
Caca dan Brayen sedang berada di supermarket. Mereka sedang membeli bahan makanan untuk menyambut sahabat mereka yang akan datang.
"Brayen kenapa perutku terasa berat?"
"Itu karena bayi yang ada didalam kandunganmu berkembang dan tumbuh, kau tidak ingat perkataan dokter tadi?"
"Ehehe sepertinya tidak."
Sebelum pergi ke supermarket Brayen dan Caca memutuskan untuk pergi ke dokter kandungan.
Kemudian Caca melihat sebuah lobster yang sangat besar. Dirinya kini ingin lobster tersebut. Caca menarik tangan Brayen dan segera menuju tempat lobster tersebut.
"Popi! Aku mau lobster itu."
"Tapi waktu itu kamu tidak suka aroma dari makanan laut."
"Ayolah popi nanti dedeknya ileran, memangnya popi mau anaknya ileran?"
Akhirnya Brayen mengalah dan membeli dua lobster yang cukup besar cukup untuk makan siang nanti.
Kini mereka berdua telah selesai membeli beberapa persiapan makanan. Brayen berencana mengajak Caca kepusat kota.
"Caca hari ini ayo kita ke pusat kota!"
"Bukankah setelah ini kita akan pergi ke kantor?"
"Aku fikir tidak hari ini kita akan pergi ke pusat kota."
"Apakah tidak apa-apa, ray?"
"Tidak apa-apa sayang aku tadi juga sudah bilang kesalah satu karyawan bahwa hari ini aku tidak masuk."
"Baiklah jika seperti itu."
Caca dan Brayen kini pulang terlebih dahulu karena didalam mobil terdapat banyak sekali makanan.
Sesampainya dirumah Brayen segera menurunkan stock makanan dan juga barang-barang yang telah mereka beli tadi.
"Brayen boleh tidak nanti sore atau nanti malam kamu memasakkan lobster ini?"
"Tentu saja sayang aku akan memasak lobster ini untukmu," ucap Brayen sambil mengecup kening Caca.
Caca kini telah siap dan juga telah mengganti pakaiannya menjadi santai.
"Bumil ayo cepat naik!"
"Iya sebentar popi aku mengambil handphone milikku sebentar."
Setelah itu Caca segera masuk kedalam mobil. Diperjalanan Caca sangat antusias sekali . Karena sudah lama dirinya dan juga Brayen tidak kepusat kota.
Sesampainya dipusat kota Brayen dan Caca melihat banyak sekali mobil kini mereka terjebak dikemacetan.
"Wah! Sepertinya kita datang diwaktu yang tepat lihat terdapat karnaval."
"Ahaha benar sekarang aku sudah tidak sabar untuk pergi kesana!"
Beberapa lama kemudian Caca dan Brayen dapat masuk juga kedalam karnaval tersebut. Terlihat ramai sekali orang-orang yang memakai pakaian yang unik.
"Popi lihat! Ada badut yang memegang balon!"
"Kamu mau balon, ca?"
Tanpa berkata-kata lagi Caca mengangguk. Akhirnya Brayen membelikan Caca balon yang berwarna merah muda.
"Ahaha warna yang cantik aku suka sekali warna balon ini."
"Hei lihat! Banyak sekali permainan mari kita coba satu persatu permainan tersebut."
Kemudian Caca dam Brayen kini sedang sibuk memainkan banyak sekali permainan. Caca mengajak Brayen bermain anak panah.
__ADS_1
"Aku ingin boneka itu, apakah popi bisa mendapatkannya?
"Hei jangan meremehkan diriku pasti aku bisa mendapatkannya!"
Caca tertawa melihat wajah Brayen yang sangatlah serius itu. Caca mengambil foto Brayen dan memasangnya distatus akunnya.
"Astaga popi terlihat ganteng banget!"
Tidaklama kemudian Brayen dapat membidik anak panah ditepat sasaran.
"Akhirnya bisa!"
"Yeay popi keren banget!"
"Pilih hadiah yang kamu inginkan," ucap Brayen yang memasang wajah tampannya.
"Dedek jangan seperti popi lihatlah dia sudah pedesekali dirinya tampan," ucap Caca yang mengelus perutnya.
"Caca kita belum tahu dedek cewek apa cowok!"
Kemudian Caca memsang senyum manisnya. Belum lelah juga Caca mengajak Brayen menaiki komedi putar.
