Cinta Twins D (Dilan/Dilara)

Cinta Twins D (Dilan/Dilara)
POV Dilan. Tergoda janda cantik


__ADS_3

Aku bersiap-siap untuk berangkat ke Kampus dan kini aku sudah menaiki motor milik ku, selama di perjalanan aku terus-menerus memikirkan tentang Mamanya Doni, yang masih mengusik pikiranku.


Aku akan mendapatkan jawabannya hari ini juga, sebab aku tidak bisa terus-menerus penasaran seperti ini. Aku juga harus memastikan bahwa papa tidak perselingkuhan dari mama, batin ku.


Setelah sampai aku langsung bergegas pergi menuju kelas ku sebab aku sudah terlambat, setelah masuk ternyata pelajaran sudah di mulai sehingga aku melewatkannya.


Aku mendapatkan hukuman untuk berdiri didepan kelas sambil berkata, "Saya tidak akan mengulanginya lagi."


"Teruskan Dilan, sampai pelajaran selesai."ucap Dosen baru kami yang sangat menyebalkan.


"Saya tidak akan mengulanginya lagi, saya tidak akan mengulanginya lagi ... " aku terus-menerus mengulangi kata-kata itu sampai jam pelajaran selesai.


Setelah selesai aku bergegas pergi menuju taman sebab aku sangat kelelahan dan aku juga, ingin menghisap rokok setelah sampai aku langsung menghisap rokok sambil menikmati sentuhan angin.


Aku merasa sangat rindu pada Dilara dan aku berniat akan menghampirinya nanti saja, sebab aku sangat kelelahan saat ini aku menidurkan tubuhku di bangku yang berada di bawah pohon besar.


Aku tertidur cukup lama dan aku merasa ada suara tangisan wanita perlahan aku membuka mataku, dan ternyata Dilara yang menangis dengan sangat cepat aku menghampirinya dan memeluknya.


"Kak ... Hiks ... Hiks ... " dia semakin terisak dalam pelukanku dan aku mengelus rambutnya dengan perlahan.


"Tenanglah, katakan ada apa sayang ... Apa ada yang menyakitimu?"ucapku dengan sangat lembut dan rasa penasaran yang mendalam, sebab tidak pernah aku melihatnya menangis tersedu-sedu seperti ini.


"Kak, teman Kakak itu hampir saja melecehkan ku ... Aku sangat takut Kak ... "ucapnya dalam isak tangisnya. Sontak saja aku melepaskan pelukannya.


"Siapa katakan, apa kamu baik-baik saja ... Apa dia menyentuh tubuhmu ini?"tanyaku sambil memegang bahunya.


"Tidak Kak, ada Dosen baru yang menyelamatkan aku ... Wijin yang menjebak ku Kak, ini semua salah Kakak!" jelaskan dengan sangat marah.


"Syukurlah kalau kami baik-baik saja, kenapa Kakak yang bersalah?"tanya ku dengan sangat bingung sebab dia mengatakan akulah penyebabnya.


"Kalau saja Kakak menghampiri ku, tidak mungkin semua ini terjadi ... Kakak tidak pernah merindukan aku!"aku benar-benar sangat pusing kalau dia sudah ngomel-ngomel seperti ini padaku.


"Baiklah ... Kakak minta maaf, ini semua salah Kakak, "ucapku dengan sangat terpaksa, dan ku lihat dia langsung tersenyum manis kepadaku.


"Kak, aku sangat merindukanmu dan papa mama juga ... Aku sangat bosan berada di rumah kakek Azi, "ungkapnya dan sebelum aku menjawab Tante Alessandra berdiri tepat di belakangnya dan dia menyuruhku untuk diam.


"Kak, katakan sesuatu jangan diam saja, Kakak tahu Tante Alessandra sangat menyebalkan ... Dia selalu memukuli aku kalau dia sedang bahagia tahu, "ucapnya dnegan sangat manja dan aku sudah memberikan kode padanya agar dia melihat ke belakangnya.


"Ada apa, ada apa di belakang ... Ku ... "ucapnya sambil menoleh kearah Tante Alessandra, dan aku langsung tertawa lepas.


"Hahahaha .... Kau sudah aku berikan kode bukan?" ucapku sambil tertawa lepas dan ku lihat dia menundukkan wajahnya, sedangkan Tante Alessandra dia duduk di sampingnya.


"Lanjutkan ceritamu, tidak usah pedulikan aku disini ... Aku sudah sangat menyayangi mu dan ini balasannya ... "Tante Alessandra menatap tajam kearah Dilara dan aku hanya diam saja.


