Bunga Dari Surga II

Bunga Dari Surga II
Eps. 71


__ADS_3

Matahari pagi sudah menampakan cahayanya, Arka sudah bersiap untuk pergi ke kantor seperti biasa, begitu juga Nisa kini dirinya ada kegiatan untuk ke panti dan juga yayasan, ia mengajak Zahra untuk ikut bersamanya.


Setelah sarapan usai, Arka mengendarai mobilnya sendiri menuju kantor, sementara Nisa dan Zahra bersama supir langsung menuju panti terlebih dahulu.


Sesampainya dikantor Arka langsung di sibukan dengan berkas-berkas kerjasama bersama Tuan Rivans yang akan segera di garap oleh pekerja lapangannya. Arka masih sibuk dengan mengecek semua laporan yang dibuat yusuf juga Rio.


Tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari luar yang mengagetkan Arka yang sedang fokus itu.


"Toookk tok tok.." suara ketukan pintu


"Iya masuk..." ucap Arka sembari tangannya menghentikan aktivitasnya menulis itu.


Terlihat Rio yang masuk kedalam, dengan ucapan salamnya.


"Arka, apa kau akan ikut kelapangan untuk memastikan bahan-bahan bangunanya sendiri?" tanya Rio pada Arka karena dirinya akan pergi sesuai dengan pekerjaannya


"Tunggu sebentar aku lihat nanti, ini pekerjaan ku belum selesai" ucap Arka sembari kembali fokus pada kertas-kertas itu


Tak lama Yusuf mengetuk pintu ruangan Arka, lalu masuk kedalam.


"Maaf Arka, ini ada berkas baru masuk.. Menurut ku ini harus di waspadai.." ucap Yusuf dengan suara bergetar


"Berkas apa?" tanya Arka merasa ada yang aneh dengan yusuf asistennya itu


"Baru saja aku kedatangan tamu dari PT. Hanjaya, mereka mengajak kerjasama kepada kita, hanya saja menurut ku banyak point-point yang akan menjatuhkan kita.." ucap Yusuf menjelaskan


Arka lalu mengambil berkas yang di sodorkan Yusuf pada dirinya. Sementara Rio masih mendengarkannya baik-baik, dan sedikit tertegun.


"Yang aku dengar PT. Hanjaya itu sedang terlilit hutang karena sahamnya yang jatuh. Bahkan kemarin Tuan Rivans menceritakan, bahwa PT. Hanjaya itu mengirim kerjasama tapi tak sesuai, makanya ia membatalkan dan langsung menghubungi kita" ucap Rio dengan ekspresi sedikit berpikir


Arka membaca proposal itu dengan sangat cermat, dan teliti. Betul saja, Arka menemukan beberapa kejanggalan disana.


Arka juga sembari mendengarkan ucapan Rio.


"Mereka ingin aku mengatur waktu untuk bisa bertemu kamu Arka.." ucap Yusuf lagi


"Jangan dulu di atur, bilang saja aku sibuk. Kita selesaikan dulu pekerjaan kita dengan Tuan Rivans.." jawab Arka dengan cepat pada Yusuf


"Aku ingin Bapak mencari info lebih dalam tentang PT. Hanjaya itu" ucap Arka pada Rio


"Baik.." jawab Rio dengan cepat


Setelah semua berkas dirasa selesai, Arka ikut bersama Rio untuk kelapangan. Sementara Yusuf diperintahkan oleh Arka untuk menghandle segalanya di kantor.


------


Di kantor PT. Hanjaya, sekertaris dan asisten pribadi dari utusan atasannya itu sudah kembali ke kantor, setelah menemui Yusuf di kantor Swain.


"Bagaimana hasilnya?" tanya sang CEO yang kebetulan seorang wanita, penerus dari Tuan Hanjaya, ayah kandungnya sendiri

__ADS_1


"Kami hanya bertemu dengan Yusuf, asisten pribadi dari Tuan Arkana. Kami sudah meminta untuk diatur pertemuan dengan Tuan Arkana, tapi Yusuf belum mengabari kepastiannya" jawabnya memberitahukan semuanya


"Sialan! Mereka ingin bermain-main ternyata!" ucap CEO itu dengan kesal


"Bukankah Tuan Arkana teman sekolah Nyonya, kenapa tidak kau saja yang langsung menghubunginya, mungkin saja kalau pada teman akan lebih gampang.." ucap sekertarisnya dengan sedikit lancang


"Ya memang teman, tapi dia telah merebut semua yang aku mau!" ucap CEO Hanjaya itu dengan sangat kesalnya


Sekertaris dan asisten pribadinya itu terdiam karena bosnya sudah mulai emosi dan terlihat wajah yang memerah, menandakan sangat marah.


"Kau hubungi siang pada asisten pribadi Arka, jika tak juga memberi kepastian untuk pertemuan, aku akan mengirim peringatan ku!" ucap wanita itu pada sekertaris dan juga asisten pribadinya itu


"Baik Nyonya.." jawab Sekertaris dan Asistennya dengan cepat


"Jika tidak ada kepastian lakukan tugas kalian!" ucapnya pada kedua body guardnya yang selalu standby di belakangnya itu


"Siap!" jawab keduanya dengan suara tegas


*****


Arka yang sedang dilapangan bersama Rio, sibuk mengecek semua bahan bangunan untuk memastikan kualitasnya, karena Arka tak ingin mengecewakan Clientnya itu.


