Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 32


__ADS_3

Kesedihan begitu terlihat jelas di rumah kediaman Umma, semua keluarga utama, kakak Nisa semua belum kembali pulang karena memang masih musim liburan, dan masih dalam suasana duka.


Hari ini adalah 7 hari kepergian Umma, keluarga Alfath baru bisa datang karena kesibukan yang padat juga memang mejemput Umi yang juga ingin datang ke Indonesia.


"Terimakasih untuk kedatangannya, Shaina.. Alif.." ucap Nisa setelah panjang lebar berbincang dengan Shaina, Alif dan Umi


"Sama-sama Kak, maaf ya kami telat datang kemari.." ucap Shaina sembari memegang tangan Nisa


"Tidak apa-apa kok Tante, doanya yaa untuk Almarhum Nenek.." ucap Arka dengan hati yang begitu tegar


"Kalian yang sabar yaa.. Insya Allah kita semua akan dibersamakan kembali di Surganya Allah.." ucap Umi dengan suara yang begitu lirih karena ikut merasa sedih


"Iya Oma.. Maaf ya Arka seharusnya cepat tengoki Oma, sekarang kita ketemu malah dalam keadaan begini" ucap Arka yang sedari tadi gelendotan dibahu Omanya itu.


Umi yang berlapang hati karena memang jarang ditengoki itu, hanya menebar senyumnya.


"Umi tinggallah bersama kami di Surabaya.. Umi juga kan di Kuala Lumpur tidak ada siapa-siapa.." ucap Nisa sembari memegang tangan Umi seakan memohon


"Biar Nisa yang urus semua kepindahan Umi, izinkan Nisa untuk terus berbakti pada Umi.." lanjut ucap Nisa pada mertuanya itu


"Umi diajak tinggal di Inggris pun tidak mau, karena cuaca yang kini membuat Umi tidak kuat" ucap Shaina menanggapi


"Cuaca di Surabaya pasti cocok untuk Umi, disini juga tidak akan ada musim dingin.." ucap Shaina yang sebenarnya juga khawatir Umi tinggal di Kuala Lumpur tanpa anaknya


"Kami janji akan lebih sering mengunjungi Umi.." ucap Alif sembari memandang dalam-dalam Ibu mertuanya itu


"Iya Oma, Oma bisa tinggal bersama Ibu, dan Arka akan sangat mudah bertemu dengan Oma, kita tidak lagi berbeda-beda Negara.." ucap Arka mendukung keinginan Ibunya itu


"Nanti Umi pikirkan lagi yaaa.." ucap Umi tak ingin buru-buru mengambil keputusan


Umi, Shaina dan Alif memutuskan untuk pulang ke Apartement milik Almarhum Alfath yang ada dekat denga ponpes.


Nisa dan Arka masih sibuk mempersiapkan acara untuk 7 harinya kepergian Umma.


Tiba-tiba Nisa dan Arka yang masih duduk diruang tamu kaget dengan datangnya karangan bunga bela sungkawa yang dibawa masuk oleh orang tak dikenal.


"Permisi Bu.. Kami mengantarkan karangan bunga untuk keluarga Bu Annisa.." ucap seorang pria yang sedang memegang papan karangan bunga yang besar itu


"Oh iyaiya, simpan disudut situ saja.." ucap Nisa dengan cepat


kedua pria yang sedang membawa karangan bungapun mengerti dengan maksud Nisa.


"Maaf ya ini dari siapa?" ucap Nisa saat belum membacanya

__ADS_1


"Silahkan Bu, bisa dilihat sendiri.. Mari Bu kami permisi" jawab pria pengantar itu


Nisa begitu kaget, ternyata karangan Bunga itu bertuliskan "Innalillahi wa innalillahi rojiun.. Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya.. Universitas Karisma"


Universitas dimana dulu Nisa sering sekali mengisi kajian disana. Siapa yang mengirim sebenarnya, Nisa masih tak tahu.


Nisa dan Arka berniat untuk kembali kedalam rumah, karena tak kunjung ada tamu lagi.


"Assalamu'alaikum.." tiba-tiba ucapan salam seseorang yang datang menghentikan langkah kaki Nisa dan Arka yang hendak masuk kedalam rumah


"Walaikumsalam.." ucap Nisa dan Arka berbarengan sembari membalikan badan


Nisa begitu kaget, tamu yang datang adalah Azam, dan 2 wanita bercadar. Nisa menyalami Azam dengan menguncupkan kedua tangannya, lalu menyalami kedua wanita itu.


