Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 78


__ADS_3

Setelah Azam dan Tiara pulang, Zahra naik ke atas kamarnya. Terlihat wajahnya mulai muram, rasa kecewa terhadap ayahnya mulai menggelayuti hatinya. Arka yang akan berangkat ke rumah Tuan Hanjaya, membuatnya mengurungkan niatnya untuk pergi, Arka beranjak untuk melihat istrinya lebih dulu.


Arka masuk kedalam kamar, dan melihat Zahra sedang terduduk di lantai memeluk kedua lututnya dan bersandar di pinggir kasur.


"Sayang.." ucap Arka dengan lembut


Arka tahu istrinya itu sedang menangis, sesekali terdengar suara sesegukan, memang tidak kencang tapi sangat jelas terdengar.


Arka terus melangkahkan kakinya dengan mantap, menghampiri istrinya.


"Sayang..." ucap Arka lagi sembari memeluk istrinya dan membiarkan istrinya menangis dalam pelukannya.


Zahra larut dalam tangisnya, tanpa sepatah katapun yang ia ucapkan. Zahra berusaha untuk mengatur emosinya lebih dulu sebelum ia berani menatap dan berbicara banyak pada suaminya itu.


"Sayang.. Tenanglah" ucap Arka sembari membelai lembut puncak kepala Zahra


Zahra berusaha menghentikan tangisnya, ia menyeka wajahnya yang basah oleh air matanya, lalu menguatkan dirinya untuk berbicara pada suaminya itu.


"Sebenarnya aku tahu, kalau dulu Abi sangat menyukai Ibu, bahkan Abi pernah melamar Ibu sebelum Ibu menikah dengan Almarhum Ayah, tapi Ibu sudah lebih dulu di khitbah oleh Almarhum Ayah. Bahkan setelah Almarhum ayah meninggal dan Abi belum juga menikah, Abi mencoba melamar Ibu lagi kaaan?" ucap Zahra dalam tangis yang mulai reda, tapi dengan suara yang sesegukan.


Arka terdiam, ia mencermati ucapan istrinya itu. Arka bingung, bahkan anak kandung dari pria itu sangat tahu betul jalan kisah itu.


"Sayang.." ucap Arka terhenti karena Zahra langsung berbicara lagi


"Aku tahu Mas, Ibu tidak salah.. Aku tidak membenci Ibu, aku hanya kesal pada Abi! Abi menyakiti Mama!" ucap Zahra langsung sebelum Arka melanjutkan ucapannya itu


Air matanya mulai mengalir lagi, tak tertahankan


"Aku ngerti sayang.. Jangan kamu membenci Abi yaaa.. Kita harus bersikap netral, kita harus menjaga hubungan kekeluargaan ini" ucap Arka lembut sembari merangkul istrinya dan memasukannya kedalam pelukannya lagi


"Tolong, tolong sembunyikan ini dari Mama.. Jangan membuat Mama cemas, membuat Mama sakit hati. Semoga Allah menjaga hati Mama dan menguatkan Mama" lanjut ucap Arka dengan lembutnya lalu mencium kening istrinya


Zahra hanya mengangguk, ia mengerti dengan ucapan suaminya itu. Biar semua ini menjadi rahasia.


Zahra mulai tenang, air matanya tak lagi menetes. Zahra menyeka wajahnya ke toilet.


Waktu sudah pukul 12 siang, adzan dzuhur sudah berkumandang. Arka hampir saja lupa dengan janjinya untuk makan siang bersama tuan Hanjaya. Dengan cepat Arka mengambil ponselnya di dalam saku celananya, lalu menghubungi Haris yang ternyata sudah mengirim pesan beberapa kali pada dirinya.


"Assalamu'alaikum.. Maaf saya akan datang sangat terlambat, tolong sampaikan pada Tuan Hanjaya tidak usah menunggu makan siang bersama, makan saja duluan.. Saya pasti datang sebentar lagi" ucap Arka dengan langsung panjang lebar


"Baik Tuan.." jawab Haris singkat


Sambungan telepon itu berakhir, Arka lalu mengambil wudhu dan sholat dzuhur berjamaah bersama Zahra di dalam kamarnya.


Setelah dzikir bersama, Arka memperhatikan wajah Zahra yang masih saja sedih.


"Sayang.. Kita jalan-jalan yuu" ucap Arka mengajak Zahra untuk ikut pergi bersamanya

__ADS_1


"Kemana Mas?" jawab Zahra tanpa semangat


"Kemana saja.. Kita jalan-jalan berdua" ucap Arka dengan senyum mengembangnya


Zahra lalu setuju, dan segera bersiap untuk ikut bersama suaminya.


Setelah siap, Arka dan Zahra berangkat, dengan mobilnya.


Tak sampai setengah jam, Mobil yang Arka kendarai tiba di rumah yang sangat mewah, dan halaman yang luas itu. Satpam dengan cepat membukakan pagar besi yang tinggi itu, dan membiarkan Mobil Arka masuk ke halaman rumah yang mewah itu.


2 pelayan yang berjaga di depan pintu masuk langsung membukakan pintu mobil untuk Zahra dan Arka.


Arka masuk kedalam rumah mewah itu untuk ke 2 kalinya, dengan bergandengan bersama Zahra. Sesampainya di kamar rawat Tuan Hanjaya, langkah kaki Zahra dan Arka terhenti karena melihat Tuan Hanjaya sedang di bersihkan oleh seorang perawat karena sudah makan.


Sewaktu di depan ruangan itu, Arka bertemu dengan Haris, lalu sedikit bercengkrama.


"Tuan Hanjaya sudah makan?" tanya Arka pada Haris, dengan suara pelan


"Sudah Tuan.. Baru saja.." jawab Haris dengan cepat


Haris tak sempat menanyakan siapa wanita yang Arka gandeng.


