Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 69


__ADS_3

Rio dengan cepat menghampiri Arka yang sedang duduk sendiri itu. Lalu memberikan Tab yang diberikan oleh Zahra.


"Nih.." ucap Rio sembari menyodorkan Tab itu


"Ada apa? Sepertinya Zahra terburu-buru?" tanya Rio yang merasa aneh dengan Zahra tadi


"Zahra? Zahra kesini?" tanya Arka begitu kaget, karena sebenarnya memang dia tidak bertemu dengan Zahra sedari tadi dia mengobrol dengan Aira


"Iya, tadi dia kesini.. Karena Tab kerja mu tertinggal katanya.. memangnya kalian tidak bertemu? Padahal Zahra sudah dari dalam sepertinya aku lihat" ucap Rio memberitahu, Zahra hanya bertemu Rio tadi didepan setelah mendengar percakapan Suaminya dengan Aira membuatnya mengurungkan diri untuk menemui suaminya itu, sembari menahan tangisnya dia hanya menitipkan Tab itu lalu dengan cepat masuk kedalam mobilnya


Seketika Arka sangat panik, apa Zahra mendengar percakapannya dengan Aira. Perasaanya resah tak karuan.


"Mengapa Zahra tahu kita disini?" ucap Arka bertanya-tanya pada Rio


Rio mengangkat bahunya menandakan tidak tahu. Yusuf menatap kearah Arka dan Rio bergantian.


"Tadi Zahra mengirimi aku pesan, dan menanyakan kita dimana, tapi aku tidak tahu dia akan kemari" ucap Yusuf dengan takut bosnya itu marah


"Aaargghhh kenapa kau tidak memberitahu ku!!" Ucap Arka dengan kesalnya, wajahnya frustasi


"Maaf.." ucap Yusuf dengan menyesal


"Ya sudah kita selesaikan pekerjaan kita, aku ingin cepat pulang" ucap Arka, lalu Yusuf dan Rio mengerti


Arka lalu kembali meeting bersama clientnya itu, terlihat jelas diwajahnya bahwa ia terlihat gelisah. Aira sangat memperhatikannya.


Setelah beberapa jam, akhirnya semua selesai. Arka lebih dulu pulang dengan mobilnya, ia mengendarainya sendiri dengan sangat cepat, sementara Rio dan Yusuf mereka pulang dengan taxi online.


Sesampainya di rumah, Arka langsung mencari istrinya. Di dapur pun tak ada. Nisa terlihat sedang duduk di sofa ruang keluarga dengan Al-Qur'an ditangannya.


"Assalamu'alaikum Bu.." ucap Arka mencium tangan Ibunya lalu naik ke atas hendak ke kamarnya mencari Istrinya itu


"Walaikumsalam.." jawab Nisa dengan cepat tapi tak berani bertanya Arka kenapa


Arka melebarkan langkahnya, menaiki tangga dengan sedikit berlari juga. Ia langsung membuka kamarnya yang terlihat sangat gelap karena lampunya tidak menyala, belum lagi gordin yang sudah ditutup rapat.


"Sayang.." ucap Arka dengan pelan


Arka tahu istrinya sedang duduk dilantai dan bersandar di kasur, dan menghadap ke jendela luar.


"Hiks.. hiks.. hiks.." suara sesegukan yang ditahan


"Sayang.. Kamu kenapa?" tanya Arka dengan mendekat menghampiri istrinya, lalu menyentuh lembut kepala istrinya.


"Jangan sentuh aku, Mas.." ucap Zahra masih dalam tangisnya


"Kamu kenapa? Apa salah aku?" tanya Arka dengan lembut walau Zahra sudah menghempas tangannya


"Kamu tanya apa salah mu Mas?" ucap Zahra sembari menatap mata Arka dengan sangat dalam


"Hah! Semua sudah jelas Mas, tidak perlu lagi aku jelaskan.. Silahkan jika kau ingin membersamai Aira.. Aku wanita biasa, aku bukan wanita sempurna, aku tak bisa berbagi suami ku dengan wanita lain.. lepaskan aku, setelah itu silahkan terserah mu.." lanjut ucap Zahra secara tidak langsung meminta perceraian


"Istigfar, Sayang! Apa yang kamu ucapkan! Aku tidak akan pernah menceraikan mu bagaimanapun juga!" Ucap Arka dengan emosi


