
Pagi ini Kenan sudah ada di rumah sakit bersama dengan Alice kini mereka tengah berbincang, pada pengacara Kenan dan kini mereka sudah mendapatkan surat resmi adopsi anak.
Kenan membulatkan matanya saat melihat nama anak yang sudah ia adopsi.
"Bagas Cananda, sepertinya tidak asing bagiku nama ini?"ucap Kenan yang sedang berfikir dimana ia mendengar nama tersebut.
"Sekarang namanya adalah, Bagas Cananda Alfaro ... "ucap Pengacara Kenan dengan sangat tegas.
"Terimakasih Pak, saya sangat berterimakasih atas kerjasamanya. "Alice tersenyum manis kepada Pengacara Kenan.
"Kalau begitu saya permisi dulu ... "Pengacara Kenan berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Lihat surat ini Mas, kita sekarang memiliki anak satu lagi dan dia sudah remaja ... "ucap Alice dengan senyuman manisnya sedangkan Kenan ia tersenyum namun ia masih memikirkan tentang nama anak adopsinya.
Aku sangat tidak bisa mengingat nama itu, tapi, aku benar-benar pernah mendengarnya ... Batin Kenan.
Kenan dan Alice masuk kedalam ruang rawat Bagas dan meraka duduk di sofa sebab Bagas, sedang di periksa oleh Suster yang merawatnya dari semalam.
"Anaknya sudah boleh pulang Bu, Pak ... "ucap Suster tersebut yang berlalu pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Bagas, kita akan pulang kerumah Mama dan Papa. Kita akan tinggal satu rumah dan kamu juga memiliki saudara tiga dua laki-laki dan satu perempuan ... "jelas Alice dengan sangat lembut dan senyuman.
"Benarkah, Bagas sangat menyukainya tapi ... Apa merak mau menerima Bagas yang hanya seorang pemulung?"ucap Bagas dengan sangat ragu-ragu sambil menundukkan wajahnya.
"Bagas ... Kita adalah keluarga dan meraka semua akan menerimamu juga sebagai saudara mereka, percayalah mereka semua orang baik dan anak baik jadi kalian akan akur seperti saudara seutuhnya, "ucap Alice dengan sangat lembut dan Kenan juga menghampiri Bagas.
"Panggil kami Mama dan Papa seperti Dilan, Dilara, Bastian, "ucap Kenan dengan sangat lembut.
Bagas terdiam saat mendengar nama Bastian.
Mungkin hanya namanya saja yang sama, aku harap dia bukan ayahku yang selama ini menyakiti mama hingga meninggal, kalau dia benar orangnya maka aku akan membalaskan dendam ku padanya. Aku tidak peduli walaupun dia ayah kandung ku, batin Bagas.
"Ayo Bagas kita pulang, Mas ... Dorong anak kita sampai di mobil ya ... "ucap Alice yang mendorong kursi roda untuk Kenan.
Kenan membantu Bagas duduk di kursi roda sedangkan Alice ia membantu Kenan menggunakan doa saja, sebab doa adalah hal yang terpenting pendapat Alice.
__ADS_1
Setelah Bagas masuk kedalam mobil dan Kenan langsung melajukan mobilnya menuju rumahnya, setelah beberapa menit akhirnya mereka sudah sampai di rumah Kenan Alfaro.
Kenan membantu Bagas berjalan sebab kaki Bagas sangat terluka parah, setelah mereka sampai didalam mereka duduk di sofa.
"Dilan ! Bastian ! "teriak Alice dan anak-anaknya langsung datang menghampirinya.
"Ada apa Ma?"ucap Bastian dan Dilan bersamaan.
Sepertinya dia benar-benar ayah, walaupun wajahnya sudah tua tapi. Dia benar-benar orangnya ... Aku akan membalaskan dendam ku padanya, karena dia mama meninggalkan aku karena terlalu sakit atas perbuatannya, batin Bagas.
"Perkenalkan, dia Bagas anak adopsi Mama dan Papa, "ucap Alice dengan sangat lembut sambil menatap wajah Bagas.
Bagas, sepertinya aku tidak asing dengan nama itu. Aku baru ingat nama anakku dan Saras adalah Bagas Cananda, mungkin nama mereka sama ... Batin Bastian.
"Perkenalkan namaku Dilan, senang mempunyai saudara seperti mu. Aku harap kita bisa menjadi saudara seutuhnya, "ucap Dilan yang berjabatan tangan dengan Bagas dan Bagas hanya tersenyum saja.
