Cinta Twins D (Dilan/Dilara)

Cinta Twins D (Dilan/Dilara)
Pindah ke Apartemen


__ADS_3

Bagas tersadar kalau dirinya masih menggunakan sarung dan baju Koko, ia langsung bergegas mengambil bajunya didalam koper miliknya.


Lalu ia masuk kedalam kamar mandi dan langsung berganti baju.


..


Dilara berganti baju ia mengenakan dress panjang berwarna merah muda, lalu ia mulai menyisir rambutnya dengan perlahan.


Ia menatap wajahnya di cermin lalu ia melihat bayangan Bagas yang menghampirinya.


"Biar aku bantu mengikat rambut mu?"tawar Bagas sambil menatap wajahnya didalam cermin.


"Boleh saja, buat rambut ku ini tidak menghalangi aktivitas ku hari ini. Sebab hari ini aku akan kelelahan karena kita akan pindah rumah,"ungkap Dilara.


"Baik, tuan putri Alfaro, "Bagas mengambil sisir dari tangan Dilara.


Bagas mulai mengunci rambut Dilara dengan sangat cantik, setelah selesai mereka mulai berkemas-kemas sebab Kenan akan menjemput mereka sebentar lagi.


"Gas, aku lapar."rengek Dilara dan Bagas langsung menghampiri Dilara.


"Ayo, kita tunggu papa dan mama di luar saja sambil sarapan."ucap Bagas yang membawa dua koper memilik mereka.


"Gas, aku bawa koper milikku sendiri saja."ucap Dilara yang mengikuti langkah Bagas dari belakang.


Bagas menghentikan langkahnya lalu ia menatap kearah Dilara.


"Sekarang aku adalah suamimu, walaupun kita menikah karena terpaksa akan tetapi aku akan menjadikan mu seperti ratu bukan babu,"ungkap Bagas.


Dilara tersenyum lalu ia melanjutkan langkahnya bersama dengan Bagas.


Mereka sarapan di restoran hotel tersebut mereka mulai memakan sarapan mereka, sesekali Bagas melirik kearah Dilara lalu ia tersenyum tanpa ia sadari.


Ternyata dia lucu juga, aku berjanji walaupun aku hanya menikahinya karena mama dan papa aku akan selalu menjaganya, dan aku akan memperlakukannya seperti seorang istriku, batin Bagas.


Saat mereka tengah sarapan Kenan dan Alice baru sampai dan ikut bergabung dengan mereka.


"Anak-anak Papa, cepat habiskan sarapan kalian kita akan segera berangkat,"ujar Kenan.


"Sayang, apa Bagas terlalu kuat semalam?"bisik Alice di telinga Dilara sontak saja membuat Dilara terdesak.


"Uhuk, uhuk uhuk ..."Dengan sangat cepat Bagas memberikan Dilara air putih.


"Hati-hati, jangan buru-buru."ucap Bagas sambil mengelus punggung Dilara dengan perlahan.


Alice dan Kenan saling menatap lalu mereka tersenyum bahagia.


"Sepertinya ada kemajuan ya?"ucap Kenan sambil bersiul-siul.

__ADS_1


"Papa, jangan seperti itu. Ayo kami sudah selesai ..."ucap Dilara yang mulai bangun dan ia hendak membawa kolor miliknya akan tetapi tangannya di tahan oleh Bagas, Dilara menatap wajah Bagas lalu ia juga menatap kearah koper miliknya.


"Aku saja yang membawanya, kau pasti lelah bukan?"ucap Bagas dengan sangat lembut.


Alice dan Kenan langsung menatap satu sama lainnya dan langsung tertawa kecil.


Pasti yang di maksud oleh Bagas malam pertama mereka, batin Alice.


Sebaiknya aku tanyakan saja pada Bagas soal ayah biologisnya, saat ia dan aku bersua saja sebab aku sangat penasaran kalau benar Bagas anak Bastian berarti dia cucuku. Batin Kenan.


Mereka mulai berjalan menuju mobil Kenan setelah semuanya masuk, Kenan mulai melajukan mobilnya menuju apartemen milik Dilara yang tidak jauh dari gedung pernikahan mereka.


Selama di perjalanan mereka semua hanya diam dalam pikirannya masing-masing.


Setelah sampai mereka langsung bergegas masuk kedalam, Dilara membuka pintu apartemen miliknya lalu mereka semua masuk kedalam.


"Bersih sekali apartemen ini, Pa?"tanya Dilara sambil melihat seisi ruangan.