Setelah perawat itu keluar, Arka berniat masuk kedalam untuk menemui Tuan Hanjaya dengan mengajak Zahra.


"Ayo kita masuk.." ucap Arka dengan pelan


"Iya, sebentar yaaa aku masuk dulu" jawab Arka dengan cepat


Arka masuk kedalam ruang rawat yang penuh dengan alat-alat medis itu, dengan ucapan salamnya lalu menjabat tangan Tuan Haris yang sangat semakin lemah.


"Apa kabar Tuan Arka?" ucap Hanjaya menyapa Arka


"Baik Tuan.. Bagaimana kondisi Tuan sekarang?" jawab Arka lalu balik menanyakan kabar pada Tuan Hanjaya itu


"Yaaa begini saja.. Tidak ada kemajuan, juga tidak menurun.." jawabnya dengan sangat pasrah


"Semoga Allah segera mengangkat penyakit Tuan.." ucap Arka dengan senyum tulusnya


"Aamiin Aamiin.." jawab Hanjaya dengan cepat


"Tuan Arka, saya ingin berterimakasih sekali pada Tuan Arka yang sudah mau datang kemari.. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan serius dengan Tuan.." lanjut ucap Hanjaya dengan langsung


"Sama-sama Tuan.. Maaf sudah membuat anda menunggu, tadi ada sedikit masalah" jawab Arka pada Tuan Hanjaya


Tuan Hanjaya hanya mengangguk-anggukan kepalanya, mengerti dengan alasan Arka.


"Begini Tuan Arka, saya berterimakasih sekali atas bantuan Tuan untuk kerjasama ini, saya senang karyawan-karyawan kami tidak ada yang di PHK dan semua hak mereka terpenuhi kembali" ucap Hanjaya dengan senyum mengembang, terlihat jelas bahwa ia sangat bahagia

__ADS_1


"Alhamdulillah Tuan kalau seperti itu.. Saya ikut merasa senang" jawab Arka dengan cepat sembari melemparkan senyum manisnya


"Iya Alhamdulillah sekali.. Saya ingin Tuan Arka memegang perusahaan saya, saya sangat percaya pada mu.." ucap Hanjaya tiba-tiba


Arka begitu terkesiap mendengar ucapan Tuan Hanjaya yang mempercayakan semuanya pada dirinya.


"Tapi Tuan.." ucap Arka mencoba mengelak


"Saya sudah percaya pada mu.. Ahlak mu bagus, agama mu bagus.. Saya yakin Tuan Arka bisa mengemban amanah ini" ucap Hanjaya dengan sangat yakin


"Maaf Tuan.. Kan ada Risa yang lebih berhak" jawab Arka mencoba mengelak


"Saya tidak yakin pada Risa.. Dia membutuhkan seorang pendamping seperti mu untuk menjalankan perusahaan ini.. Apa kau mau menikahi Risa untuk ku? Risa sebentar lagi akan kembali dari Singapur dan kalian bisa langsung menikah" ucap Hanjaya dengan penuh harapan


Lagi-lagi Arka terkaget dengan ucapan Hanjaya yang semakin banyak berharap pada dirinya.


Zahra yang menunggu di pintu mendengar semua percakapan Arka dan Hanjaya, langsung membuatnya terkaget. Sungguh tak bisa dipercaya, suaminya di minta untuk menikahi gadis cantik bertubuh seksi.


Zahra langsung berlari keluar rumah, Haris yang melihatnya hanya bisa terdiam karena ia tak mengerti dengan Zahra.


Arka melihat Zahra berlari, ia tahu pasti istrinya sangat kecewa. Hatinya seperti dipatahkan untuk kedua kalinya.


"Bagaimana, apa kau mau?" tanya Hanjaya pada Arka karena Arka hanya terdiam


"Agar kau juga berhak atas perusahaan ku.." lanjut ucapnya penuh keyakinan


"Maaf Tuan, saya sudah menikah.." jawab Arka dengan cepat


"Oh ya? Tapi saya tidak pernah mendengar tentang pernikahan Tuan Arka, sang pengusaha muda" ucap Hanjaya meragukan


"Kami belum melakukan pesta pernikahan Tuan.. Saya pamit, permisi yaaa" ucap Arka lalu berlalu dari hadapan Hanjaya dan berlari terburu-buru mengejar Zahra


Arka mencari Zahra sampai kehalaman depan rumah mewah Hanjaya itu, lalu ke mobilnya, lagi-lagi tak ada. Arka yang kebingungan langsung menanyakan kepergian Zahra pada pelayan dan penjaga dirumah itu.


"Apa kalian melihat wanita yang tadi datang bersama saya?" tanya Arka terburu-buru dengan sangat cemas


"Tadi wanita itu lari keluar Tuan, sampai ke pagar" jawab pelayan dan penjaga pintu


Arka lalu berlari menghampiri pos satpam yang ada dekat dengan pagar besi tinggi itu.


"Maaf Pak, apa melihat wanita yang tadi bersama saya?" tanya Arka dengan paniknya matanya sibuk mencari kesana kemari


"Wanita bercadar tadi lari terburu-buru dari dalam, lalu minta di bukakan pagar, lalu naik taxi berwarna biru, Tuan.." jawab Satpam yang melihat Zahra


Arka lalu lari terburu-buru dan masuk kedalam mobilnya, dan langsung mengendarainya menjauh dari rumah mewah Tuan Hanjaya itu, berniat untuk mencari Zahra.


"Kamu kemana sayang?" tanya Arka dengan suara getirnya

__ADS_1


Arka lalu membuka ponselnya dan mencoba menghubungi Zahra, tapi tak juga di angkat.


__ADS_2