
Bagas selalu bersama dan Dilara sebab ia belum memiliki teman, dan Dilara merasa sangat bosan sebab Alessandra tidak masuk Kampus hari ini.
"Ra, sepertinya Ale sangat sedih apa, sebaiknya kita menghampirinya saja?"usul Bagas dan Dilara langsung menatap wajah Bagas sambil tersenyum.
"Kau benar Gas, aku juga akan mengambil barang-barang ku yang masih ada disana ..."Dilara tertawa sambil menepuk pundak Bagas dengan sangat keras.
"Aduh!"
Ya ampun, aku benar-benar tidak menyukainya sebab dia sangat kasar dan kejam. Sekarang aku yakin dia benar-benar seorang mafia wanita, batin Bagas.
"Kau ini laki-laki apa, baru saja seperti ini kau sudah meringis kesakitan. Dasar ... "Dilara menatap Bagas dengan acuh dan Bagas hanya diam saja.
Dilara dan Bagas sedang menunggu supir menjemput mereka sebab Kenan tidak mengizinkan, Dilara mengendarai mobil sebab itu ia selalu memberikan Dilara supir.
Kenapa lama sekali supir itu, aku benar-benar sangat kesal aku akan pastikan kalau dia sampai terlambat, aku akan membuatnya tidak akan pernah melupakan hukuman dariku. Batin Dilara.
"Ra, kau sedang menyusun rencana untuk melenyapkan supir. Tolong jangan katakan iya, "Bagas menatap wajah Dilara dengan tatapan cemas.
Dilara tertawa dan tersenyum lalu ia pun menjawab.
"Tidak mungkin lah, aku ini wanita kau kira aku laki-laki. Aku tidak mempunyai nyali untuk melenyapkannya ... "ucap Dilara sambil tertawa kecil.
"Syukurlah, adikku yang sangat manis, imut, "ujar Bagas dan Dilara tersenyum manis.
Kenta menatap Dilara dan Bagas dari jarak jauh dan ia dapat mendengar ucapan mereka dengan jelas.
"Aku akan membuatnya jatuh cinta padaku, setelah itu aku akan menjatuhkannya sehingga dia merasakan sakit ... Aku juga akan membuatnya merasa depresi sebab aku akan menghancurkan kehidupannya, "Kenta tersenyum menatap kearah Dilara.
Supir Kenan sudah sampai dan Bagas langsung masuk bersama dengan Dilara.
"Pak, antar kami ke rumah kakek ya."pinta Dilara kepada Supir tersebut.
"Siap Non, "
Supir Kenan mengantarkan Dilara dan Bagas ke rumah Azi, setelah mereka sampai Dilara langsung turun dan di ikuti oleh Bagas mereka berjalan bersama masuk kedalam.
Setelah sampai didalam Dilara duduk di sofa bersama dengan Bagas.
"Bik, panggil tante Ale ya ... "pinta Dilara kepada Pembantu Azi. dan pembantu Azi langsung bergegas pergi memanggilkan Alessandra.
"Ra, sebenarnya aku ... "Bagas menghentikan ucapannya sambil menatap kearah kamar Alessandra.
__ADS_1
"Apa katakan saja?"ucap Dilara dengan sangat santai sambil memainkan ponselnya.
"Tidak apa-apa," ucap Bagas cepat dan Dilara langsung menatap tajam kearah Bagas.
Ya ampun, tatapannya sungguh sangat menyeramkan. Batin Bagas.
Alessandra menghampiri Dilara dan ia langsung memeluk Dilara.
"Ra, aku sedih banget tahu dari semalam aku terus nangis tahu ... "ucap Alessandra dengan sangat lirih.
Dilara mengelus pundak Alessandra dengan sangat lembut lalu ia melepaskan pelukannya.
"Tante, ini semua sudah menjadi yang terbaik untuk keluarga Tante ... Kita doakan saja semoga oma sama kakek tidak jadi berpisah ... " ucap Dilara sambil tersenyum manis kepada Alessandra.
"Iya, semoga saja ya ... Aku mau ikut kamu pulang ya aku rindu sekali dengan ibu ... "ucap Alessandra lirih.
"Kalau begitu ayo, kita pergi sekarang?"ucap Bagas dengan sangat antusias.
Aku rasa dia benar-benar menyukai tante Alessandra deh, batin Dilara.
"Ayo ... " Alessandra bagun dan berjalan menuju luar bersama dengan Dilara dan Bagas.
