Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 79


__ADS_3

Zahra pergi tanpa kabar. Sungguh jelas beban yang ia rasakan. Hujaman kencang soal Ayahnya yang mencintai Ibu mertuanya saja belum reda, kini ditambah sakit hatinya ketika mendengar suaminya di minta untuk menikahi gadis lain.


Zahra menaiki Taxi yang tak sengaja lewat didepan rumah mewah tadi, di dalam taxi Zahra terus menatap keluar jendela, air matanya tak henti-hentinya untuk mengalir. Rasa sesak di dalam hatinya sangat menumpuk, rasanya ingin meledak.


"Mau di antar kemana Non?" tanya Supir Taxi yang bingung, karena sudah mutar-mutar dijalan raya


"Terus saja berputar di kota, Pak.. Saya belum tahu mau kemana" ucap Zahra dengan suara lirihnya


"Aduh maaf Non, saya tidak bisa.. Saya belum sholat dzuhur.. Saya antar Nona sampai masjid agung saja ya?" ucap supir taxi tanpa pilihan lain


Zahra hanya mengangguk, ia mengerti dengan kewajiban sang supir taxi yang belum dilaksanakannya.


Sewaktu di perjalanan, ponselnya terus berdering, dari suaminya, tapi tak ia hiraukan sedikitpun.


Arka kebingungan dengan kepergian istrinya itu, ia tahu istrinya pasti sangat sedih karena mendengar ucapan Tuan Hanjaya yang menginginkannya untuk menikahi Risa.


Arka terus melajukan mobilnya, ia mengikuti taxi berwarna biru, sesuai intruksi satpam yang melihat kepergian Zahra tadi.


Sudah beberapa taxi ia ikuti, tapi yang keluar dari dalam taxi bukanlah Zahra.


Sesampainya di masjid agung, Zahra langsung turun. Begitu juga dengan supir taxi itu, lalu masuk ke dalam toilet pria. Sementara Zahra masuk ke bagian wanita. Zahra memutuskan untuk mengambil wudhu untuk menurunkan rasa amarahnya.


Setelah berwudhu, Zahra masuk ke tempat sholat wanita. Pintunya terbuka, dan terlihat jelas pemandangan hijau dari sana, udara sejuk yang menyapa, angin-angin kecil yang berhembus membuatnya semakin tenang.


Zahra berusaha membuat matanya tak terlihat sembab, karena menangis sedari tadi.


Zahra terlihat lebih bisa mengontrol dirinya disini. Tak disangka ada seorang wanita yang sama-sama bercadar memperhatikan Zahra sedari tadi, lalu memberanikan dirinya untuk menghampiri Zahra yang sedang terduduk di depan pintu itu.


"Zahra kan?" tanyanya dengan lembut


Seketika Zahra menoleh dan melihat wanita bercadar yang kini ada di hadapannya itu.


"Iya, saya Zahra.." jawab Zahra sembari mengangguk


"Saya Khadijah.. Apa kau mengenali saya?" ucap Khadijah yang ternyata adik Yusuf


"Oh iya iya saya tahu, Mbak apa kabar?" jawab Zahra lalu berbasa-basi


"Alhamdulillah baik.. Kamu sendiri apa kabar? Bagaimana kabar Bu Annisa?" jawab Khadijah lalu balik menanyakan kabar Zahra juga Nisa


"Alhamdulillah aku baik, Ibu juga baik.." jawab Zahra dengan senyum mengembangnya


"Alhamdulillah.." ucap Khadijah ikut bersyukur dengan kabar baiknya

__ADS_1


"Oh iya sedang apa kamu kemari? Menunggu sholat Ashar juga?" tanya Khadijah yang penasaran


"Iya.. Sekalian menenangkan diri.." jawab Zahra dengan senyum di paksakan


"Oh begitu.. Ada apa?" tanya Khadijah lembut pada Zahra


Zahra terenyuh dengan pertanyaan Khadijah, ia tak dapat untuk menyembunyikan perasaannya, Zahra langsung meneteskan air matanya lagi.


"Ada apa? Coba cerita.. Insya Allah aku akan membantu semampu ku" ucap Khadijah lagi


Tangan Zahra di genggam erat oleh Khadijah, untuk menenangkannya.


Zahra seketika memeluk Khadijah yang ada di hadapannya itu, ia tak kuat lagi untuk menyimpan semuanya sendirian, Zahra merasa bebannya amat berat.


Zahra lalu memberanikan diri untuk menceritakan semuanya pada Khadijah.


"Mas Arka, di minta untuk menikahi anak dari rekan bisnisnya dan akan diberikan semua perusahaannya jika Mas Arka mau" ucap Zahra sembari sesegukan


"Astagfirullah.. Kamu tenang yaaa, aku yakin Arka tidak akan mau" jawab Khadijah yang merasa kaget mendengar ucapan Zahra itu


"Dia itu tidak tahu bahwa anaknya itu yang telah menculik ku, dan membuat ke kacauan ini, dan sekarang sedang di penjara" ucap Zahra lagi sembari sesegukan


"Astagfirullah.. Kamu tenang ya, apa lagi wanita itu sudah seperti itu. Mana mungkin Arka mau dengan wanita seperti itu.." ucap Khadijah menenangkan


"Mbak ini benar, tidak mungkin Mas Arka mau menikahi wanita seperti itu" ucap Zahra dalam batinnya


Zahra lalu menyeka air matanya, kini dirinya sudah merasa lebih tenang dengan ucapan Khadijah.


