Cinta Seorang CEO

Cinta Seorang CEO
Cinta seorang CEO 7


__ADS_3

Waktu meeting pertama dengan CEO baru akan segera di mulai rara tampak tegang dia tidak ingin membuat kesalahan


Tok Tok Tok


"masuk"


"selamat siang pak sekarang sudah waktunya meeting semua sudah menunggu bapak di ruang meeting" ucap rara pada tuan in jung


"baiklah saya akan segera kesana"


lalu tuan in jung berdiri dan berjalan di ikuti si tampan yang dingin itu, tibalah di ruangan meeting yang luas sudah banyak orang disana dan menduga duga untuk apa tujuan meeting ini


"selamat siang semuanya meeting saya mulai" ucap tuan in jung


"pertama saya akan mengundurkan diri dari perusahaan ini sebagai atasan kalian terimakasih banyak telah membantu saya selama ini dengan kesuksesan perusahaan saya yang kini bisa jadi berpengaruh di dunia, dan kemudian saya akan mengenalkan pimpinan baru kalian yaitu anak saya yang bernama park jung won saya harap kalian bisa membantu anak saya untuk menjalankan perusahaan ini menjadi lebih sukses dati sekarang"


prok prok prok


suara tepuk tangan di dalam ruangan itu tak terkecuali rara


meeting pun selsai, banyak dari rekan kerja memberi selamat pada CEO baru rara yang posisinya ada di belakang jung won hanya tersenyum, setelah semua selesai tuan in jung lebih dahulu meninggalkan perusahaan karena masih ada urusan penting.


jung won dengan langkah kaki yang panjang dan cepat di buntuti oleh rara dengan jalan yang tergesa gesa terkesan lari kecil karena mengikuti bos barunya tersebut sesampainya di ruangan rara kembali ke meja setelah jung won masuk ke ruangannya


kriiiinngg kriiinggg


suara telpon


"selamat siang pa ada yang bisa saya bantu?"


"cepat ke ruangan saya sekarang"


"baik pak"


Tok Tok Tok


"masuk" ucap suara yang ada di dalam


"maaf bapak memanggil saya?"


"iya tentu, tolong bawa berkas berkas yang harus saya tanda tangani dan kamu bawakan saya kopi sedikit gula tidak terlalu manis juga tidak terlalu pahit" ucap jung won tanpa menoleh sedikitpun pada rara


"baik pa saya akan bawakan"


rara pun berlalu dengan membawa setumpukan kertas dan juga kopi yang sudah dia buat, ketika hendak berlajan rara tidak sengaja terpeleset dan kan kopi pun tumpah di hadapan jung won


praaaakkk


suara gelas jatuh


"astaga" ucap rara kaget

__ADS_1


"maaf maafkan saya pak saya tidak sengaja menunpahkan kopi ini"


jung won hanya melirik dengan mata tajamnya dia kelihatan sangat marah karena kopi itu tumpah pada laporan yang sedang dia baca


"dasar gadis bodoh seperti inikah caramu bekerja hah? sangat buruk bahkan lebih buruk dari yang ku kira, aku kira ayah membawamu pindah kesini karena kamu punya kelebihan ternyata salah" ucap jung won dengan nada suara yang lumayan kencang dan berlalu berjalan keluar ruangan tanpa menoleh sedikitpun pada luka yang ada di tangan rara karena tersiram kopi panas sebelum kopi itu mendarat di laporan yang sedang jung won baca.


dengan nenatap nanar jung won yang pergi begitu saja dia membereskan semua pecahan kaca dan juga laporan yang basah atas ulahnya


"kim ada apa apa baik-baik saja? kenapa presdir membentakmu? apa yang terjadi sampai suara keras dia terdengar ke luar?" ucap min ha khawatir


"ini gara-gara aku menumpahkan kopi pada laporan yang sedang dia baca" ucap rara sambil menunduk


"sudahlah tenangkan dulu perasaanmu apapun yang dia lakukan dan katakan jangan terlalu di pikirkan, tenanglah"


terlihat genangan air di mata rara kemudian dengan sangat cepat menghapus air mata itu.


tidak terasa waktunya pulang kantor rara menuju lift beriringan dengan min ha dan kemudian mereka menaiki berbarengan kift tersebut, setibanya di lobby kantor


"kim aku duluan ya buru-buru ada sesuatu yang harus saya selsaikan"


"ya baiklah, hati-hati di jalan, sampai jumpa" ucap rara tersenyum


rara kemudian berjalan menunggu taxi untuk segera pulang, sebelum pulang dia mampir ke supermarket untuk membeli bekal makanan dan keperluannya di apartemen


"ya tuhan kenapa aku selalu terbayang presdir menyebalkan itu ketika dia membentak ku, aku rasa aku baru pertama di bentak seperti itu, apa dia memang tidak punya perasaan, apa dia punya pacar? apa mungkin sikapnya sama begitu pada pacarnya sendiri, oh tuhan tolong lindungi aku dari orang seperti itu" ucap rara kesal


