
Brayen dan Caca kini telah bersama kembali. Momen yang telah mereka nantikan kini akhirnya terkabulkan.
"Hai cantik sudah lama sekali aku tidak melihat, mu."
Caca tersipu malu mendengar ucapan Brayen. Kemudian, Caca melihat teman-temannya itu sangatlah senang. Deni yang langsung memeluk Rosa serta Linda dan Syifa yang kini sedang menangis terharu.
"Hei sudah-sudah sebaiknya kita urus dulu anak satu ini," ucap Rendi menunjuk kearah Cantika.
Cantika telah berhasil diamankan oleh pak Guntur. Sebelum itu Caca telah membalaskan perbuatan yang Cantika telah lakukan terhadap dirinya serta sahabat-sahabatnya.
Flashback on.
Caca kini telah memegang rambut Cantika. Caca telah memegang gunting dan perlahan memotong rambut Cantika.
Cantika yang berusaha memberontak kini dipegang erat oleh ketiga sahabatnya itu.
"Ini balasan yang kau dapat!" ucap Rosa.
"Kau tahu kau telah menghilangkan calon anakku dan kau pasti akan mendapatkan pembalasannya."
Kemudian Caca memotong rambut Cantika menjadi sejelek mungkin. Brayen yang melihat Caca kini hanya membiarkan istrinya itu karena Brayen berfikir jika hal tersebut pantas untuk Caca lakukan.
Deni yang langsung memeluk sahabatnya itu langsung menatap Brayen dengan tatapan yang lega.
"Den gua sangatlah berterimakasih kepada lo dan juga Rendi sudah menjaga istriku dengan baik."
"Iya bro sudah tugasku sekarang lebih baik kau urus Zekri dan Cantika."
Brayen yang langsung menyuruh pak Guntur agar pak Guntur dapat menghubungi ayah dan bundanya.
Setelah itu, Caca memegang wajah Cantika yang tertunduk malu.
"Kau tahu seharusnya kau mendapatkan hal yang sepantasnya nyawa harus dibayar dengan nyawa."
"Ahaha kau tidak akan dapat melakukan hal itu kepadaku!"
Brayen yang mendengar suara Cantika yang membentak Caca kini langsung menghampiri mereka berdua.
"Beraninya kau membentak, Caca!" teriak Brayen.
Sontak seluruh orang yang berada didalam ruangan tersebut terdiam karena terkejut dengan suara Brayen.
"Kau tahu Cantika kau telah menghilangkan calon anakku kau sangatlah kejam kau akan aku hukum seberat mungkin!"
"Ahaha kau tidak dapat menghukumku seperti itu!"
"Semuanya dapat aku lakukan karena aku adalah Brayen Lavendra!"
Setelah itu Brayen langsung menyuruh pak Guntur untuk membawa Cantika.
__ADS_1
Flashback off.
Caca dan Brayen langsung menuju kearah tempat penginapan yang Caca tempati. Begitu juga dengan sahabat-sahabatnya Caca.
Brayen yang melihat suasana yang sudah lama dia tidak lihat kini sangatlah senang. Brayen yang melihat Deni serta Rosa yang bersenda gurau serta istrinya yang berada disampingnya.
Caca bersandar di bahu Brayen. Sambil memegang tangan Brayen, Caca memejamkan matanya. Brayen yang melihat hal itu kini hanya tersenyum hangat melihat istrinya itu sudah berada disisinya.
Malam telah tiba, Caca kini telah siap untuk makan malam bersama para sahabatnya itu. Tidak lupa dengan suaminya itu.
"Hai sayang malam ini kau sangat cantik," ucap Brayen sambil mengelus rambut Caca.
"Benar aku sangatlah cantik," ucap Caca yang mengecup pipi Brayen.
Brayen tersenyum nakal melihat istrinya itu bertingkah seperti itu.
"Hei belum saatnya kita sebaiknya makan malam terlebih dahulu."
"Ahaha baiklah jika seperti itu," ucap Caca nakal.
Kini, Brayen heran melihat tingkah istrinya itu yang tidak malu-malu lagi. Mereka berdua meninggalkan kamar serta menuju kearah ruang makan.
Sesampainya disitu, Caca telah melihat sahabat-sahabatnya itu telah berkumpul.
"Caca ayo kemari!" teriak Syifa.
