Caca Dan Brayen

Caca Dan Brayen
#2Negara Orang


__ADS_3

Semuanya telah selesai. Keluarga Caca dan Brayen kini telah kembali seperti biasanya. Sedangkan sahabat-sahabat Caca dan Brayen kini mereka direkrut oleh perusahaan ayah Brayen dan Caca sebagai mata-matanya.


Brayen Lavendra Dan Caca Amelia Jasmin kini mereka berdua tinggal diluar negeri untuk memperluas bisnis kedua orang tua mereka.


Semenjak kejadian itu terjadi, kedua pasangan tersebut belum dikaruniai keturunan. Walaupun seperti itu, Brayen tetap sayang terhadap Caca.


"Kring!" Telepon berdering.


Caca bangkit dari duduknya dan segera menuju ketempat telepon rumah.


"Halo?"


Kemudian terdengar suara Renata dari dalam telepon tersebut. Wajah Caca terlihat sangat senang mendengar suara maminya itu.


"Mami Caca kangen sama, Mami!" teriak Caca.


"Hei anak manja sudah-sudah jangan seperti itu mami juga kangen dengan Caca cantik."


"Mami ada apa?"


"Begini sayang kau tahu perusahaan kita kini semakin sangat maju."


"Terus?"


"Anak ini benar-benar menjengkelkan!"


Kemudian Caca tersenyum mendengar omelan maminya itu. Caca tahu jika maminya itu sangat menghawatirkan dirinya dan juga Brayen.


Semenjak kejadian waktu itu Renata dan Milen sangat khawatir dengan anak-anak mereka tersebut.


"Ehehe iya mami sayang, Caca dan Brayen pasti akan selalu waspada."


Tidak lama dari itu Milen dan Caca mengakiri pembicaraan mereka.


"Disini sangatlah membosankan," gumam Caca yang bosan karena kini dirinya berada didalam rumah sendirian.


Kemudian Caca mengambil jaket tebalnya dan keluar rumah. Karena pada waktu itu sedang musim dingin, Caca akan pergi ke toko coklat didekat rumah mereka.


Brayen yang sedang dalam perjalanan pulang kini melihat salju yang begitu tebal. Kini hatinya merasa khawatir karena meninggalkan Caca dirumah sendirian.


Ketika Brayen ingin membelokkan mobil yang sedang dikendarainya Brayen melihat Caca yang sedang berjalan menuju toko coklat.


"Dasar kucing nakal," gumam Brayen yang melihat Caca.


Kemudian Brayen sengaja memparkirkan mobilnya didekat toko tersebut. Caca yang dari tadi menundukan pandanganya kini merasa kedinginan karena jaket yang kini dia pakai tidak cukup tebal.


"Gila suhu hari ini dingin banget!" ucap Caca kesal.


"Itu karena kau nakal mangkaknya suhunya menjadi seperti ini."


Wajah Caca kini terkejut mendengar suara Brayen yang tepat berada disampingnya.


"Ray?"

__ADS_1


Kini karena suhu yang amat dingin pipi Caca menjadi merah. Brayen yang melihat pipi istrinya tersebut kini tertawa.


"Ahaha lihat kau memakai make-up sangatlah tebal."


Caca yang kebingungan karena tingkah Brayen yang menertawakannya langsung menuju kearah kaca mobil dan kini dia melihat pipi nya memerah.


"Hei kau tahu aku tidak memakai make-up sama sekali ini karena suhunya sangat dingin!"


Brayen mendekati tubuh Caca. Kemudian, Brayen memasang wajah senyumnya yang manis.


"Hei cantik ayo kita pergi minum coklat."


Caca mengangguk dan merangkul tangan Brayen. Mereka kini sedang asik minum coklat panas dengan sandwich yang isinya begitu belimpah.


Tiba-tiba ada anak kecil yang menarik-menarik celana yang Caca pakai. Caca melihat anak itu lucu sekali pipinya gempal dan memerah serta matanya bulat dan Indah.


"Hai manis dimana mamamu?


Anak itu hanya tertawa saja. Tawa anak itu membuat hati Caca berbunga-bunga. Setelah itu ada seseorang wanita yang mengambil anak itu.


"I'm sorry," ucap wanita tersebut sambil mengambil anak itu dan langsung bergegas pergi.


Caca yang keingat dengan kandungannya pada saat itu kini hatinya menjadi sedih. Brayen tahu jika Caca sedang tidak baik-baik saja.