"Pernikahan hanya sekali untuk seumur hidup bagi ku. Tolong, tolong dengar penjelasan ku.." ucap Arka lagi dengan memohon


"Apa Mas, Apa yang harus kau jelaskan? Tentang perasaan mu dengan Aira? dengan hubungan kalian? Semua itu lebih menyakitkan Mas!" ucap Zahra sembari terus larut dalam tangisnya


"Aku telah berpikir, dulu waktu pertama kita menikah kau tak benar-benar mencintai ku bukan, hingga aku tak kau anggap! Semua itu karena apa? Karena perasaan mu pada wanita itu bukan?!" lanjut ucap Zahra langsung tanpa membiarkan Arka berbicara


"Sayang cukup!" ucap Arka yang kini air matanya mulai menetes lalu memeluk Zahra dengan erat


"Lepaskan aku Mas!" ucap Zahra sembari berontak tak ingin dipeluk suaminya itu


"Hanya aku yang mencintai mu, sedangkan hati dan perasaan mu untuk wanita lain. Kenyataan itu cukup membuat aku sangat terluka!" ucap Zahra sembari meronta ingin lepas dari pelukan suaminya itu


"Maaf.. maafkan aku" ucap Arka dengan tak melepaskan pelukannya

__ADS_1


"Aku terlambat mencintai mu.. Sungguh kini aku sangat mencintai mu! Percayalah.." lanjut ucap Arka yang juga larut dalam tangisnya


Zahra tak dapat menghentikan tangisnya, hatinya sangat terasa sesak ketika mengetahui segalanya, rasanya ingin ia berteriak sekencang mungkin, tapi itu semua tidak mungkin.


"Tolong.. percaya pada ku.. berikan aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya, untuk membuktikan cintaku pada mu.." ucap Arka lagi-lagi air matanya terus mengalir


Zahra hanya terdiam, tenaganya sudah terkuras karena menangis. Tentu saja Zahra akan memberikan kesempatan lagi, karena cintanya pada Arka cukuplah besar.


"Percaya pada ku.." ucap Arka dengan suara yang bergetar


Zahra hanya menganggukan kepalanya, lalu mencoba menyeka air matanya.


Arka lalu menciumi kepala Zahra, lalu memeluk lagi dengan begitu erat.


Malam berlalu, Zahra dan Arka kembali seperti biasa dihadapan Nisa. Zahra masih merasakan sakit hatinya, ia belum bisa sebaik dulu pada Arka, Zahra lebih cuek dari biasanya, perhatian-perhatian dari mulutnya seolah hilang. Tapi Zahra tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, ia tetap memasak, menghidangkan makanan untuk suaminya, menyiapkan pakaian untuk suaminya.


*****


Seminggu berlalu, akhirnya Tuan Rivans akan kembali ke Negara asalnya, begitu juga dengan Aira. Arka akan berusaha untuk melakukan kerjasama dengan jarak jauh, agar Tuan Rivans tidak perlu datang ke Indonesia lagi, karena bila ia datang pasti akan bersama dengan Aira.


Zahra sudah tahu kalau hari ini adalah hari terakhir Aira di Indonesia.


Semenjak kejadian itu, Zahra tidak ingin lagi datang ke kantor, ia membiarkan Arka bekerja sebagaimana mestinya.


Arka bersama Rio mengantarkan Tuan Rivans bersama kedua asisten juga Aira sekertarisnya ke bandara.


Rio dan Tuan Rivans sedang ngobrol, setelah dia berpamitan pada Arka.


"Terimakasih untuk semuanya.. Salam untuk Zahra" ucap Aira pada Arka, sembari memberikan secarik kertas yang ia lipat.


Arka tak menjawab apapun, ia terkejut dengan kertas yang kini ada ditangannya.


Rivans dan semuanya telah masuk kedalam, karena pesawat mereka sudah menunggu.


Arka berjalan dibelakang Rio untuk kembali kedalam mobil untuk kembali ke kantor.