Caca kini langsung menuju kearah sahabatnya itu dan langsung bergabung. Brayen yang bergabung dengan Deni, Rendi serta pak Guntur. Mereka berbincang-bincang mengenai kelanjutan permasalahan ini.
"Seluruhnya telah mami rencanakan semuanya akan berjalan dengan lancar dan dipastikan perusahaan milik Zekri dan orang tuanya akan hancur."
Hati Brayen kini sangatlah tenang. Brayen yang mendengar rencana mami merasa sedikit rasa lega.
Caca yang melihat Linda dan Syifa yang berada disini terlihat bingung.
"Linda mengapa kalian dapat datang kesini?"
"Oh itu kau tahu suamimu itu sangatlah pandai dalam memainkan permainan yang dimainkan olehnya."
"Ahahaa benar itu ca, Brayen sangatlah pandai dalam memainkan perannya!"
Sontak Caca kini tertawa senang. Rosa yang melihat wajah Caca kini sangatlah lega karena terlihat tidak ada rasa sedih lagi dari raut wajah Caca.
"Hei sudah-sudah ayo kita makan."
Akhirnya mereka semua makan bersama. Namun, pada saat mereka sedang makan Syifa mengajak mereka untuk berkeliling.
"Hei setelah ini mari kita jalan bersama."
Tiba-tiba Rosa menendang kaki Syifa dan Rosa mengedipkan matanya. Karena Syifa mengerti akhirnya Syifa tidak jadi untuk melanjutkan pembicaraannya lagi.
__ADS_1
"Apakah kalian ingin berkeliling?"
"Oh tidak-tidak kami sangatlah lelah kami akan beristirahat terlebih dahulu."
Akhirnya makan malam telah selesai. Mereka semua kembali kekamar masing-masing. Serta Caca dan Brayen juga seperti itu.
Caca membaringkan tubuhnya diatas kasur kini tubuh Caca sangatlah merasa lelah. Namun, tiba-tiba saja Brayen menarik tubuh Caca.
"Hei aku ingin tidur!"
"Kau tidak ingat ucapan yang kau bilang sebelum kita pergi?"
Kemudian Caca teringat dengan ucapannya. Sontak Caca kini pasrah saja.
"Baiklah suamiku sayang," ucap Caca yang memegang dada bidang Brayen.
Setelah itu Brayen yang mencium Caca kini ciuman Brayen dibalas oleh Caca. Brayen membuka bajunya dan perlahan tangan Brayen kini menjelajahi tubuh Caca.
Dari atas sampai bawah kini tangan Brayen telah menjelajahi tubuh istrinya itu.
"Hei jangan ditahan," ucap Brayen yang melihat wajah Caca yang kini telah memerah.
Setelah itu tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu mereka.
"Sialan siapa sih itu gua doain yang mengetuk pintu jomblo seumur hidup!" ucap Brayen kesal.
Caca yang melihat Brayen mengomel kini hanya menahan tawa saja. Kemudian, Brayen membuka pintu dan melihat pak Rodi membawa sebuah makanan dan jas anti peluru.
"Ya ampun ternyata pak Rodi, ada apa pak?"
"Ehehe maaf den ini ada makanan untuk aden disuruh mami untuk membelikan seluruh anak-anak makanan."
"Baiklah terimakasih bapak hati-hati,ya!"
Akhirnya Brayen kembali lagi dan segera menuju kearah Caca.
"Siapa yang datang, ray?"
"Itu ca ternyata pak Rodi," ucap Brayen yang segera menaruh makanan tersebut.
Setelah itu, Brayen langsung mematikan lampu dan kembali menuju kearah Caca.
"Ayo kita lanjutkan sayang."
Mereka berdua kini kembali ke permainan. Akhirnya, Caca menikmati permainan Brayen. Brayen perlahan membuka baju Caca.
Kini Caca dan Brayen telah asik bermain dalam permainan mereka.
"Hei kau tahu tidak? Aku telah menahan hasratku selama bertahun-tahun."
__ADS_1
"Aku percaya dengan dirimu ray," ucap Caca yang dari tadi menahan rasa sakit yang dirasakannya.
Jam telah menunjukkan pukul sebelas malam. Caca dan Brayen kini telah tertidur pulas menuju alam mimpinya.