Cinta Twins D (Dilan/Dilara)

Cinta Twins D (Dilan/Dilara)
Kenan menguping


__ADS_3

Bagas tersadar saat Dilara mencium wajahnya ia memegang tangan Dilara dan mereka saling menatap satu sama lainnya.


Kenan semakin menahan tawanya sebab ia sedang menyaksikan pemandangan yang indah.


"Maaf, aku membuatmu bangun ..."ucap Dilara dengan sangat lembut.


"Tidak apa-apa."jawab Bagas sambil melihat kearah Alice yang masih tertidur pulas, lalu ia melirik kearah Kenan yang juga terlihat tidur pulas.


"Maaf, apa masih terasa sangat sakit?"tanya Bagas dengan sangat lembut sambil memegang tangan Dilara.


Dilara tersenyum manis lalu ia mengelus wajah Bagas dengan sangat lembut, sontak membuat Kenan tersenyum dan ia semakin melebarkan matanya.


Sepertinya mereka saling menyayangi, tanpa mereka tahu dari dulu. Hatiku benar-benar sangat bahagia sebab melihat mereka bisa seperti ini. Batin Kenan.


"Sudah membaik, mungkin besok kita sudah boleh pulang. Sekarang istirahat saja."ucap Dilara dengan sangat lembut.


"Baiklah, aku akan tidur seperti ini."Bagas menidurkan kepalanya di pangkuan Dilara.


Lagi-lagi Kenan tersenyum bahagia bisa melihat anak-anaknya sangat akur dan terlihat saling menyayangi.


Dilara memijat kepala Bagas dengan perlahan membuat Bagas tertidur pulas, dan Dilara juga ikut tertidur pulas sambil memegang tangan Bagas.


Kenan bangun dan ia duduk sambil menatap kearah anak-anaknya.


"Aku kira membuat Dilara jatuh cinta itu sulit, teryata dia dan Bagas sangat mudah saling menyayangi satu sama lainnya."ucap Kenan sambil menatap kearah Bagas dan Dilara.


...


Pagi hari tiba saat Adzan Subuh berkumandang Bagas bangun dan ia melihat dirinya tidur di pangkuan Dilara.


Kasian dia, aku tidur di pangkuannya dan pasti membuatnya lelah ... Batin Bagas.


Bagas bangun sebab ia ingin melaksanakan Sholat Subuh di masjid terdekat, saat ia hendak membuka pintu ruangan Dilara ia menghentikan langkahnya saat Kenan memanggilnya.


"Mau kemana, Gas. Sepagi ini?"tanya Kenan yang mulai bangun.


Bagas menoleh dan ia menatap kearah Kenan.

__ADS_1


"Mau Sholat, Pa."jawab Bagas dengan sangat lembut.


"Papa ikut, ayo."Kenan berjalan mendahului Bagas dan Bagas mengikuti langkah Kenan dari belakang.


Setelah mereka sampai mereka langsung mengambil Wudhu setelah itu mereka langsung masuk kedalam Masjid, mereka mulai melaksanakan Sholat Subuh berjamaah di masjid dengan banyak orang.


Setelah selesai Kenan duduk bersama dengan Bagas sebab Kenan ingin mengatakan sesuatu.


"Gas, Papa ingin kalian bersama selamanya. Papa kira menyatukan kalian akan sangat sulit akan tetapi tidak, kalian sepertinya saling menyayangi satu sama lainnya."ucap Kenan sambil tersenyum mengingat kejadian tadi malam.


"Papa dulu sebelum menikah, mama. Papa dulu pernah menikahi mamanya Bastian dan Nenekmu dia wanita yang pertama kalinya masuk kedalam hati Papa. Akan tetapi dia mengkhianati Papa dan dia hamil anak pamannya Papa, dan Papa harus menikahinya karena pamannya Papa sudah meninggal,"ungkap Kenan membuat Bagas sangat terkejut akan apa yang ia dengar barusan.


Ternyata Papa merasakan sakit juga, dengan nenek. Batin Bagas.


"Kamu tahu, Papa tidak pernah menyentuhnya selama pernikahan kami berjalan sampai Bastian besar. Dan Papa di juluki Duda perjaka."ucap Kenan sambil tertawa mengingat kembali masa lalunya.


