Cinta Seorang CEO

Cinta Seorang CEO
Cinta seorang CEO 42


__ADS_3

Setelah mereka membuka kado


"terimakasih sayang ini sangat indah" ucap nyonya park pada jung won


"ayah juga menyukai jam ini tapi sebenarnya bukan ini yang ayah inginkan"


"maafkan aku ayah belum bisa memberikanmu apa yang ayah inginkan"


"sayang ibu dan ayah sudah menuliskan apa yang kami inginkan, ku harap kamu bisa memberikannya"


"iya bu aku akan membacanya nanti jika sudah sampai"


"baiklah kalau begitu"


Hari natal di lewati bersama oleh mereka, mereka semua tampak senang sampai akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke apartemen dan beristirahat


"jung won dan kimberly kemarilah" ucap tuan park duduk di ruang tengah


rara dan jung won menghampiri mereka dan duduk bersebelahan


"ada apa ayah?" kemudian tuan park mengeluarkan sebuah kotak kecil


"ini hadiah natal dariku dan ibumu untuk kalian berdua, aku memberikannya dengan semua pengharapan dan berdoa yang terbaik untuk kalian"


"apa ini ayah?" ucap jung won yang mengambil kotak dan kemudian menatap rara, rara membalas tatapan jung won dengan rasa bingungnya


"bukalah" jung won kemudian membuka kotak itu


"apa ini? kenapa sebuah kunci?"


"ya itu sebuah kunci rumah, aku membelikan kalian rumah agar bisa kalian tempati setelah menikah nanti" ucap tuan park tersenyum


"appppaaa?" ucap rara kaget


"aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kalian, jika kalian sampai menikah aku harap kalian menempati rumah yang aku berikan"


"kenapa mereka menyuruhku selalu menikah dengannya, bahkan aku belum siap untuk itu" batin rara


"terimakasih ayah aku menerimanya dan semoga keinginan ayah bisa aku berikan" ucap jung won tersenyum dan menatap rara dengan ekpresi kagetnya namun rara mencoba terasenyum

__ADS_1


"aku tidak sabar melihat mereka menempati rumah ini" ucap nyonya park tersenyum bahagia


"baiklah kalau begitu ayah dan ibumu akan pergi ke kamar untuk beristirahat sebentar dan kalian juga beristirahatlah" ucap tuan park dan berjalan bersama nyonya park menuju kamarnya.


rara masih duduk mematung seakan tidak percaya dengan apa yang dia dengar tadi


"ada apa denganmu kenapa melamun?"


"ahh tidak aku hanya sedikit lelah saja" ucap rara bangkit dari duduknya


"aku akan pergi ke kamarku membersihkan diri dan beristirahat sebentar" ucap rara kemudian dia berjalan menuju kamar


"ada apa dengannya mengapa dia terlihat seperti itu" ucap jung won yang bangkit dari tidurnya dan kemudian berjalan menuju kamarnya.


setelah selesai mandi rara duduk di sofa yang berada di kamarnya memikirkan apa yang tuan park katakan dan membuka kertas permintaan dari nyonya park


"aku memintamu untuk selalu dengan jung won kau jangan meninggalkannya karena dia sangat mencintaimu, dan kami ingin kalian cepat menikah dan memberi cucu cucu yang lucu untuk ayah dan ibu" isi surat yang di tulis nyonya park


"apa ini kenapa isi suratnya seperti ini" ucap rara kaget


"oh tuhan ada apa ini, aku bahkan belum mengenalnya lebih lama tapi mereka berharap lebih padaku, aku takut aku akan mengecewakan mereka dan aku juga takut jung won akan menyakitiku" ucap rara menundukan kepalanya


Tok Tok Tok


"masuklah" jung won kemudian membuka pintu dan masuk kedalam kamar rara


"kau kenapa, kenapa terlihat lemas seperti itu?" ucap jung won yang melihat rara terduduk lemas dengan kertas di tangannya


"apa ini? apa ini permintaan ayah dan ibu" ucap jung won yang langsung mengambil kertas itu dan membacanya. jung won tersenyum melihat


"apa mereka sungguh meminta itu dariku?"


"apa kau keberatan untuk ini?"


"ya aku keberatan karena aku baru saja mengenalmu dan bahkan baru saja membuka hati untukmu, jika harus seperti itu aku rasa aku belum siap" ucap rara menatap jung won


jung won mengusap pipi rara dengan lembut


"aku tidak akan memaksamu untuk hal ini aku ingin kau siap sepenuhnya dan menerimaku sepenuhnya tanpa paksaan, aku akan berusaha sebisaku agar kau menerimaku dan mencintaiku dengan tulus"

__ADS_1


"jung won maafkan aku" ucap rara yang langsung memeluk jung won, jung won pun membalas pelukan rara dan mengusap lembut rambut rara


"sudahlah, aku punya sesuatu untukmu"


rara kemudian melepaskan pelukannya dan menatap jung won


"apa? apa yang akan kau berikan padaku? apa ini?" ucap rara pada jung won yang memberinya sebuah kotak


"ini hadiah natal yang sesungguhnya, bukalah" ucap jung won tersenyum


"astaga ini kan? kapan kau membelinya waktu itu kau hanya membeli untuk ibumu"


jung won tidak menjawab pertanyaan rara dia kemudian membawa kalung yang dulu dia beli bersama kalung untuk ibunya tanpa sepengetahuan rara


"aku akan memakaikannya untukmu, berbaliklah" rara hanya menuruti permintaan jung won


"kelihatan sangat bagus dan cocok di pakai untukmu" ucap jung won


"kau belum menjawab pertanyaanku, kapan kau membeli ini"


"aku membelinya bersamaan dengan kalung untuk ibu, tapi kau tidak menyadarinya karena aku meminta pelayan toko itu untuk tidak bicara padamu"


"appa kau bilang? aku bahkan tidak menyadarinya"


"iyalah kau itu bodoh jadi tidak menyadari apa yang sedang aku lakukan" ucap won tertawa


"apa kau bilang aku bodoh?" ucap rara dengan mata melotot


"ya kau sangat bodoh" ucap jung won yang malah mengelus lembut pipi rara tiba-tiba


cuppp


rara mencium jung won


"terimakasih" ucap rara yang melepaskan ciumannya dan menatap pada jung won, jung won melihat rara dengan sedikit kaget dan tiba-tiba dia menarik tubuh rara dalam pelukannya kemudian mereka berciuman dengan sangat bergairah rara tidak menolak sekarang akan serangan jung won, jung won mencium bibir rara dengan sangat rakus hingga membuat rara kesulitan untuk bernafas dan tiba-tiba tangan jung won membuka kancing baju rara


"jangan" ucap rara yang kemudian menyadarkan jung won


"ada apa? apa kau belum siap?"

__ADS_1


"ya aku belum siap untuk itu" ucap rara menundukan kepalanya


"baiklah jika begitu" jung won kemudian mencium bibir rara dengan lembut dan menariknya dalam pelukan jung won


__ADS_2