Cinta Twins D (Dilan/Dilara)

Cinta Twins D (Dilan/Dilara)
Bertemu Alessandra


__ADS_3

Pak Ardan dan Farhan masuk kedalam dan mereka duduk di ruang tamu, sebab mereka sudah berjanji akan bertemu dengan Kenan dan Alice.


Kini mereka duduk saling berhadapan dan Alice tangan membawakan minuman.


"Silahkan di minum ..."ucap Alice sambil meletakan minuman yang ia buat tadi.


"Terimakasih, Tante."ucap Farhan.


"Tidak usah repot-repot, kami minum air putih saja,"ujar Pak Ardan.


"Mana mungkin calon besan aku berikan air putih."tambah Kenan sambil tersenyum kepada Pak Ardan.


"Benar juga, apa kita sebaiknya mempertemukan mereka terlebih dahulu. Sebab saya takut kalau mereka langsung menikah entah jadi seperti apa."ucap Pak Ardan sambil menatap wajah Kenan.


"Tidak apa-apa, kita akan bicarakan kalau mereka akan segera menikah dan mereka bertemu saat akan ijab Kabul nantinya. Saya percaya kalau Dilan akan menerima setiap keputusan dari saya,"ungkap Kenan.


"Benar-benar berjodoh, Ameena juga seperti itu dia selalu menuruti keinginan saya dia tidak pernah membantah sekalipun."tambah Pak Ardan.


"Memang mereka berjodoh ..."ucap Kenan dan Alice bersamaan.


Mereka mulai bercerita bersama-sama untuk mengadakan acara lamaran yang akan di adakan Minggu ini.


....


Pada pagi ini Dilara dan Bagas sedang bersiap-siap akan berangkat menuju bandara, Bagas sudah terlebih dahulu turun ke bawa dan menunggu Dilara didalam Taksi.


Sedangkan Dilara sedang bersiap-siap sebab ia harus memakai hijab untungnya ia semalam memesan, hijab instan yang langsung pakai sehingga ia tidak kesulitan.


"Akhirnya siap juga, bisa di marahin aku sama Bagas kalau sampai terlalu lama ..."ucap Dilara sambil berjalan terburu-buru.


Setelah sampai ia langsung masuk kedalam dan Taksi mulai berjalan Dilara bernafas lega, Bagas menatap wajah Dilara barulah ia teringat akan Apartmentnya.


"Apa semuanya sudah beres?"tanya Bagas sambil menatap wajah Dilara.


"Maksudnya?"tanya Dilara balik sebab ia tidak tahu apa yang di maksudkan oleh Bagas.


"Maksudnya, apa kau sudah mematikan kompor atau kabel-kabel dan sudah mengunci pintu?"tanya Bagas membuat Dilara terdiam.


Dilara tidak dapat mengingat ia sudah mengunci pintu atau belum sehingga ia membayangkan, kalau Apartment miliknya dapat di masuki oleh pencuri sehingga ia langsung memegang tangan Bagas.


"Aku tidak bisa mengingatnya, apa kita balik saja untuk memastikan kalau semuanya aman dan baik-baik saja,"ucap Dilara dengan sangat panik.


Bagas menghembuskan nafasnya dalam-dalam.

__ADS_1


"Jadi, selama itu kau bersiap apa saja yang kau lakukan kita ini sudah di pertengahan jalan apa kita akan kembali?"tanya Bagas dengan sangat frustasi.


"Tidak, aku akan meminta mama yang melihat keadaan apartemen kita,"usul Dilara dengan sangat panik.


"Tidak, aku tidak mau merepotkan mama, Pak. Kita putar balik ya."ucap Bagas kepada supir Taksi.


"Siap, Den."


Supir Taksi tersebut memutar arah kembali ke Apartemen mereka setelah beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sampai dengan sangat buru-buru Dilara keluar dan berlari sekuat tenaganya.


Setelah sampai ia langsung memegang gagang pintu dan ternyata terkunci, barulah ia mengingat semuanya sudah aman terkendali.


"Huuu ... Semuanya aman ..."ucap Dilara dengan sangat lega.


Dilara berjalan dengan perlahan menuju mobil Taksi setelah sampai ia langsung masuk kedalam, ia duduk di samping Bagas lalu ia menatap wajah Bagas sambil tersenyum manis.


