Cinta Twins D (Dilan/Dilara)

Cinta Twins D (Dilan/Dilara)
Malam pertama


__ADS_3

Dilara hanya diam saja sambil menahan sakit yang luar biasa di bagian sensitifnya dan Bagas menyadarinya.


"Ra, maaf aku sudah membuat mu sakit ..."ucap Bagas yang menghentikan aktivitasnya lalu ia menghapus keringat yang membasahi wajah Dilara.


"Gas, lakukan saja. Bukankah kita sudah di pertengah perjalanan?"ucap Dilara dengan sangat lembut.


"Baiklah ..."ucap Bagas yang mulai melanjutkan perjalanan untuk membuka jalan sempit milik Dilara, kali ini ia sedikit menguatkan hentakannya agar Dilara tidak merasakan sakit lagi.


Hentakan demi hentakan di lakukan oleh Bagas sehingga ia berhasil menerobos masuk jalan sempit, milik Dilara dan membuat Dilara menangis tersedu-sedu didalam pelukan Bagas.


"Gas, sakit sekali ... Gas, hiks, hiks, hiks, hiks ..."Dilara menangis tersedu-sedu didalam pelukan Bagas dan Bagas mengelus rambut Dilara dengan sangat lembut.


"Maafkan aku, ini semua karena salahku kalau bukan aku tidak mungkin kau merasakan sakit sekali."ucap Bagas sambil meneteskan air matanya sambil memeluk Dilara.


"Sudah, tidak apa sekarang lanjutkan perjalanan mu."pinta Dilara yang melepaskan pelukannya.


Bagas mulai melanjutkan kembali pekerjaannya, ia mulai menyatukan kembali kedalam gua milik Dilara dengan sangat perlahan.


Hentakan demi hentakan ia merasa sangat bergairah sampai ia tidak sadar melakukannya sampai dua jam, setelah sampai pelempasan ia menyemburkan benih-benih kedalam rahim Dilara.


Bagas memakai kembali bajunya lalu ia mendekati Dilara yang masih lemas akan perbuatannya tadi, ia menyelimuti seluruh tubuh Dilara lalu ia memeluk Dilara sambil menangis.


"Ra, maaf aku sudah merenggut mahkota berharga milikmu ..."ucap Bagas lirih.


"Kau ini bicara apa, apa yang aku berikan tadi itu semua hak mu ... Kau pantas mendapatkan itu semua, aku baik-baik saja."ucap Dilara dengan sangat lemas.


Bagas mencium kening Dilara dengan sangat lembut lalu ia memeluk Dilara sampai Dilara tertidur pulas.


...


Pagi hari tiba Dilara tidak bisa berjalan sehingga ia belum bersiap-siap untuk segera pulang, ia masih duduk di ranjang dengan hanya menutupi tubuhnya mengunakan selimut saja.


Bagas baru selesai mandi dan ia masih menggunakan handuk kimono lalu ia menghampiri Dilara.


"Ra, apa masih sakit?"tanya Bagas dengan sangat lembut.


Dilara tersenyum.


"Masih, ini saja aku tidak bisa berjalan,"ungkap Dilara.


"Ra, maafkan aku ini semua adalah salah ku ..."ucap Bagas lirih.


Dilara memegang dagu Bagas lalu mereka saling menatap satu sama lainnya.

__ADS_1


"Gas, bisakah bantu aku masuk kedalam kamar mandi?"tanya Dilara dengan sangat lembut.


Bagas tersenyum lalu ia mulai menggendong tubuh Dilara masuk kedalam kamar mandi, lalu ia menunggu Dilara selesai mandi dengan membalikkan badannya.


"Untuk apa berbalik badan, bukankah kita semalam tidak memakai apapun?"ucap Dilara sambil menggosok setiap inci tubuhnya.


"Cepatlah, kita bisa tertinggal pesawat kalau kau terlalu lama ..."ucap Bagas dengan sangat lembut.


Dilara cepat-cepat menggosok setiap inci tubuhnya, setelah selesai Bagas menggendong tubuhnya menuju kamar.


Setelah Bagas selesai memakai baju ia juga menyiapkan baju muslim modern untuk Dilara, ia membantu Dilara memakai hijab dan setelah selesai ia duduk bersebelahan dengan Dilara.


"Ra, jangan sampai ada yang tahu tentang hubungan kita semalam sebab itu adalah aib kita. Kalau ada yang bertanya kenapa kau tidak bisa berjalan katakan saja kau terjatuh sebab itu kita pulang."ucap Bagas dan menuruti keinginan suaminya.