"Pa, aku akan menjaga Dilara sampai akhir hidup ku. Kami akan mencoba untuk saling mencintai walaupun saat ini kami sama-sama belajar untuk saling mencintai,"janji Bagas pada Kenan.


"Gas, kamu sangat jauh berbeda dengan ayahmu dia tidak ada kedewasaannya sama sekali. Sebab itu Papa tidak ingin Dilara menikahinya. Papa harap kalian akan bahagia selamanya dan jangan pernah berfikir untuk berpisah sebab Papa tidak ingin."ucap Kenan sambil meneteskan air matanya sebab ia menyerahkan anaknya untuk laki-laki lain.


"Insyaallah, Pa."


...


"Ada apa, Ma? Kenapa menatap Dilara seperti itu?"tanya Dilara sebab Mamanya menatap dirinya dengan sangat serius.


"Tidak, hanya saja kalian melakukan malam pertama sampai masuk rumah sakit seperti ini."ucap Alice yang di susul gelak tawanya membuat Dilara sangat malu.


"Bukankah kalian terpaksa, lalu kenapa sampai masuk rumah sakit,"tamba Alice sambil tertawa-tawa.


"Kami memang terpaksa, akan tetapi kami juga mencoba untuk saling menerima satu sama lainnya, bukankah kami yang menjalin hubungan kami dan tidak semuanya Mama mengetahuinya bukan?"jelas Dilara membuat Alice terdiam.


Benar adanya yang ucapan oleh Dilara, sebaiknya aku mendoakan yang baik saja agar mereka bisa hidup bahagia. Batin Alice.


Bagas dan Kanan masuk kedalam ruangan lalu Alice dan Dilara sama-sama diam.


"Ayo, kita pulang sekarang."ucap Bagas sambil mendorong kursi roda untuk Dilara walaupun Dilara sudah membaik akan tetapi ia masih sulit untuk berjalan.

__ADS_1


Alice belum tahu kalau Bagas adalah anak Bastian, kalau sampai dia tahu entah apa yang akan terjadi kedepannya, sebaiknya aku diam saja jangan ada yang tahu cukup aku saja yang tahu. Batin Kenan.


Setelah mereka bersiap Bagas langsung mendorong kursi roda Dilara dengan sangat perlahan, sampai di depan rumah sakit dan supir Kenan sudah menunggu mereka tidak lama-lama Bagas langsung membawa Dilara masuk kedalam mobil.


Alice menahan tangan Kenan masuk kedalam mobil."Ada apa?" Kenan tahu apa yang akan di ucapkan oleh Alice sehingga ia menahan Alice.


"Di rumah saja, sebab kita ada gosip yang sangat penting dan lucu."tamba Kenan lagi.


"Ha? Gosip?"tanya Alice dengan sangat bingung.


"Sudah, di rumah saja. Ini akan membuat kita tertawa sampai menangis tahu."ucap Kenan sambil menarik tangan Alice masuk kedalam mobil.


Setelah mereka masuk supir Kenan mulai melajukan mobilnya menuju apartemen milik Dilara dan Bagas, selama di perjalanan Kenan benar-benar tidak kuasa menahan tawanya sebab ia mengingat kejadian semalam.


Ya ampun, apa-apaan ini kenapa kejadian semalam terus saja masuk kedalam kepala ku ini. Aku benar-benar sangat tersiksa menahan tawa ini. Batin Kenan.


Alice melihat suaminya seperti sedang menahan tawa lalu ia memegang tangan Kenan.


"Ada apa?"bisik Alice di telinga Kenan.


"Tidak, ada."bisik Kenan di telinga Alice.


Bagas dan Dilara sama-sama melihat tingkah laku aneh dari orang tua mereka, sebuah mereka hanya diam saja sebab Kenan dan Alice langsung diam saat Dilara dan Bagas menatap kearah mereka.


Apa semalam papa mengintip aku dan Bagas bicara, pantas saja papa tidak bisa menahan tawanya. Ini benar-benar membuatku sangat malu sebab aku semalam mencium Bagas, batin Dilara.


.


.


.


...Bersambung....


Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.


Like, Vote, Favorit, komen.

__ADS_1


Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.


Salam manis untuk kalian semua.


__ADS_2