
"Caca ayo minum susu kehamilan dulu!" teriak Brayen dari dalam dapur.
Tidak ada sahutan sama sekali dari Caca. Sontak hati Brayen khawatir. Brayen langsung bergegas kearah teras rumah dan melihat keadaan istrinya tersebut.
"Caca kau dimana?"
"Aku disini, ray!"
Terdengar suara Caca yang sedang memberi makan seekor anak kucing beserta induknya di halaman rumah.
"Astaga sayang kau menghawatirkan diriku saja."
"Hehe maafkan aku, ray."
Brayen memberikan segelas susu untuk Caca. Pada saat itu musim dingin telah berakhir dan suhu sudah kembali hangat.
"Ray bisa tidak aku memelihara anak kucing ini beserta induknya?"
"Aku rasa itu bukan ide yang bagus karena kamukan lagi hamil dan aku khawatir itu akan mempengaruhi kesehatan calon bayi kita."
"Ayolah ray boleh, ya."
"Tidak sayang kamu tahu tidak jika kamu memelihara anak kucing tersebut dan induknya mereka dapat stress."
"Baiklah aku menuruti perintahmu."
"Anak pintar!"
Hari itu hari libur jadi seluruh keluarga berada dirumah. Begitu juga dengan Brayen dan Caca hari ini mereka berencana untuk piknik ditaman dekat rumah.
"Sayang barangnya sudah siap semua belum?" tanya Brayen.
"Sebentar lagi sayang aku sedang mencari serbet."
Caca menaiki tangga yang menuju arah loteng rumah mereka. Namun tiba-tiba saja kaki Caca tersandung dianak tangga.
"Tepat waktu," ucap Brayen.
"Astaga untung kamu datang tepat waktu kalau tidak aku dapat terjatuh."
"Lainkali jika ingin mengambil barang yang tinggi ataupun yang sulit dijangkau segera panggil aku,oke!"
"Baiklah-baiklah aku mengerti."
Kini Caca dan Brayen segera pergi menuju taman. Sesampainya ditaman tersebut Caca dan Brayen langsung menuju kursi yang terbuat dari kayu yang berada dipinggir taman.
"Baiklah aku akan menyusun makanan ini."
"Ray aku akan mengambil beberapa makanan lagi di mobil."
"Baiklah hati-hati jangan sampai terjatuh ingat anak kita," ucap Brayen yang memegang perutnya.
Caca mengangguk dan langsung pergi kearah mobil yang tidak jauh darinya.
Handphone Brayen tiba-tiba saja berdering dan Brayen melihat Deni yang menelpon. Brayen mengangkat telpon Deni dan untuk sementara menjauh dari tempat mereka piknik.
Caca yang sedang menuju kearah meja piknik melihat makanan dan minuman belum Brayen rapikan.
"Brayen kamu dimana?" teriak Caca.
__ADS_1
Mendengar suara teriakan Caca, Brayen langsung menyudahi pembicaraan dengan Deni.
"Aku disini! Tunggu sebentar."
Kemudian Brayen langsung menghampiri Caca yang sedang asik menikmati ice cream.
"Kamu dari mana, ray?"
"Oh itu tadi Deni menelpon."
Caca hanya diam dan tidak ingin melanjutkan pembicaraan. Brayen diam-diam memfoto Caca. Namun, kelakuan Brayen tersebut disadari oleh Caca.
"Dek lihatlah kelakuan popi kamu ini dia diam-diam memotret momi," ucap Caca sambil memegang perutnya.
Brayen sontak terkejut karena tingkahnya itu.
"Ayolah sayang kau begitu sangat cantik ayo berpose akan aku pajang di sosial media."
Walaupun Caca tidak memperdulikan Brayen namun Brayen tetap berhasil mengambil ending yang pas.
"Sudahlah Brayen lebih baik kamu makan sosis ini jika tidak aku akan menghabiskan seluruh makanan ini."
"Habiskanlah aku ingin melihat kamu dan calon bayi kita sehat."
Pada saat Brayen mengomel Caca menyuapi sesendok ice cream.
"Ayo makan jangan mengomel terus ya, popi."
Brayen hanya tersenyum dan menikmati makanan yang mereka bawa.
"Caca ada hal yang ingin aku ceritakan pada dirimu."
"Apakah itu?"