"Sayang ayo naik wahana itu."
"Tapi aku takut jika terjadi apa-apa."
"Ayolah sebentar saja."
Akhirnya Brayen menuruti perintah Caca dan kini mereka berdua menuju komedi putar.
"Mr ini amankan?" tanya Brayen kepenjaga.
"Tenang saja tuan semua wahana disini sudah kami uji dan aman semuanya."
Akhirnya Brayen dan Caca menaiki komedi putar.
"Kau benar sayang kota ini sangatlah indah."
"Lihat ray! monumen kota ini terlihat dari ketinggian dari sini."
Karena terbawa suasa yang romantis Brayen mendekati wajahnya kewajah Caca dan mencium bibir Caca.
"Cup."
Wajah Caca kini memerah karena melihat Brayen yang menciumnya secara tiba-tiba.
"Ahaha lihatlah wajahmu kini seperti udang rebus."
"Dasar sialan Brayen kau ini nakal!"
Beberapa lama kemudian Caca dan Brayen telah selesai dan kini mereka sedang mencari tempat makan.
"Sore ini enaknya makan apa?"
"Aku mau makanan yang manis!"
"Apa kamu tidak takut gendut dari kemarin makan manis terus?"
"Aku tidak tahu akhir-akhir ini aku suka sekali dengan makanan manis."
Brayen tertuju pada toko kue yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Bagaimana kalau hari ini kita makan disitu saja," ucap Brayen sambil menunjuk toko kueh yang berawarna putih tersebut.
"Oke aku setuju."
Akhirnya mereka berdua menuju toko kue tersebut. Caca melihat banyak sekali kue ditoko tersebut.
"Brayen aku mau kue tart nya satu yang ada buahnya diatas!"
__ADS_1
"Baiklah bumil yang cantik."
Setelah itu Brayen memesan makanan dan segera pergi ketempat yang tersedia.
Caca makan dengan lahap. Sambil menikmati pemandangan karnaval Brayen memerikasa handphonenya.
Tidak ada keluhan yang dia dapat untuk saat ini.
"Syukurlah hari ini tidak ada masalah sedikitpun."
"Bagus jika seperti itu tidak seperti hari kemarin."
Tiba-tiba handphone Caca berdering.
"Popi tolong angkat handphone momi, ya!"
Brayen mengangkat telpon yang masuk.
"Halo?"
"Caca kalian dimana kami sudah sampai dibandara!"
"Eh ada onti Rosa, Kalian sudah sampai?"
"Astaga Brayen ya iyalah sudah sampai!"
"Baiklah-baiklah akan aku telepon pegawaiku untuk menjemput kalian."
Akhirnya Brayen segera menelpon pegawainya untuk menjemput Rosa dan sahabat yang lainnya.
"Rosa sudah sampai?"
"Iya ternyata mereka sudah sampai!"
"Syukurlah tadi kita sudah membeli makanan yang banyak."
Kemudian ada seseorang yang tidak sengaja menumpahkab kopi kepakaian Caca.
"Ups! Maaf Mrs aku tidak sengaja."
"Sudah tidak apa-apa," ucap Caca yang membersihkan pakaiannya itu.
Namun pada saat Caca melihat wanita tersebut wajahnya seperti tidak asing bagi dirinya.
"Ada apa sayang?"
"Tidak apa-apa tetapi kenapa wajah wanita itu sepertinya aku pernah melihatnya."
"Mungkinkah itu teman waktu smp atau sma dulu?"
"Aku tidak tahu."
Brayen dan Caca menghabiskan waktu bersama sampai melupakan waktu. Mereka akhirnya pulang kerumah.
Pada saat telah sampai dirumah Caca pintu rumah dan gerbang rumah telah terbuka.
"Bagaimana mereka dapat tahu sandi rumah kita?"
"Pasti ini ulah Deni."
Akhirnya mobil Brayen memasuki halaman rumah dan Rosa beserta yang lainnya keluar untuk menyambut Caca dan Brayen.
"Astaga sudah lama kita tidak bertemu!" teriak Brayen.
"Wah! Caca perutnya sudah terlihat buncit," ucap Rosa.
"Dimana Linda dan Syifa?"
"Oh mereka memantau dari Indonesia mereka jadinya tidak berangkat."
__ADS_1