
Dilara tersadar dari lamunannya dan ia langsung bergegas bangun tak lupa ia membantu Bastian bangun, kini mereka sama-sama merasa canggung dan Dilara bergegas pergi mengambil kucing anggora yang bernama Junga.
"Manis ... Datanglah ke sini," Dilara mencoba menangkap Junga yang berada di atas kasur miliknya namun. Ia tidak berhasil menangkapnya membuat Bastian ikut membantunya.
"Junga, datanglah dan temui Mommy mu sayang!"teriak Bastian membuat Dilara menatap tajam kearahnya.
"Kak, Dilara bukan Mommy dia. Dan tidak akan mau!"teriak Dilara sambil berlari mengejar Junga.
Bastian dan Dilara sama-sama berlari mengejar Junga dan ada seorang yang memperlihatkan mereka, dari sebalik pintu kamar Dilara yang terbuka sedikit dan seseorang tersebut tersenyum.
Aku sudah tahu bagaimana cara agar, aku bisa membalaskan dendam ku padanya. Kita tunggu tanggal mainnya ya, aku tidak bisa tinggal diam saat mamaku di permainkan sampai dia meninggal, batin Bagas.
Bagas pergi menuju teras rumah dan ia duduk sambil menatap kearah langit, ia melihat bintan yang bersinar terang di langit.
"Bagas rindu mama, kalau saja waktu bisa Bagas putar kembali maka. Bagas akan memilih bersama dengan mama ... "ucap Bagas lirih dan Riska dapat mendengarnya saat ia berjalan ingin menutup pintu.
...Kesedihannya kamu Bagas, kita sama-sama sudah tidak memiliki keluarga lagi. Batin Riska....
Riska menghampiri Bagas dan ia di duduk di samping Bagas.
"Kita sama-sama sudah tidak memiliki keluarga lagi, sedih rasanya tapi. Itu semua adalah takdir kita bukan?"ucap Riska lirih sambil menatap langit-langit malam.
Bagas menolehkan wajahnya dan ia menatap wajah Riska yang terlihat sangat sedih.
"Tan, Ale adalah keluarga Tante dan Bagas, mama Alice semuanya adalah keluarga kita,"sahut Bagas.
"Benar, terimakasih sudah mengingatkan saya bahwa kita semua adalah keluarga ..."ucap Riska dengan sangat lembut dan senyuman manisnya.
"Sama-sama Tan, saya juga berharap saya jadi menan ... "Bagas menutup mulutnya menggunakan tangannya sambil menatap wajah Riska.
"Menan, apa Gas?"ucap Riska dengan sangat penasaran akan ucapan Bagas yang tidak di teruskan olehnya.
"Tidak apa-apa Tan, sebaiknya Tante masuk saja kedalam sebab udara malam sangat sejuk. Tidak baik untuk kesehatan Tante, "ujar Bagas.
"Baiklah, kamu juga cepat masuk ya?"ucap Riska yang mulai berjalan perlahan masuk kedalam.
"Iya Tan, "sahut Bagas.
πΊπΊπΊ
Dilara bersama dengan Bastian sedang memberikan Junga makanan khusus untuk kucing anggora, mereka juga memberikan Junga susu untuk kucing anggora agar terlihat lebih sehat.
"Kak, kenapa Kakak memberikan Dilara Junga ini ada apa?"tanya Dilara yang penasaran sebab Kakak memberikannya kucing anggora yang sangat mahal, padahal ia tidak berulang tahun sama sekali itu cukup membuatnya penasaran.
__ADS_1
"Tidak ada, hanya saja Kakak ingin kamu memiliki teman saat keadaan apapun itu,"ungkap Bastian cepat.
"Terimakasih banyak Kak, atas semua perhatian Kakak untuk Dilara dari dulu sampai sekarang. Kakak selalu mengutamakan Dilara ... " Dilara tersenyum manis kepada Bastian dan Bastian terdiam.
Sebenarnya Junga, aku memberikannya kepadamu untuk rasa cintaku padamu sayang, dan kita tidak akan bisa bersama dan saling memiliki. Batin Bastian.
"Kakak, mau mandi dulu ya, udah bauk asem ni ... "Bastian memeluk Dilara hingga Dilara mencium aroma tak sedap dari tubuh Bastian.
"Cepat pergi Kak, bau sekali tubuhmu itu!"Dilara melepaskan pelukan Bastian dan ia menjauh dari Bastian.
"Hahaha, dasar ... "Bastian tertawa kecil melihat tingkah laku Dilara dan ia bergegas pergi dari kamar Dilara.
Saat Bastian hendak mengambil air minum di dapur ia menghentikan langkahnya, saat melihat Bagas didepan rumah terlihat sangat sedih.
