Cinta Twins D (Dilan/Dilara)

Cinta Twins D (Dilan/Dilara)
Dilara memakai jilbab


__ADS_3

"Malam ini kita akan ke cafe, bagaimana?"sontak saja membuat Dilara tersenyum lalu ia refleks memeluk Bagas.


"Kau pandai sekali membujuk ku,"ujar Dilara.


Bagas melepaskan pelukannya lalu Dilara menatap wajahnya.


"Maaf, aku tidak bermaksud untuk memeluk mu tadi ..."jelas Dilara.


Bagas tersenyum lalu ia mengelus rambut Dilara dengan perlahan.


"Tidak apa-apa, bersiaplah kita akan segera berangkat. Dan satu, aku mohon kau menggunakan hijab sebab aku tidak ingin istri ku membuka auratnya,"ujar Dilan.


"Baiklah, aku akan menggunakan hijab."ucap Dilara yang bergegas untuk berganti baju, sedangkan Bagas ia langsung keluar sambil membawa bajunya, sebab ia akan berganti baju di luar saja pikirnya.


Dilara memang memiliki baju muslim akan tetapi ia tidak pernah menggunakannya, ia bingung saat akan memakai jilbab ia hanya diam saja sambil menatap hijab pashmina.


"Aduh, bagaimana ini aku tidak pernah memakainya."ucap Dilara sambil mengigit bibirnya.


Bagas sangat kesal sebab Dilara sangat lama.


Kemana anak itu, hari sudah semakin malam. Batin Bagas.


"Dilara! cepat hari semakin malam!"teriak Bagas membuat Dilara langsung berlari keluar.


"Gas,"


Bagas membuka mulutnya lebar-lebar saat melihat Dilara belum menggunakan hijab.


"Dari sekian lamanya, kau belum memakai hijab?"tanya Bagas dengan sangat lembut.


"Belum, aku tidak pernah memakainya,"ungkap Dilara sambil cengengesan.


Bagas menghembuskan nafasnya lalu ia menarik tangan Dilara masuk kedalam kamar, ia mendudukkan Dilara didepan meja hias lalu ia mulai mengingat rambut Dilara.


"Lihat caranya, dan kau harus mempelajarinya tidak mungkin bukan kalau aku selalu memakainya?"ucap Bagas sambil memakaikan syal di kepala Dilara.


"Iya, Gas."jawab Dilara dengan sangat lembut.


Bagas mulai memakaikan hijab pashmina kepada Dilara dengan sangat pandai.


Aduh, merepotkan sekali dia tidak satu kali memutar hijab ini malah dia banyak sekali memutarkan hijab ini, membuat aku pusing dan tidak bisa menirukannya biarkan saja kalau dia bertanya aku jawab iya saja. Batin Dilara.


Setelah selesai Bagas memakaikan hijab Dilara ia menatap wajah Dilara yang sangat manis saat memakai hijab.


Manis sekali dia memakai hijab, hatiku sangat tenang saat menatap wajahnya, batin Bagas.

__ADS_1


"Gas, kau pandai sekali memakaikan hijab bahkan kau juga sangat pandai mengikat rambut ku?"tanya Dilara sambil memakai sepatu kaca miliknya.


"Mungkin karena aku hidup berdua bersama mama dari kecil, sebab itu aku pandai melakukannya dengan sangat mudah,"ungkap Bagas sambil tersenyum mengingat masa-masa ia bersama dengan mamanya.


"Oh, apa ayah mu tidak bersama dengan kalian?"tanya Dilara sambil berjalan mendekati Bagas.


"Dia sudah meninggal sejak aku masih bayi, dan mama ku yang merawat ku seorang diri."ucap Bagas dengan mata yang memendam api amara yang mendalam.


"Ayo, kita pergi aku sudah siap."ucap Dilara yang berjalan melewati Bagas dengan perlahan.


...


Dilan sudah siap-siap akan pergi ke cafe untuk menemui Ameena, ia berjalan dengan perlahan menuju luar saat ia naik ke atas motornya ia melihat mobil masuk kedalam rumahnya.


Itu, bukannya mobil temannya papa, yang watu itu kami temui ya, sudah lama sekali. Batin Dilan.


Mobil tersebut berhenti lalu dua orang laki-laki tampan turun dan menghampiri Dilan, Dilan langsung mencium tangan Pak Ardan dengan sangat sopannya.


"Selamat malam, Pak."ucap Dilan sambil tersenyum.


