
"Mas, aku tidak bisa berjalan sedikitpun. Dan rasanya sakit sekali aku ingin ke rumah sakit saja."ucap Dilara sambil menahan sakit di are sensitifnya.
"Ha, Bagaimana ini. Aku akan segera membawamu ke rumah sakit, sebelum itu sebaiknya kita mandi terlebih dahulu."ucap Bagas yang menggendong tubuh Dilara masuk kedalam kamar mandi.
Setelah merek berdua mandi Bagas membantu Dilara memakai baju dengan sangat terburu-buru, setelah selesai ia langsung menelepon supir Kenan untuk mengantarnya ke rumah sakit, sebab tidak mungkin ia membawa Dilara naik motor miliknya.
Kenan dan Alice merasa panik sebab tadi keadaan Dilara baik-baik saja dan di tengah malam, mereka di beritahu oleh supir kalau Dilara akan pergi kerumah sakit malam ini juga. Mereka berdua ikut supir menjemput Dilara ke apartemen Dilara dan Bagas.
"Mas, aku takut sekali anak kita tidak baik-baik saja ..."ucap Alice dengan sangat panik.
Kenan memegang tangan Alice dengan sangat lembut.
"Jangan khawatir, anak kita akan baik-baik saja. Sebenarnya sakit apa anak kita itu?"ucap Kenan sambil berpikir sakit apa anaknya sebenarnya kenapa tiba-tiba sekali.
Setelah sampai mereka berdua langsung cepat-cepat menuju apartemen milik Dilara dan Bagas, setelah samapi mereka langsung masuk kedalam dan terlihat Dilara sedang meringis kesakitan.
"Mas, ayo cepat sakit sekali ..."rintihan Dilara dan Bagas langsung menggendong tubuh Dilara menuju mobil Kenan.
Kenan dan Alice mengikuti langkah Bagas mereka tidak sempat bertanya sebab mereka sangat cemas, akan keadaan Dilara yang meringis kesakitan setelah sampai didalam mobil supir Kenan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Sakit, Mas ..."ucap Dilara didalam pelukan Bagas.
"Sabar, ya. Kita sebentar lagi sampai,"jelas Bagas sambil mengelus-elus rambut Dilara.
Mas, mereka semakin dekat saja. Mungkin ini memang yang terbaik untuk mereka aku bahagia sekali mereka bisa dekat seperti ini. Batin Kenan.
"Sabar, ya. Sayang sebentar lagi kita sampai kok,"sambung Alice.
Sebenarnya apa yang terjadi pada Dilara, kenapa dia terus-menerus bilang sakit. Sebenarnya apa yang sakit, batin Alice.
Setelah sampai di rumah sakit, Bagas langsung menggendong tubuh Dilara masuk kedalam ruangan UGD.
"Dok, tolong cepat periksa keadaan istri saya ..."ucap Bagas dengan sangat cemas kepada Dokter.
"Baik, saya periksa dulu. Apa saja keluhannya?"tanya Dokter tersebut kepada Dilara sambil memeriksa keadaan Dilara.
"Saya ... Sakit,"hanya itu saja ungkapnya sebab ia malu kalau mengatakan bahwa sakitnya di bagain sensitifnya.
__ADS_1
"Dimana nya, sakit sayang?"tanya Alice agar Dokter mudah memeriksa keadaan Dilara.
Dokter sudah selesai memeriksa keadaan Dilara dan ia tidak menemukan apa-apa.
"Nona ini baik-baik saja, saya tidak menemukan apapun."jelas Dokter tersebut membuat Alice dan Kenan bernafas lega.
"Syukurlah ..."ucap Alice dan Kenan bersamaan.
"Sakit, aduh ..."keluh Dilara membuat Bagas tidak tega dan ia harus berkata jujur.
"Dok, sebenarnya istri saya merasakan sakit di bagian sensitifnya sebab kami bermalam pertama,"ungkap Bagas membuat semua orang disana membuka mulutnya lebar-lebar.
Apa-apaan Bagas, malu sekali aku dia berkata juju mau di telantarkan dimana wajahku ini. Batin Dilara.
