Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 50


__ADS_3

Arka yang kini tengah duduk di perpustakaan dengan laptopnya, seperti biasa ia merevisi skripsinya. Tapi kali ini pikirannya buyar, tak karuan, perasaanya masih sangat kacau. Arka merasa sangat bersalah pada Zahra. Arka membuka dokument-dokument yang ada di laptopnya, yang sudah sangat lama tak pernah lagi ia lihat. Arka membuka folder bertuliskan "Surgaku", dimana dalamnya berisi foto-foto keluarga utuhnya, bersama Almarhum sang ayah, walau dirinya masih sangat bayi. Di dalamnya juga banyak sekali foto-foto kenangan Ibu dan Ayahnya semasa pacaran setelah pertama menikah.


"Ayah... Arka rindu" ucap Arka ketika melihat foto Almarhum ayahnya yang sedang menggendong dirinya semasa bayi


Tak berasa matanya mulai berkaca-kaca, air matanya berusaha ia tahan karena takut ada yang memperhatikannya.


Arka terus menggeser-geser setiap slide fotonya, hingga sampai ke foto dimana Alfath memberikan kejutan di bulan madunya bersama Nisa.


"Ibu benar, ternyata ayah sangat romantis.." ucap Arka dengan menyunggingkan senyum di wajahnya


Foto itu terlihat sebuah kamar yang dihias dengan bertaburan bunga berbentuk love, Ayah dan Ibunya duduk bersampingan di atas kasur itu, dengan wajah yang begitu bahagia.


"Ayah benar-benar membahagiakan Ibu, seperti Rasulullah.. Arka juga harus bisa seperti itu!" ucap Arka pelan pada dirinya sendiri


Waktu sudah menunjukan pukul 2 siang, Arka yang telah selesai sholat dzuhur dengan cepat kembali pulang ke apartement, karena hatinya mulai tergerak untuk selalu berbuat baik pada istrinya. Arka mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, hatinya tiba-tiba merasakan rindu melihat senyum istrinya itu. Sewaktu di jalan, Arka menyempatkan untuk membeli buket bunga mawar berwarna merah, dan cup cake dengan dekor tulisan "Sorry, but I Love You".


Sesampainya di apartement, Arka sangat tak sabar untuk memberikan semua itu untuk istrinya, Arka menekan bel pintu apartementnya itu, tapi Zahra tak juga membukakan pintu untuknya.


"Apa Zahra sedang tidur siang ya?" ucap Arka dalam hatinya


Arka yang bisa membuka pintu itu dengan sebuah kartu yang juga ia punya, lalu membukanya.


"Assalamu'alaikum.." ucap Arka dengan wajah penuh senyum


Tak ada juga jawaban salam dari Zahra, tambah membuat Arka penasaran kemana sebenarnya Zahra. Arka langsung berinisiatif untuk masuk kedalam kamar, Zahra tak juga terlihat berbaring diatas kasur. Pintu balkon kamar juga terbuka, Arka pun mendengar suara seseorang yang memanggil Zahra dari samping balkon kamarnya.


"Zahraaa.. dimana kamu?" ucapnya dalam bahasa Inggris yang fasih


Arka menyimpan buket bunga dan cup cake itu diatas kasur, lalu bergegas menghampiri suara dari luar itu.


"Apa ada yang mengenal Zahra? Apa selama ini Zahra berteman dengan mereka? Sementara aku tidak tahu?" ucap Arka bertanya-tanya dalam hatinya


Arka keluar dari kamar, sesampainya di Balkon, Arka menengok ke kiri, ternyata seseorang yang memanggilnya ada disebelah kanan.


"Hallo tuan, saya mencari Zahra.. Hari ini ia terlihat sangat tidak baik, suaranya begitu lesu.. Apa anda suaminya yang sering tidak ada dirumah itu?" tanya Aziz tetangga apartement sebelah


Arka mendengar semua itu begitu terkesiap, ia sungguh kaget tak percaya. Belum sempat ia menjawab ucapan Aziz, Arka langsung mencari Zahra kembali. Arka dengan sedikit berlari terburu-buru, membuka pintu toilet, Zahra tak ada. Lalu Arka melihat keruang ganti pakaian, disana juga Zahra tidak ada. Arka langsung mencari ke dapur, ternyata Zahra sudah tergeletak tak sadarkan diri, di dekat meja makan.


"Sayang, bangun sayang.. kamu kenapa?" ucap Arka dengan sangat panik


Arka dengan cepat membawa Zahra ke rumah sakit, Arka memasangkan cadar Zahra dengan asal, lalu menggendongnya ke mobil.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit, Zahra langsung ditangani oleh suster juga dokter diruang IGD. Arka menunggu di depan ruangan. Dengan penuh penyesalan ia meneteskan air matanya, perasaannya semakin gundah, pikirannya kacau tak karuan.


"Ya Allah lindungi istri ku.." ucap Arka dalam tangisnya, lalu mengusap wajahnya kasar


Tak lama, dokter yang memeriksa Zahra keluar, diikuti oleh seorang suster. Dengan cepat Arka menghampiri


"Dokter bagaimana keadaan istri saya?" tanya Arka penasaran


"Istri anda mengalami asam lambung yang cukup tinggi, ada iritasi di lambungnya. Sepertinya sudah cukup lama mengidap maag. Untuk pemulihannya saya sarankan untuk kami rawat 1 malam di rumah sakit." jawab Dokter menjelaskan


"Lakukan semua yang terbaik ya dok.." ucap Arka sembari menguncupkan kedua tangannya


"Baik tuan, kami akan selalu berikan yang terbaik" jawab dokter lalu meninggalkan Arka yang masih terdiam


"Permisi, Tuan.. istri mu sudah sadar dan ingin bertemu dengan mu.." ucap seorang suster yang baru saja keluar dari ruang IGD


Arka lalu masuk kedalam, dengan ditunjukan oleh suster itu. Terlihat Zahra masih dalam keadaan lemas, tubuhnya masih terbaring lemah di atas kasur. Matanya begitu sayu, menatap lembut suaminya.


