
"Mama ... Mama ... Mama!"
Teriakkan seorang laki-laki remaja yang berlari dengan sangat cepat di sebabkan oleh kejaran dari seorang gadis cantik, mereka terus-menerus berlari mengelilingi ruang tamu dan terus-menerus hingga orang tua mereka datang.
"Dilara, ada apa ini Nak? Ayo berhenti sekarang juga. Mama mohon. " pinta seorang wanita paruh baya yang terlihat masih sangat muda dan cantik.
"Tidak akan Ma, lihat saja kalau Dilara dapat menangkapnya maka Dilara akan menghabisinya!" teriak Dilara yang masih mengejar saudara kembarnya yaitu Dilan.
"Tolong! Tolong! Tolong!" Dilan semakin kencang berlarinya sehingga ia tersandung kaki sofa dan jatuh di lantai.
Bruk.
Seorang laki-laki yang berusia 40 tahun tampan dan terlihat masih muda, datang dan menolong Dilan bangun dengan sangat kesal Dilara menarik tangan pria tersebut.
"Kak, biarkan saja dia terjatuh tidak usah Kakak membantunya, apa Kakak tahu apa yang sudah Dilan buat kepada Dilara?" Dilara mengatur nafasnya yang tersengal-sengal akibat berlari mengejar saudara kembarnya tadi.
Pria dewasa tampan tersebut menarik tangan Dilara dan membawanya duduk di sofa sedangkan, Dilan di bantu oleh Mamanya untuk duduk di sofa sebab kaki Dilan terluka.
"Sayang, coba tenang terlebih dahulu sebelum kamu bertindak, lihat Dilan dia terluka bukan?" Pria tampan tersebut menegang tangan Dilara dengan sangat lembut.
Dilara menghembuskan nafasnya dengan sangat perlahan lalu ia menatap wajah saudara kembarnya. "Maafkan aku Dilan ... "
"Tidak usah kau meminta maaf kalau sebentar lagi akan kau ulangi hal yang sama." ucap Dilan ketus.
"Lihat Kak Bastian, dia saja seperti itu dan Dilara tidak bisa bersikap manis kepadanya. " Dilara membuang pandangannya kearah pintu dengan tatapan kekesalannya.
"Dilara, kamu tidak boleh seperti ini lagi ya, kalau kamu terus seperti ini maka Mama akan menghukum mu." Alice menatap wajah putrinya dengan sangat dalam.
Dilara melirik kearah Mamanya dan ia juga melirik kearah saudara kembarnya lalu ia bergegas pergi menuju kamarnya.
"Bastian tolong bujuk Dilara, dia hanya akan mendengarkan ucapan mu saja bukan?" Alice memohon kepada Bastian agar membujuk Dilara yang sedang merajuk.
"Baiklah Mommy, aku akan mencoba dan aku juga tidak bisa berjanji tapi, aku akan berusaha agar dia bisa mengerti. " janji Bastian kepada Mommy tirinya.
"Terimakasih Bastian. " ucap Alice dengan sangat lembut.
Bastian bergegas pergi menuju kamar Dilara yang berada di lantai paling atas.
Setelah kepergian Bastian. Alice membersihkan luka pada lutut Dilan menggunakan alkohol dan ia juga memberikan Betadine.
"Katakan apa yang sebenarnya terjadi?" Alice menatap tajam kearah Dilan.
"Sebenarnya Ma, aku hanya mengatakan kalau dia adalah gadis bar-bar hanya itu saja Ma tapi, dia malah mengejar ku dan mengatakan kalau dia akan menghabisi ku." jelas Dilan yang menatap wajah Mamanya tersebut.
__ADS_1
"Jangan ceritakan ini kepada papa oke, kalau sampai papa tahu maka Dilara akan di hukum oleh papa. " ucap Alice yang menatap kearah pintu rumahnya Ia takut suaminya sudah pulang bekerja.
"Baik Ma aku tidak akan menceritakan kejadian tadi kepada papa. " janji Dilan kepada Mamanya.
πΊπΊπΊ
Bastian membuka pintu kamar Dilara dengan perlahan setelah ia masuk Ia melihat Dilara sedang duduk di sofa sambil menatap kearah jendela kamarnya, dengan sangat perlahan Bastian menghampiri Adiknya tersebut dan ia duduk di samping Adiknya tersebut.
"Sayang, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Bastian dengan sangat lembut.
Dilara menoleh kini ia dan Bastian saling bertatapan.
"Dilan mengatakan kalau Dilara adalah gadis bar-bar Kak, " ungkap Dilara.
Bastian langsung tersenyum dan ia mencubit hidung mancung Dilara.
"Hanya itu saja bisa membuat mu seperti seekor macan sayang." Bastian tertawa kecil mendengar ucapan Dilara.
