Caca Dan Brayen

Caca Dan Brayen
Memiliki Kekurangan


__ADS_3

Kini Caca sedang merasa khawatir. Karena pada saat mereka semuanya sedang sarapan tiba tiba saja ada saja yang mencoba mencelakai keluarga Caca ataupun keluarga Brayen.


Bagaimana tidak masalahnya tadi saat Caca dan keluarganya makan diluar terdengar suara rusuh dari luar rumah Caca.


Flashback on.


"Keluar kalian!"


Terdengar teriakan teriakan dari arah luar. Pada saat Justin melihat sudah ada beberapa penjaga yang sedang kewalahan menajaga segerombol pereman yang mencoba menghajar Justin dan Brayen.


"Kalian seluruh keluarga sebaiknya kalian keluar!"


Justin dan Brayen keluar terlebih dahulu mereka melihat beberapa preman itu mencoba sangat keras memasuki halaman Caca.


Brayen melihat Caca disampingnya menggunakan kursi roda langsung membawanya kedalam. Seluruh pelayan yang ada dirumah itu kini berada didalam. Sedangkan Brayen,Justin dan Deni menuju kearah keributan.


"Ayok pi kita kesana."


"Nanti sebaiknya papi menelpon polisi terlebih dahulu."


Deni yang dari tadi sudah memegang senjata ditangannya hanya dapat waspada saja. Setelah itu Brayen akhirnya menuju kearah keributan.


"Ada apa ini?"


"Kau kau telah menghancurkan perusahaan kecil kau sangat licik Justin!"


"Apa nama perusahaan itu?"


"Dasar kau juga menantu yang tidak tahu diri sekeluarga telah menghancurkan perusahaan kami!"


Brayen baru teringat jika pada akhirnya saat minggu kemarin mereka telah berhasil mengamati dana yang janggal di perusahaan mereka.


"Kami tidak akan kejam jika kau tidak menyelundupi uang investasi perusahaan!"


"Kalian tidak ada buktinya jika kami menyelundupkan uang perusahaan!"


Brayen yang ingin kembali menjawab tiba tiba saja teman papi telah datang. Preman itu dengan anak buahnya segera ditangani oleh teman papi. Sedangkan Deni sedang mengambil beberapa bukti yang mereka telah kumpulkan.


"Huh pagi pagi sudah bikin rusuh saja!"


Setelah itu barulah mereka semua kembali kedalam rumah dan melanjutkan sarapan mereka.


Flashback off.


Kini Caca sedang berada di rumah sakit hari ini adalah hari dimana kebiasaan rutin Caca untuk terapi kakinya. Brayen yang terus memegangi istrinya tersebut hanya dapat bersabar. Bagaimana tidak masalahnya saat Caca merasa sakit dikakinya Caca sudah beberapa kali mencakar Brayen.

__ADS_1


"Ya ampun emaknya aja sudah kek gini bagaimana nanti anak gua ya."


Caca yang mendengarkan omelan Brayen sangatlah kesal. Dia akhirnya menghentikan langkak kakinya dan mencubit Brayen agar suaminya itu berhenti mengomel.


"Duh ca sakit!"


"Mangkaknya diem tuh lihat tante Santi dari tadi sudah bosen mendengar omelan lo."


Mama Rosa yang dari tadi tidak tahu apa masalahnya kini dia hanya dapat senyum saja kearah dua pengantin baru itu. Brayen kini semakin tidak tega melihat istrinya yang kesakitan melangkahkan kakinya.


Akhirnya Brayen menyuruh Caca untuk beristirahat terlebih dahulu. Brayen mengajak Caca kepinggir yang ada tempat duduk. Brayen memijat kaki Caca yang sudah memerah itu.


"Ray sudah tidak apa apa."


"Tidak tidak agar otot kakimu tidak tegang Ca."


Caca hanya diam saja. Dia melihat suaminya itu seperti seorang pengasuh. Caca akhirnya memegang tangan Brayen.


"Ray maaf sudah merepotkan dirimu."


"Kau berbicara seperti itu seperti aku ini orang lain saja."


"Bukan seperti itu ray."


"Sudahlah ca aku ini suamimu dan berhak menjagamu dan melarangmu."


"Ray hari ini sepertinya kita minep dirumahnya bunda saja."