"Aku ikut maupun kamu tugas ataupun apa aku akan tetap ikut."
"Tapi sayang ini bisa dibilang berbahaya bagi dirimu ataupun kandunganmu karena kata dokter kandunganmu masih rentan keguguran."
"Aku akan tetap ikut, ray."
Brayen sudah menduga Caca akan merengek untuk ikut.
"Baiklah kita akan membicarakan ini dirumah."
Caca mengangguk dan melanjutkan memakan ice creamnya.
Kini Caca dan Brayen telah sampai dirumah. Mereka sedang membicarakan masalah yang akan mereka hadapi nanti.
"Perkenalkan ini adalah Mr. Hilmi dia merupakan rekan bisnis yang aku curigai," ucap Brayen sambil mengeluarkan foto.
"Wah ganteng orangnya! Ngomong-ngomong kenapa kamu mencurigai Mr. Hilmi?"
"Ada sebuah chip yang kami buat untuk melindungi data perusahaan dan sekarang chip itu telah hilang dan Rendi serta Deni juga mencurigai orang ini."
"Kasihan ganteng-ganteng menjadi tersangka."
"Mr. Hilmi adalah pemegang data perusahaan dan saat chip itu hilang Mr. Hilmi ada diruangan data tersebut."
Akhirnya mereka berdua segera membuka laptop masing-masing dan segera menghubungi sahabat-sahabatnya beserta kedua orang mereka.
__ADS_1
Saat pembicaraan dimulai Kenzo dan Justin membuka percakapan terlebih dahulu.
"Chip hilang, ray?"
Brayen yang merasa kebingungan karena seharusnya papi dan ayahnya tidak mengetahuinya terlebih dahulu.
"Bagaimana kalian dapat mengetahuinya?"
"Gua ray, yang memberitahu ayah dan papi," ucap Deni.
"Iya sebaiknya mereka tahu karena kami takut jika kejadian yang waktu itu terulang lagi."
"Iya ray, kasihan Caca sama calon keponakan gua," ucap Rosa.
Caca yang dari tadi hanya diam saja dan menatap Brayen.
"Apa ini yang waktu itu membuat Deni menelpon kamu terus?"
"Iya ini yang membuat Deni menelpon aku terus."
Caca diam dan menghembuska and nafasnya perlahan.
Mereka semua kini berunding dan Brayen menjelaskan rencana yang telah dia susun. Ayah dan papi setuju dengan rencana yang Brayen buat. Namun tiba-tiba saja Renata membuka suaranya.
"Caca tidak boleh ikut dalam misi ini!"
Sontak perkataan Renata membuat Caca terkejut.
"Bunda kalo Caca tidak ikut yang menjaga Brayen siapa?"
"Ayolah sayang kasihan dengan kandugan kamu."
"Iya sayang yang diucapkan bunda Renata itu benar," ucap Milen.
"Aku janji bunda dan mami aku yang cantik aku akan sangat berhati-hati."
"Baiklah kau boleh ikut asalkan Rosa, Linda,dan Syifa bersamamu," ucap Justin.
"Trimakasih papi!" ucap Caca girang.
Malam akhirnya tiba kini Caca dan Brayen sedang bersantai diruang keluarga.
Caca tidak sabar menunggu Rosa dan kedua sahabatnya itu datang. Brayen yang melihat Caca dari tadi kini tersenyum karena wajah Caca hari ini begitu ceria.
"Hei ini sebuah misi bukan jalan- jalan sayang."
"Tidak apa-apa yang penting aku dapat bertemu dengan sahabatku."
Setelah itu perut Caca merasa lapar dan kini Caca merengek ke Brayen untuk dibuatkan sebuah makanan
"Popi yang ganteng dedek yang didalam perut minta makanan tolong buatin, dong!"
"Bilang aja kamu yang lagi laper dasar kucing nakal."
"Hehe buatin ya Brayen ganteng."
Mau tidak mau Brayen harus melakukannya ini demi Caca dan calon anaknya. Brayen memasak sebuah nasi goreng special yang diatasnya ditaburi keju dan juga sosis.
Tidaklama kemudian nasi gorengpun jadi dan kini mereka berdua sedang makan diruang keluarga.
__ADS_1
"Masakannya enak aku suka!"
Wajah Brayen tersenyum hangat menatap Caca yang senang dengan masakannya tersebut.