Caca Dan Brayen

Caca Dan Brayen
Caca Sadar


__ADS_3

Sudah dua hari Brayen dan Deni berada di Jakarta. Brayen kini disibukkan dengan tugas tugas dari sekolahnya. Khusus buat Brayen dan Deni mereka dapat mengirimkan tugas mereka lewat internet. Sedangkan Caca kini masih terbaring lemah di rumah sakit. Caca sepanjang ini sudah banyak kemajuan yang diperlihatkan oleh diri Caca. Sedangkan Rosa dia hanya bolak balik dari sekolah menuju ke rumah sakit.


Kini mereka bertiga sedang berada di suatu ruangan tersembunyi dirumah sakit. Mereka sedang mengikuti perintah ayahnya Rosa. Mereka membantu ayahnya Rosa untuk membuat obat untuk Caca.


"Ayah ini dicampur kesini?"


"Iya nak itu disitu tapi hati hati jangan sampai terkena tangan."


Tiba tiba tidak sengaja Rosa menyentuh cairan obat itu dan obat tersebut jatuh kelantai. Deni langsung menghampiri Rosa yang dari tadi kesakitan.


"Hati hati nanti tangan nya luka."


"Sudah luka woy!"


Deni tersenyum dan langsung memegang tangan Rosa yang luka dan mengobatinya. Kemudian Brayen melihat mereka berdua.


"Om kode itu om biasa om Deni ngode."


Sontak Deni yang mendengar perkataan Brayen langsung tertawa dan ayah Rosa juga seperti itu.


"Sudahlah ayah tidak melarang kalian karena kini anak ayah Rosa sudah besar."


"Waduh den udah dapet lampu hijau dari ayahnya Rosa."


Sedangkan Rosa kini dia hanya menahan malunya dan wajah Rosa kini memerah. Deni yang dari tadi melihat wajah Rosa hanya menahan tawa saja. Tidak lama dari itu akhirnya obat untuk Caca sudah jadi dan dapat disuntikkan diinfus Caca.


Kini mereka menuju keruangan Caca. Mereka menunggu diluar sambil menyantap sarapan yang sudah dibelikan oleh Renata. Justin ayahnya Caca sedang membaca berkas yang sudah diberikan oleh Rendi.


Semenjak Caca sakit Renata menjadi tidak nafsu makan. Justin melihat istrinya itu tidak nafsu makan Justin berinisiatif untuk menyuapi istrinya tersebut. Brayen melihat papi dan mami Caca Brayen membayangkan bagaimana nanti dia dan Caca bersama seperti papi dan mami Caca.


Tidak lama dari itu akhirnya ayah dan mami Rosa telah keluar dari ruang pemeriksaan.


"Ayo sini Caca sudah sadar."


Mendengar perkataan mama nya Rosa sontak seluruh keluarga serta sahabat dan suaminya kini masuk kedalam. Sedangkan Caca yang masih merasakan lemah dia hanya diam saja.


"Caca sayang sudah lama kami menunggu kamu sayang. Lihatlah disitu ada Brayen,Deni, dan Rosa mereka bertiga sangatlah menghawatirkan dirimu."

__ADS_1


Renata hanya melihat Caca. Kini Caca ingin menggerakkan kakinya namun tidak bisa.


"Mami kenapa kaki Caca gak bisa bergerak?"


Sontak seluruh mata mereka saling bertatapan. Brayen maju dan menghampiri istrinya itu.


"Sayang bukannya apa kamu sekarang sedang dalam keadaan lumpuh namun kata mama dan papa nya Rosa lumpuh nya tidak permanen."


Mendengar perkataan Brayen tidak tahu mengapa air mata Caca kini mulai menetes. Caca sangat shock dan menjerit.


"Mami kaki aku lumpuh!"


Mendengar teriakkan Caca,Brayen langsung memeluk Caca dan menenangkan diri Caca. Kini yang berada didalam ruangan itu hanyalah mereka berdua yaitu Caca dan Brayen.


Kini Caca menangis sejadi jadinya dia sangat sedih bahwa mendengar kabar kaki nya kini lumpuh. Air mata Caca kini sudah membasahi bahu Brayen.


"Brayen aku tidak layak lagi denganmu aku sudah lumpuh dan tidak dapat berbuat apapun."


