
Dilan membawa Junga jalan-jalan di sekitar taman lalu ia duduk di bangku taman sambil mengelus-elus bulu Junga, ia tersenyum bahagia sebab selama ia bersama dengan Juga ia merasa ada teman dekat.
"Kau tahu Junga, dua Minggu lagi aku akan menikah dengan seorang yang belum pernah aku temui. Bahkan aku belum pernah melihat wajahnya dari ponsel sekalipun."ucap Dilan sambil mencium Junga.
"Ternyata kita sama,"ujar Ameena.
Dilan langsung menoleh ke belakangnya ia sangat terkejut melihat Ameena ada di belakangnya, dan Ameena langsung duduk di samping Dilan sambil tersenyum manis kepada Junga.
"Sama?"
"Iya, dua Minggu lagi aku juga akan menikah."jelas Ameena.
Ini hanya kebetulan saja atau, tidak mungkin kami sama dalam hal pernikahan kami. Di jodohkan sama lalu acara pertunangan sama dan ini hari pernikahan juga sama, ini tidak mungkin hanya kebetulan saja bukan. Batin Dilan.
"Jangan katakan jika kau menikah di gedung (sekip) Jangan katakan iya."ucap Dilan sambil menatap wajah Ameena.
"Bukannya aku mengada-ada, akan tetapi memegang benar aku akan menikah disana,"ungkap Ameena membuat Dilan membulatkan matanya.
"Baguslah, kita bisa foto bersama-sama dengan pasangan kita."ucap Dilan sambil menatap wajah Junga.
"Benar."jawab Ameena.
Apa aku sanggup melihatnya menikah dengan wanita lain, kenapa kami menikah di gedung yang sama bahkan hari juga sama, batin Ameena.
...
Dilara pulang ke apartemen miliknya lalu ia menelusuri setiap ruangan dan ia tidak dapat menemukan suaminya.
"Kenapa dia tidak kembali, apa sebaiknya aku menghampirinya saja. Akan tetapi aku tidak tahu dimana tokoh kami berada dia belum memberi tahu kepada ku soal itu."ucap Dilara sambil mendudukkan bokongnya di sofa.
Dilara berulang-ulang menelfon Bagas akan tetapi Bagas tak kunjung menjawabnya, membuat Dilara kesal dan ia sampai tertidur menunggu kepulangan Bagas.
..
Bastian sedang memeriksa berkas-berkas penting miliknya lalu ia teringat akan Junga, dan ia akan berniat untuk mengambil Junga nanti malam.
__ADS_1
"Aku akan mengambil Junga, sebab aku merasa Junga adalah Dilara yang bisa menjadi teman hidupku. Aku akan menghampiri mereka di apartemen selepas aku selesai nantinya,"ucap Bastian yang bergegas menyesuaikan tugasnya.
Setelah sore hari ia sudah menyelesaikan pekerjaannya ia cepat-cepat pergi menuju apartemen milik Dilara dan Bagas, ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi agar ia bisa segera sampai di apartemen.
Setelah ia sampai ia langsung cepat-cepat turun lalu berjalan masuk kedalam sambil mencari didalam apartemen Dilara, dari orang suruhannya dan ia kini ada di depan pintu apartemen Dilara dan ia langsung memencet bel.
Dilara terbangun ia cepat-cepat berlari untuk membuka pintu sebab ia berfikir kalau itu adalah Bagas, saat ia membuka pintu ia sangat tidak melihat siapa yang datang sehingga ia langsung memeluk orang tersebut.
"Gas, kemana saja dirimu aku dari tadi menunggu mu pulang."ucap Dilara dalam pelukan Bastian.
Bastian terasa sangat sakit dan hancur saat Dilara menidurkan suaminya, ia diam sambil merasakan sakit didalam hatinya yang terdalam.
Sakit tapi, tidak berdarah ini yang aku rasakan jantungku terasa tidak berdetak lagi saat ini. Saat aku melihat orang yang aku sangat sayang teryata sudah melupakan ku, batin Bastian.