"Hei sudah-sudah jangan sedih seperti itu nanti cantiknya hilang."


"Ehehe iya aku tahu," ucap Caca yang menampilkan senyumnya.


Kemudian Caca teringat dengan Cantika dan keluarganya. Karena, Caca penasaran akhirnya Caca memberanikan dirinya untuk bertanya kepada Brayen.


Mendengar pertanyaan tersebut Brayen sontak terkejut.


"Mengapa kau menanyakan mereka?"


"Aku penasaran dengan keadaan orang sialan itu."


Brayen melihat keadaan sekitar yang sedang ramai. Brayen membisikan ketelinga Caca.


"Nanti aku ceritakan didalam mobil saja disini tidak aman untuk menceritakannya."


Caca mengangguk dan melanjutkan minumnya. Tidaklama dari itu akhirnya mereka berdua pulang. Dalam perjalanan Brayen menceritan keadaan Cantika dan Zekri.


"Kau tahu masalah waktu itu ada nyawa yang hampir mereka renggut bukan hampir saja namun calon penerus perusahaan telah mereka renggut nyawanya!."


Caca hanya diam sambil menelan ludahnya.


"Jadi, seluruh orang suruhan Cantika dan Zekri telah aku tewaskan dan perusahaanya telah kami ambil alih menjadi perusahaan kita."


"Tapi ray aku takut jika ada penghianatan."


"Kau tenang saja sayang siapa saja yang berkhianat mereka akan tewas."


"Setelah itu bagaimana keadaan Cantika dan Zekri?"

__ADS_1


"Ahaha Cantika dirawat dirumah sakit jiwa sedangkan Zekri dipenjara seumur hidup."


"Orangtua mereka berdua?"


"Oh orang tua mereka sudah aku kirim kenegaralain dan aku dengar- dengar bokapnya mereka kini telah menjadi orang pemabuk dan nyokapnya hanya berjualan saja."


Mendengar penjelasan dari Brayen, Caca kini hanya diam dan tidak ingin membuat pertanyaan lagi.


"Mengapa kau diam saja?"


"Tidak aku hanya terkejut mendengar penjelasan yang kau katakan tadi."


"Bukankah itu hal yang setimpal dengan apa yang telah mereka lakukan kepada istriku, calon anakku, beserta sahabat-sahabatku?"


Caca menggenggam tangan Brayen dan kini dirinya bersandar dibahu Brayen.


"Aku cinta pada mu sayang, terimakasih telah melindungiku beserta keluarga kita."


Tidaklama dari itu handphone Brayen berdering dan Caca segera mengambil handphone tersebut lalu melihat Deni menelpon.


"Halo den ada apa?"


"Caca dimana, Brayen?"


"Brayen sedang menyetir ada apa,den?"


Setelah itu Deni langsung mematikan telponnya.


"Siapa yang menelpon?"


"Yang menelpon tadi Deni tapi aku tidak tahu apa yang ingin disampaikannya."


Brayen hanya diam saja dan tidak bertanya lagi. Setelah itu mereka sudah sampai dirumah yang sederhana tersebut.


Dinegara orang Brayen dan Cantika memilih untuk tinggal dirumah yang sederhana saja. Mobil Brayen terparkir didepan rumah dan Caca segera membuka pintu rumah.


Brayen yang tiba-tiba memeluk Caca dari belakang kini membuat diri Caca terkejut.


"Hei kau membuat diriku terkejut saja."


"Apa kau ingin menolak permintaanku?"


Belum sempat Caca menjawab kini Brayen telah menggendong tubuh Caca dan membawa Caca kekamar.


Brayen meletakan Caca diatas kasur dan kini segera mencium bibir Caca yang tipis itu.


Caca yang terbawa suasana kini menikmati setiap permainan yang Brayen mainkan.


"Aku cinta kamu Brayen Lavendra," ucap Caca.


"Aku juga sayang aku mencintaimu Caca Amelia Jasmin kucing nakalku."


Sore hari yang penuh dengan kehangatan. Jam telah menunjukkan pukul delapan malam Brayen bangkit dan melihat istrinya itu tertidur pulas disampingnya.

__ADS_1


"Setiap kali aku menatap wajahmu aku teringat dulu kau dulu adalah pereman sekolah yang cantik dan juga banyak laki-laki yang suka denganmu."


__ADS_2