"Ayolah sayang antar aku untuk beli sesuatu" rengek seseorang di sebelah rara


"sayang apa tidak bisa kamu bersikap seperti pasangan lain yang dengan sengaja mengantar pacarnya untuk berbelanja dan memegang tangannya"


suara itu lumayan cukup kencang terlontar dari mulut wanita itu yang mengusik kedamaian belanja rara


"apa dia tidak malu berbicara sekencang itu di depan umum, merengek pada pacarnya yang bahkan tidak memperhatikan dia, dia cantik seharusnya dia lebih jual mahal pada pacarnya yang tidak peduli seperti itu" ucap rara sebari melihat mereka, yang terlihat laki-laki dari wanita tersebut membelakangi rara dan mulai berjalan keluar tapi di hadang oleh wanita itu


"sungguh memalukan gaya pacaran mereka ibarat anak SMA saja" ucap rara kemudian meninggalkan pasangan itu dan dia menuju kasir untuk membayar semuanya


setelah selesai belanja rara keluar dari supermarket dan bertemu dengan orang kepercayaan tuan in jung yang langsung memberi hormat pada rara


"selamat sore nona kim" ucap dia seraya membungkuk


"selamat sore, apa anda menunggu saya?"


"tidak nona saya menunggu presdir, kebetulan dia sedang di dalam"


"oh iya baiklah kalo begitu saya akan pulang mari" ucap rara dengan muka merahnya karena malu


"sayang dia siapa kenapa dia berbicara dengan tuan kwon, apa kau mengenalnya?" ucap seorang wanita di belakang


seketika rara melihat ke arah belakang dan dia terkejut karena wanita yang dari tadi merengek pada seorang laki-laki yang tak lain laki-laki itu presdir dingin yang menyebalkan


"se..se..selamat sore pak presdir" ucap rara terkejut

__ADS_1


"hmm" ucap dia dingin tanpa menoleh sedikitpun dan berjalan menuju mobilnya di ikuti wanita manja itu, wanita itu melihat rara dengan mata sinisnya rara hanya bisa memberi hormat dengan membungkukan badannya.


tak lama mobil itu meninggalkan rara yang masih berdiri di tempat yang sama memperhatikan mereka


"siapa wanita itu apa mungkin dia pacarnya presdir, atau mungkin tunangannya? apa yang ada dalam pikiran wanita itu bisa-bisanya dia menyukai seorang laki-laki dingin dan menyebalkan seperti itu" ucap rara sebari berljalan menuju taxi yang sudah berada di depan dia


sesampainya rara di apartemen dia merebahkan diri di sofa dan menyimpan kantong belanjaan di bawah sofa


"begitu melelahkannya hari ini, aku kira aku akan bahagia bekerja disini tapi aku malah sial bertemu dengan presdir baru dengan sifat egois dan dinginnya dia"


"aaawww" ucap rara kesakitan lalu dia melihat luka bakar yang ada di tangannya karena tumpahan kopi panas tapi


"apa ini? apa ini bekas luka gara-gara timpahan kopi panas tadi? astaga bahkan aku tidak menyadari kalo tanganku luka seperti ini" lalu dia bangkit dari sofa untuk mengambil es batu yang ada di kulkas untuk mengompres luka yang kelihatan memerah itu


"sepertinya aku harus membeli cream untuk luka bakar karena aku belum punya kotak obat disini" ucap rara sebari berlalu keluar apartemen


di lobby apartemen dia bertemu tuan kwon


"selamat malam nona, anda mau kemana pada jam seperti ini?"


"saya akan pergi ke apotik membeli cream untuk ini" rara menunjukan tangannya yang memerah


"ya tuhan biar saya saja yang membeli cream luka bakar, nona tunggu saja di dalam"


"tidak tidak tuan kwon terima kasih saya akan mencari sendiri, saya tidak mau merepotkan, dan anda mau kemana jam malam begini?"


"saya baru saja mau mengantarkan ini ke apartemen nona" kwon menunjukan kantong yang ada di tangannya


"apa itu?"


"ini keperluan nona dan makan malam saya di perintahlan mengantar ini oleh tuan in jung"


rara kaget mendengarnya


"tapi tadi saya sudah membeli keperluan saya, dan juga bertemu denganmu"


"tapi tuan in jung menyuruh saya mengantarkan ini lagi, mari saya antar nona kembali ke dalam" ucap kwon sopan


rara yang terlihat bingung kemudian berjalan menuju apartemennya lagi


"saya akan membelikan obat untuk nona" ucap kwon


"apa kamu tidak apa-apa membelikan saya obat? apa aku merepotkanmu?"


" tidak nona itu sudah kewajiban saya memastikan nona aman dan nyaman"


"baiklah terima kasih aku akan menunggu disini"


"baik nona saya pergi dulu permisi" ucap kwom dan kemudian pergi


"wah makanannya banyak sekali, tau saja kalo aku sudah lapar" ucap rara tersenyum

__ADS_1


dan dia seperti biasa melahap satu persatu makanan yang ada di depannya dan seketika saja rara tumbang karena merasa kenyang kemudian tertidur di sofa


__ADS_2