"Gas, kenapa dirimu hanya diam saja?"tanya Dilara yang melepaskan pelukannya dan ia membulatkan matanya sebab ia melihat kalau yang di peluknya tadi Bastian.
Ya Allah, aku sudah salah orang ternyata dia kak Bastian. Bukannya Bagas. Batin Dilara.
"Ternyata kau sangat mudah melupakan ku, bahkan kau tidak pernah mengingat masa-masa kita bersama lagi bukan? Dan aku bisa menebak kalau kalian sudah bermalam pertama."ucap Bastian sambil menutupi kesedihannya.
Dilara hanya diam saja sambil membuang pandangannya, Bastian hendak memegang tangan Dilara akan tetapi tangannya di tarik oleh Bagas yang baru sampai.
Dilara langsung menoleh dan ia membuka mulutnya lebar-lebar sebab ia mendengar kalau Bagas menyebut menantu.
"Sopan lah pada Ayah mu, jaga ucapanmu dan jangan naikan suaramu itu."ucap Bastian sambil menatap wajah Bagas.
Dilara seakan terkejut mendengar Bastian mengatakan kalau Bagas adalah anaknya, Dilara menatap wajah Bagas lalu ia masuk kedalam.
Ya ampun, aku lupa kalau tadi ada Dilara bagaimana aku menjelaskan nantinya padanya, batin Bagas.
"Sebaiknya kamu pergi dari sini."ucap Bagas yang masuk kedalam dan langsung menutup pintu.
Bastian sangat kesal akan sikap putranya padanya dan ia langsung bergegas pergi dari apartemen milik Dilara.
Bagas menghampiri Dilara yang berada di tempat tidur lalu ia duduk di samping tubuh Dilara."Maaf."
__ADS_1
Dilara seakan sangat marah dan kesal pada Bagas sehingga ia hanya diam saja dan membuang pandangannya.
"Aku bisa menjelaskan semuanya padamu, sebab ak ..."terputus Dilara langsung memotong ucapnya.
"Lupakan saja, anggap saja aku ini tidak ada artinya didalam hidupmu itu."ucap Dilara yang bergegas masuk kedalam kamar mandi.
Bagaimana ini, dia benar-benar marah padaku saat ini. Apa yang harus aku lakukan agar dia tidak marah lagi padaku, batin Bagas.
Dilara menangis didalam kamar mandi sambil mengingat-ingat kembali kejadian tadi.
"Aku tidak percaya akan apa yang aku dengar tadi, kak Bastian adalah ayahnya Bagas. Aku sangat kecewa padanya apa dia hanya ingin menyakiti ku saja selama ini. Aku tidak bisa menerima semuanya, "ucap Dilara sambil mengisi jalan hidupnya saat ini.
...
Alice sangat bahagia saat mendengar Agam sudah di temukan dan kembali didalam pelukan Riska, ia dan Kenan benar-benar bahagia sebab Riska dan Azi akan menggelar acara syukuran di rumah Azi besok.
Untuk menyambut kedatangan Agam kembali dan Alice juga akan memberikan kabar kalau dirinya tegah hamil, kini Kenan sedang memeluk Alice dan ia mengelus-elus perut Alice yang masih rata.
"Jagoan, jangan membuat Mama sakit sebab Mama sudah tua tidak seperti dulu lagi saat hamil kakakmu."ucap Kenan sambil mencium perut Alice yang masih rata.
"Papa, seperti hamil anak pertama saja masih seperti dulu yang terlalu bergembira."ucap Alice sambil menatap wajah Kenan.
"Sayang, ini anak ku yang keempat dan di usia ku yang sudah tidak mudah lagi sebab itu aku sangat bahagia, lagi pula bukankah ada anak ada rezeki?"
Alice tersenyum bahagia sebab suaminya tidak pernah berubah sedikitpun dari dulu ia kenal, kini mereka saling berpelukan satu sama lainnya dengan sangat bahagia akan menyambut anak ketiga mereka.
.
.
.
...Bersambung....
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
__ADS_1
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
Salam manis untuk semuanya.