Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 30


__ADS_3

Nisa dan Arka berada di ruangan kerja, peninggalan Ayahnya. Arka sedang mempelajari semua berkas yang di siapkan oleh Rio dan Yusuf yang kini menjadi asisten pribadi Nisa. Nisa yang duduk dihadapan Arka sembari menikmati camilan dan teh hijau kesukaannya.


"Arkaaa.." ucap Nisa dengan hati-hati


"Iya Bu, kenapa?" jawab Arka begitu lembut dan sopan sembari menoleh ke arah Nisa lalu kembali ke berkas yang ia pegang itu


"Sekarangkan Arka sudah 25 tahun, dan sebentar lagi Arka juga lulus S2nya.." ucap Nisa masih dengan berhati-hati


"Iya Bu, Alhamdulillah gak berasa yaaa" jawab Arka menanggapi Ibunya


"Iya nak.. Ibu mau tanya, umur berapa kamu akan menikah?" ucap Nisa dengan langsung ke inti pembicaraannya


Arka seketika menoleh ke arah Ibunya, yang ada dihadapannya itu. Ia begitu kaget dengan pertanyaan Ibunya itu, sementara Arka belum pernah pacaran, belum pernah berperasaan pada wanita, dan kini hatinya sedang belajar melupakan perasaannya pada Aira.


"Kok Ibu tanya begitu?" ucap Arka tak mampu menjawab pertanyaan Ibunya tadi


"Yaaa Ibu ingin melihat kamu menyempurnakan separuh agama mu, ingin melihat kamu bahagia, dan ingin melihat cucu Ibu, mumpung Ibu masih sehat.." jawab Nisa sembari menatap putranya dalam-dalam


Arka membalas menatap Ibunya, ia tak mampu lagi berkata-kata, Arka melihat begitu banyak harapan yang tersirat dari mata Ibunya itu.


"Buuu.. Arka sebenarnya tidak harus diumur sekian atau berapa, kapanpun sudah ada jodoh yang Allah berikan, Arka siap.. Karena Arka yakin Allah kasih diwaktu yang tepat" ucap Arka menenangkan Ibunya sembari menggenggam tangan Nisa dengan lembut


"Kamu bener sayang.." jawab Nisa dengan membalas sentuhan lembut diatas tangan putranya itu sembari tersenyum yang terlihat dari matanya


Arka kembali membalas senyum pada Ibunya itu.


"Kalau Ibu kenalkan kamu pada seorang wanita untuk taaruf apa kamu mau?" ucap Nisa tiba-tiba


Arka sontak begitu kaget mendengar ucapan Ibunya itu. Itu artinya ia akan dijodohkan. Arka mencoba menelan salivanya dengan susah payah.


"Heemm.. Ibu mau jodohkan aku maksudnya?" ucap Arka dengan susah payah


"Yaaa enggak juga, kan taaruf dulu kalau kamu suka dan ada jodohnya bisa lanjut ke pernikahan, tapi kalau belum berjodoh yaaa taarufnya bisa dibatalkan sayang.." jawab Nisa menjelaskan


Arka terdiam seketika, ia lagi-lagi begitu kaget dengan ucapan Ibunya itu.


"Dulu juga Ibu dan Ayah begitu, bahkan Ibu sama sekali tidak taaruf yang selalu bertemu, Ibu bahkan tidak tahu banyak soal Ayah, tapi Ibu terus berdoa sama Allah minta petunjuk Allah, dan Allah selalu jawab untuk yakin jodoh dengan Ayah. Alhamdulillah setelah menikah Ibu bisa mencintai Ayah mu, bahkan merasa menjadi wanita paling bahagia telah menikah dengan Ayah mu.." ucap Nisa menceritakan dirinya dengan Almarhum suaminya, Alfath.


"Percaya sama janji Allah, orang sholih akan berjodoh dengan orang sholih.." lanjut ucap Nisa


"Iya Bu.. Insya Allah yaaa semua yang terbaik.." jawab Arka sembari terus menggenggam tangan Ibunya itu

__ADS_1


*****


Hari ini adalah hari Selasa, dimana Nisa dan Arka berangkat ke Ponpes untuk menjenguk Umma yang sudah semakin tua, yang sudah tidak lagi bisa beraktivitas seperti dulu, dan hanya bisa beraktivitas didalam rumah saja.


Umma kini tinggal bersama dengan Fatih dan istrinya juga anak-anaknya.


Nisa sebenarnya selalu mengunjungi Umma terkadang 2 minggu sekali, bahkan sebulan sekali, tapi ia selalu tinggal beberapa hari untuk menemani Umma di hari tuanya itu.


Sesampainya di ponpes, Nisa dan Arka disambut oleh para santri yang kebetulan melihat mobil yang juga suka dipakai Nisa untuk datang ke Ponpes. Semua santri sangat menghormati Nisa, karena memang terkadang Nisa masih mengisi kajian di Ponpes dikala ia mengunjungi Ponpes.


Umma yang sedang bersantai dan duduk dihalaman depan rumahnya itu, sudah melihat kedatangan putri bungsunya dan cucunya. Ia begitu senang melihat Putrinya di sambut gembira oleh para santri, dengan menyalaminya, begitu juga pada Arka.


Umma melambaikan tangannya pada Nisa dan Arka.


