
Malam berganti pagi, Arka sudah merasa tubuhnya lebih membaik, ia berniat untuk pergi ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya yang terbengkalai. Tapi tubuhnya masih lemas.
Pagi ini dengan tidak biasa, selepas sholat subuh Zahra kembali membaringkan tubuhnya dan membalutnya dengan selimut. Awalnya Arka cemas takut Zahra juga sakit, tapi Zahra meyakinkan bahwa dirinya hanya merasa malas gerak.
"Benar kamu gak apa-apa Sayang?" tanya Arka meyakinkan
"Benar Mas.. Aku hanya mager, rasanya ngantuk terus.." jawab Zahra dengan cepat matanya terpejam
Arka mengelus perut Zahra yang sedikit terlihat buncit itu.
"Anak Papa sehat-sehat yaaa diperut Mama.." ucap Arka seolah-olah berbicara pada calon anaknya itu
Zahra yang mendengarnya lalu tak kuat menahan tawanya, ia langsung tersenyum dengan lebar lalu sedikit tertawa. Zahra langsung bangkit duduk dan memeluk suaminya yang duduk disampingnya itu, lalu menghirup aroma tubuh suaminya yang sudah bercampur harum minyak wangi, tiba-tiba merasa mual tak tertahankan.
"uuuueeeekkk uuuueeekkkk" suara Zahra yang mual dan mencoba mengeluarkan isi perutnya sembari berlari pelan ke toilet
Arka sudah bersiap, sudah berganti pakaian rapi untuk ke kantor setelah mandi tadi. Tiba-tiba ia terkesiap melihat istrinya yang mual dan muntah-muntah itu, langsung dengan cepat Arka berlari mengikuti istrinya ke toilet.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Arka dengan paniknya, sembari memijat lembut pundak Zahra
"Uuueeekkk Uuuueeekkk" lagi-lagi Zahra terus memuntahkan semua isi perutnya yang padahal belum terisi makanan itu.
Arka dengan cepat mengambilkan air minum yang tersedia di meja kamarnya, dan sebotol minyak kayu putih, lalu kembali ke dalam toilet lagi.
"Sayang ayo dooong.. Kamu kenapa.." ucap Arka dengan nada lirihnya
Setelah merasa enakan Zahra lalu mencuci mulutnya menggunakan air kran, lalu lap dengan tissue. Arka menyodorkan segelas air minum pada istrinya itu, lalu Zahra menerimanya. Arka dengan cepat mengoles minyak kayu putih itu disekitar leher dan pundak istrinya.
"Makasih ya Mas.." ucap Zahra setelah mendapat perlakuan manis dari suaminya
"Sama-sama Sayang.. Ayo istirahat lagi" jawab Arka lalu merangkul pundak Zahra untuk mengantarkan ke tempat tidur lagi
Zahra terlihat sangat lemas, wajahnya pucat pasi. Ia pasrah di dudukan kembali di kasurnya.
"Mas aku mual mencium bau mu, membuat pusing juga.." ucap Zahra pada Arka
"Kok bisa? Inikan minyak wangi yang biasa aku pakai dari dulu, kok baru sekarang kamu bilang bikin mual?" ucap Arka merasa tak ada yang salah dari dirinya
Zahra mengangkatkan bahunya, menandakan tidak tahu. Arka merasa aneh sekali dengan ucapan istrinya itu, lalu ia keluar dari kamarnya untuk melihat sarapan.
Sarapan sudah siap di meja makan, tapi Nisa belum juga terlihat. Arka bergegas untuk melihat Ibunya dulu, ternyata berpapasan dengan Nisa yang sudah mau keluar kamarnya.
"Arka.." ucap Nisa ketika melihat Arka sudah didepan pintu kamarnya
"Eh Ibu.. Ibu sarapan dulu, semua sudah siap kok.." ucap Arka memberitahu
__ADS_1
"Iya, ini Ibu baru mau sarapan.. Istri mu mana?" jawab Nisa lalu menanyakan Zahra yang belum terlihat
"Zahra baru saja muntah-muntah Bu.. Katanya mual mencium aroma ku, padahal ini minyak wangi yang selalu aku pakai dari sejak lama" ucap Arka memberitahukan, dengan wajah sedikit ditekuk
Nisa melemparkan senyum yang mengembang di wajahnya, sembari menatap lekat ke arah putranya itu.
"Kok Ibu senyum gitu sih?" tanya Arka yang merasa Ibunya malah menertawakan dirinya itu
"Wajar sayang.. Zahra kan sedang hamil, bahkan dia bisa mual mencium aroma wanginya makanan juga, bukan cuma aroma tubuh mu saja" jawab Nisa memberi penjelasan
Arka terdiam, mencoba mencerna baik-baik ucapa Ibunya itu. Sedikit demi sedikit Arka mulai merasa biasa saja, karena sudah paham.
"Sekarang mana istri mu?" tanya Nisa mencairka suasana
"Zahra masih sangat lemas Bu, dia di kamar.." jawab Arka dengan cepat
Nisa lalu berjalan masuk kedalam kamar, mengikuti Arka untuk melihat keadaan Zahra yang sedang terbaring itu.
"Ya Allah kok badan Zahra ada bintik-bintik merah gini sih Bu?" tanya Arka dengan panik ketika melihat tangan Zahra yang putih itu ada bintik-bintik merah
Zahra terkaget ketika mendengar ucapan suaminya itu, ia juga langsung mengecek semua tubuhnya dengan cepat, begitu juga dengan Nisa.