"Ternyata semuanya aman ..."ucap Dilara membuat Bagas langsung mengusap kasar wajahnya.


Ya ampun, kenapa dia sangat pelupa kalau dia tidak lupa pasti kami sudah sampai tadi, batin Bagas.


Taksi yang mereka naiki sudah melaju menuju bandara setelah beberapa menit kemudian akhirnya mereka sampai, Bagas dan Dilara buru-buru masuk kedalam sebab mereka hampir terlambat.


Setelah mereka masuk kedalam pesawat barulah mereka bernafas lega.


"Iya, "jawab Bagas dengan sangat lembut.


Hampir, itu semua karena ulahnya kalau bukan dia tidak mungkin kami akan terlambat seperti saat ini. Batin Bagas.


Mereka tidak mengetahui kalau Alessandra berada didalam pesawat yang sama dan tujuan yang sama.


Semoga aku bisa melupakan Bagas, setelah aku pulang berlibur dari Kota B, batin Alessandra sambil menatap kearah jendela pesawat.


Setelah beberapa jam akhirnya mereka sampai di Kota B, Bagas dan Dilara langsung turun lalu mereka langsung membawa koper mereka.


Dilara dan Bagas sudah di jemput oleh supir Kenan yang bertugas disana, supir Kenan membawa mereka menuju villa Kenan yang ada di Kota B.


Dilara hanya diam saja selama di perjalanan sebab ia merasa sangat lelah.


Setelah sampai Dilara langsung masuk kedalam kamarnya sedangkan Bagas, ia membawa dua koper miliknya dan juga milik Dilara masuk kedalam kamar mereka.


"Ra, mandi dulu biar segar."ucap Bagas yang meletakan koper mereka di samping sofa.


"Iya, nanti siang saja aku mau tidur dulu sebab aku sangat lelah ..."ucap Dilara dengan sangat lemas.

__ADS_1


"Baiklah, aku mau berkeliling dulu disini. Aku ingin berjalan-jalan di pantai.


Dilara tidak menjawab ucapan Bagas sehingga Bagas langsung bergegas pergi, ia bejalan keluar lalu ia berjalan menuju pantai yang tidak jauh dari Villa mereka.


Ia berjalan mengikuti ombak lalu ia menatap kearah semua pengunjung disana sampai matanya, tertuju pada seorang gadis yang berdiri menatap dirinya dari jarak jauh perlahan Bagas menghampirinya.


"Ale!"teriak Bagas sambil berjalan mendekati Alessandra.


Alessandra hanya diam saja sambil menangis tersedu-sedu, Bagas terdiam saat berhadapan dengan Alessandra dan ia tidak bisa melihat wanita menangis.


"Ale, aku mohon jangan menangis lagi, aku tidak sanggup."ucap Bagas dengan sangat lembut.


Alessandra berhenti menangis lalu ia menatap wajah Bagas dengan sangat dalam.


"Kau mengatakan kalau aku jangan menangis, sedangkan kau sendiri penyebabnya aku seperti ini,"ucap Alessandra sambil menahan tangisnya agar tidak pecah.


"Le, aku bisa jeleskan. Sebaiknya kita duduk dulu."ucap Bagas sambil berjalan menuju tempat duduk yang ada disana.


Alessandra mengikuti langkah Bagas ia duduk di samping Bagas sambil menghapus air matanya.


"Katakan?"


"Aku menikah hanya untuk, papa. Tapi aku juga tidak bisa membuat apa yang di rasakan oleh mama di rasakan juga oleh Dilara, sebab itu aku tidak bisa berhubungan dengan mu lagi ... Aku minta maaf sebesar-besarnya padamu tolong maafkan aku ..."pinta Bagas dengan sangat sedih membuat Alessandra tidak bisa mengatakan apapun.


"Gas, apa kau hanya memikirkan tentang perasaan Dilara saja, lalu bagaimana dengan perasaan ku yang hancur ini?"tanya Alessandra.


"Maaf, Dilara adalah istriku. Kami sudah mengikat janji suci ..."ucap Bagas.


Alessandra mencoba untuk mengatur nafasnya sebab ia merasa sangat sakit, saat Bagas mengatakan kalau dirinya bukanlah siapa-siapa untuknya.


.


.


.


...Bersambung....


Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.


Like, Vote, Favorit, komen.


Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.

__ADS_1


Salam manis untuk kalian semua.


__ADS_2