
Matahari pagi sudah menyapa. Arka sudah bersiap untuk berangkat ke kantor, sementara Zahra sibuk memasak di dapur.
Arka turun ke bawah dengan baju rapi, seperti biasa Arka lebih sering menggunakan baju santai tapi dengan jas rapi, celana khas anak muda kekinian, dengan sepatu casualnya.
Zahra melihat suaminya itu turun dari tangga.
"Selamat pagi sayang.." Sapa Arka ketika melihat istrinya yang sedang menyajikan makanan di meja makan
"Selamat pagi, Mas.." jawab Zahra dengan senyum mengembang
"Oh, Iya Ibu dimana?" tanya Arka setelah mendaratkan ciumannya di jidat Zahra
"Ibu belum keluar kamar, Mas.. Aku takut mengganggu Ibu jika memanggil, kan kata mu Ibu sedang kelelahan" jawab Zarha sembari melihat ke arah kamar Ibu mertuanya itu.
Arka langsung kembali berdiri dan menghampiri kamar Ibunya, lalu mengetuk pintunya.
"Buuu.. Ayo kita sarapan.." ucap Arka setelah mengetuk pintunya
Nisa tak juga membuka pintunya, tak ada juga suara jawaban dari Nisa. Arka masuk kedalam dengan membuka pintu yang tak terkunci itu.
"Buuu..." ucap Arka dengan lembut
Kamarnya masih gelap, gordinnya pun masih tertutup, lampu tidur pun masih menyala.
"Buuu.." ucap Arka bingung, karena melihat kasur yang sudah rapi, selimut yang sudah terlipat. Kemana sebenarnya Ibunya itu
Arka terus mencari Nisa, Arka masuk keruang ganti pakaian. Terlihatnya Nisa tergeletak disajadah lengkap dengan mukenanya.
"Buu.. Ibu.." panggil Arka dengan perasaan cemasnya
Seketika Nisa membuka matanya, Nisa tertidur di sajadahnya selepas sholat subuh tadi.
"Arka.." ucap Nisa kaget ketika putranya membangunkan dengan begitu cemas
"Ibu sakit? kita ke rumah sakit ya?" ucap Arka dengan paniknya
"Ibu tidak apa-apa, Nak.. Ibu semalaman tidak bisa tidur, jadi selepas sholat subuh Ibu ketiduran. Kamu sudah mau berangkat ke kantor ya? Berangkatlah, nanti keburu siang.." jawab Nisa panjang lebar
"Benar Ibu tidak apa-apa?" tanya Arka memastikan
"Iya sayang, Ibu tidak apa-apa.." jawab Nisa dengan mengelus lembut wajah putranya
"Kamu sarapanlah bersama istri mu, Ibu mau mandi dulu.." lanjut ucap Nisa
Arka lalu mengerti, ia keluar dari kamar Ibunya lalu menuju meja makan, istrinya sudah menunggu.
"Mas Ibu mana?" tanya Zahra sembari melihat ke arah belakang Arka
"Ibu baru saja bangun, karena semalam tidak bisa tidur katanya, dia akan mandi dulu lalu menyusul sarapan.." jawab Arka sembari duduk di kursi meja makan
Zahra mengangguk, lalu menyendoki nasi dan lauk kepiring suaminya itu.
"Sayang.. semakin hari semakin enak sekali masakan kamu" ucap Arka sembari terus menikmati makanannya hingga habis
__ADS_1
"Heemm.. Mas bisa aja" jawab Zahra sembari mecandai Arka
Arka hanya tertawa kecil. Setelah selesai sarapan Arka langsung berpamitan untuk ke kantor.
"Sayang, Aku berangkat dulu yaaa.. Jika Ibu tidak kemana-mana, tolong temani Ibu dirumah ya, tidak perlu datang ke kantor untuk hari ini. Aku khawatir dengan Ibu.." ucap Arka sembari berjalan ke depan di antar Zahra yang membawakan tas kerjanya.
