
Setelah selesai melakukan tes DNA kini Azi duduk di bangku tunggu bersama dengan Kinan. Sebenernya Azi sudah ingin pulang akan tetapi Kinan ingin bicara padanya sebentar saja.
"Katakan aku ingin segera pulang, sebab aku tidak ingin mengecewakan istri ku lagi. Sudah lama aku selalu menyakiti hatinya saja,"ujar Azi.
Kinan tersenyum lalu ia hendak memegang tangan Azi akan tetapi Azi langsung menempisnnya. "Jangan pernah berfikir aku akan seperti dulu lagi, sudah cukup selama ini aku berkhianat."
Azi langsung bangun dan bergegas pergi menginginkan Kinan.
"Azi! Kau tidak akan pernah bahagia sudah membuat aku seperti ini!"teriak Kinan akan tetapi Azi tidak dapat mendengar ucapan Kinan sebab ia sudah sangat jauh.
...
Alessandra terbangun saat malam hari ia memegang kepalanya yang terasa sangat pusing, lalu ia melihat Dilan yang sedang bermain ponsel di sofa perlahan ia bangun dan melihat sekelilingnya.
"Aku dimana?"ucap Alessandra dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
Dilan langsung menolah dan menghampiri Alessandra."Syukurlah, Tante sudah bangun."
"Apa yang terjadi, aku tidak bisa mengingat apapun. Dan ini kita ada dimana apa kita di hotel! Kau jangan macam-macam padaku,"teriak Alessandra membuat Dilan mengusap kasar wajahnya.
"Ya ampun, aku ini anak mu mana mungkin aku meniduri tubuh mu itu. Sebaiknya kita pulang saja sebelum semua orang mencari kita."ucap Dilan yang bergegas bangun dan pergi.
Benar juga apa yang di ucapkan oleh Dilan, aku sangat trauma akan kejadian yang menimpaku waktu itu, batin Alessandra.
Alessandra berjalan mengikuti langkah Dilan saat mereka sudah sampai di parkiran Dilan mengehentikan langkahnya, ia menatap wajah Alessandra lalu ia memegang tangan Alessandra membuat Alessandra menatap dirinya juga.
"Katakan siapa laki-laki itu, aku tidak ingin wanita yang aku sayang di sakiti oleh laki-laki brengsek."ucap Dilan sambil menatap mata Alessandra.
Dia benar-benar sangat menyayangi aku, bagaimana aku menjelaskan semuanya padanya. Aku tidak ingin menikahi bajingan itu sebab aku ingin menjadi istri Bagas seorang saja, batin Alessandra.
"Jangan hanya diam saja, aku tidak terima jika wanita ku di sakiti oleh laki-laki itu. Aku akan berjanji jika aku menemukannya maka aku akan menghabisinya."tambah Dilan dengan sangat kesal sebab Alessandra tidak mau mengatakan siapa laki-laki itu.
"Aku tahu kau sangat menyayangi ku seperti kau menyayangi Dilara, akan tetapi kali ini aku tidak bisa berbicara. Maaf kalau aku sudah mengecewakan mu akan tetapi jika waktunya sudah tepat aku akan mengatakan padamu."jelas Alessandra.
"Baiklah, aku menerima semuanya."sahut Dilan.
Meraka berdua naik ke atas motor sport milik Dilan dan Dilan mulai melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
...
Pada malam ini Dilara sedang memasak sup ayam untuk Bagas ia memang tidak pandai memasak, akan tetapi ia melihat resep dari internet dan ia langsung memasak sup ayam untuk Bagas.
"Ternyata memasak tidak susah, semoga saja rasanya enak."ucap Dilara yang sudah menyelesaikan pekerjaannya.
Ia menyusun makanan di meja bersama dengan nasi putih lalu ia bergegas pergi menuju kamarnya, ia melihat Bagas masih tertidur ia langsung menghampiri Bagas ia duduk di samping tubuh Bagas.