"Malam juga, kamu mau pergi, ya?"tanya Pak Ardan yang melihat penampilan Dilan sangat rapi.


"Iya, Pak. Mau bertemu dengan teman."jawab Dilan.


Mana mungkin aku jujur kalau aku mau bertemu dengan anaknya, batin Dilan.


"Iya."jawab Dilan yang menatap kepergian Pak Ardan dan Farhan.


Ternyata anaknya Pak Ardan cantik dan tampan, bahkan dua-duanya sama-sama menjadi Dosen ku. Batin Dilan.


Dilan langsung naik ke atas motor sport miliknya lalu ia mulai melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, agar ia bisa segera sampai di cafe sebab ia takut kalau Ameena menunggunya terlalu lama.


Setelah sampai ia langsung masuk kedalam dan ternyata benar saja kalau Ameena sudah tangan, Dilan langsung menghampiri Ameena yang duduk manis menatap kearahnya.


"Maaf, aku membuatmu menunggu lama ..."ucap Dilan sambil mendudukkan bokongnya di bangku.


"Tidak apa-apa, aku juga baru sampai kok. Tadi di antar sama papa sama bang Farhan,"ungka Ameena.


"Benarkah, tadi papamu datang kerumah bersama dengan pak Parhan."jelas Dilan dan Ameena tertawa-tawa.


..


Bagas dan Dilara baru sampai di cafe mereka masuk kedalam dan mereka duduk di bangku yang sudah di pesan, mata Dilara melirik kearah Dilan ia membulatkan matanya sontak ia langsung memegang tangan Bagas.


"Gas, lihat itu,"tunjuk Dilara kearah Dilan.

__ADS_1


Bagas melihat Dilan tertawa-tawa bersama dengan seorang wanita cantik.


"Biarkan saja, bukankah kita tidak boleh mengurusi kehidupannya?"ucap Bagas sambil membuka buku menu.


"Iya, tapi. Aku penasaran ada hubungan apa mereka sebab aku tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya,"ungkap Dilara sambil terus menatap kearah Dilan.


"Sudahlah, cepat pesan makanan, kita harus segera pulang sebab besok pagi-pagi kita harus berangkat,"ujar Bagas.


Dilara langsung menatap kearah Bagas lalu ia memilih makanan yang akan di pesannya.


...


Dilan tak sengaja melirik kearah Bagas ia membulatkan matanya sebab ia melihat Bagas bersama dengan seorang wanita.


Brengsek, dia membawa wanita lain. Bisa-bisanya dia jalan bersama wanita lain padahal dia baru menikah, kalau tidak ada Ameena disini aku sudah menghajarnya habis-habisan. Aku akan mengurusnya setelah ini ...Batin Dilan.


"Kamu bisa setiap minggunya menemui aku, dan kita akan belajar bersama anggap saja aku sebagai guru les mu."ucap Ameena sambil memakan kentang goreng miliknya.


"Boleh, baiklah setiap Minggu aku akan datang, tapi. Jangan dirumah mu ya, di cafe saja ..."ucap Dilan.


"Baiklah, aku tahu kau tidak mau sampai ada yang tahu tentang persahabatan kita ini, bukan?"tanya Ameena sambil menatap wajah Dilan.


"Bukan seperti itu, akan tetapi aku tidak mau orang berfikir yang bukan-bukan tentang kita,"ungkap Dilan.


"Baiklah, "jawab Ameena sambil tersenyum manis lalu mereka mulai melanjutkan memakan makanan masing-masing.


Dilara sesekali melirik kearah Dilan dan Bagas melarangnya akan tetapi Dilara tetap saja mencuri-curi pandang.


Aku sangat penasaran, aku akan pastikan setelah pulang berlibur aku akan mencari tahu tentang mereka. Batin Dilara.


Setelah selesai makan Dilara dan Bagas langsung pulang menaiki Taksi sebab mereka belum sempat ke rumah Kenan, untuk mengambil motor matic milik Bagas dan pada saat itu juga Ameena pulang Dilan hendak menghampiri Bagas dan ia sudah tidak menemukan Bagas lagi.


Sial, ternyata dia sudah pulang. Awas saja nanti kalau aku bertemu dengannya, batin Dilan.


.


.


.


...Bersambung....


Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.


Like, Vote, Favorit, komen.

__ADS_1


Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.


Salam manis untuk kalian semua.


__ADS_2