"Ih Ibuuuu... Zahra kenapa?" ucap Zahra dengan sangat paniknya
"Kamu tenang dulu sayan yaaa.." jawabnya Nisa mencoba menenangkan Arka dan Zahra yang panik itu
Arka dengan cepat merogoh saku celananya dan menghubungi Dokter.
Sementara Nisa menemani Zahra duduk di sampingnya.
"Apa ini gatal sayang?" tanya Nisa penasaran karena bintik-bintik merah itu cukup banyak di kaki tangan, bahkan perut Zahra tapi tidak sampai ke muka
"Enggak sih Bu.. Tapi kenapa yaaa?" jawab Zahra lalu kembali bertanya dengan wajah cemasnya
Arka yang telah menghubungi dokter lalu kembali untuk menenangkan istrinya yang panik itu.
"Sayang tenang yaaa sebentar lagi dokter datang" ucap Arka sembari menggenggam tangan istrinya itu
Zahra hanya menganggukan kepalanya, sembari mencoba menghindari dari bau aroma minyak wangi suaminya itu.
"Mas.. Kamu ganti baju dong.. Jangan pakai lagi minyak wangi tapiiii.." ucap Zahra sembari mengkerucutkan bibirnya
Nisa tersenyum melihat kelucuan itu. Arka yang sebenarnya kekeuh tidak ingin berganti pakaian karena merasa tidak ada yang salah, mana akan pergi ke kantor.
"Kalau aku ganti pakaian, aku tidak akan kekantor dong" ucap Arka yang sama-sama mengerucutkan bibirnya itu
__ADS_1
"Kamu emangnya tega meninggalkan aku dirumah sedang seperti ini? Kamu tidak mengkhawatirkan kami emangnya?" jawab Zahra dengan pertanyaan bertubi-tubinya, karena sebenarnya ia tak ingin di tinggal pergi oleh suaminya itu
"Kami? Siapa?" tanya Arka dengan bingung yang sebenarnya tak ingin kalah oleh istrinya itu
"Aku dan calon anak mu lah siapa lagi" gerutu Zahra sembari terus mengerucutkan bibirnya itu
Nisa lagi-lagi dibuat tersenyum oleh tingkah anak dan menantunya itu, sebenarnya ia menahan tawanya didepan Zahra juga Arka.
Arka terdiam mendengar ucapan istrinya itu, sungguh penuh pertimbangan jika menyangkut soal calon anaknya.
"Hem ada yang gak mau ditinggal nih.." ucap Arka sembari menggoda istrinya itu
Zahra masih saja mengerucutkan bibirnya.
"Ya sudah kalau tidak khawatir pada kami" jawab Zahra dengan cemberut
"Hehe tentu saja aku sangat khawatir sayang.." ucap Arka lagi-lagi menggoda dengan mendekat kearah istrinya itu
"Iiihhh sanaaa bauuu" ucap Zahra menolak untuk dipeluk suaminya itu
Nisa dan Arka tertawa kecil, akhirnya Nisa tak mampu lagi menahan tawanya melihat tingkah Zahra yang semakin manja layaknya anak kecil itu.
Tak lama dokter datang dengan tas peralatan periksanya. Dengan cepat dokter Mentari itu memeriksa tubuh Zahra di temani oleh Arka dan Nisa yang masih berdiri di belakang dokter.
"Dokter istri saya kenapa?" tanya Arka merasa cemas karena bintik-bintik itu tak kunjung hilang
"Bu Zahra mengalami dehidrasi setelah muntahnya.." jawab Dokter memberitahukan
"Saya infus ya untuk memasukan cairan agar membantu tubuhnya lebih cepat kembali fit lagi" lanjut ucap dokter lalu dengan cepat menyiapkan cairan Infus
Zahra hanya pasrah karena memang tubuhnya masih sangat lemas.
"Sebaiknya Ibu tetap mengkonsumsi air minum setelah muntah, walau air minum membuat mual yaaa.. Banyak minum juga" ucap Dokter memberi saran
"Saya beri obat mual muntahnya yaa Bu.." lanjut ucap dokter Mentari, sembari mengeluarkan 2 strip obat dari dalam tasnya
Arka dan Nisa ke meja makan untuk sarapan, sementara Arka menyiapkan sarapan untuk Zahra terlebih dulu.
"Ka.. Sebaiknya kamu tidak usah dulu ke kantor hari ini, kasihan istri mu.." ucap Nisa memberi masukan pada putranya itu
"Tapi sebenarnya aku masih banyak kerjaan Bu.." ucap Arka yang risau
"Istri mu sedang hamil ia ingin di manja oleh suaminya, karena hormon ibu hamil itu naik turun, Arkaaa.. kamu harus mengerti nak.. Demi istri juga calon anak mu" ucap Nisa panjang lebar
"Iya Bu Arka ngerti.. Arka juga masih malas sebenarnya buat masuk kantor hari ini, karena masih lemas" jawab Arka dengan senyum mengembangnya
__ADS_1
"Sekalian sana minta diperiksa sama dr. Mentari" ucap Nisa yang juga mengkhawatirkan putranya itu
Arka hanya tersenyum lalu berjalan menjauh dari meja makan, dan menuju kamar dengan nampan ditangannya.