"Sayang.." ucap Arka dengan bibir yang bergetar, tangannya langsung menyentuh tangan Zahra yang begitu lemah dengan infus yang terpasang dikulitnya


"Mas, maafkan aku.. maaf sudah sangat merepotkan mu" ucap Zahra dengan air mata yang menetes, mulai membasahi jilbabnya


Zahra terdiam, tak mampu berkata apapun, air matanya terus mengalir. Ucapan Arka membuat hatinya begitu luluh.


"Apa ini jawaban atas doaku ya Allah.." ucap Zahra dalam hatinya


Zahra kemudian di pindahkan keruang rawat. Arka dengan setia tetap menjaga Zahra tanpa menghiraukan panggilan-panggilan telepon diponselnya.


"Kamu makan yaaa.." ucap Arka lalu menyuapi bubur yang disediakan rumah sakit untuk pasiennya


Zahra menuruti suaminya itu, dengan pasrah ia membuka mulutnya dan menelannya, padahal makanan yang masuk membuatnya mual.


Tiba-tiba Arka teringat dengan sosok pria, tetangga sebelah apartement mereka yang kemarin memberitahu Arka tentang keadaan Zahra. Suasana sudah sedikit tenang, Zahra pun sudah mulai terlihat membaik.


"Mas, jangan kabari keluarga di Indonesia tentang keadaan ku yaaa.. Aku takut membuat mereka jadi khawatir" ucap Zahra pada Arka dengan memohon


Arka mengangguk, karena ia juga takut akan hal yang sama.


"Sayang, boleh aku bertanya sesuatu?" ucap Arka mencoba memulai obrolan


"Boleh Mas, tanya saja.." jawab Zahra dengan senyum manisnya

__ADS_1


"Eeemm itu.." ucap Arka tiba-tiba gugup


"I-itu.. pria yang di balkon samping apartement kita, dia siapa? Apa kamu dan dia saling mengenal?" lanjut ucap Arka begitu hati-hati


"Oh itu.. Dia Tuan Aziz, dia tetangga kita.." jawab Zahra dengan polosnya


"Apa kalian cukup dekat? Apa selama aku pergi kamu selalu mengobrol dengannya?" tanya Arka dengan bertubi-tubi dengan ekspresi kesalnya


"Mas jangan marah, dia baik. Aku selalu menghindarinya, hanya saja dia selalu menyapaku.. Aku selalu berusaha menghindarinya karena kamu tak ada dirumah. Jika mengobrol dengannya pun kita tidak berdua, selalu ada Mutia, dia adalah keponakannya" jawab Zahra panjang lebar, mencoba menjelaskan


Arka pun mengerti, dia berusaha percaya pada istrinya itu. Arka membiarkan Zahra untuk beristirahat, dan tertidur. Arka meninggalkan Zahra sebentar untuk membeli makanan, untuk dirinya, karena sedari tadi ia belum sempat makan. Saat sedang berjalan ke kantin, tak disangka Arka berpapasan dengan seseorang yang ia kenali.


"Aira.." Sapa Arka begitu terkesiap, baru kali ini ia bertemu lagi dengan wanita yang membuatnya jatuh hati itu


"Arka.." Sapa Aira yang juga sama-sama tak menyangka bisa bertemu dengan Arka di rumah sakit


Aira lebih memperbaiki penampilannya, jilbabnya yang kini lebih menutup dada, bajunya kini menggunakan dress serba menutup, tak lagi menggunakan celana jeans.


"Sedang apa kamu disini?" tanya Arka lebih dulu pada Aira


"Eeemmh.. Di-diraa.." Ucap Aira terbata-bata


"Dira kenapa?" tanya Arka begitu kaget ketika mendengar nama Dira


"Dira dirawat karena demam hingga kejang" jawab Aira dengan jujur


"Innalillahi.. Ya Allah.. Sungguh kasihan putri cantik itu.." ucap Arka meratapi nasib putri kecil itu


"Boleh aku menjenguknya?" tanya Arka yang sebenarnya menahan rindu pada sosok Dira


"Boleh.. Silahkan.." jawab Aira dengan cepat


Arka mengikuti langkah Aira menuju kamar rawat putrinya itu. Disana ada ibu dari Aira, yaitu Nenek dari Dira yang menjaga. Arka yang juga mengenali wanita separuh baya itu, menyapanya dengan sopan, lalu menyapa Dira yang sedari tadi sudah memanggil dirinya.


"Hallo putri cantik.." sapa Arka dengan senyum lebar


"Aku sangat merindukan mu, Om.." ucap Dira lalu memeluk Arka dengan sangat erat


Arka dan Dira larut dalam kebersamaan, dengan saling melepas rindu.


"Ya Allah, hati ku tak bisa dibohongi, aku merindukan gadis kecil ini, aku juga sudah menyayanginya" ucap Arka dalam hatinya

__ADS_1


__ADS_2