Kenan dan Alice sangat terkejut apa yang mereka dengar dari mulut Bagas, sebab dulu mereka tidak sampai seperti Dilara yang sampai masuk rumah sakit akibat malam pertama.
Aku kira mereka akan seperti ku dan Alice, ternyata mereka sangat aktif sampai anakku seperti ini keadaannya, batin Kenan.
Dulu saja aku sama om Kenan tidak sampai seperti ini, walaupun kami sama-sama pertama kalinya melakukannya. Ini benar-benar Bagas keterlaluan dia terlihat polos akan tetapi dia sangat agresif, batin Alice.
"Saya akan memberikan obat, dan kita akan memindahkan Nona Dilara ke ruang inap dulu,"ujar Dokter yang berlalu pergi.
Kenan memberikan isyarat kepada Bagas agar ikut dengannya keluar keluar dan Bagas langsung mengikutinya.
Mereka duduk di bangku tunggu pasien.
"Gas, kenapa kamu sampai seperti itu. Bukankah kalian menikah sampai selamanya kenapa harus terburu-buru, kasihan Dilara sampai kesakitan seperti itu. Memangnya kalian itu bermain sampai berapa lama apa sampai berjam-jam?"tanya Kenan membuat Bagas sangat malu.
"Tidak, Pa. Mungkin karena ini kali pertama buatnya,"ungkap Bagas.
"Tidak mungkin, dulu mama saja seperti itu dan tidak sampai seperti Dilara saat ini. Mengaku saja kamu, berapa lama kalian bermain?"tanya Kenan sambil memegang pundak Bagas.
Tidak mungkin aku berkata jujur, kalau kami sudah dau kali melakukannya dan sampai berjam-jam, batin Bagas.
"Katakan!"bentak Kenan membuat Bagas sepontan menjawab.
"Tiga jam, dan sudah dua kali kami melakukannya,"ucap Bagas dengan sangat cepat lalu ia menutup mulutnya menggunakan tangannya.
__ADS_1
Kenan membuka mulutnya lebar-lebar sebab ia sangat terkejut akan ungkapan dari menantunya.
"Kalian, Papa kira kalian di jodohkan akan susah untuk menyatukan kalian teryata kalian sangat ganas,"ujar Kenan.
Mulut, kenapa sampai keceplosan. Malu sekali aku ini mau di letakan didalam wajahku ini, batin Bagas.
"Sudah, jangan di pikirkan lagi. Yang terpenting besok-besok kalian harus pelan-pelan dan jangan terlalu lama."jelas Kenan yang masuk kedalam ruang inap Dilara.
"Mulut, kenapa bisa keceplosan aku sangat malu pada papa tadi ..."ucap Bagas sambil memukul-mukul mulutnya.
Bagas masuk kedalam dan ia tidur di samping tempat tidur Dilara dengan posisi duduk di bangku. Dilara terbangun sebab ia merasa sangat haus ia melihat semua orang sudah tidur ia mengambil air minum sendiri di samping tempat tidurnya.
Setelah Dilara selesai minum ia mengelus rambut Bagas dengan perlahan, lalu ia mencium puncak kepala Bagas dengan sangat lembut. Tanpa disadari oleh Dilara ternyata Kenan melihatnya dan Kenan tersenyum bahagia.
Anakku sangat manis, apa sebenarnya mereka saling menyukai sebelum mereka menikah dan aku tidak mengetahuinya, batin Kenan.
"Suamiku, maaf ya. Aku membuat mu seperti ini karena kesalahan ku ..."ucap Dilara sambil mengelus-elus rambut Bagas.
Kenan menaikkan sebelah alisnya sebab ia mendengar ucapan Dilara barusan.
Maksudnya apa, kesalahan apa yang sudah di buat oleh Dilara. Tidak mungkin, apa yang aku pikirkan biarlah menjadi urusan mereka aku tidak boleh ikut campur urusan mereka. Batin Kenan.
Kenan masih mengintip dengan sebelah matanya ia melihat Dilara mencium wajah Bagas dengan sangat mesra.
.
.
.
...Bersambung....
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Like, Vote, Favorit, komen.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
__ADS_1
Salam manis untuk kalian semua.