
"Bagas, antarkan Tante ke tempat urut saja. Kau melukai kaki Tante!"teriak Riska dan Bagas langsung membantu Riska berjalan.
"Tante, tahan ya, "ucap Bagas yang sangat panik melihat Riska meringis kesakitan, setelah mereka sampai di luar Bagas tidak melihat adanya Yudha.
"Bagaimana ini, kenapa Supir tidak ada ya."ucap Bagas yang melihat sekelilingnya dan ia melihat motor Matic berwarna merah muda.
Bagas membawa Riksa menuju motor Matic berwarna merah muda tersebut dan ia langsung menaikinya, Bagas menarik tangan Riska dan ia melingkarkan kedua tangan Riska di pinggangnya.
"Bagas, maaf ya, harus merepotkan mu seperti ini?"ucap Riska dengan sangat pelan sambil menahan sakit di kakinya.
"Tidak apa-apa Tan, "ucap Bagas dengan sangat santai, ia memegang tangan Riska dengan sebelah tangannya, sebab ia takut Riska terjatuh.
Setelah tiga puluh menit berkendara kini Bagas menghentikan laju motornya lalu ia menatap wajah Riska.
"Tan, sebenarnya dimana rumah tukang urutannya?"tanya Bagas dengan sangat gugup dan takut.
"Ya ampun. Bagas!"teriak Riska dan Bagas langsung bergegas melajukan motornya dengan perlahan.
"Maaf Tan, dari tadi kan saya panik maklumlah ..."ucap Bagas dalam tawanya dan Riska mencubit pinggangnya.
"Kita pulang saja, sebab saya bisa mengurutnya dengan sendiri."ucap Riska yang menahan rasa sakit di bagian kakinya.
"Baik Tan, "sahut Bagas.
Setelah sampai di rumah Bagas langsung turun dari motor dan ia menatap wajah Riska.
"Aku gendong Tante saja ya, biar cepat sampai kamar kalau lama-lama Tante bisa sudah tidak tahan lagi?"ucap Bagas yang mulai membantu Riska turun dari motor.
Yudha menguping pembicaraan mereka dari sebaik pos ronda.
"Aku benar-benar tidak menyangka, kalau mereka sama-sama memiliki hubungan yang sangat sepesial."ucap Yudha dengan sangat pelan sambil memandang kearah Riska dan Bagas.
Bagas menggendong tubuh Riska masuk kedalam kamar tamu yang biasa Riska gunakan, Bagas menaruh tubuh Riska dengan perlahan di tempat tidur lalu ia mengambil minyak urut.
Setelah Bagas mengambil minyak urut lalu ia duduk di hadapan Riska.
"Biar saya bantu saja ya, Tan?"ucap Bagas sambil membiarkan minyak urut tersebut.
"Tidak usah, kamu tidur saja bukankah kamu besok kuliah?"ucap Riska dengan sangat lembut dan ia mulai mengurut kakinya.
"Baiklah, Tan. Aku pergi dulu ya?"ucap Bagas yang berlalu pergi dari kamar Riska.
Pagi hari tiba, Alice sudah bangun pagi-pagi sekali sebab ia harus memasak sarapan untuk semua orang.
__ADS_1
Saat ia sedang memasak nasi goreng tangannya di pegang oleh seseorang dari belakang, ia langsung menoleh dan langsung tersenyum sebab Kenan yang memegang tangannya.
"Mas, kalau ada yang melihatnya bagaimana?" Alice melepaskan tangannya dari pengan Kenan lalu ia mulai meletakan nasi goreng buatannya, di bangku yang sangat besar sebab ia masak banyak hari ini.
"Tidak apa-apa, bukankah kita sudah menikah dan memiliki anak-anak?"sahut Kenan yang mulai duduk di bangku meja makan.
"Dasar, mesum!" Alice menyusun semua makanan yang ia masak sendiri lalu ia berjalan menuju kamar Dilara yang berada di lantai atas.
Sedangkan Kenan langsung meminum segelas teh hangat buatan Alice untuknya.
Setelah Alice sampai didepan pintu kamar Dilara ia langsung membukanya tampa mengaku, pintu terlebih dahulu dan ia melihat Dilara masih mengenakan handuk kimono dan tidur di sofa sambil bersilang kaki.
"Dilara, kamu jangan seperti itu kalau kakak-kakak mu melihatnya apa kamu tidak malu?"tanya Alice yang melihat nona milik terekspos jelas.
