
Agam dan Azi bergegas pergi untuk menemui Kenan yang berada di ruangan tamu saat mereka berdua sampai, Kenan langsung menatap wajah Agam sambil membulatkan matanya lalu ia menundukkan kepalanya.
Apa yang sebenarnya terjadi, apa Doni ini anak Bastian atau Azi, batin Kenan.
"Ayah, bisakah kami bicara berdua saja?"ucap Agam dengan sangat lembut.
"Baiklah, anggap saja dia Kakakmu. Ya."ucap Azi sambil menepuk pundak Agam dengan perlahan.
Azi pergi meninggalkan Kenan dan Agam tanpa rasa curiga sama sekali. Agam duduk di samping Kenan lalu mereka saling bertatapan.
"Om, saya bisa jelaskan semuanya,"ungkap Agam membuat Kenan hanya diam saja.
"Sebenarnya saya hanya di suruh oleh, mama saya karena dia ingin berniat jahat pada om Bastian. Dan saya tidak bisa menolaknya sebab dia sudah merawat dan membesarkan saya dari bayi,"ungkap Agam.
Sepertinya dia baik, akan tetapi bagaimana perasaan Bastian kalau dia sudah di tipu oleh Kisya lagi dan lagi. Batin Kenan.
"Saya benar-benar minta maaf, kepada Om bahkan saya juga akan meminta maaf kepada om Bastian."tambah Agam lagi sebab Kenan hanya diam saja.
"Agam, saya akan memaafkan mu. Kamu anak baik saya tahu itu."sambung Kenan dan Agam tersenyum.
"Terimakasih banyak, Om."ucap Agam sambil memegang tangan Kenan.
Kenan tersenyum ia melihat ponselnya berdering dan ternyata Dilara mengirimkan pesan.
Muntah, apa Alice hamil lagi. Sebaiknya aku pulang dan membawakan alat tes kehamilan. Batin Kenan.
"Jangan panggil, Om. Panggil saja Abang."ucap Kenan sambil beranjak bangun.
"Baik, Bang."jawab Agam sambil tersenyum manis.
"Kalau begitu saya permisi dulu, sampaikan kepada ayah kalau saya pulang soalnya kakak kamu lagi sakit,"ungkap Kenan.
"Baik, Bang."jawab Agam.
Kenan bergegas pergi dari rumah Ayah mertuanya ia melajukan mobilnya menuju apotik, setelah sampai ia langsung turun dan masuk ia melihat-lihat sekelilingnya lalu ia menghampiri Kasir.
"Ada alat tes kehamilan, saya tidak tahu apa namanya."ucap Kenan kepada Kasir.
"Ada, Om."jawab Kasir tersebut.
"Saya mau yang paling bagus."ucap Kenan dan Kasir tersebut langsung mengambilkan yang paling bagus dan mahal.
__ADS_1
"Terimakasih, "jawab Kenan sambil membayar.
Setelah selesai ia langsung bergegas pergi menuju rumahnya ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, agar ia bisa segera sampai di rumahnya setelah sampai ia langsung memarkirkan mobilnya di depan rumah.
Ia masuk kedalam rumah sambil tersenyum manis menuju kamarnya setelah sampai ia langsung masuk kedalam, terlihat Dilara sedang memijat kepala Alice dengan sangat lembut lalu Kenan menghampiri mereka.
Ia mencium kening Alice lalu ia juga mencium kening Dilara agar anaknya tidak marah kepadanya, sebab Dilara seringkali cemburu kepda Mamanya sebab ia selalu di nomor duakan oleh Papanya.
"Sayang, ini Papa bawakan obat untuk Mama."ucap Kenan sambil memberikan alat tes kehamilan yang ia beli tadi.
Dilara tersenyum melihat Papanya tersenyum bahagia lain halnya dengan Alice, ia benar-benar sangat malu sebab anaknya ada di sampingnya.
"Apa ini?"tanya Alice dengan sangat lemas.
"Tentu saja alat tes kehamilan, lalu memangnya apa lagi?"ucap Kenan sambil tersenyum manis kepada Dilara.
"Benar, apa Mama sudah tidak datang bulan lagi?"tambah Dilara membuat Alice semakin malu akan perbuatan dari suaminya.
