
Azam yang merasa sudah sedikit membaik setelah percakapannya dengan putrinya itu, lalu berjalan keluar meninggalkan restoran.
Sewaktu akan masuk kedalam mobil, tiba-tiba seseorang menghentikan geraknya, pintu mobil yang sudah terbuka di dorong tertutup kembali oleh tangan seseorang yang ada di belakang Azam itu.
Azam langsung menoleh kearah seseorang yang ada dibelakangnya itu. Sangat terkejut Azam ketika mengetahui siapa orang yang ada di belakangnya itu.
"Ahsan?" ucap Azam tak percaya bahwa seseorang itu adalah putra bungsunya, adik dari Zahra
"Maksud semua ini apa Bi?" tanya Ahsan, terlihat wajahnya sedang emosi
"Maksud apa? Sedang apa kamu disini, kamu harus pulang!" ucap Azam yang tak mengerti dengan ucapan Anaknya itu, dan sebenarnya bingung kenapa putranya juga ada disini.
"Jawab Ahsan, Bi! Ahsan sudah mendengar semua percakapan Abi dengan Mbak Zahra, Ahsan sudah tahu semuanya!" ucap Ahsan dengan suara tegas, dan mata yang mulai sendu
"Ahsan..." ucap Azam dengan mata yang membelalak, tak percaya dengan ucapan Ahsan
"Jadi... Selama ini Abi udah berselingkuh perasaan Bi! Abi tolong, Abi itu seorang dosen, Abi pasti tahu perbuatan mana yang benar dan mana yang tidak! Ahsan kecewa sama Abi!" ucap Ahsan dengan susah payah menahan air matanya, lalu pergi berjalan dengan cepat hendak menghampiri motornya.
"Ahsan tunggu, san! Abi mau bicara, san! Tunggu!" ucap Azam sembari mengejar Ahsan, dan menghentikan langkah Ahsan dengan menahan pundak Ahsan dari belakang
Azam lalu mengajak putranya itu untuk kembali ngobrol berdua di dekat mobilnya, karena takut ada yang memperhatikannya.
"Abi mau bicara apa lagi sama Ahsan? Ahsan sudah sangat kecewa sekali. Ahsan kecewa Abi udah nyakitin perasaan Mama, walau Mama tidak tahu" ucap Ahsan dengan amarahnya
"Abi tahu, Nak.. Abi sudah sangat salah.. Abi mengecewakan Kamu dan Zahra, Abi juga menyakiti perasaan Mama, pasti.. Yaaa pastiii" ucap Azam dengan air mata yang mulai menetes membasahi pipinya
"Tolong maafkan Abi.." lanjut ucap Azam sembari memegang tangan putranya itu, memohon
Ahsan hanya terdiam, air matanya mulai mengering. Rasa kecewa dan sakit hatinya tak dapat lagi ia sembunyikan. Ahsan dan Zahra adalah anak yang sangat dekat dengan Mamanya, karena sedari dulu Mamanya lah yang fokus mengasuh setiap hari, dan memberikan 24 jam waktunya untuk Zahra dan Ahsan.
"Kamu sayang sekalikan pada Mama? Tolong.. Tolong jangan beritahukan semua ini.. Abi sedang melupakannya semuanya, dan Abi sedang memperbaiki segalanya. Percayalah!" ucap Azam tanpa menunggu jawaban Ahsan yang masih saja terdiam
__ADS_1
"Maaf..." lanjut ucap Azam
"Baiklah.. Ahsan tidak akan memberitahukan Mama.. Tapi tolong Abi jangan pernah berubah, terus cintai Mama.. Benar ucapan Mbak Zahra tadi, Mama sudah berkorban banyak untuk kita!" ucap Ahsan yang meluluh
"Kalau Abi sampai menyakiti Mama.. Abi bukan hanya akan kehilangan Mama, tapi juga aku!" lanjut ucap Ahsan dengan tegas, sembari berlalu meninggalkan Azam yang masih terpatung itu
Azam diam tak mampu lagi berkata-kata, ia memperhatikan langkah putranya yang menjauh darinya dan menaiki motornya, dan berlalu. Setelah cukup lama terdiam, Azam lalu masuk kedalam mobilnya, dan melajukannya keluar dari restoran itu.
"Kenapa semua jadi berantakan begini!" ucap Azam dengan kesal, terlihat jelas diwajahnya frustasi mengganggu dalam pikirannya.
-----------
Zahra sudah kembali tiba dirumah, ia berusaha terlihat baik-baik saja. Rumah masih sepi, karena ibu mertua juga suaminya belum juga kembali pulang.
Zahra merebahkan tubuhnya diatas kasur di kamarnya, setelah membuka pintu balkon kamar agar udara luar masuk.
