
Zahra masih saja tak tenang, menunggu kabar ibu mertuanya itu. Begitu juga dengan Arka yang sangat gelisah, sedari tadi ia mondar mandir didepan ruang IGD, sesekali ia mengusap kasar wajahnya, dan menghembuskan nafas beratnya dengan kasar. Air mata Arka yang juga tak bisa ditahan, menetes setetes demi setetes melalui pipinya itu.
Zahra sesekali menoleh ke arah suaminya yang sedang sibuk dengan ke khawatirannya itu.
"Ya Allah lindungi Ibu mertua ku.." ucap Zahra dalam batinnya seketika setelah melihat suaminya yang terus gelisah itu
Tak lama Dokter bersama seorang suster keluar dari dalam ruang IGD itu. Dengan cepat Zahra ikut Arka yang menghampiri dokter dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
"Dokter bagaimana keadaan Ibu saya?" tanya Arka dengan wajah yang cemas
"Bu Annisa mengalami benturan yang cukup keras di kepala bagian belakangnya, membuatnya hingga tak sadarkan diri.." ucap Dokter dengan berhati-hati
"Astagfirullah.." ucap Arka dengan air mata yang langsung mengalir deras tak mampu lagi ia tahan
"Kita tunggu sampai pasien sadar ya Pak, kita akan melakukan pemeriksaan lanjutan.. Kemungkinan terburuknya adalah terkena penyaki stroke" ucap Dokter dengan perasaan tak enak hati
"Ya Allah Ibu.." ucap Zahra yang masih larut dalam tangisnya
"Kami permisi" ucap Dokter lalu meninggalkan Arka dan Zahra, dan berlalu
Arka dan Zahra saling berpelukan, menguatkan satu sama lain, dan larut dalam tangisnya. Setelah dirasa cukup lama larut dalam tangisnya Arka tersadar, mencoba menguatkan hatinya.
"Sayang, kita tenangkan dulu hati kita yaaa.. Kita harus bersabar, tolong doakan Ibu ku yaaa.." ucap Arka dengan lirih sembari memegang wajah istrinya yang ada dihadapannya itu
"Kamu yang sabar ya Mas.. Doaku selalu menyertai Ibu dan untuk kekuatan hati mu" ucap Zahra dengan bibir yang bergetar disela-sela tangisnya
Arka memaksakan senyumnya yang tersungging manis diwajahnya, mencoba menenangkan istrinya.
--------
Tiara seperti biasa, setelah selesai masak dirumahnya ia selalu datang kerumah Arka untuk mengunjungi putrinya yang kini hanya bisa bedrest. Tiara datang sendiri dengan taxi online, karena suaminya tak bisa mengantarkan karena sudah berangkat mengajar.
Sesampainya dirumah Arka dan Zahra, Tiara merasa heran karena body guard yang ada di depan pintu itu biasanya berdua, kini hanya seorang diri. Tiara tak berani menanyakan pada body guard berbaju serba hitam itu, ia memencet bel rumah. Dengan cepat Rani membukakan pintu rumahnya.
"Bu Tiara.." sapa Rani saat pintu terbuka dan ia melihat seseorang yang ada dihadapannya itu
"Assalamu'alaikum Rani" ucap Tiara ketika melihat Rani yang membukakan pintu
"Walaikumsalam Bu..." jawab Rani sebenarnya ia gugup dan canggung dihadapan Tiara
"Saya boleh masuk, Ran?" tanya Tiara yang merasa aneh tak seperti biasanya tak langsung dipersilahkan masuk
__ADS_1
"Anu buuu.. Aaa-anuuu" ucap Rani dengan terbata-bata
"Ada apa Ran?" tanya Tiara dengan merasa aneh
"A-anu Bu.. Bu Zahra sedang mengantar Bu Annisa ke rumah sakit, Bu Annisa tadi jatuh di depan pintu toilet dan tak sadarkan diri" ucap Rani dengan berhati-hati
"Innalillahiiiii..." ucap Tiara dengan syok
Dengan cepat Tiara langsung berlari kearah pintu gerbang dan menghentikan taxi yang lewat.
"Antarkan saya ke Rumah Sakit terdekat, Pak.." ucap Tiara tergesa-gesa
"Baik Bu.." jawab Supir taxi itu dengan sopannya
-------------
Arka dan Zahra duduk bersamaan di ruang tunggu depan ruang IGD, karena belum diperbolehkan bertemu dengan Nisa.
Zahra menggenggam erat tangan suaminya itu, berharap bisa menguatkan suaminya. Ia sangat tahu betul, bahwa suaminya kini sedang sangat rapuh, Ibunya adalah cinta pertama bagi suaminya itu, sudah pasti ini semua akan membuatnya sangat terluka.