"Mama tahu, maksudnya untuk apa benda ini?"tanya Alice lagi membuat Dilara dan Kenan tertawa kecil.
"Jelaskan, Pa."ucap Dilara sambil menyenggol lengan Kenan.
"Ayolah, tes saja jangan malu kepada anak kita. Bukankah kamu ingin memiliki adik, Dilara?"tanya Kenan sambil tertawa-tawa.
Bukannya aku tidak mau hamil, akan tetapi umurku yang sudah masuk empat puluh tahun ini membuatku malu, apa lagi anakku juga akan memiliki anak dan aku akan memiliki cucu. Batin Alice.
"Ayolah, Ma. Tes saja."ucap Kenan dan Dilara bersamaan terlihat jelas mereka berdua sangat kompak.
"Baiklah, tunggu sebentar Mama akan masuk ke dalam kamar mandi dulu,"ujar Alice.
Dilara dan Kenan tersenyum menatap kepergian Alice, Dilara menidurkan kepalanya di pangkuan Kenan.
"Rindu, Papa seperti ini. Sebab Dilara sudah lama sekali tidak bermanja-manja seperti ini."ucap Dilara dengan sangat manja.
Kenan mengelus-elus rambut Dilara.
"Bukankah Bagas selalu seperti ini?"tanya Kenan sambil menatap wajah Dilara yang sudah memerah.
"Pa, bukankah Caira bilang waktu itu kalau Dilara akan memiliki adik laki-laki?"ucap Dilara yang mengingat kembali ucapan Caira beberapa Minggu lalu.
"Benar, berarti mama akan hamil adikmu."ucap Kenan dengan sangat antusias.
__ADS_1
..
Alice sedang memasukan alat tes kehamilan kedalam urine miliknya lalu ia langsung mengangkatnya, ia melihat garis merah terang bergaris kan dua membuatnya membuka mulutnya lebar-lebar.
Ia tak percaya akan umurnya yang sudah tua akan tetapi ia masih bisa hamil bahkan ia juga akan memiliki cucu.
"Bagaimana bisa aku hamil, bahkan anakku juga cepat atau lambat akan memiliki anak juga. Bagaimana ini aku benar-benar tidak menyangka kalau aku hamil."ucap Alice sambil berjalan keluar.
Alice menghampiri suami dan anaknya lalu ia duduk di samping mereka. Dilara langsung bangun dan mendekati Mamanya.
"Apa hasilnya?"tanya Kenan dengan sangat antusias. Alice memberikan alat tes kehamilan miliknya yang bergaris dua.
"Hamil!"teriak Kenan lalu ia mencium seluruh wajah Alice dan Dilara menatap tajam kearahnya.
"Ini Mama hamil ..."ucap Kenan sambil melirik kearah Dilara yang menatap tajam kearahnya, Dilara semakin tajam melirik Kenan membuat Kenan takut lalu ia langsung mencium seluruh wajah Dilara.
Begini kalau memiliki anak perempuan, dia cemburu sekali pada Mamanya walaupun dia sudah menikah. Batin Kenan.
"Pa, bagaimana ini bukankah Dilan dua Minggu lagi akan menikah lalu bagaimana bisa Mama seperti ini?"ucap Alice dengan sangat lemas.
"Mama tenang saja, Papa dan Dilara akan mengurus semuanya dan Mama hanya butuh istirahat agar anak kita baik-baik saja,"sambung Kenan.
"Benar, itu. Ma."tambah Dilara.
Alice tersenyum lalu ia memeluk anak dan Suaminya sebab keluarga kecilnya selalu membuatnya bahagia.
"Ma, Pa. Dilara mau pulang dulu ya, takutnya Bagas sudah pulang dari tokoh."ucap Dilara membuat Kenan terdiam.
Bagas menyembunyikan semuanya dari Dilara, aku benar-benar yakin dia laki-laki baik dan bertanggung jawab. Kenapa dia dan Bastian sangat jauh berbeda. Batin Kenan.
"Baik, sayang supir akan mengantarkan mu, hati-hati."ucap Alice dan Dilara mencium tangan kedua orang tuanya lalu ia bergegas pergi dari kamar Mamanya.
.
.
.
...Bersambung....
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
__ADS_1
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
Salam manis untuk kalian semua.