Arka melihatnya, langsung menghampiri Neneknya itu, karena ia memang begitu merindukannya.


"Neneeeek.." teriak Arka sembari berlari menghampiri Neneknya itu


Umma langsung membentangkan tangannya, hendak memeluk tubuh cucunya yang kini sudah menjadi pria dewasa.


"Nenek apa kabar? Arka sangat rinduuuu" ucap Arka sembari mencium tangan Umma dengan halus


"Nenek sehat sayang.. Masya Allah cucu ku semakin tampan, cucu Nenek sudah jadi bujang aja.." ucap Umma sembari mengelus-elus rambut Arka dengan lembut


"Assalamu'alaikum Pade, Bude.." ucap Arka sembari bersalaman, bergantian pada Fatih dan Ayu


"Walaikumsalam.." jawab Fatih dan Ayu bersamaan.


"Assalamu'alaikum..." ucap Nisa yang baru datang menghampiri Umma dan kedua kakaknya itu setelah tadi dikerumuni anak-anak santri.


"Nis.. Apa kabar?" ucap Ayu setelah menerima jabatan tangan Nisa


"Alhamdulillah baik Mbak.." jawab Nisa dengan cepat


"Ayooo masuk didalam.." ucap Fatih pada semuanya


Arka masuk kedalam sembari membantu Umma untuk berjalan. Ayu langsung membuat minuman untuk Nisa dan Arka.


"Gak usah repot-repot Bude.. Biar nanti kami ambil sendiri saja.." ucap Arka menahan Ayu


"Tidak.. Tidak repot sayang. Bude senang malah.." ucap Ayu dengan ramahnya

__ADS_1


"Iya Arka.. kamu kan baru kembali kemari masa tidak disuguhi apa-apa.." ucap Umma sembari mengelus tangan Arka yang sedari tadi duduk berdekatan.


Nisa langsung mengikuti ke dapur, lalu disusul oleh Fatih yang sebenarnya ingin membicarakan sesuatu pada Nisa.


"Nis.." ucap Fatih pelan sembari menepuk pundak Nisa


"Iya Mas, kenapa? Ada apa?" tanya Nisa begitu kaget


Ayu yang juga sedang membuat minuman didapur langsung menoleh kearah kakak adik itu yang berada tidak jauh dari dirinya.


"Ada yang ingin Mas bicarakan.." ucap Fatih lagi-lagi suara itu dipelankan, seperti berbisik


"Iya Mas, kenapa?" jawab Nisa yang juga kini ikut menjadi pelan.


"Tentang kesehatan Umma..." ucap Fatih dengan hati-hati


"Kenapa Mas, Mbak dengan Umma?" ucap Nisa dengan panik


"Umma sudah semakin tua, kemarin mengeluhkan sakit untuk berjalan, tulangnya serasa lemas katanya.." ucap Fatih sedikit berbisik


"Kemarin sudah diperiksa dokter juga.." ucap Ayu menambahi


"Lalu apa kata Dokter?" tanya Nisa penasaran


"Tidak ada penyakit serius kalau kata dokter..." jawab Ayu sembari mengocek minuman yang ia buat


"Iya Nis, Mas sih melihatnya Umma sekarang selalu kesulitan untuk menggerakan kakinya. Mas takutnya memang Allah sudah mencabut nikmat itu.. Sama seperti dulu mertua Mas, Bapanya Mbak Ayu, meninggalnya bukan karena sakit, tapi ya begitu pertama tiba-tiba kakinya sakit tidak bisa berjalan, lalu keatas semua tidak bisa digerakan, lalu Allah ambil nyawanya.. Iya kan Bu?" ucap Fatih panjang lebar bercerita pada Nisa, lalu bertanya pada Ayu istrinya hendak meyakinkan


"Iya Nis, Almarhum ayah ku juga begitu.." ucap Ayu mengiyakan ucapan Fatih


"Kemarin sih Umma bilang pada ku, katanya ingin bertemu dan berkumpul sama semua anak-anaknya. Mengeluhkan juga Ridwan yang jauh jarang memperhatikannya, beda dengan kamu.." tambah ucap Ayu


Nisa seketika terdiam, ia tak mampu lagi berkata-kata. Ia sedang mencoba meresapi ucapan kakak-kakaknya itu.


"Umma sudah sangat tua, jika Allah akan mengambilnya pun pasti karena Allah kasihan melihat Umma yang semakin tak berdaya.." ucap Nisa sembari pandangannya kosong, sedikit melamun


Ayu hanya mengangguk, lalu membawa minuman yang sudah jadi kedepan untuk Arka.


"Iya Nis, begitu.. Demi Allah Mas tidak menyumpahi atau mengharap Umma cepat meninggal, kalau Umma di ambil Allah tidak ada lagi ladang pahala untuk Mas berbakti pada sosok Ibu.. Tapi Mas juga tidak mau melihat Umma tambah tidak berdaya.." ucap Fatih sembari menahan air matanya


"Iya Mas.. Nisa ngerti.. Ya sudah kita hubungi semua saudara untuk bisa datang kemari, kita adakan acara syukuran, mumpung ada Arka juga di Indonesia.." ucap Nisa langsung membuat inisiatif

__ADS_1


Fatih langsung setuju dengan ucapan Nisa, adiknya itu. Ia siap membantu untuk semua keperluan acaranya nanti.


__ADS_2