
Arka yang beberapa hari tidak datang ke kampus karena pulang ke Indonesia dan menikah itu, jadi belum sempat kembali bertemu dosen untuk menyerahkan skripsinya. Hari ini Arka harus kembali ke kampus. Pagi sekali Arka sudah bersiap, setelah sarapan ia langsung berpamitan pada Zahra untuk pergi ke kampus.
"Aku harus ke kampus.. Kamu baik-baik ya disini.." ucap Arka sembari memasukan laptopnya kedalam tas untuk ia bawa
"Iya Mas.. hati-hati yaaa" jawab Zahra dengan cepat
"Aku pamit.. Assalamu'alaikum" lanjut ucap Arka setelah merapikan barangnya
Zahra mencium punggung tangan suaminya itu, sembari menjawab salam. Arka pun mencium kening Zahra.
Arka telah berlalu meninggalkan apartement, Zahra yang merasa kesepian mencoba menyibukan diri, ia membereskan meja makan, mencuci piring, lalu membereskan rumah dengan menyapu dan pel lantai.
Waktu semakin siang, Arka tak ada mengabari Zahra. Zahra mencoba berpikiran positif, ia coba duduk dibalkon kamarnya melihat pemandangan, dan udara sejuk kota London itu. Zahra tahu walau ia sedang di depan kamarnya, tapi ia bisa dilihat oleh orang asing dari luar ataupun tetangga sebelah, makanya ia tetap menggunakan cadarnya. Zahra yang duduk, terlihat melamun, matanya menatap kosong ke sembarang arah.
"Halooo.. kau penghuni baru yaaa?" tanya seseorang dari balkon samping
Sungguh terkaget Zahra mendengar perkataan itu, seseorang berbahasa Inggris menyapanya. Zahra langsung menoleh ke arah suara itu.
"Iya.." jawab Zahra singkat
Zahra begitu kaget, seseorang yang menyapanya adalah seorang pria, berkulit gelap, dengan ramah menyapanya sembari melambaikan tangannya. Zahra hanya menganggukan kepalanya, Zahra begitu canggung.
"Kau seorang muslim yaaa?" tanyanya lagi
"Kenalkan nama ku Aziz, siapa nama mu?" lanjut tanyanya tanpa henti
"Iya saya muslim.. nama saya Zahra" jawab Zahra dengan menipiskan senyum dibalik cadarnya
"Salam kenal Zahra.. Kau berasal dari mana?" tanyanya kembali begitu penasaran
"Saya berasal dari Indonesia.. kamu?" jawab Zahra dengan kembali bertanya
"Saya berasal dari Australia.." ucap Aziz pada Zahra
Tiba-tiba Zahra mendengar suara ponselnya, ia hendak berlari kedalam untuk menerima panggilan telepon itu.
"Maaf saya harus masuk" ucap Zahra pada Aziz yang sedari tadi tak ia lihat wajahnya
Zahra segera mungkin masuk kedalam kamarnya, dilihatnya panggilan itu dari Ibu mertuanya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum Ibu.." ucap Zahra mendahului
"Walaikumsalam sayang.. Bagaimana sekarang, apa Arka sudah ada perubahan?" tanya Nisa yang tahu bahwa Arka putranya itu masih saja sedingin es pada Zahra
"Sudah kok Bu, dari kemarin sebelum berangkat ke Inggris pun, sudah ada perubahan.." jawab Zahra dengan malu-malu
"Oh Alhamdulillah kalau begitu.. Selamat menikmati bulan madu yaaa, semoga Ibu cepat dapat cucu hehe" ucap Nisa dengan menggoda Zahra
"Iya Bu, aamiin.. Insya Allah" jawab Zahra dengan senyum lebar
Sambungan telepon itu pun berakhir. Zahra melihat jam dinding di kamarnya, sudah menunjukan pukul 11 siang. Waktu makan siangpun sudah dekat. Zahra mencoba menghubungi Arka, untuk menanyakan akankah pulang untuk makan siang bersama.
Panggilan Zahra tidak sama sekali mendapatkan jawaban, Zahra kembali berpikir positif.
"Mungkin Mas Arka masih sibuk, atau sedang bersama dosen, membuatnya tak bisa mengangkat telepon.." ucap Zahra sembari tersenyum pada dirinya sendiri
Zahra langsung ke dapur untuk memasak, agar suaminya pulang semua sudah siap.
Zahra sebenarnya masih belajar untuk memasak, ia memasak sembari melihat ke ponsel untuk beberapa resep makanan.
Kali ini Zahra mencoba memasak Ayam goreng tepung, dan capcay.