Kasihan sekali dia, aku jadi teringat anak ku dan Saras entah bagaimana nasip mereka. Batin Bastian.
Bastian menghampiri Bagas dan ia duduk disampingnya Bagas.
"Kenapa kamu ada disini?"tanya Bastian sambil tersenyum manis kepada Bagas.
Aku benar-benar sangat membencinya, aku sangat sakit saat melihat senyumnya seperti saat ini tapi. Aku juga harus bersandi wara agar semuanya berjalan lancar, batin Bagas.
"Tidak ada Kak, hanya ingin menikmati udara sejuk malam hari."sahut Bagas sambil menatap kearah langit malam.
"Kak, sebenarnya aku bisa sangat mudah melihat Kakak menyukai Dilara bukan?"ucap Bagas cepat membuat Bastian tersedak.
"Uhku, kamu ada-ada saja tidak mungkin aku menyukainya. "elak Bastian namun, Bagas mala tersenyum.
"Tidak usah menutupi semuanya Kak, aku dengan sangat mudah bisa membantu Kakak untuk mendapatkannya, "ujar Bagas.
"Bagaimana caranya, kau harus merahasiakan hal ini dari siapapun itu, kau mengerti?"bisik Bastian di telinga Bagas.
"Baiklah Kak, aku akan mengatur semuanya. Kakak ikuti saja apa yang aku ajarkan."jelas Bagas membuat Bastian tersenyum.
"Aku akan menuruti perintah mu, kau sangat baik Bagas ... "ucap Bastian sambil menepuk pundak Bagas dengan sangat lembut.
Aku juga sangat berterimakasih atas apa yang sudah kau lakukan, padaku dan juga mama, ini baru awal dan kita lihat nantinya bagaimana akhirnya, batin Bagas.
"Kak, aku masuk kedalam kamarku dulu ya,"Bagas bergegas bangun dan ia berdiri dihadapan Bastian.
"Terimakasih banyak atas dukungan mu Gas,"Bastian memeluk Bagas dengan sangat erat.
Bagas terdiam ia merasakan pelukan yang hangat dan belum pernah ia rasakan sebelumnya.
__ADS_1
Andai saja ayah tidak membiarkan kami, pasti aku sudah merasakan pelukan ini dari aku masih bayi, batin Bagas.
"Iya Kak, "ucap Bagas yang berlalu pergi dengan sangat dingin.
Aku lupa untuk menanyakan siapa nama belakangnya Bagas, apa namanya sama dengan nama anakku dan Saras, batin Bastian.
Bagas masuk kedalam kamar Riska sebab ia lupa kalau kamarnya di sebelah kanan bukan sebelah kiri, saat didalam kamar sangat gelap dan ia berjalan menuju tempat tidur lalu ia langsung menidurkan tubuhnya namun, ia malah menimpa tubuh Riska sehingga Riska menjerit.
"Aaahhhkkk! Sakit sekali!"teriak Riska dan Bagas langsung bangun dan menyalakan lampu.
"Ya ampun, aku salah masuk kamar. Maaf Tante, Bagas salah masuk kamar."ucap Bagas dengan sangat gugup sambil membantu Riska bangun.
"Sakit sekali tubuhku ini, Bagas kamu tolong lihat kaki Tante ya, "pekik Riska.
Bagas langsung bergegas mendekati Riska dan ia membuka selimut dan ia melihat kaki mulus, Riska sontak saja membuat buku kuduknya naik sebab ia melihat kaki Riska yang sangat s e k s i dimatanya.
Ya ampun, Bagas kau adalah calon menantunya jadi, kau harus bersikap wajar saja. Batin Bagas.
"Bagas, kenapa kau hanya diam saja. Cepat kau urut kaki Tante itu sakit sekali ..."ucap Riska yang menahan rasa sakit di kakinya.
"Ha, iya-iya Tan saya urut sekarang juga."ucap Bagas yang mengurut kaki Riska dengan perlahan.
"Aaahhhkkk! Sakit sekali Bagas, pelan-pelan saja!"teriak Riska dan Yudha dapat mendengar suara merdeka dengan sangat jelas, sebab jendela kamar Riska berdekatan dengan pos ronda.
"Ya ampun, apa mereka benar-benar melakukan hal itu, aku benar-benar tidak menyangka kalau anak pungut itu bersikap agresif sekali ... "ucap Yudha.
.
.
.
...Bersambung....
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Like, Vote, Favorit, komen.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
Salam manis untuk kalian semua.π
Jangan bosan-bosan ya, untuk membaca Novel receh Author ini.π
__ADS_1