Mereka mulai bergegas pergi menuju bandara dengan menaiki Taksi setelah mereka sampai di bandara, Bagas mengendong tubuh Dilara sambil mendorong koper mereka dengan sangat mudah tanpa merasa kesulitan sama sekali.


Setelah mereka didalam pesawat Dilara memeluk Bagas sebab ia merasa nyaman, sejak mereka melakukan bercocok tanam semalam.


"Tidak apa-apa bukan, kalau aku seperti ini?"tanya Dilara sambil menatap wajah Bagas.


"Tidak, sebaiknya tidurlah ... Sebab kau perlu istirahat karena semalam ..."ucap Bagas sambil mengelus kepala Dilara.


"Baiklah, apa aku boleh tidur seperti ini?"tanya Dilara yang masih memeluk Bagas.


Dilara langsung tertidur pulas sebab ia masih merasa leleh akibat semalam bersama dengan Bagas, setelah Dilara tidur Bagas menatap wajah Dilara dengan sangat dalam dengan penyesalan yang merasuki pikirannya.


Apa aku salah menuruti keinginan istriku, aku merasa sangat bersalah kepadanya, akan tetapi aku juga tidak bisa menolak untuk memberikan nafkah batin untukku, batin Bagas.


Setelah sampai di bandara Bagas langsung membangunkan Dilara dan ia menggendong tubuh Dilara, sebab Dilara masih tidak bisa berjalan karena area sensitifnya masih teras masih sangat sakit.


Bagas langsung membawa Dilara dan koper mereka menuju Taksi yang sudah di pesan olehnya, setelah mereka masuk Taksi mulai berjalan dan Dilara masih saja bermanja-manja dengan Bagas.


Kenapa aku tidak mau jauh-jauh darinya, aku merasa ingin selalu seperti semalam walaupun sakit. Aku merasa nyaman saat bersamanya dan didalam pelukannya, batin Dilara.


"Ra, ingat pesan ku tadi."ucap Bagas sambil menatap wajah Dilara.


"Baik, sekarang kita mau kerumah mama dulu bukan?"


"Iya, mungkin besok kita baru kembali ke apartemen kita sebab ada yang akan aku urus dengan papa,"ujar Bagas sambil mengelus-elus kepala Dilara.


Kalau seperti ini aku tidak bisa melupakan apa yang sudah terjadi diantara kami, aku benar-benar meleleh akan perlakuannya padaku yang baik, penyabar, lembu, batin Dilara.


Setelah mereka sampai Bagas langsung menggendong tubuh Dilara masuk kedalam bersama dengan koper mereka.

__ADS_1


Kenan merasa tidak enak badan sehingga ia di rumah saja dan kini ia dan Alice berada di ruang tamu, mereka duduk santai sambil meminum segelas teh hangat buatan Alice.


"Assalamualaikum."ucap Dilara dan Bagas secara bersamaan.


"Wa'alaikumsalam,"jawab Alice dan Kenan bersamaan dan mereka langsung bangun saat melihat Bagas menggendong tubuh Dilara.


Bagas meletakan Dilara dengan perlahan di sofa lalu Dilara mulai duduk.


"Ada apa?"tanya Alice dengan sangat cemas sambil mendekati anaknya.


"Tidak ada, hanya saja Dilara terjatuh sebab itu kami pulang. Ma."jelas Dilara membuat Kenan mengerutkan keningnya.


Tidak mungkin, masa terjatuh membuatnya sampai seperti itu. Aku rasa mereka sudah melakukannya dan aku tidak menyangka dengan sangat cepat mereka melakukannya, batin Kenan.


"Mama seperti tidak pernah merasakannya saja,"sambung Kenan membuat Alice tersenyum lain dengan Dilara dan Bagas.


Mereka sangat malu sebab Kenan dengan sangat mudah mengetahui kebohongan mereka.


"Oh,"Alice tersenyum menatap Dilara yang terlihat diam saja.


"Gas, bawa saja Dilara kedalam kamarnya."pinta Alice dan Bagas langsung menggendong tubuh Dilara masuk kedalam kamar Dilara.


Setelah kepergian mereka Kenan dan Alice tertawa-tawa bahagia sebab mereka akan mendapatkan cucu.


setelah sempai didalam kamarnya Dilara, Bagas meletakan Dilara dengan perlahan di kasur milik Dilara.


"Gas, disini saja. Aku mau kau memelukku seperti semalam,"pinta Dilara yang menarik tangan Bagas.


"Baiklah ... "Bagas memeluk Dilara seperti semalam sambil mengelus-elus rambut Dilara.


.


.


.


...Bersambung....


Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.


Like, Vote, Favorit, komen.


Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.

__ADS_1


Salam manis untuk kalian semua.


__ADS_2