"Ya allah.. kuatkan kami.. lindungi keluarga ku, jangan sampai keluargaku berantakan" ucap Zahra berdoa sembari menatap langit-langit kamarnya
Tiba-tiba ponselnya berdering, menandakan ada telepon masuk. Dengan cepat Zahra mengeluarkan ponselnya dari dalam tas kecil yang ia bawa, diliriknya ternyata panggilan itu dari Ahsan adik satu-satunya.
"Walaikumsalam Mbak.." jawab Ahsan dari jauh sana, suaranya lirih terdengar sangat berbeda
"Kamu kenapa dek?" tanya Zahra dengan sangat penasaran, dan cemas mendengar suara adiknya seperti sedang menangis itu
Ahsan belum bisa bicara, ia hanya mengeluarkan suara tangisnya. Jelas terasa sakit hati yang ia rasakan, tak mampu ia sembunyikan dari Kakaknya ini.
"Dek kamu kenapa dek? Kamu sakit? Kenapa dek? Coba bilang sama Mbak, kenapa?" tanya Zahra bertubi-tubi dengan sangat cemasnya karena Ahsan hanya menangis
"Aku hanya sakit hati, Mbak.. kecewa sama seperti yang Mbak rasakan" ucap Ahsan adisela-sela sesegukannya
"M aksud kamu?" tanya Zahra tak mengerti dengan ucapan Ahsan, adiknya itu.
__ADS_1
"Aku sudah mendengar percakapan Mbak sama Abi tadi sewaktu di Restoran" ucap Ahsan sembari menyeka-nyeka air mata di wajahnya
Zahra terdiam seketika, sungguh ia tak ingin Ahsan tahu akan semua ini, karena ia yakin akan menambah banyak orang yang sakit hati. Benar saja, kini Ahsan merasakan kecewa yang luar biasa, sama seperti dirinya.
"Dek, maafin Mbak yaaa.. Mbak gak maksud buat kamu ngerasain kayak gini.." ucap Zahra merasa tak enak hati
"Mbak gak salah, jelas yang salah adalah Abi.." jawab Ahsan dari jauh sana
"Kamu tenang ya.. Mbak juga sama seperti mu, Mbak kecewa.. Mbak malu pada Mas Arka sebenarnya.. Mbak mohon sama kamu, untuk merahasiakan semua ini dari Mama yaaa" ucap Zahra panjang lebar
"Iya Mbak.." jawab Ahsan singkat, dan mulai tenang itu
Sambungan telepon itu terputus, Ahsan kembali melanjutkan perjalanannya untuk kembali ke sekolah, karena sewaktu tadi Ahsan hanya mengantarkan berkas untuk kerjasama dengan restoran itu, untuk acara dari sekolahnya.
Zahra semakin merasa bingung, sungguh tadinya ia tak ingin ada yang tahu lagi, tapi kenapa Ahsan juga jadi tahu. Zahra jadi merasa bersalah pada Abinya, membuat permasalahan yang meluas.
----------
Di kantor, Arka sudah menyuruh asistennya untuk mengirim semua undangan resepsi pernikahannya pada semua rekan bisnisnya. Termasuk pada Tuan Rivans, bos dari Aira itu.
Undangan ke luar Negri hanya berbentuk undangan digital yang dikirim Yusuf melalui Email kepara asisten pribadi dan sekertaris.
Hari ini Aira sudah melihat undangan yang masuk melalui email yang dikirim langsung oleh Yusuf itu. Seketika dirinya tertegun melihat undangan yang juga ada foto mesra Arka bersama Zahra, walau hanya sekedar foto saling tatap dan tangan Zahra ada di dada Arka, dan Arka tersenyum lebar menatap Zahra.
"Kenapa hati ini sakit banget ya?" ucap Aira pelan pada dirinya sendiri
"Enggak.. Enggak.. Aku harus baik-baik saja! Yaaa aku baik-baik saja" ucap Aira menguatkan dirinya
Tak dapat dipungkiri, hatinya masih menyimpan perasaan pada Arka, karena Aira belum juga menemukan pria yang tulus menerimanya, membuat dirinya tak mampu melupakan perasaannya pada Arka.
Seketika air matanya menetes, membasahi pipinya. Aira menyadarinya dan langsung menyeka wajahnya.
__ADS_1
"Ayo dong Aira jangan seperti ini!" ucap Aira pada dirinya sendiri
Arka juga sudah mengabari Alif dan Shaina dan meminta untuk menghadiri acara resepsi pernikahannya dengan Zahra itu nanti di Indonesia. Alif dan Shaina sudah menyanggupi untuk datang ke Indonesia, menghadiri acara spesial keponakannya itu.