"Aku adalah Bastian anak tertua Papa, kita akan menjadi saudara jangan pernah sungkan untuk meminta apapun padaku ... "ucap Bastian dengan senyuman manisnya.
"Baik Kak, "ucap Bagas pelan sambil menatap wajah Bastian dengan sangat dalam.
"Dilan, bantu Bagas untuk masuk kedalam kamar tamu ... Mama harap kamu bisa menganggapnya sebagai adik mu ya, sebab umur kalian sama hanya berbeda bulan saja, "pinta Alice pada putranya dan Dilan tersenyum dan membantu Bagas masuk kedalam kamar tamu.
"Mi, dia itu anak siapa dan dimana orang tuanya?"ucap Bastian dengan sangat pelan agar Bagas tidak mendengarkan ucapannya.
"Dia anak pemulung, dan orang tuanya sudah meninggal dia yatim-piatu Bas ... "ucap Kenan dengan sangat cepat, dan Bastian langsung bernafas lega sebab ia yakin kalau remaja tadi bukanlah anaknya.
"Oh, kalau begitu Bastian pergi dulu ya. Jangan lupa Pa untuk memberi tahu Dilara tentang berita ini ... "ucap Bastian yang bergegas pergi.
"Benar itu Pa, nanti malam kita datang saja kerumah ayah agar kita bisa memberi tahukan mereka semua. Atas keputusan kita mengadopsi Bagas, "ucap Alice dengan sangat lembut dan Kenan menyetujui usul Alice.
.
.
Dilan membantu Bagas tidur di tempat tidur lalu ia menatap wajah Bagas dan ia seperti tidak asing akan wajah Bagas.
__ADS_1
Wajah itu, sepertinya aku sangat mengenalnya tapi siapa ya, ah. Aku baru ingat wajah dia mirip seperti kak Bastian dan mereka sangat mirip ... Batin Dilan.
"Ada apa Kak Dilan, apa aku membuat masalah sehingga Kakak menatap wajahku dengan sangat dalam?"tanya Bagas yang menyadari bahwa Dilan terus-menerus menatap wajahnya.
"Ah, tidak-tidak aku tadi hanya melihat wajahmu seperti wajah kak Bastian itu hanyalah pandangan aku saja ... Tidak usah di pikirkan bukankah kita miliki tuju kembar?"ucap Dilan dengan sangat cepat dan Bagas langsung tersenyum.
Bukan hanya mirip, kami benar-benar anak dan ayah tapi, aku tidak sudi mengakuinya aku akan membuat pelajaran untuknya. Aku tidak peduli dia ayah kandungku sendiri aku akan tetap menjalankan rencana ku ... batin Bagas.
"Bisa tinggalkan Bagas sendiri Kak, soalnya kepala Bagas pusing mau tidur ... "ucap Bagas dengan sangat lembut dan Dilan tersenyum lalu ia bergegas pergi dari kamar tamu.
Dilan tidak langsung pergi melainkan ia menguping di depan pintu kamar tamu, ia sebenarnya sangat mencurigai tingkah laku Bagas yang terlihat sangat aneh.
"Aku akan menyelidikinya, aku benar-benar sangat tindak percaya padanya sebab dia sangat aneh. Dia seperti menyembunyikan sesuatu dari kami semua ... "ucap Dilan dengan sangat pelan dan ia mendengar Bagas mulai berbicara.
"Aku sangat bersyukur karena, keluarga kaya mengadopsi aku sebagai anak mereka aku benar-benar tidak percaya. Aku sangat tidak percaya dan aku menganggap ini adalah mimpi yang indah ... Aku sangat menyayangi semua orang yang berada disini itu janjiku, "ucap Bagas dengan sangat kuat sebab ia tahu Dilan menguping pembicaraan didepan pintu kamarnya.
"Ternyata aku salah, sebaiknya aku lupakan saja pikiran ini dan aku akan mempercayainya, "ucap Dilan dengan sangat lembut dan ia bergegas pergi dari kamar tamu.
Aku tahu Dilan kau tidak akan semuda itu percaya padaku bukan, aku sangat pandai dalam berpura-pura seperti saat ini aku sangat menyukainya, batin Bagas.
.
.
.
...Bersambung....
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Like, Vote, Favorit, komen.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
Salam manis untuk kalian semua.😘
__ADS_1