"Kak Azam?" ucap Nisa begitu kaget


"Iya Nis.. Turut berduka cita ya atas meninggalnya Ustadzah Fatimah, semoga Allah memberikan tempat terbaik, dilapangkan kuburnya.." ucap Azam mendoakan


"Aamiin Aamiin.. Terimakasih banyak yaaa.. Ayo mari masuk, maaf ya berantakan.." ucap Nisa sembari mengajak kedua wanita yang belum berbicara itu


"Bu Annisa begitu tegar yaa.." tiba-tiba ucap wanita yang satunya itu


"Insya Allah harus tegar, kasihan Umma kalau kami semua sedih terus.." ucap Nisa sembari tersenyum dalam cadarnya


"Iya Bu, ini saya.." jawabnya dengan malu


"Owalah.. Istri Kak Azam.. sampai tak mengenali loh aku.. Pangling sekarang.." ucap Nisa karena memang Tiara kini bercadar


"Iya Alhamdulillah Nis, semua menjadi lebih baik.." ucap Azam sembari menepuk tangan istrinya itu


"Alhamdulillah.. Ini? Anak Kakak?" tanya Nisa penasaran dengan wanita disamping Tiara


"Oh iya, ini Azzahra.. Putri kami, adiknya tidak ikut karena tidur.." ucap Tiara mengenalkan


"Wah sudah besar yaa.. Berapa tahun Azzahra?" tanya Nisa lagi-lagi penasaran


"Zahra baru 23 tahun, Bu.." ucap Zahra dengan lembut, baru membuka suaranya


"Oh Alhamdulillah.. Beda 2 tahun kalau begitu dengan putra saya. Ini Arkana, putra saya satu-satunya.." ucap Nisa mengenalkan Arka yang sedari tadi duduk disampingnya


"Oh pantas saja sedari tadi disamping mu Nis.. Ganteng masya allah, bule yaaa.." ucap Azam menggoda Arka


"Hehe iya Pak.." ucap Arka dengan tertawa kecil

__ADS_1


"Mirip sekali dengan Almarhum suami mu Nis.." lagi-lagi ucap Azam sembari memperhatikan wajah Arkana


Nisa dan Arka hanya tersenyum, membalas saling pandang antara Ibu dan Anak itu.


"Zahra kegiatannya apa sekarang? Apa sudah akan menikah?" tanya Nisa penasaran


"Zahra baru selesai kuliah, sekarang sedang ikut mengajar di Mts.." jawab Zahra dengan suara yang lembut dan sopan itu


"Kalau menikah belum ada jodohnya.." lanjut jawab Zahra sembari menundukan pandangannya


"Oh iya-iya semoga bertemu jodohnya diwaktu yang tepat yaaa.. Arka juga nih saya sudah menyuruhnya untuk menikah, mumpung saya masih sehat hehe" ucap Nisa tiba-tiba


Ucapan itu membuat Arka begitu kaget, ia takut untuk dijodoh-jodohkan oleh Ibunya.


"Bagaimana dengan kamu Arka, apa sudah ada calonnya?" tanya Azam langsung pada Arka


Arka menoleh ke arah Azam, ia begitu kaget dengan pertanyaan itu. Hatinya berubah menjadi dagdigdug.


"eeemmhh.." ucap Arka yang belum bisa berkata-kata


"Belum Pak.. Arka masih tinggal di Inggris jadi belum bertemu dengan wanita yang di mau hehe" lanjut ucap Arka membuat alasan


"Oh begitu yaa, jadi kamu tinggal di Inggris sekarang?" tanya Azam penasaran


"Iya Pak, Arka 2 kewarganegaraan sama seperti ayah.." jawab Arka dengan cepat


Azam, Tiara dan Zahra jadi tahu bahwa sebenarnya Nisa menikah dengan Bule yang memang 2 kewarganegaraan.


"Mumpung Arka ada di Indonesia, barangkali ingin mencari jodoh orang Indonesia sama seperti Ibu Arka, boleh kalian saling mengenal.." ucap Azam tiba-tiba seperti ingin menjodohkan Arka dengan Zahra


"Boleh tuh Arka, berteman saja dulu yaaa.." ucap Nisa mendukung


"Heemm.. Iya Bu.." jawab Arka salah tingkah


Tak lama keluarga Azam itupun berpamitan untuk pulang. Nisa dan Arka mengantarkan sampai depan pintu.


"Bu.. aku ingin berbicara.." ucap Arka tiba-tiba membuat Nisa kaget


"Bicara saja sayang.." jawab Nisa sembari menggandeng tangan Ibunya itu


"Aku malu ih bahas jodoh-jodoh kayak tadi, seperti yang akan dijodohkan saja.." ucap Arka seakan menolak


"Ya gak apa-apa dong, namanya juga usaha. Kamu kan tidak punya teman wanita ataupun wanita yang kamu kenal, berpenampilan seperti Zahra bukan? Ibu ingin kamu mencari istri yang sholeha Arka.. dari keluarga yang baik.." ucap Nisa panjang lebar

__ADS_1


"Iya Bu, Arka ngerti.." jawab Arka dengan cepat


__ADS_2