Setelah mereka sampai didalam mobil mereka hanya diam saja dalam pikiran mereka masing-masing.
Setelah mereka sampai di rumah Kenan.
Bagas turun bersama dengan Alessandra sedangkan Dilara tidak, ia mengatakan kalau ia ingin membeli sesuatu di Swalayan.
"Pak, kita ke lokasi yang saya kirimkan ke WhatsApp ya, "Dilara duduk santai di belakang sambil memainkan ponselnya.
Supir Kenan merasa ada yang tidak beres akan sikap Nona mudanya, namun ia hanya bisa menuruti perintahnya saja.
Sepertinya ini alamat yang sangat sunyi, apa dia akan memperkosa ku, bagaimana ya aku benar-benar sangat takut, batin Yudha.
Setelah sampai di gedung tua yang sudah sangat terbengkalai puluhan tahu, Dilara langsung turun dan ia juga menyuruh Supir tersebut ikut bersamanya.
"Non, saya mau di pain saya mohon jangan perkosa saya Non!"teriak Yudha sambil mengikuti langkah Dilara masuk kedalam gedung tau tersebut.
"Ya ampun, seharusnya takut itu aku bukan kau. Sebab aku wanita tahu kau jangan banyak bertanya!"bentak Dilara setelah sampai di dalam, Dilara duduk di bangku lalu ia menatap tajam kearah Supir tersebut.
"Non, ampun Non, saya mohon maafkan kesalahan saya Non, "Yudha sangat ketakutan melihat tatapan tajam dari Dilara.
__ADS_1
"Hahaha, kau begitu takut padaku. Katakan Kenapa kau terlambat menjemput ku kau tahu aku seperti domba di sana!"bentak Dilara sontak saja membuat Yudha terdiam.
"Maafkan saya Non, tadi saya habis mengantarkan bibik ke pasar Non, sumpah."Yudha bersujud di kaki Dilara.
"Bagun kau, aku akan memaafkan mu tapi. Kau harus mengatakan seperti ini. Aku bersalah dan tidak akan mengulanginya lagi Nona Dilara ... "ucap Dilara sambil tertawa yang menyenangkan.
"Aku bersalah dan tidak akan mengulanginya lagi Nona Dilara!"teriak Yudha dengan sangat keras.
"Ucapkan itu sebanyak seratus kali, baru aku akan memaafkan mu atau tidak ... "Dilara mengeluarkan senjata api dari dalam tasnya.
Sontak saja membuat Yudha sangat ketakutan dan ia langsung mengulangi kata-katanya kembali, sampai seratus kali dan itu membutuhkan waktu selama satu jam lamanya.
Yudha terjatuh lemas sebab terlalu lama berdiri, dan Dilara tidak membantunya ia langsung meninggalkan Yudha dari sana.
Dilara mengendarai mobil yang di bawah oleh Yudha menuju rumahnya, selama di perjalanan ia teringat kembali akan Yudha.
"Bagiamana jika dia mati, aku bisa masuk kedalam penjara aku tidak mau ... Sebaiknya aku pastikan saja kalau dia benar-benar mati aku akan membakar tubuhnya agar aku aman."ucap Dilara yang memutar balikkan mobilnya menuju gedung tua tadi.
Setelah sampai ia langsung turun dan bergegas masuk kedalam, ia menghampiri Yudha dan menepuk-nepuk pipi Yudha dengan sangat kuat sehingga Yudha sadar.
"Nona, ampun ... "Yudha langsung memeluk tubuh Dilara sehingga Dilara terdiam mematung.
Pelukan ini, aku benar-benar belum pernah merasakannya. Mengapa aku jadi kasihan padanya dan aku menyesali perbuatan ku tadi, batin Dilara.
"Lepaskan pelukan mu, aku sudah memaafkan mu sebaiknya kita cepat pulang sebab hari semakin sore ... "ucap Dilara dengan sangat dingin dan ia bergegas pergi menuju mobilnya.
Syukurlah mafia cantik itu, sudah memaafkan aku dan aku hanya membuat kesalahan sedikit saja dan aku hampir mati ... Aku harus berhati-hati padanya setelah ini, batin Yudha.
.
.
.
...Bersambung....
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Like, Vote, Favorit, komen.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
__ADS_1
Salam manis untuk kalian semua.😘
Ada yang mau gak ya, kalau author kasi visual untuk semua yang ada di Novel ini? kalau ada komen ya.