Caca Dan Brayen

Caca Dan Brayen
Aku Ingin Baby


__ADS_3

Pagi harinya dirumah keluarga Lavendra Caca bangun lelah sekali. Karena semalaman Brayen berulah nakal lagi. Caca melihat Brayen berada disampingnya masih tertidur lelap.


Caca memegang pipi Brayen dengan lembut. Caca melihat wajah suaminya itu semakin hari semakin ganteng. Karena Caca merasa gerah akhirnya Caca membangunkan Brayen.


"Hey baby besar ayo antarkan aku ke kamar mandi."


Brayen yang mendengar ucapan Caca. Membuka matanya dan menatap istrinya itu dengan tatapan yang hangat.


"Baiklah kamu ingin terapi tidak untuk pagi ini?"


"Iya nanti tolong bantu aku ya."


"Baiklah Caca cantik."


Setelah itu Brayen langsung mengangkat Caca dan menaruh pelan dikamar mandi. Brayen keluar untuk mempersiapkan alat terapi Caca.


Brayen sudah mempersiapkan tempat dirumahnya untuk Caca terapi. Tidak lama dari itu Brayen mendengar suara Caca memanggil dirinya. Akhirnya Brayen menghampiri Caca.


"Sudah pakai itu pakaian yang sudah aku siapkan."


"Tidak aneh anehkan?"


"Kamu mau memakai gaun yang kemarin?"


"Tidak Brayen!"


Sontak Brayen tertawa melihat wajah Caca yang terkejut. Setelah itu Brayen langsung membawa Caca ketempat yang telah disediakan.Namun tiba tiba Caca menarik baju Brayen. Caca kini merasa lapar.


"Aku lapar sebaiknya kita makan terlebih dahulu."


"Ahaha iya sayang aku juga lapar kita makan dulu ya."


Caca melihat bibi telah menyiapkan makanan untuk mereka. Akhirnya mereka makan dengan rasa hikmat. Caca yang melihat bibi dari tadi membersihkan dapur dia hanya kasihan.


"Bibi ayo makan."


"Eh tidak non bibi sudah makan kok."


"Ayolah bi disini hanya kami berdua."


Caca terus membujuk bibi dan tetap saja bibi tidak ingin. Brayen yang melihat mereka berdua hanya dapat menggeleng gelengkan kepalanya.


Setelah itu bel rumah berbunyi. Bibi membukakan pintu dan melihat seorang wanita dan Deni.

__ADS_1


"Eh den Deni sama non siapa den?"


"Eh bibi ini pacar Deni namanya Rosa."


"Ayo non Rosa sama den Deni masuk."


Mendengar suara Rosa dan Deni Caca dan Brayen langsung melihat kearah ruang tamu. Dan melihat Rosa dan Deni menuju kearah ruang makan.


Rosa yang membawa makanan untuk Caca langsung menghampiri dan Caca dan memeluk Caca. Rosa membawa dimsum kesukaan Caca. Brayen yang melihat Deni kini mereka saling mengobrol dan saling bercanda.Setelah itu Rosa membisikan sesuatu ke Caca.


"Badan lo agak gendut."


Mendengar bisikan Rosa Caca terkejut dan melihat tubuhnya kini biasa saja.


"Apanya yang gendut badan gua biasa aja."


"Itu punya lo Brayen mainin punya lo terus ya?"


Mendengar ucapan Rosa sontak Caca menutup dadanya. Dan memberikan Rosa berupa cubitan kecil. Rosa yang hanya tertawa membuat Brayen dan Deni bingung.


Akhirnya Caca kini sedang menjalani terapinya Brayen yang membantu Caca sedangkan Rosa dan Deni memberikan semangat untuk Caca.


Setelah itu Caca merasakan kakinya sedikit demi sedikit sudah dapat dirasakannya dan tidak seperti dahulu.Caca terus berjalan sampai dirinya lelah. Setelah itu Caca akhirnya selesai menjalani terapinya. Kini dia sedang diruang keluarga Brayen. Caca bersama Rosa sedang asik menikmati film mereka.


"Ganti dong filmnya."


Akhirnya Brayen menuruti apa yang Caca bilang. Dan ikut juga menikmati filmnya itu bersama Deni yang bermain game. Karena jam sudah menunjukkan sore akhirnya mereka iseng memesan pizza.