"Benar, sebab Papa mengurus semuanya karena Papa ingin kalian segera tinggal disini."jelas Kenan sambil duduk di sofa.


"Dilara mau melihat kamarnya dulu. Eh, kenapa hanya ada satu kamar saja?"ucap Dilara yang hanya melihat satu kamar saja.


Alice dan Kenan saling menatap satu salam lainnya lalu mereka menatap Bagas yang baru duduk.


"Bukankah kalian sudah menikah? Lalu untuk apa kamar yang berada?"ucap Kenan sambil menatap wajah Bagas.


"Ah, iya benar sekali. Dilara lupa kalau sudah menikah ..."ucap Dilara sambil tertawa kecil dan berlalu masuk kedalam.


"Gas, Papa minta nasehati istrimu ya, kami pamit dulu dan barang-barang kalian akan di antar oleh supir ke sini nanti,"ujar Kenan.


"Baik, Papa."Bagas menghampiri Kenan dan ia mencium tangan Kenan dan Alice.


"Mama akan berpamitan dengan Dilara dulu, "ucap Alice yang bergegas pergi.


Kenan baru teringat akan nama ayahnya Bagas ia mendekati Bagas.


"Gas, Papa ingin bertanya dan tolong berkata jujur sebab Papa sangat menyayangi mu,"ungkap Kenan.


"Tanya saja, pasti Bagas akan menjawabnya."jawab Bagas sambil tersenyum.


"Apa benar kalau ayah mu adalah Bastian anak Papa?"tanya Kenan membuat Bagas langsung terdiam.


Sepertinya papa menyadari kemarin kalau bin Bastian saat aku berijab Kabul, sepertinya aku harus jujur saja pada Papa sebab aku tidak mau dia membenciku, batin Bagas.


"Benar ..."jawab Bagas dengan sangat lembut.


Sontak saja membuat Kenan meneteskan air matanya lalu ia memeluk Bagas dengan sangat erat.

__ADS_1


"Gas, ternya kamu cucu, Papa yang sekarang menjadi menantu Papa ..."ucap Kenan sambil mencium puncak kepala Bagas.


Bagas melepaskan pelukannya lalu ia menatap wajah Kenan.


"Pa, Bagas mohon jangan beritahu hal ini pada siapapun."pinta Bagas pada Kenan membuat Kenan menaikkan sebelah alisnya.


"Kenapa seperti itu, ayahmu ..."terputus sebab Bagas langsung memotong ucapannya.


"Jangan, Bagas mohon ..."Bagas memegang tangan Kenan dan Kenan hanya diam saja.


Sebelum sempat Kenan menjawab Alice sudah keluar bersama dengan Dilara, sontak Bagas langsung melepaskan tangannya.


"Wah, ada apa ini? Apa? Papa sedih akan melepaskan anak kita?"tanya Alice sambil tertawa bersama Dilara.


"Ha, tidak seperti itu. Kami hanya bicara biasa saja."ucap Kena yang mulai bangun dan di ikuti oleh Bagas.


"Pa, apakah kami harus pergi bulan mandu?"tanya Dilara sambil memegang dua tiket pesawat menuju Kota B.


"Harus, sebab itu sangat penting agar kalian semakin dekat. Setelah kalian berbulan madu barulah kalian mulai hidup seperti biasa,"ujar Kenan yang mencium puncak kepala Dilara.


"Baiklah, besok mungkin kami akan segera pergi dan tidak berpamitan lagi ..."ucap Dilara sambil mencium tangan Papanya dan juga Mamanya.


"Baiklah. Assalamualaikum."ucap Kenan dan Alice bersamaan.


"Wa'alaikumsalam, "jawab Bagas dan Dilara bersamaan.


Kenan dan Alice bergegas pergi lalu Dilara mulai menutup pintu apartemen miliknya, ia masuk kedalam kamar sedangkan Bagas memilih duduk di sofa.


Semoga saja papa tidak membicarakan hal ini pada semuanya, sebab aku tidak mau sampai ada yang tahu. Batin Bagas.


"Aaahhhkkk!"teriak Dilara dalam kamar sontak saja membuat Bagas terkejut.


"Dilara."ucap Bagas yang mulai bangun dan berlari masuk kedalam kamar, ia melihat Dilara naik ke atas bangku.


.


.


.


...Bersambung....


Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.


Like, Vote, Favorit, komen.


Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.

__ADS_1


Salam manis untuk kalian semua.


__ADS_2