"Maaf Tan ... Janji tidak akan Dilara ulangi lagi ... "ucap Dilara dengan sangat lembut dan aku hanya bisa tersenyum melihat mereka.


"Aku kecewa padamu, dasar kau keong racun di depan kau baik di belakang kau buruk!" ucapnya yang berlalu pergi.


"Tante! jangan pergi Dilara bisa jelaskan!"teriak Dilara dan Tante Alessandra tidak memperdulikannya dia turus berjalan hingga kami tidak bisa melihatnya lagi.

__ADS_1


"Biarkan saja nanti dia juga akan baik lagi, tidak usah bersedih ... Cepat pergilah pasti kelas mu akan segera mulai, "pinta ku padanya dan dia langsung bergegas pergi setelah kepergiannya aku langsung pergi.


Aku berjalan menyusuri banyaknya murid di Kampus aku akan membalas dendam padanya, atas perlakuannya terhadap Dilara saudara kembarku aku sangat tidak terima dia akan melecehkan adik tersayang ku.


Setelah aku berjalan cukup lama akhirnya aku menemukannya di kantin tanpa aba-aba, aku langsung menghampirinya dan menarik kera bajunya sontak saja membuat semua yang berada disana terkejut, aku membawanya ke luar kantin dan aku melemparkannya hingga dia terjatuh di lantai.


"Kau, tidak bisa menyakiti adik ku! Kau kira aku akan tinggal diam ha!" teriak ku dan kulihat dia bangun dan menghampiri aku, dia hendak memukul wajah tampan ku namun aku berhasil mengelak.


"Kau tidak tahu yang sebenarnya bukan, adik mu itu membuat cerita bohong! Aku tidak sudi menyentuhnya!" teriaknya tak kalah dari teriakkan ku.


"Brengsek kau! ... Jangan main-main dengan ku Dilan Alfaro!" teriak ku dan aku mendatarkan tinjuan ku pada wajahnya, sehingga dia terjatuh dan terluka.


"Bajingan kau, lihat saja apa yang akan aku lakukan pada mu dan juga adik sampah mu itu!"teriaknya sambil mengelap darah yang keluar dari sudut bibirnya.


Aku menghampirinya dan menarik kera bajunya dan aku akan meninju wajahnya namun, tangan ku di tahan oleh seseorang aku langsung menoleh dan aku sangat terkejut ternyata Dosen baru kami yang menahan tanganku.


Aku langsung melepaskan tangan ku dan aku merapikan penampilan ku, sedangkan Dosen baru kami dia menolong Wijin bangun.


"Ada apa ini?"tanyanya dengan tatapan tajamnya.


"Dia sudah memukuli wajah saya Pak, "ungkap Wijin dan aku tidak bisa tinggal diam aku pun juga menjawab.


"Dia sudah mau melecehkan adik saya Pak, jadi saya tidak terima dan saya memukuli dia, "ungkap ku dengan sangat cepat.


"Adik, apa wanita tadi adalah adik mu?"ucapnya dan aku membulatkan mataku sebab dia mengatakan wanita tadi, apa mungkin dia yang menyelamatkan Dilara tadi pikir ku.


"Owh, namanya Dilara ... Saya tadi menyelamatkan gadis yang akan di lecehkan oleh Wijin tadi, dan itu adalah adik mu?"tanyanya padaku sambil berfikir entah apa yang sedang dia pikirkan aku tidak tahu.


"Benar Pak, saya ingin dia di hukum Pak ... Kalau tidak begitu maka dia akan senang melakukan hal yang sama Pak, "pinta ku padanya dengan sangat lembut agar dia menyetujuinya.


"Saya akan panggil orang tua kalian besok, kita selesaikan besok sebab jam kerja saya sudah habis. Saya permisi dulu,"ucapnya yang berlalu pergi.


"Kau lihat saja besok, aku memiliki bukti bahwa kau benar-benar akan melecehkan adik ku!"ucapku sambil berlalu pergi.


Aku berjalan menuju parkiran sebab aku menunggu Dilara pulang, sebab aku tidak ada mata kuliah lagi jadi aku menunggunya untuk pulang bersamaku.


Setelah menunggu lama akhirnya dia menghampiri mu juga, dia langsung memakai helem yang aku berikan kepadanya dan aku langsung naik ke atas motor sport milikku.


Aku melajukan motor ku dengan perlahan seba aku sangat malas mendengar Omelan Dilara, yang seperti emak-emak yang memarahi anaknya sebab terlalu mengebut.