"Mbak benar.. Mas Arka tidak mungkin mau, apa lagi dengan wanita yang mengumbar auratnya.." ucap Zahra dengan senyum mengembang menandakan dirinya sudah sedikit tenang


Khadijah terus menggenggam tangan Zahra, memberikan kekuatan. Jujur saja Khadijah masih mempunyai perasaan pada Arka, tapi ia bisa menguburnya dan membiarkan cintanya mati dengan sendirinya.


Khadijah lebih dewasa dalam menguasai hati dan dirinya.


"Kamu tenang yaaa.. semua akan baik-baik saja.." ucap Khadijah lalu saling berpelukan dengan Zahra


"Oh iya, mungkin kerabat Arka berbicara seperti itu karena belum tahu juga atas pernikahan kalian. Coba membuat resepsi pernikahan saja, dan mengundang kerabat-kerabat Arka" lanjut ucap Khadijah memberi masukan


"Mbak benar.. Mungkin karena pernikahan kami hanya keluarga saja yang tahu.. Tapi Zahra tidak yakin Mas Arka mau, karena pernikahan ini juga sudah lumayan lama" jawab Zahra dengan pesimis


"Aku yakin, Arka pasti mau.." ucap Khadijah meyakinkan


Senyum Zahra semakin mengembang, itu menandakan dirinya yang semakin tenang.

__ADS_1


Waktu sudah hampir ashar, Zahra melihat ponselnya yang terus berdering. Ia baru ingat, pasti suaminya mencari.


"Sebentar ya Mbak, Zahra mengangkat dulu telepon" ucap Zahra sembari bangkit dan keluar dari dalam mushola wanita itu


Khadijah hanya menganggukkan kepalanya, menandakan setuju.


"Assalamu'alaikum Mas.." ucap Zahra lebih dulu, dan suara yang mulai tenang


"Walaikumsalam.. Sayang kamu dimana? Aku sangat khawatir" jawab Arka, dengan bingung karena suara Zahra terdengar baik-baik saja, Arka berpikir Zahra akan menangis.


"Aku sedang menenangkan diri ku, Mas.. Kamu tidak perlu khawatir.. Izinkan aku untuk sendiri dulu yaaa, Aku bersama Mbak Khadijah.. Sebelum magrib aku pasti akan pulang" ucap Zahra panjang lebar dan memberitahukan semuanya


Arka seketika terdiam, ia merasa bingung, kok bisa istrinya itu bersama Khadijah.


"Kok bisa Zahra bersama Mbak Khadijah? Bukankan Zahra juga mencemburui Mbak Khadijah?" ucap Arka dalam batinnya


"Oh baiklah kalau begitu.. Kamu jaga diri baik-baik ya, aku sangat khawatir.." ucap Arka setelah lama terdiam


Lalu sambungan telepon itu mati, Arka lalu menghentikan mobilnya di sebuah restoran untuk sekedar mengisi perutnya, karena ia belum sempat makan siang, rencananya untuk makan siang dan berjalan-jalan bersama istrinya jadi gagal total.


Setelah sholat Ashar Zahra dan Khadijah jalan bersama menuju sebuah warung makan yang dekat dengan masjid agung. Zahra yang mengajak Khadijah, karena ingin berterimakasih dan ingin lebih dekat dengan Khadijah.


"Kita makan dulu ya, Mbak.. Aku sangat lapar" ucap Zahra pada Khadijah dan Khadijahpun menyetujuinya


Zahra dan Khadijah semakin akrab dengan makan bersama itu. Zahra jadi merasa ada teman lagi, setelah dirinya di larang untuk terlalu sering berinteraksi dengan Anjani sahabatnya yang memiliki perasaan pada suaminya itu.


"Mbak terimakasih banyak yaaa.. Aku senang bisa bertemu dengan Mbak Khadijah, jujur saja, Aku merasa mempunyai teman lagi" ucap Zahra pada Khadijah yang ada di hadapannya itu


"Aku juga senang bisa lebih dekat dengan mu.." jawab Khadijah lalu saling bergandengan dengan Zahra


Khadijah dan Zahra bertukar nomor ponsel, untuk sekedar bertukar kabar nantinya.


Zahra dan Khadijah berpisah, dengan menaiki taxi yang berbeda. Zahra kembali pulang kerumah. Sewaktu di perjalanan ia kembali ingat pada suaminya, suaminya juga sama dengan dirinya, belum sempat makan siang.


"Mas kamu dimana? Kamu kan belum makan sedari tadi" ucap Zahra dengan khawatir setelah sambungan teleponnya di angkat oleh suaminya itu


"Aku sudah makan di restoran, aku tidak selera makan, makanya aku bungkus dan bawa pulang. Ini sedang dijalan pulang" jawab Arka dengan nada sendu


"Kenapa Mas?" tanya Zahra penasaran


"Aku tidak selera makan karena memikirkan mu" jawab Arka dengan jujur


Zahra menahan tawanya, ia tahu suaminya pasti juga sedang merasakan galau.

__ADS_1


"Aku tunggu dirumah ya Mas sayang.." ucap Zahra dengan menggoda suaminya itu


__ADS_2