
Tuan Aditama melepaskan pelukannya dan menatap wajah cantik alami sang putri angkat, benar benar seperti putri nya yang telah tiada,tak terasa bulir bening mengalir ke pipi yang sudah tidak kencang lagi itu,
" kau tetaplah putri kecil ku,dan juga adik kecil abangmu,apa kau mengerti," ucap tuan Aditama, Stella pun langsung menganggukkan kepalanya,
mereka melihat kearah pintu ruangan yang dibuka, melihat siapa yang datang, gadis itu mengerutkan keningnya, sepintas bayangan masa lalu muncul,walau masih buram,
melihat ada lima orang pemuda yang masuk kedalam ruang perawatan tersebut, Siska/Stella, sedikit merasa akrab dengan mereka, dia melihat mereka satu persatu, seperti sedang mencoba mengingat,
" Selamat sore tuan Aditama, tuan Bram," ucap saga pada mereka
" selamat sore tuan saga, apakah kalian datang untuk melihat siska," tanya tuan Aditama
sedangkan keempat adik saga langsung mengerutkan keningnya, setelah berbincang sejenak, Tuan Aditama dan putranya pamit undur diri untuk kembali ke rumah mereka,
__ADS_1
Setelah kepergian Tuan Aditama dan putranya, kini hanya tinggal mereka berenam yang berada di ruang perawatan tersebut, Siska/ Stella merasa sedikit canggung, karena ini baru pertama kali baginya berbincang kepada lawan jenis kecuali dengan kakaknya Bram Aditama,
"bagaimana keadaan mu siska," tanya saga
" saya sudah lebih baik tuan", jawab siska dengan kepala tertunduk, dia merasa sedikit aneh dengan keadaan sekarang, bagaimana mungkin papanya dan kakaknya membiarkan dirinya untuk berbincang dengan orang asing,
lalu kemudian dirinya teringat dengan perbincangan dia dan papanya tadi pagi, dalam perbincangan tadi pagi katanya mengatakan apakah dirinya tidak mengenal sosok pemuda yang berada di depannya saat ini,
jujur saja dirinya juga sangat penasaran dengan sosok pemuda tampan yang berada di depannya ini, apalagi ditambah dengan 4 sosok pria tampan lainnya yang berada di samping pemuda itu,
" maaf kalau boleh tahu kalian ini siapa, apakah kita saling kenal, jujur saja saya merasa sangat familiar kepada kalian," tanya Siska dengan hati-hati, karena dirinya takut akan mengingat mereka berlima,
sedangkan mereka berlima hanya tersenyum,, hal itu justru membuat Siska menjadi heran, apakah ada yang salah dengan pertanyaan nya,
__ADS_1
"kami berempat adalah kakakmu, sedangkan yang berada tepat di depan ini adalah calon suamimu,"jawab Adrian, jujur saja sebenarnya pengakuan Adrian ini membuat mereka berempat sangat terkejut,
tapi sebisa mungkin mereka menyembunyikan keterkejutan mereka, karena mereka juga sempat berpikir untuk menikahkan kakak mereka dengan adik mereka,
dan jika mengingat dulu kakak mereka mempunyai janji dengan almarhumah ibu mereka, oleh karena itu mereka tidak segan lagi untuk mengatakan hal itu,
sedangkan Saga sendiri hanya diam saja dia membiarkan adik-adiknya berbuat sesuka mereka selagi tidak merugikan orang lain karena kalau boleh jujur dia pun sangat berharap bahwa dia dan Stella dapat bersatu,
Saga kembali mengingat dengan janjinya kepada almarhumah ibu mereka dimana disitu dia mengatakan bahwa dia akan menemukan anak perempuan satu-satunya dari keluarga Pratama
lalu di sana sang ibu juga meminta kepada Saga jika dia bisa menemukan putrinya dia berharap agar saga dapat menikah dengan anaknya itu, dance ada pun menyetujui keinginan terakhir dari almarhumah ibu angkatnya itu,
"Apakah ini waktunya,"ucap saja
__ADS_1
bersambung.....