"Dilara, kita makan dulu mau tidak?"tanyaku sambil melajukan motorku.


"Tidak, kita pulang saja sebab Dilara sangat lelah dan mau tidur, "ucapnya dengan sangat lembut dan aku terus melajukan motorku sampai di rumah Kakak Azi.


Setelah sampai dia langsung turun dan dia tidak menyapa ku dia langsung masuk kedalam, aku tidak mau berlama-lama dan aku langsung melajukan motorku menuju rumah Doni sebab dia tidak masuk Kampus tadi.


Setelah sampai aku langsung turun dan mengetuk-ngetuk pintu rumahnya dan Mamanya yang membukanya.


"Cari Doni ya?"tanyanya padaku sambil tersenyum manis.

__ADS_1


"Iya Tante tapi, aku juga mencari Tante ... "ucapku sambil mengedipkan sebelah mataku agar dia luluh padaku.


"Kamu bisa aja deh, yuk kita masuk Tante buatkan minum dulu ... " ucapnya sambil berjalan dan aku menarik tangannya.


"Jangan beritahu kalau aku datang, sebab aku hanya ingin mencari Tante saja ... "ucapku dengan sangat lembut dan ku lihat Mamanya Doni tersenyum malu-malu.


"Baiklah ... Tapi, kita bicara dimana agar Doni tidak tahu?"tanyanya dengan nada manja padaku, aku tersenyum rencana ku berhasil untuk meluluhkan hati Mamanya Doni.


"Didalam kamar saja Tan, aman bukan?"ucapku sambil meraba-raba tangannya dan ku lihat dia sangat menyukai rayuanku.


"Baiklah, cepat sebelum Doni melihatnya, "ucapnya dengan sangat cepat.


Aku mengikuti langkahnya masuk kedalam kamarnya setelah kami didalam kamarnya, dai mengunci pintu dan menutup semua tiray di kamarnya dan aku hanya diam saja.


"Duduklah disini, "Mamanya Doni menepuk ruang kosong yang berada di sampingnya, aku langsung menghampirinya dan duduk di sampingnya.


"Tante, sebenarnya aku datang ... "Mamanya Doni menutup mulutku menggunakan jarinya dan dia memainkan jarinya di setiap inci bibir ku.


"Baiklah ... Kita akan main dengan perlahan ... "ucapnya dengan sangat s e k s i aku adalah pria normal dan jika dia terus-menerus menggodaku maka aku tidak akan bisa menahannya.


"Tante, sebelum kita mulai aku tidak ingin ada masalah jadi. Aku menanyakan pada Tante sebenarnya apa hubungan Tante dan papa?"ucapku dengan sangat cepat dan kulihat dia tersenyum manis.


"Aku hanyalah mantan menantunya saja, tidak lebih dan jangan bicarakan ini pada siapapun termaksud Bastian ... Sebab kami sudah bercerai sangat lama, "ucapnya dengan sangat lembut.


"Mantan menantu, berarti Tante mantan kak Bastian?"ucapku dengan sangat cepat dan terkejut sebab setahuku Kak Bastian belum menikah sama sekali.


"Benar, sudahlah lupakan saja sebaik kita mulai saja ... " ucapnya sambil membuka kancing bajunya dan aku benar-benar melihat benda kenyal kembar miliknya.


Perlahan dia melepaskan semua pakaiannya dan aku menelan ludah dalam-dalam sebab aku adalah pria normal, jika aku melihatnya maka aku akan menginginkannya aku merasakan gagang ku berdiri tegak.


"Sayang ... Jangan bicara pada siapapun ya kalau aku ini wanita malam sebab itu rahasia, untuk mu kali ini gratis saja, "ucapnya dengan sangat manja membuatku mengeluarkan keringat dingin.


Tanpa aba-aba dia langsung melahap bibirku dengan lembut dan bersemangat, entah mengapa aku meremas benda kenyal kembar miliknya dengan sangat kuat membuatnya menggeliat.


"Tan, sudahlah aku mau pergi saja ... "ucapku sambil sedikit mendorongnya agar dia tidak terlalu dekat dengan ku.


"Sayang, kamu itu seperti kucing masa di kasi daging menolak?"ucapnya dengan sangat lembut dan manja perlahan dia bergelayut manja padaku dan dia juga melingkarkan tangannya di leher ku.


"Baiklah ... " ucapku dengan sangat cepat dan aku mulai membalas semua sentuhannya.


(Skip )


.


.


.


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2