
Brayen akhirnya datang dan melihat didalam ruangan tersebut terdapat Rendi yang sedang mengobrol dengan Deni. Saat Brayen menghampiri mereka berdua Deni menyerahkan berkas yang dibawa oleh Rendi. Brayen membacanya dengan teliti tanpa satupun yang terlewat. Karena Brayen penasaran bagaimana Rendi dapat menyelidiki dan dapat dengan mudah menemukan orang yang telah mencelakai Caca.
"Dari mana lo tahu jika Zekri yang mencelakai Caca?"
"Gua ngeliat dengan mata kepala gua sendiri pada saat Caca ingin membeli makanan Zekri sudah menyuruh orang untuk meracuni Caca."
"Apa orang suruhan nya telah tertangkap?"
"Sudah orang suruhan Zekri sudan tertangkap. Dia adalah ibu ibu kantin yang sedang kelilit banyak hutang."
Mendengar alasan Rendi akhirnya Brayen percaya dan membawa berkas berkas yang Deni berikan kepada Brayen.Setelah itu Brayen menghampiri Caca dan menatap Caca. Brayen mencium pipi Caca dihadapan Rendi. Karena Rendi berfikir Brayen adalah kekasih Caca akhirnya tidak salahnya jika Brayen bersikap seperti itu.
Tidak lama dari itu dokter akhirnya datang dan membawa obat yang dibuat Brayen. Pembuatan obat Caca cukup dibilang cepat. Seluruh orang yang berada didalam ruangan kecuali Brayen disuruh dokter tersebut keluar. Obat kemudian disuntikkan ditubuh Caca.
Setelah itu akhirnya penyuntikan obat Caca telah selesai.
"Nak jika obat yang kamu buat ini benar benar manjur maka lihatlah keadaan Caca besok."
"Baik dok saya akan memantau Caca terus."
Dokter akhirnya menuju pintu keluar dan tidak lama dari itu mama Rosa menghampiri Brayen. Mama Rosa melihat Caca yang belum menunjukkan kemajuan apapun kini hanya pasrah saja.
"Brayen kamu harus sabar. Efek racun ini dapat menyebabkan kelumpuhan sementara ditubuh Caca."
"Iya tante saya harus sabar tidak apa-apa Caca lumpuh asalkan Caca selalu berada disamping saya,saya sudah senang."
Kemudian mama Rosa memberikan beberapa obat cadangan dan disuntikkan diinfus Caca. Jam sudah menunjukkan pukul satu malam. Rendi sudah pulang saat jam setengah sepuluh tadi. Deni dan Rosa sudah tidur kini tinggal Brayen yang menjaga Caca.
"Sayang ayo bangun sudah cukup lama kamu terbaring diatas kasur rumah sakit. Kamu harus kuat jangan mudah menyerah aku selalu menunggu dirimu disini."
Setelah itu Brayen akhirnya memutuskan untuk memainkan handphone nya dan melihat banyak sekali notifikasi dari grup sekolah. Orang orang pada banyak menanyakan keberadaan Brayen termasuk Cantika dan Nesa.
__ADS_1
Mereka berdua terus menerus mengirimkan pesan ke Brayen. Namun pesan yang mereka kirim tidak pernah dibaca oleh Brayen. Karena Brayen merasa lapar akhirnya Brayen memesan makanan. Brayen melihat warung dua puluh empat jam yang terdekat. Kemudian Brayen membangunkan Rosa dan Deni.
"Woy kalian mau makan gak?"
"Eh iya ray gua mau tapi gak tahu Rosa mau apa enggak."
Kemudian karena nama Rosa disebut sebut akhirnya Rosa bangun dan mengucek matanya.
"Hah apa makanan? mau gua laper juga nih kebetulan."
Akhirnya Brayen memesan ayam dan burger. Sambil menunggu mereka bertiga akhirnya memainkan handphone mereka masing masing. Tidak sengaja Brayen melihat tangan Caca bergerak. Sontak Brayen langsung bangun dan menghampirinya.
"Astaga sayang tangan kamu sudah bergerak. Caca kamu sudah sadarkah?"