"Kak." Dilara menatap tajam kearah Bastian dan Bastian langsung menghentikan tawanya dengan sangat cepat.
"Baiklah tapi, apa kamu tahu kita tiga bersaudara tidak boleh terus-menerus bertengkar, apa lagi kamu dan Dilan kalian kembar apa kalian tidak memiliki rasa sayang?" tanya Bastian yang menatap wajah Dilara.
"Kalau sayang pasti ada Kak, kalau kami selalu bertengkar itu pasti ulah Dilan sebab dia selalu saja membuat Dilara kesal Kak." ucap Dilara pelan.
"Tapi, kamu harus lebih sabar lagi sebab kamu wanita sayang jika wanita kasar dan kejam mana ada laki-laki yang menyukai mu nantinya. " Bastian langsung menutup mulutnya saat melihat tatapan tajam dari Dilara.
"Maaf sayang itu adalah hal yang sering terjadi bukan, dan Kakak tidak berbohong sebab ada salah satu teman Kakak yang seperti itu. "Bastian tersenyum yang menutupi ketakutannya.
Jangan sampai Dilara marah dan menghajar aku dengan sangat kasar dan ganas, batin Bastian.
"Baiklah Kak, bukankah Dilara masih berusia 20 tahun Kak?"ucap Dilara pelan.
Bastian bernafas lega sebab Adiknya tersebut tidak marah kepadanya dan ia tersenyum menatap bola mata Dilara.
"Lalu? Apa kamu tidak ingin menikah, mommy saja dulu menikah dengan papa usianya baru berusia 20 tahun sayang. " ucap Bastian dengan lembut dan mengelus rambut Adiknya tersebut.
"Benarkah Kak, kalau begitu bukankah Kakak dan mama seumuran?" tanya Dilara.
Bastian terdiam ia teringat masa lalunya besama dengan Alice sewaktu mereka berpacaran dulu.
Sepertinya aku harus mengalikan pembicaraan kami agar Dilara tidak tahu masa lalu ku, aku tidak mau sampai Dilara membenciku sebab aku sangat menyayangi dia seperti anakku sendiri, batin Bastian.
"Apa kamu tidak ingin meminta maaf kepada mommy dan Dilan?"
__ADS_1
"Tapi Kak, apa Dilan tidak marah kepada Dilara dan mama pasti tadi sangat marah kepada Dilara Kak ... " ucap Dilara lirih.
Bastian tersenyum. "Ayo kita menemui mereka."
Dilara tersenyum dan ia ikut bersama dengan Kakaknya tersebut mereka berjalan menuju bawah dengan menuruni anak tangga, setelah mereka sampai bawah Dilara menghentikan langkahnya saat ia melihat Papanya sudah pulang dan duduk bersama dengan saudara kembarnya dan Mamanya.
"Ayo, tenang saja Kakak ada untukmu tidak usah takut dengan Papa. " Bastian menggandeng tangan Dilara dan Dilara hanya diam dan mengikuti langkahnya.
Setelah mereka sampai mereka duduk bersebelahan dengan Kenan.
"Katakan?"ucap Kenan dengan sangat dingin.
"Ma-maaf Kak Dilan ... " ucap Dilara terbata-bata saat melirik kearah Papanya.
"Dilara ... " Kenan menatap wajah putrinya dengan sangat dalam.
"Maaf Pa, memang Dilara yang bersalah kepada Kak Dilan dan Dilara minta maaf juga kepada Mama ... " Dilara menangis didalam pelukan Bastian.
"Papa sudah sering kali bukan mengatakan kalau kamu tidak boleh bersikap seperti preman pasar bukan, sekarang lihat Kakak mu terluka bukan hanya kali ini saja sebelumnya kamu juga bersikap seperti ini, dan Papa akan menghukum mu." ucap Kenan dengan sangat tegas.
Dilara masih menangis didalam pelukan Kakaknya tersebut.
"Papa, sudahlah kasihan Dilara dia menangis seperti itu. "ucap Alice dengan sangat lembut .
"Ma, biarkan dia tahu dia adalah wanita tidak seharusnya dia bersikap seperti seorang laki-laki. Papa akan menghukumnya dia akan tinggal bersama dengan kakeknya selama satu bulan. "
"Tapi Pa, disana tidak enak Pa." ucap Dilara yang menatap wajah Papanya.
"Ini sudah menjadi keputusan Papa. "ucap Kenan yang berlalu pergi menuju kamarnya.
Setelah kepergian Kenan, Dilara berlari memeluk Mamanya dan menangis tersedu-sedu didalam pelukan Mamanya.
.
.
.
...Bersambung....
Hay teman-teman jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya, kalau ada saran dan kritikan komen saja.
Like, Vote, Favorit, komen.
__ADS_1
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
Salam manis untuk kalian semua.π