"Buatlah laporan untuk Tuan Rivans, dan segera kirimkan" ucap Arka pada Rio


"Siap Bos.." jawab Rio sembari membuka tab kerjanya


Sesampainya di Yayasan, Nisa dan Zahra turun dan masuk kedalam yayasan.


------


Hari semakin siang, PT. Hanjaya semakin tak sabar ingin mengatur pertemuannya dengan Arka dari PT. Swain.


"Apa Swain itu sudah mengabari tentang pertemuan?" tanya CEO Hanjaya itu


"Belum, Nyonya.." jawab sang asisten pribadinya


"Cepat hubungi mereka! Jangan buat aku menunggu" ucapnya dengan sangat tegas karena kesal


"Baik Nyonya.." jawabnya dengan cepat


Yusuf yang sedang berada di kantor hendak makan siang, tiba-tiba terkejut dengan panggilan telepon yang berdering itu.


"Ya Halooo.." ucap Yusuf setelah menekan tombol hijau di ponselnya


"Halo Pak Yusuf, saya Haris dari PT. Hanjaya yang tadi bertemu dengan Bapak.." ucap Haris asisten pribadi dari PT. Hanjaya itu


"Oh iya Pak Haris, ada apa?" tanya Yusuf penasaran dengan keperluan Haris yang mendadak menghubunginya itu


"Apa sudah dijadwalkan untuk pertemuan kita dengan Tuan Arka?" tanya Haris dengan nada sopannya

__ADS_1


"Oh itu, belum Pak. Tuan Arka sedang kelapangan tidak ada di kantor" jawab Yusuf dengan cepat tanpa pikir panjang


"Oh kalau begitu baiklah, apa mungkin besok kami akan mendapatkan jawaban atas pertemuan kita?" ucap Haris menanyakan


"Insya Allah yaaa Pak.." jawab Yusuf tak ingin ambil pusing


Panggilan itu Yusuf akhiri, karena ia sudah tak sabar ingin segera menyantap makan siangnya.


Haris langsung mengabari Bosnya itu, semua pembicaraannya dengan Yusuf asisten pribadi Arkana.


"Sial!" ucap Bos Haris dengan memukul mejanya


Haris sangat ketakutan, ia langsung keluar meninggalkan ruangan Bosnya itu karena melihat Bosnya yang mulai emosi.


"Jalankan rencana saya! Jangan istrinya, Ibunya aja. Bu Annisa, seorang pendakwah itu!" ucap Bos Haris pada kedua body guardnya lalu mematikan sambungan teleponnya


"Hah" suara sinis sembari mengeluarkan nafas dari hidung "Lihat saja kamu Arka, bisa apa kamu sekarang? Aku yakin kamu akan memberikan semuanya pada ku bukan? Pasti! Karena Ibu mu orang yang paling kau cintai sedari dulu taruhannya! HAHA!" ucapnya pada diri sendiri


Kedua Body guard dengan lengan kekar, berbaju hitam dan celana hitam langsung melancarkan aksinya, dengan menghubungi anak buahnya yang lain untuk mengeksekusi tugas yang diberikan oleh Bosnya itu.


Beberapa orang yang sedari mengikuti Nisa dan Zahra dari rumah hingga kini di yayasan pun mulai mengatur strateginya.


-------


Di Yayasan, Nisa sedang rapat dengan beberapa pengurus Yayasan itu. Sementara Zahra yang juga ikut rapat, lama-lama merasa bosan karena tak mengerti dengan pembahasan-pembahasan yang ada di ruang rapat.


Zahra memutuskan untuk keluar dari ruangan rapat itu, dan melihat bangunan sekolah yang ada di lingkungan Yayasan itu.


Zahra masuk dari satu ruangan ke ruangan yang lainnya. Zahra juga bertemu dengan seorang tukang bersih-bersih yang sedang menyapu di lapangan itu.


"Nyonya.." sapanya dengan sangat sopan sembari menundukan kepalanya pada Zahra


Zahra membalas dengan sedikit membungkukan badannya.


"Ibu sudah lama bekerja disini?" tanya Zahra penasaran pada wanita separuh baya yang ada di hadapannya itu


"Sudah lama Nyonya, dari pertama yayasan ini dibangun, saya sudah bekerja. Hampir 19 tahun" jawabnya dengan senyum mengembang


"Masya Allah sudah cukup lama yaa.." jawab Zahra menanggapi


"Oh iya kalau kantinnya dimana ya? Saya ingin membeli minuman dingin" tanya Zahra yang mencari kantin


"Kantinnya di pojok sana Nyonya, tapi sudah tidak ada yang jual karena sekolah sudah pada pulang. Paling di depan yayasan.." ucapnya pada Zahra


Zahra pun mengerti, ia langsung berjalan keluar dari bangunan yayasan itu, hendak ke mini market yang ada di sebrang yayasan.


Baru saja Zahra melangkahkan kakinya keluar dari gerbang yayasan, mobil hitam berhenti tepat di depan Zahra dan menarik paksa Zahra masuk kedalam mobil itu dengan membekam mulut Zahra dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius, membuatnya langsung tak sadarkan diri.


Mobil hitam yang membawa Zahra itu langsung melaju sangat cepat, membawa Zahra ke tempat persembunyiannya.

__ADS_1


__ADS_2