"Iya Mas.. Kamu jangan telat makan siangnya yaa.." jawab Zahra sembari bergelendotan ditangan suaminya itu
"Siap istriku.." ucap Arka lalu mencium kening Zahra
"Hari ini aku akan meeting dengan perusahaan dari luar Negri, sayang.. jadi harus bersiap pagi-pagi sekali" lanjut ucap Arka
"Iya Mas, kamu hati-hati" ucap Zahra
Arka lalu melajukan mobilnya dengan cepat karena sudah ditunggu.
Sesampainya di kantor, Yusuf memberitahu bahwa client dari luar negri itu sudah datang dan menunggu di ruang rapat. Arka melirik jam di tangannya, masih ada waktu 10 menit lagi. Arka lalu menerima berkas yang diberikan Yusuf, lalu masuk ke ruang rapat bersama dengan Yusuf, sementara Rio sudah menunggu bersama para tamu.
"Perkenalkan tuan, ini Arkana Swain pemilik sekaligus Direktur diperusahaan ini.." ucap Rio pada Tamunya yang seorang pria separuh baya berbadan berisi dan tinggi, dengan wajah berjanggut
"Arka ini Tuan Rivans Crishtian, pemilik sekaligus direktur perusahaan PT. Mistake yang menawarkan kerjasama" ucap Rio pada Arka
Arka dan Rivans berjabatan tangan, dan saling sapa dengan ramahnya.
"Hallo Tuan Arkana.. Senang bisa bertemu dengan mu, terimakasih sambutan kalian pada kami sangat baik" ucap Rivans pada Arka dengan senyum mengembang
"Terimakasih kembali Tuan, sudah mau datang ke Indonesia" ucap Arka begitu ramahnya
"Ini dua asisten pribadi saya, Ronald dan Rey, itu sekertaris saya, dia seorang muslim.." ucap Rivans sembari menunjuk ke arah ketiganya
"Saya tertarik dengan perusahaan mu karena mendengar ini perusahaan muslim, saya sangat tertarik dengan sistem bisnis muslim" lanjut ucap Rivans
"Tapi maaf.. Apakah tuan seorang muslim?" tanya Arka dengan senyumnya
"Hmm bukan, tapi saya mulai tertarik dengan muslim.." jawab Rivans dengan jujur
"Saya suka dengan potensi anda Tuan Arkana, saya tahu tentang anda.. Anda masih sangat muda tapi berbakat" lanjut ucap Rivans
Arka tiba-tiba terkejut dengan melihat seorang wanita yang berjilbab itu. Ia sangat tak asing melihatnya. Hatinya langsung tak karuan.
Wanita itu ternyata Aira, begitu juga dengan Aira ia sangat terkejut begitu mengetahui kini dirinya sedang mendatangi kantor Arka yang ia kenal. Saling pandangpun terjadi, tak dapat di hindari.
Rio menyadari bahwa Arka dan sang sekertaris itu saling pandang. Rio menerka-nerka mungkin mereka saling kenal.
"Baiklah kalau begitu, kita mulai meeting ini.." ucap Yusuf tiba-tiba mengejutkan Arka, membuat mereka berhenti saling pandang.
Arka jadi tak fokus selama dalam meeting itu, batinnya resah tak karuan. Belum juga usai pikiran Arka tentang Ibunya dengan Azam mertuanya, kini ia dihadapkan kembali dengan Aira.
Meeting itu pun selesai, seperti yang sudah di jadwalkan, kini waktunya menjamu makan siang pada para kolega, dan mengajaknya ke restoran terdekat.
Sebelum pergi, Arka melihat ponselnya yang berdering tanda sebuah pesan masuk.
"Mas, aku tidak ke kantor ya, Ibu kurang enak badan sepertinya. Jangan lupa makan siang ya.. I love you" pesan WA yang dikirmkan oleh Zahra
__ADS_1
"Iya sayang, tolong jaga Ibu yaaa.. Aku ini akan makan siang bersama kolega, kamu juga makan siang dengan Ibu ya.. Love you too" balas Arka dengan cepat
Lalu Arka menaiki mobil yang sudah disiapkan oleh Rio dan Yusuf. Selagi diperjalanan Arka masih memikirkan Aira, batinnya menerka-nerka.