"Mama!" Dilara langsung menutup handuknya lalu ia mulai mengenakan pakaiannya dengan sangat cepat, sebab ia sangat takut akan tatapan tajam dari Mamanya.
"Dilara, bukankah Bastian sering kali menghampiri mu. Kalau dia melihatmu seperti itu kamu tidak malu!"ucap Alice dengan sedikit keras.
"Maaf Ma, besok-besok Dilara tidak akan mengulanginya lagi. Janji." Dilara langsung memeluk Mamanya.
"Ingat, jangan ulangi lagi?"Alice melepaskan pelukannya dan ia menatap wajah anak perempuan satu-satunya.
"Iya, Ma. Tolong ikatkan rambut Dilara,"ujar Dilara dengan sangat lembut dan manis.
"Papa ... "Dilara langsung menghampiri Papanya dan mencium pipi Papanya dengan sangat lembut.
"Cepat, habiskan sarapan mu dan pergi kuliah,"
"Em, sebenarnya Dilara hari ini siang masuk Kampus Pa, "ungkap Dilara sambil memakan sarapannya.
"Ya sudah, kalau begitu Papa berangkat dulu ya, jangan lupa Bagas di panggil untuk sarapan juga."ucap Kenan yang bangun dan menghampiri dua bidadari surga miliknya.
Kenan mencium Alice dan Dilara secerah bergantian lalu ia mulai bergegas pergi dari sana.
"Ra, sebaiknya kamu panggil Bagas dan Mama panggil Dilan ya."ucap Alice yang bergegas pergi menuju kamar Dilan.
Dilara tersenyum dan ia mulai berjalan menuju kamar tamu dan ia langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ia melihat Bagas yang masih tertidur pulas di tempat tidur dan jiwa jahilnya meronta-ronta ingin segera mengerjai Kakaknya tersebut.
"Bagas, kamu adalah mangsa yang ke sekian kalinya ... "ucap Dilara pelan dan di susuk gelak tawanya.
Dilara langsung mendekati Bagas dan ia membuka selimut Bagas lalu ia mulai menggelitik, kaki Bagas hingga Bagas bangun dan melompat jatuh ke bawa tempat tidurnya.
"Aaahhhkkk! Sakit sekali."Bagas memegang bokongnya yang terasa sangat sakit.
__ADS_1
Dilara tertawa lepas melihat Bagas terjatuh dan ia membantu Bagas bangun.
"Hahaha, kau sangat lucu Gas ..."ucap Dilara dalam tawanya.
Ya ampun, aku benar-benar sangat tidak menyukainya. Dia selalu membuatku seperti seorang manusia domba .... Batin Bagas.
"Ada apa, katakan saja?"ucap Bagas dengan sangat dingin membuat Dilara membuka mulutnya lebar-lebar.
"Kau baik-baik saja, Bagas."Dilara memegang kening Bagas dan ia langsung bergegas pergi menuju luar sambil berlari.
"Dilara! Kau benar-benar menyebalkan. Mafia wanita!"teriak Bagas namun Dilara tidak dapat mendengarnya lagi.
Bagas langsung masuk kedalam kamar mandi dan ia mulai melakukan ritual mandinya, setelah selesai ia langsung bergegas memakai bajunya dengan sangat cepat dan terburu-buru.
. . .
Alice mengetuk-ngetuk pintu kamar Dilan tak terasa lama pintu Dilan terbuka, ia langsung masuk kedalam dan Dilan berjalan dengan perlahan menuju kamar mandi.
"Cepatlah Dilan, kamu bisa telat nanti .... Mama tunggu di meja makan ya?"ucap Alice dengan sangat keras dan Dilan menjawabnya dari dalam kamar mandi.
"Iya Ma!"
Alice langsung keluar dari kamar Dilan dan ia kembali menuju meja makan, ia melihat Dilara bersama dengan Bagas yang sedang bercanda tawa bersama.
"Bagas, itu milikku kau tidak bisa mengambilnya!"teriak Dilara sambil mengejar Bagas yang mengambil tumbler milik Dilara.
"Ambillah, kalau kau bisa cepatlah!"teriak Bagas yang berlari sekuat tenaganya dan Alice tersenyum melihat tingkah laku mereka berdua.
.
.
.
...Bersambung....
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Like, Vote, Favorit, komen.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
Salam manis untuk kalian semua.😘
__ADS_1