"Iya sepertinya seperti itu soalnya sudahlama aku tidak mengontrol rumah itu."


Akhirnya Caca mengabari papi dan maminya jika hari ini mereka tidak pulang kerumah. Saat menuju pulang Caca merasa lapar. Akhirnya Caca merengek ke Brayen agar mampir ke taman kota.


"Ray laper ayo ke taman."


"Sudah malem sayang tidak bagus untuk kesehatan."


"Enggak mau aku mau ke taman kota ray."


Karena Caca merengek terus menerus akhirnya Brayen mau tidak mau harus menuruti apa yang Caca inginkan. Brayen mengubah arah setirnya menuju kerah taman kota.


Saat telah sampai bau makanan tercium dihidung Caca. Brayen hanya tersenyum hangat saat wajah Caca sangat senang. Brayen menuruni kursi roda dan menaiki Caca kekursi rodanya.


"Ray ayo cepat kita makan nasi goreng sama sate!"


"Satu satu ya sayang mau makan nasi goreng apa sate dulu nih."

__ADS_1


"Nasi goreng aja dulu setelah itu baru makan sate."


"Ok siap bu bos!"


Setelah itu akhirnya mereka pergi menuju kearah tukang nasi goreng langganan Brayen. Mereka berdua duduk dikursi luar. Caca menunggu Brayen memesan nasi goreng.


Sambil menunggu Caca akhirnya memainkan handphone miliknya. Tidak lama dari itu akhirnya Brayen menghampiri Caca.


Namun pada saat Brayen dan Caca sedang menunggu tiba tiba saja Caca mendengar dari arah belakang ada yang sedang membicarakan dirinya.


"Eh lihat tuh cowoknya ganteng banget tapi cewenya pakai kursi roda."


"Eh iya itu bukannya Brayen anak milyader itu loh!"


"Ih masa sih dia mau sama cewek seperti perempuan itu."


"Ah sudahlah palingan itu pembantunya."


Begitulah yang Caca dengar. Mendengar obrolan orang tersebut hati Caca kini berubah menjadi sakit. Tidak tahu mengapa hati Caca seperti sedang ada yang menusuk namun tidak berdarah.


Caca menundukkan kepalanya sambil menahan air matanya agar tidak menetes. Tidak lama kemudian pesanan Caca dan Brayen telah datang. Nasi goreng kesukaan Caca telah datang.


Namun karena Brayen heran wajah Caca menjadi mendung akhirnya Brayen berinisiatif menyuapi Caca.


"Ih nasi gorengnya sudah dateng."


Caca hanya diam saja dan melamun. Karena Brayen heran dengan tingkah Caca akhirnya Brayen memegang pipi Caca yang lembut.


"Sayang ayo makan katanya kamu pengen nasi goreng ini nasi nya sudah datang ayo buka mulutnya."


Brayen yang berusa menyuapi Caca namun tetap saja Caca tidak merespon omongan Brayen. Tidak lama kemudian air mata yang Caca tahan akhirnya jatuh juga.


"Brayen gua nyusahin ya?"


"Eh kok malah nangis jangan nangis kenapa ada orang yang nyakitin kamu mana sini orangnya biar aku cakar nanti orangnya belum tahu dia cakaran suaminya Caca."


Mendengar lelucon Brayen hati Caca kini sedikit terhibur. Caca akhirnya mau makan nasi goreng yang dia pesan. Melihat Caca sudah ingin makan akhirnya Brayen lega dan dia pun melanjutkan makannya juga.


Setelah itu Brayen dan Caca mampir beli bandrek terlebih dahulu. Brayen mengajak Caca ketempat biasanya dia memesan bandrek.


"Eh nak Brayen udah bawa cewek aja kesini."


Mendengar ucapan tukang bandrek itu Caca heran karena tukang bandrek tersebut tahu nama suaminya.


"Bapak kenal dengan suami saya eh maksudnya pacar saya?"

__ADS_1


"Haduh den kamu ternyata sudah menikah kok tidak mengundang bapak."


Mendengar perkataan tukang bandrek itu Caca hanya menggeleng gelengkan kepalanya karena suaminya saat dia sedang galau kata bapak itu Brayen pasti kesini.


__ADS_2