"Ada apa? sepertinya kau kurang fokus" tanya Rio yang memperhatikan Arka sembari mengemudi itu
"Sekertaris itu adalah Aira, orang yang pernah ada di hatiku.. Kita pernah dekat" ucap Arka dengan suara yang berat
Rio menganga, tak percaya dengan ucapan bosnya itu.
"Kok bisa?" tanya Rio penasaran
"Aku dan dia kuliah di tempat yang sama, hanya saja beda jurusan. Aku dan dia pernah sangat dekat, bahkan dengan anaknya" ucap Arka pada Rio mencoba menceritakannya
Rio hanya mengangguk-angguk tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"ceritanya panjang.. Aku sangat menyayangi Dira, putrinya Aira.." lanjut ucap Arka
Rio semakin termenung mendengar cerita Arka, ia tak percaya anak bos nya ini sampai jatuh cinta dengan wanita bule, bahkan janda.
"Lalu itu yang membuat mu tak fokus tadi?" tanya Rio penasaran, mobil mereka sudah terpakir dihalaman restoran dengan makanan khas Indonesia banget
"Bukan hanya itu, aku juga sedang memikirkan Ibu. Ada yang ingin aku bicarakan dengan Pak Rio lebih lanjut, Aku akan bicarakan nanti setelah kembali ke kantor" ucap Arka sembari membuka pintu mobil hendak keluar
Arka dan Rivans jalan bersamaan untuk masuk kedalam restoran. Mereka langsung menuju meja yang sudah dipesan oleh Yusuf. Makanan pun sudah hampir siap semua, tak lagi harus menunggu lama.
Setelah semua terhidangkan, para kolega Arka dengan tak sabar menyantap makanan itu, begitu juga dengan Arka, Rio dan Yusuf.
Setelah menghabiskan makanannya, Arka langsung berpamitan ingin ke toilet, begitu juga dengan Aira. Aira berharap toilet itu terpisah jauh. Memang benar toilet wanita dan pria terpisah jauh. Ada dihalaman belakang restoran itu, Arka tak sengaja ingin melihat kolam ikan yang ada disana, ternyata dekat dengan toilet wanita.
Aira yang baru saja keluar dari toilet begitu terkejut dengan pemandangan yang ia lihat di depannya itu. Aira tak ingin berpapasan dengan Arka, ia sangat menghindari agar tidak mengobrol berdua saja.
Aira jalan terburu-buru dengan menundukan pandangannya, ia tak ingin lagi bertemu dengan Arka sebenarnya, karena sudah tak ada yang harus dibicarakan menurutnya.
"Aira.. Tunggu" ucap Arka menghentikan langkah Aira
Aira menghentikan langkahnya, tapi belum mau menoleh ke arah Arka.
"Apa kabar? bagaimana kabar Dira?" tanya Arka hanya berbasa-basi
"Alhamdulillah baik.." jawab Aira tanpa mau menatap Arka
"Alhamdulillah.. Kok bisa bekerja dengan Tuan Rivans?" tanya Arka penasaran
"Iya aku diberi pekerjaan olehnya melalui Ibunya Zidan" jawab Aira yang baru mau menoleh ke arah Arka
"Bagaimana kabar Istri mu? Pasti kalian akan segera mendapatkan seorang anak?" lanjut tanya Aira bertubi-tubi
"Alhamdulillah dia sehat, tidak.. Aku baru saja kehilangannya masih dalam kandungan.." jawab Arka dengan sedih
"Innalillahi.. turut berduka" ucap Aira
Aira dan Arka berjalan kembali menuju meja makan, semua orang sudah menunggunya disana. Proyek kerjasama Arka dengan Rivans akan berlangsung seminggu, membuat Rivans, kedua asisten pribadinya, juga Aira sekertarisnya akan tinggal di Surabaya seminggu.
__ADS_1