Brayen yang dari tadi menunggu makanan mereka itu sangatlah tidak sabar mencobanya. Tidak lupa dari itu Brayen juga memesan beberapa makanan untuk penjaga rumahnya.


Akhirnya makanan yang mereka tunggu telah tiba. Caca makannya sangat lahap sampai sampai tersedak. Rosa yang melihat Caca makannya seperti berebutan akhirnya Rosa membukakan minuman untuk Caca.


"Pelan pelan atuh neng."


"Sumpah ini pizza terenak yang gua pernah makan!"


Rosa merasa aneh padahal pizza yang mereka makan adalah pizza yang biasanya mereka beli. Akhirnya karena Rosa berfikir Caca sedang lapar dan Rosa hanya menganggukkan kepalanya.


Setelah itu karena sudah hampir Maghrib akhirnya Rosa dan Deni pulang. Caca melihat sahabatnya itu sering tertawa bersama Deni kini hatinya menjadi senang.


"Ray aku tidak tahu habis ini ngapain aku bosan."


"Kalo yang kek semalem bosan tidak?"

__ADS_1


Sontak pipi Caca memerah akibat ulah Brayen yang mencoba menggodanya lagi. Brayen hanya tersenyum saja saat melihat tingkah istrinya itu.


Caca mendengar suara handphonenya berdering dan melihat ternyata Milen yang meneleponnya. Caca mengangkat telepon dari Milen dan mendengarkan suara Milen yang sangat marah terhadap Brayen.Caca langsung memberikan handphonenya ke Brayen.


"Ray ini bunda ingin bicara sepertinya dia marah terhadapmu."


Karena Brayen bingung dan Brayen heran mengapa bundanya marah terhadap dirinya akhirnya Brayen mengambil handphone milik Caca dan berbicara kepada Milen.


"Halo bunda ada apa?"


"Kamu ini ya kamu sudah ciuman sama wanita lain selain Caca!"


"Hah tidak bunda sumpah bunda Brayen tidak pernah pergi ataupun jalan dengan wanitalain."


Setelah itu Brayen melihat bundanya sedang mengirimkan banyak sekali gambar tentang dirinya bersama banyak wanita. Ada perasaan bangga, kesal,dan lucu saat Brayen melihat foto yang dikirimkan bundanya itu.


Pasalnya dia melihat foto foto itu adalah foto editan semua. Dengan wanita yang tidaklain teman dan adik sekolah Brayen. Karena Caca heran kenapa Brayen senyum senyum seperti orang gila akhirnya Caca menanyakannya.


Brayen yang melihatkan foto foto tersebut ke Caca respon Caca hanyalah tertawa. Ternyata itu adalah foto editan fans Brayen.


"Astaga sayang sampai sampai fans kamu mencari nomor bunda untuk mengirimkan foto editan mereka."


"Iya akukan tampan mangkaknya banyak fans."


"Tapi kamu milik aku dan tidak ada siapapun yang boleh menggantikan nya."


"Ahaha iya sayang kamu cemburu ya?."


"Iya aku cemburu!"


Wajah Caca sangatlah lucu sekali pada saat marah. Brayen yang membawa kekamar agar Caca tidak marah lagi. Brayen menanggapi pesan yang diberikan oleh bundanya itu.


Tidak lama kemudian Caca melihat iklan bayi yang sedang dipakaikan pembalut. Caca hanya terkagum melihat bayi yang ada di tv itu. Mata Brayen yang melihat Caca sangat terkesan dengan iklan yang ada di tv akhirnya Brayen mencoba menggoda Caca.


"Apakah kamu ingin anak?"


"Sebenarnya tentu saja iya ray aku sudah menikah dan tidak baik menunda nunda untuk memiliki keturunan."


"Sebab itu ayo kita membuatnya."


Brayen yang menyerang Caca deluan kini Caca hanya dapat pasrah saja. Caca tidak ingin menolaknya karena kini sudah menjadi kewajiban baginya untuk melayani suaminya.


"Ray apa kamu tidak lelah?"

__ADS_1


"Tidak aku tidak lelah."


Caca yang kewalahan melayani Brayen hanya dapat menahan rasa geli saja. Kini Caca sudah sangat lelah dan mengantuk. Namun Brayen masih sangat segar dan tidak sedikitpun terlihat lelah.


__ADS_2