"Sayang sudahlah kamu tetep Cacaku dan tidak ada yang dapat menggantikan Caca yang cantik."


Setelah itu Caca melepaskan Brayen. Caca melihat Renata dan Justin masuk kedalam ruangan milik nya. Hati Caca kini memendam dendam dengan orang yang membuat dirinya menjadi seperti ini.


Mendengar perkataan Caca,Justin hanya menggeleng gelengkan kepalanya. Justin tidak ingin putri semata wayangnya itu mencari orang yang telah mulai dirinya dalam keadaan lemah.


"Tidak sayang kamu belom boleh melihatnya karena keadaan kamu belum stabil."


"Iya sayang kata papi. Jika kamu sudah sembuh mami akan memberikan data dan berkas orang yang telah mecelakai kamu."


"Hmm baiklah aku akan sembuh dan aku akan membalasnya."


Mendengar perkataan Caca,Brayen hanya membelai kepala Caca. Kini mata Caca dan mata Brayen saling bertatapan. Kemudian tatapan mereka dibuyarkan dengan suara Deni dan Rosa.


"Astagaa Caca Lo sudab sadar gua kangen banget sama lo!"


"Caca lo betah kali ya sahabatan sama kaleng rombeng."


"Halah kaleng rombeng awas aja lo nanti kalo lo pacaran sama Rosa."

__ADS_1


"Waduh sad boy pacaran sama **** girl."


Seketika suana menjadi hangat kembali. Dipenuhi suara tawa dan suara omelan Rosa. Setelah itu Justin dan Renata pergi menuju kekantin rumah sakit dan Deni dan Rosa mengikuti papi dan mami Caca.


Caca kini kebelet buang air kecil namun Caca malu mengatakannya kepada Brayen.


"Brayen aku pengen buang air kecil."


Mendengar perkataan Caca sontak Brayen langsung berdiri dan menghampiri Caca. Brayen membantu Caca untuk buang air kecil.


"Ray maafin gua sudah ngerepotin lo."


"Sayang tidak apa apa untuk apa aku disini kalo bukan untuk menjaga dirimu."


Kini mereka sudah berada didalam kamar mandi. Tetapi Caca tidak dapat mebuka celananya dan masih terasa sakit. Akhirnya Caca meminta bantuan kepada Brayen. Tanpa pusing Brayen membantu Caca kini Brayen melihat bagian bawah Caca.


Sontak keadaan Brayen menajadi panas dingin. Brayen langsung memalingkan wajahnya.


"Caca jika kau sudah sembuh aku akan meminta segalanya darimu dan itu tidak dapat dibantah."


"Baiklah aku akan menuruti apa kata yang lo bilang karena aku istri yang nurut sama suami."


Mendengar perkataan Caca hati Brayen menajadi lega. Kini Brayen memasang lagi dan menggendong Caca lagi menuju ketempat tidurnya. Brayen mendekati wajah Caca dan mencium Caca.


Tidak hanya itu tangan Brayen sudah menjelajahi tubuh Caca. Kini Caca tidak dapat berbuat apapun karena dia harus menuruti apa yang suaminya ucapkan.


Namun tiba tiba tiba saja pintu terbuka. Kini Brayen langsung menghentikan ulahnya. Caca langsung menarik selimut nya untuk menutupi gigitan Brayen yang ada dilehernya.


Saat Rosa dan Deni masuk Rosa melihat wajah Caca dan Brayen tegang sekali seperti sedang ingin diperiksa oleh guru BK. Namun karena maklumi akhirnya Rosa dan Deni duduk di sofa yang berada didekat kasur Caca.


Mereka berdua sedang asik makan pecel,batagor dan siomay yang dibelikan oleh Renata dan Justin. Brayen menghampiri mereka dan mengambil jatahnya. Sedangkan Caca kini hatinya kesal akibat tidak ada yang memberikannya makanan.


"Kalian tega banget gua makan makanan rumah sakit yang enggak ada rasa kalian makan pecel,batagor sama siomay."


"Ehehe ini ada kok untuk Caca cantik."


Mendengar perkataan Rosa,Caca langsung mengubah raut wajahnya menjadi senang kembali.

__ADS_1


"Tapi bohong."


"Sialan lo sa, dasar **** girl!"


__ADS_2