuang! Sepertinya aku terlalu tergesa-gesa, tenang Risa.. Semua harus berjalan secara halus" ucap batin Risa dengan wajah kesalnya
Anak buah Rio yang memata-matai Risa langsung melaporkan semua kejadian itu pada Rio, dan menceritakan semua kejadian yang ia dengar dan lihat di dalam cafe itu.
"Kerja bagus!" ucap Rio setelah mendengar semuanya
Rio lalu menceritakan semuanya pada Arka yang sudah menunggu kebenarannya.
"Berarti benar dugaan Yusuf. Risa ingin menyingkirkan aku" ucap Arka sembari berpikir
__ADS_1
"Kita harus bergerak cepat, harus memasang benteng terdepan" ucap Rio pada Arka
Arka langsung berpikir, dirinya tak mungkin untuk meninggalkan kantor untuk beberapa waktu ke depan