Aku benar-benar tidak rela kalau harus melepasnya, akan tetapi aku juga tidak boleh egois akan keinginan ku ini. Aku harus merelakannya untuk tante Alessandra sebab mereka saling mencintai satu sama lainnya, batin Dilara.
"Gas, bangunlah. Aku sudah membuatkan mu makanan."ucap Dilara dengan sangat lembut sambil menggoyangkan tubuh Bagas.
Bagas perlahan membuka matanya lalu ia menatap wajah Dilara dengan sangat lembut, ia perlahan bangun lalu ia duduk di samping tubuh Dilara.
"Memangnya istriku ini masak apa?"tanya Bagas sambil memegang tangan Dilara dengan sangat lembut.
Dilara hanya diam saja sambil menatap tangannya yang di pegang oleh Bagas.
Ini yang membuat aku tidak bisa merelakannya pergi, batin Dilara.
"Apa kau masih mencintainya?"tanya Dilara sambil menatap bola mata Bagas.
"Apa begitu dalamnya cinta mu padanya?"tanya Dilara sambil menahan tangisnya agar tidak pecah.
"Ayo, kita makan."ucap Bagas yang bergegas pergi menuju luar sedangkan Dilara masih duduk sambil menatap kepergian Bagas.
Dilara meneteskan air matanya.
Sakit, apa yang harus aku lakukan sepertinya aku harus segera berpisah darinya sebab dia sangat mencintai tante Alessandra. Batin Dilara.
Dilara langsung menghapus air matanya lalu ia berjalan dengan perlahan menuju meja makan, ia duduk di samping Bagas sambil mengambilkan makanan untuk Bagas dan ia tidak mengatakan apapun.
Sepertinya dia marah padaku, aku akan menjelaskannya nanti padanya didalam kamar saja. Batin Bagas.
Bagas mulai memakan makanannya sambil terus menatap wajah Dilara yang terlihat sangat cuek.
Besok aku sudah masuk Kampus, sepertinya aku harus memberitahu pada Kenta kalau aku sudah menikah dan kami tidak bisa bersama lagi. Batin Dilara.
__ADS_1
...
Caira sedang membujuk Farhan agar membawanya ke rumah Kenan sebab ia ingin sekali bertemu dengan Alice dan Dilara.
"Ayolah, Om. Kita pergi dan kalau Caira lihat Om akan bertemu dengan wanita cantik yang ada di sana nantinya."ucap Caira sambil menutup kedua matanya.
"Yang benar, katakan apa wanita itu cantik dan seperti apa?"tanya Farhan dengan sangat penasaran. Caira mulai menutup matanya lalu ia memegang tangan Farhan.
"Wanita itu ada di Kampus, dan Om sudah sering kali bertemu dengannya."jelas Caira.
"Apa Dilara?"tanya Farhan dengan sangat lemas.
"Bukan, dia belum pernah bertemu dengan Caira. Dan sepertinya dia wanita yang akan hamil bersamaan dengan oma Alice dan tante Dilara,"ungkap Caira membuat Farhan terkejut.
"Jadi, wanita itu sudah menikah? Lalu untuk apa Om menemuinya?"tanya Farhan sambil menatap wajah lucu Caira.
"Belum, dia terlihat belum menikah ..."Caira belum sempat meneruskan ucapannya dan Farhan langsung memotongnya.
"Sudah, jangan banyak bicara kita tidak akan kesana sebab Om ada urusan sebentar lagi. Kamu sama Ameena saja ya, sana temui dia ada didalam kamarnya."pinta Farhan dan Caira langsung bergegas pergi sebab ia bisa melihat kalau Omnya akan menemui klien.
Kenapa Caira bisa melihat apa yang tidak bisa kami lihat, aku benar-benar sangat kasihan padanya di umur yang masih kecil dia harus melihat yang seharusnya tidak ia lihat, batin Farhan.
Caira masuk kedalam kamar Ameena dan ia menghampiri Ameena yang sedang memeriksa tugas-tugas Kuliah.
"Tante!"
.
.
.
...Bersambung....
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
__ADS_1
Salam manis untuk kalian semua.