Dibukanya kertas itu :


*Hai, selamat bertemu lagi


Aku sudah lama menghindarimu


Sialkulah kau ada di sini


Sungguh tak mudah bagiku


Rasanya tak ingin bernapas lagi


Tegak berdiri di depanmu kini


Sakitnya menusuki jantung ini


Melawan cinta yang ada di hati


Dan upayaku tahu diri


Tak selamanya berhasil


Apabila kau muncul terus begini


Tanpa pernah kita bisa bersama


Pergilah, menghilang sajalah lagi


Bye, selamat berpisah lagi


Meski masih ingin memandangimu

__ADS_1


Lebih baik aku tiada di sini*


Sungguh tak mudah bagiku


Menghentikan segala khayalan gila


Jika kau ada dan 'ku cuma bisa


Meradang menjadi yang di sisimu


Membenci nasibku yang tak berubah


(Dikutip dari lirik lagu Maudy Ayunda - Tahu Diri)


Arka menghentikan langkahnya ketika membaca isi kertas itu.


Tiba-tiba hatinya berubah menjadi kacau tak karuan. Tanpa ia sadari, Rio yang berjalan kembali menghampiri Arka, membaca isi kertas itu dari samping, hingga ia tahu semuanya.


"Jadi ini yang membuat mu sekacau ini" ucap Rio sembari menyentuh pungguh Arka dengan pelan


Arka tak menjawab, sungguh hatinya gelisah tak karuan. Rio mengajak Arka untuk duduk di taman bandara, sembari menikmati secangkir kopi yang ia pesan.


"ceritalah kamu kenapa?" tanya Rio sembari menyodorkan secangkir kopi kesukaan Arka.


Rio yang selalu bersifat kebapakan untuk Arka, begitu merasa prihatin dengan kondisi Arka akhir-akhir ini yang selalu terlihat frustasi, kacau.


"Terimakasih.." ucap Arka sembari menerima secangkir kopi itu. Arka lalu menyeruput kopi itu perlahan


"Zahra mendengar percakapan ku dengan Aira sewaktu di Resto hari itu, dia sangat kecewa pada ku, bahkan sampai meminta perceraian" ucap Arka dengan lesunya


"Lalu?" ucap Rio merasa terkesiap mendengar semuanya


Arka menceritakan semua awal permasalahan dengan Zahra pada Rio, seseorang yang sudah Arka anggap sebagai orangtuanya sendiri.


"Aku sempat mendiamkan Zahra waktu awal pernikahan.. Ya memang benar, karena waktu itu aku tak punya perasaan pada Zahra. Makanya Zahra menyangkut pautkan tentang aku dan Aira kemarin pada kejadian itu.." ucap Arka mencoba menceritakan segalanya


"Tapi kini kau sudah mencintai istri mu bukan?" tanya Rio ingin memastikan


"Aku sangat mencintai istriku sekarang.." jawab Arka dengan tatapan kosong kesembarang arah


"Lalu apa istri mu mempercayai itu?" tanya Rio seolah-olah mengintrogasi Arka


"Sepertinya tidak.. Aku merasa kacau, kini Zahra sangat berbeda, dia tak sehangat dulu.." jawab Arka tetap dengan tatapan kosongnya


"Aku semakin tersudutkan dengan tulisan ini" lanjut ucap Arka sembari memberikan kertas itu pada Rio


Rio yang sudah membaca tulisan itu, meremas kertas yang ia terima dari Arka, lalu ia melemparnya masuk kedalam tong sampah.


"Sudah! Kau buang semua kekacauan yang ada di hati mu bersamaan dengan kertas itu" ucap Rio pada Arka


"Kau benar.." jawab Arka dengan cepat, lalu kembali menyeruput kopinya


"Aku harus berbuat apa, aku ingin mengembalikan kehangatan yang dulu.. Aku tak mungkin hidup dalam rumah tangga yang dingin ini.. Zahra sama sekali tidak mau aku sentuh" lanjut ucap Arka putus asa


"Pulang kerumah mu, bawakan hadiah untuk istri mu, ajak dia liburan dan honey moon kembali" ucap Rio memberi arahan


Arka lalu kembali bersemangat, ia ingat sudah lama tak pernah mengajak Zahra untuk berlibur dan memberikannya hadiah.


Arka lalu masuk kedalam mobil, diikuti oleh Rio yang berjalan dibelakangnya.


"Jangan tinggalkan aku juga kali.." ucap Rio sembari mengikuti langkah Arka yang masuk kedalam mobil ditempat supir


"Antar aku untuk membelikan hadiah.." ucap Arka dengan senyum yang mulai mengembang.


"Siapkan liburan untuk aku dan istriku.." lanjut ucap Arka


Rio hanya tersenyum lebar, ikut bahagia melihat Arka kembali bersemangat itu.

__ADS_1


__ADS_2