Karena Caca sudah menunjukkan kemajuan akhirnya Deni memanggil mama Rosa. Kemudian mama Rosa segera bergegas keruangan Caca. Pada saat mama Rosa melihat tubuh Caca yang sudah mulai menunjukkan pergerakan akhirnya mama Rosa lega karena Caca sudah berhasil melawan racun tersebut.
"Astaga ini sangat luar biasa!"
Brayen,Rosa,dan Deni kini tersenyum lega dan ada rasa tenang dihati mereka. Setelah itu mama Rosa kembali keluar dan meninggalkan mereka bertiga. Tidak lama dari itu makanan mereka yang mereka pesan akhirnya datang. Mereka makan dengan lahap.
"Ada apa nak?"
"Papi alhamdulillah Caca sudah menunjukkan kemajuan tadi tangan Caca sudah bergerak."
"Astaga baiklah nanti papi sama mami segera kesana."
Telepon dari Justin ditutup dan Brayen melanjutkan makan dengan Rosa dan Deni. Mereka sedang asik makan sampai sampai tidak melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga. Rosa terkejut saat melihat jam sudah menunjukkan setengah tiga.
"Astaga waktu cepat banget yang berputar padahal tadi baru jam setengah satu."
"Ya kita Sangking serius nya ngurusin istri kesayangan Brayen."
__ADS_1
"Iyalah Caca istri kesayangan gua dia akan menjadi satu satu satu nya tidak ada yang lain."
"Terharu gua denger nya gak tahu kapan gua punya pacar yang serius."
"Sudahlah sa nanti pacar itu dateng sendiri. ya gak,den?"
Deni hanya fokus pada makanan nya dan mengangguk saja. Setelah itu mereka akhirnya tidur dan melanjutkan mimpi mereka masing masing.
Pagi harinya Brayen dan Deni sedang menunggu hasil pemeriksaan dokter sedangkan Rosa dia harus pulang karena untuk mengambil beberapa baju dan makanan. Setelah itu Justin dan Renata telah datang sejak tadi pagi. Hati mereka sangat senang saat mendengar perkembangan Caca.
Sekolah Caca jadi terhenti untuk beberapa bulan dan sekolah Brayen juga. Sedangkan Deni hanya mengikuti Brayen saja. Menurut Deni jika tidak ada Brayen disekolah maka tidak ada kehidupan baginya.
Brayen rencananya akan pulang kerumahnya yang di Jakarta. Dia dan Deni akan pulang sebentar untuk beristirahat. Sedangkan Caca akan ditunggu oleh mami dan papi nya. Tidak hanya itu Justin juga sudah membawa pengawal kepercayaan nya untuk melindungi mereka.
Kini Brayen dan Deni sudah berada dirumah yang dulu mereka tempati. Penjaga rumah dan bibi terkejut saat melihat Brayen dan Deni pulang. Brayen melihat halaman rumah masih tertata rapih dan tidak berantakan. Kemudian pak satpam menghampiri Brayen dan Deni.
"Astaga den kalian tidak mengabari kami terlebih dahulu dirumah tidak ada apa-apa."
"Sudahlah pak tidak usah repot repot kami nanti bisa beli sendiri."
Kemudian Brayen dan Deni meninggalkan pak satpam dan mereka menuju kedalam rumah. Didalam rumah lumayan banyak debu yang menempel. Brayen dan Deni akhirnya membuka kain yang menutupi peralatan rumah.
"Waduh den kek nya harus memanggil tukang bersih-bersih dulu soal nya banyak banget debu nya."
"Iya ray kasihan juga jika kita menyuruh bibi yang membersihkan rumah."
Kemudian Brayen langsung membuka telepon nya dan memanggil tukang bersih rumah. Sambil menunggu mereka akhirnya duduk santai terlebih dahulu. Bibi yang dari tadi mondar mandir mempersiapkan kamar untuk mereka berdua.
"Den kamar nya mau kamar yang diatas apa kamar yang dibawah?"
"Itu saja bi kamar yang dibawah saja yang diatas tidak usah dibereskan tidak apa-apa."
__ADS_1
"Oke jika seperti itu bibi bereskan terlebih dahulu."
"Iya bi terimakasih."