"Mas Arka belum pulang juga yaaa.. Tak ada pesan atau telepon dari Mas Arka juga.. Ah sebaiknya aku sholat Dzuhur dulu saja.." ucap Zahra lagi-lagi ia berbicara pada dirinya sendiri
Zahra langsung sholat dzuhur dikamarnya, ia juga berdzikir seperti biasanya. Setelah cukup lama ia juga tak dapati pesan ataupun panggilan masuk dari suaminya itu.
Zahra menunggu kepulangan suaminya.
"Aku semakin lapar.." ucap Zahra ketika melihat makanan diatas meja makan
"Aku minum saja dulu, untuk menahan lapar ku" ucap Zahra sembari mengambil gelas lalu menuangkan air minum kedalamnya
Zahra memutuskan untuk menunggu suaminya diruang depan, sembari duduk disofa dan menonton televisi.
Jam terus berputar, waktu semakin larut. Baru kali ini Zahra melewatkan jam makan siang.
Waktu sudah masuk Ashar, belum juga ada tanda-tanda Arka kembali.
"Apa aku hubungi lagi Mas Arka yaaa?" tanya Zahra dalam hatinya sembari terus menatap layar ponselnya
__ADS_1
"Ah jangan, jangan.. Nanti takut disangka bawel lagi" lanjut ucapnya dalam hati
"Lebih baik aku mandi sore dulu saja, lalu sholat Ashar, biar lebih segar" ucap Zahra lalu mematikan televisi yang sebenarnya tak ia tonton itu.
*****
Dikampus Arka dipusingkan dengan revisi beberapa Bab akhir oleh dosennya. Dosen yang sebenarnya hanya menguji mahasiswa yang akan lulus itu semakin menyebalkan.
Arka yang sedari tadi duduk diperpustakaan, dengan buku-buku di hadapannya, dengan raut wajah yang mulai berantakan juga. Arka sampai lupa dengan ponselnya didalam tas, tak sempat ia buka sedari tadi.
Arka tahu waktu sudah masuk Ashar, ia langsung menuju mushola kecil yang diadakan oleh komunitas mahasiswa muslim yang ada di Universitasnya itu.
Setelah sholat Ashar, Arka yang mulai menenangkan pikirannya, lalu berniat untuk mencek resto hari ini. Arka mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju Resto, tanpa membuka ponselnya yang sedari tadi ada di dalam tas.
Sesampainya di resto, Arka baru ingat bahwa dirinya belum makan siang. Sembari mengecek pembukuan resto, Arka memesan teh hijau hangat, dengan sandwich kesukaannya.
Waktu semakin larut, sudah hampir Magrib Arka masih sibuk dengan pembukuan keuangan dan stok Resto itu. Ia lupa bahwa kini ada seorang wanita yang menunggu kepulangannya. Arka baru ingat dengan ponselnya yang ada didalam tas.
"Ya allah, Zahra.." ucap Arka dengan terkejut ketika melihat panggilan masuk dari Zahra dan pesan yang Zahra kirimkan
Arka bergegas untuk pulang ke apartementnya, ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cepat agar segera sampai.
Zahra menunggu diruang depan, seperti tadi ia menyalakan televisi yang tak ia mengerti sama sekali, pikirannya terus pada suaminya, tak ada pesan yang dibalas oleh Arka, tak ada juga panggilan masuk dari suaminya itu.
Zahra mulai merasa resah, ia yang juga mulai merasakan maag di perutnya kambuh, belum lagi membuatnya sakit kepala. Zahra bersandar di sofa, sedikit merebahkan tubuhnya. Waktu semakin larut, perut yang semakin keroncongan, cacing yang demo didalam perut, itu yang Zahra rasakan sekarang.
Arka yang terburu-buru, berjalan dengan sedikit berlari untuk sampai ke apartementnya. Arka langsung memencet bel pintu rumahnya itu. Zahra dengan semangat langsung membukakan pintu.
"Assalamu'alaikum.." ucap Arka ketika pintu itu mulai terbuka
"Walaikumsalam.." jawab Zahra dengan senyum yang luar biasa, Zahra tetap menyambut kedatangan suaminya dengan gembira, walau sebenarnya ia tak baik-baik saja
"Maafkan aku yaaa, sedari tadi aku sibuk, tak sempat menjawab telepon mu, aku baru membuka ponsel tadi sebelum magrib" ucap Arka panjang lebar pada Zahra
"Iya Mas, tak apa.." jawab Zahra dengan senyum terbaiknya
Zahra tak ingin suaminya yang sibuk, banyak pikiran, kembali pulang kerumah melihat dirinya cemberut, karena ia takut membuat suaminya semakin kepikiran.
Zahra juga tak menceritakan dirinya yang menahan lapar menunggu suaminya pulang.
__ADS_1