"Sayang kamu pulang ya, kamu pasti belum makan, kamu juga perlu istirahat" ucap Arka membujuki istrinya, karena ia juga mengkhawatirkan istri juga calon anaknya itu
"Aku ingin menemani mu disini Mas.." jawab Zahra sedikit merengek
Belum sempat Zahra menjawab, Tiara sudah tiba diruang tunggu IGD, dan memanggil Zahra juga Arka.
"Arka.. Zahra.." ucap Tiara menyapa dengan suara ngosngosannya
"Mama..." ucap Arka dan Zahra bersamaan
Tiara langsung memeluk putrinya itu, lalu menerima jabatan tangan menantunya itu.
"Bu Annisa kenapa? Ada apa ini?" tanya Tiara begitu cemas
"Ibu terpeleset di depan pintu toilet, Ma.. Sampe pingsan" jawah Zahra dengan suara lirihnya
"Innalillahi.." ucap Tiara sangat tak percaya
Arka berusaha terlihat tenang, ia tetap menyunggingkan senyum diwajahnya yang jelas terlihat di paksakan.
"Mama.. Arka minta tolong ya.. Tolong temani Zahra dulu dirumah, Arka juga mengkhawatirkan Zahra.." ucap Arka dengan lembut dan sopan pada Ibu mertuanya itu
__ADS_1
"Iya, Nak.. Mama dengan senang hati kok" jawab Tiara dengan cepat sembari menatap lembut menantunya itu
"Tapi Mas.. bagaimana dengan kamu? Aku ingin menemani kamu disini, aku juga sangat mengkhawatirkan Ibu.." ucap Zahra mencoba menolak untuk pulang
Arka belum sempat menjawab ucapan Zahra, tiba-tiba seorang suster keluar dari ruang IGD dan berlari terburu-buru untuk memanggil dokter. Seketika Arka, Zahra dan Tiara bangkit dari duduknya.
Tak lama dokter dan 2 suster berlari terburu-buru dengan cepat kembali masuk kedalam ruang IGD tersebut.
Membuat Arka dan Zahra terpaku melihatnya, tak sempat bertanya apapun pada tim medis yang menangani Ibunya itu.
"Astagfirullah.." ucap Arka sembari mengepalkan tangannya dan menempelkannya di kening terdengar suaranya sangat berat
Zahra memperhatikan suaminya itu, membuat ia semakin tak tega harus meninggalkan suaminya itu seorang diri.
Arka dengan cepat mengambil ponsel di dalam saku celananya itu, ia menghubungi orang terdekatnya.
"Assalamu'alaikum Ka.." ucap seseorang dari jauh sana
"Walaikumsalam Pak Rio.. Aku butuh Bapak disini" ucap Arka dengan suara lirihnya
Seseorang yang Arka hubungi adalah Rio, seseorang yang juga sangat dekat dengan dirinya, bukan hanya sahabat Almarhum Ayahnya tapi Rio juga telah memberikan kasih sayangnya untuk Arka, membuat Arka merasa tenang bila ada Rio.
Arka menyuruh Rio untuk datang ke rumah sakit, dengan segera Rio meninggalkan pekerjaannya lalu pergi menuju Rumah Sakit.
Belum selesai disitu, Arka masih terus meneteskan air matanya yang tak terbendung lagi. Kali ini Arka menghubungi seseorang yang benar-benar dekat dengan dirinya, yang sudah ia anggap sebagai orangtuanya sendiri, yaitu Alif sang paman.
"Assalamu'alaikum Om.." ucap Arka dengan suara lirih setelah sambungan teleponnya itu dijawab oleh Alif dari jauh sana
"Walaikumsalam Ka.. Kamu kenapa Ka? Ada apa?" tanya Alif bertubi-tubi karena ia begitu khawatir mendengar suara Arka bercampur isakan tangisnya
"Ibu, Om.. Ibuuu" ucap Arka lagi-lagi air matanya terus menetes dengan derasnya
"Kak Nisa kenapa Ka? Ada apa Arka? Kamu tenang dulu, coba tenangkan diri mu dulu Ka.." ucap Alif dengan sangat cemas
Arka mencoba mengatur nafasnya, menghentikan air matanya, dan menyeka-nyeka wajahnya yang basah oleh air matanya itu.
"Ibu jatuh terpeleset sampai tak sadarkan diri, sekarang Ibu sedang di IGD.." ucap Arka dengan suara datarnya berusaha sedang mengendalikan dirinya
"Innalillahi.. Om segera ke Surabaya sekarang, kebetulan Om sedang di Yogyakarta" ucap Alif dengan cepat
Alif lalu memutuskan sambungan teleponnya, dan segera berangkat menuju Surabaya.
__ADS_1
Kebetulan setelah acara resepsi pernikahan Arka waktu itu Alif belum kembali ke Inggris, Alif masih mengurus bisnisnya dan berkeliling Indonesia, sementara Shaina sudah kembali lebih dulu ke Inggris.