
Setelah Bagas selesai makan ia langsung berjalan masuk kedalam kamar, sedangkan Dilara ia membereskan piring kedalam wastafel lalu ia berjalan masuk kedalam kamar.
Ia melihat Bagas sudah memakai celana saja, ia langsung mengambil minyak urut lalu ia mulai mendekati Bagas.
"Gas, tidak apa-apa bukan kalau aku memijat tubuh mu ini?"tanya Dilara sambil menatap kearah punggung Bagas.
"Hay, kau bicara apa. Kau itu istriku bahkan kalau kita ingin membuat anak kita boleh saja,"ungkap Bagas membuat Dilara membayangkan yang tidak-tidak.
Bagas menoleh dan menatap wajah Dilara yang sedang memikirkan sesuatu hal yang aneh-aneh, Bagas langsung tertawa-tawa sontak membuat Dilara tersadar ia langsung membuang pandangannya.
"Jangan bicara seperti itu, Gas. Sebab aku tidak ingin karena aku menikah dengan mu karena terpaksa saja bukan aku mencintaimu,"ungkap Dilara membuat Bagas terdiam.
Benar juga, sebaiknya aku menjaga sikapku padanya dan aku akan bersikap sebagai seorang kakak saja bukan suaminya, batin Bagas.
"Baiklah, aku minta maaf. Sekarang ayo, pijat tubuhku ini apa kau sudah berubah pikiran?"tanya Bagas sambil membalikkan badannya.
"Baiklah, kau tidur saja sebab bagaimanapun caranya kita besok pergi sebab aku tidak mau mendengar omelan papa dan mama,"ungkap Dilara sambil memijat tubuh Bagas.
Bagas hanya mendengarkan ucapan Dilara saja yang bercerita panjang lebar membuat Bagas tertidur.
...
Dilan berada di rumah ia sedang asik bermain game lalu ia mendapatkan panggilan dari Ameena.
📱Dosen cantik.
"Halo,"ujar Dilan.
"Apa aku menganggu mu?"tanya Ameena dengan sangat lembut.
"Tidak, aku tidak sedang sibuk aku tidak ada kegiatan sama sekali."jawab Dilan dengan sangat lembut.
"Aku hanya ingin berteman dengan mu saja, apa boleh kita berteman sebab kau sangat lucu,"ungkap Ameena.
Dilan tertawa-tawa lalu ia menghembuskan nafasnya.
"Aku juga senang bisa berteman dengan mu, Ameena. Tidak apa-apa bukan kalau aku memanggil nama mu saja?"tanya Dilan sambil tersenyum-senyum.
"Tentu saja, bukankah kita tidak jauh berbeda umurnya."jelas Ameena sambil tersenyum-senyum.
"Apa kau ada acara malam ini?"tanya Dilan sebab ia ingin mengajak Ameena jalan-jalan berdua.
"Tidak ada, kenapa?"jawab Ameena dengan sangat lembut.
"Bisakah kita ..."terputus sebab pintu kamar Dilan terbuka.
Dilan melihat Junga masuk kedalam kamarnya, ia tersenyum dan mengambilnya.
__ADS_1
"Ada masalah?"tanya Ameena dengan sangat penasaran.
"Tidak ada, ini kucing adikku masuk kedalam kamar ku. Sebab ia pasti mencari adikku saat ini,"ungkap Dilan sambil memegang Junga.
"Kemana perginya adikmu?"tanya Ameena.
"Dia sudah menikah dan tinggal bersama suaminya,"jawab Dilan.
"Cepat sekali adikmu menikah?"tanya Ameena sambil memikirkan berapa umur adiknya Dilan kalau Dilan saja batu dua puluh tahun.
"Kami kembar, kemarin dia baru menikah sebab dia di jodohkan. Bahkan dia belajar si Kampus kita juga,"ungkap Dilan membuat Ameena tersenyum.
"Di umurnya yang masih muda dia sudah menikah, sedangkan aku sudah tua beluk juga menikah,"ungkap Ameena.
"Sabar, apa kita bisa bertemu malam ini di cafe?"tanya Dilan.
"Bisa, kirimkan saja alamatnya aku akan datang."ucap Ameena yang memutuskan sambungan teleponnya.
Dilan langsung mengirimkan alamat cafenya, lalu ia mengelus-elus bulu Junga.
"Kasihan sekali kamu, tunggu Dilara pulang dari berbulan madu aku akan mengantarmu ke apartemen miliknya,"ujar Dilan.
..
Setelah selesai Dilara memijat Bagas ia merasa lelah ia pun tertidur pulas di samping tubuh Bagas, Dilara tidak sadar kalau ia menendang tubuh Bagas sampai Bagas tersadar.
Bagas merasa jauh lebih baik dari sebelumnya ia bergegas bangun, ia berjalan menuju luar ia berjalan menuju balkon lalu ia duduk.
Ia memakai kaus lalu ia menatap wajah Alessandra dari ponselnya tak berselang lama, ia menghapus semua foto Alessandra yang ada didalam ponselnya.
"Maaf Ale, aku tidak bisa mengkhianati Dilara walaupun kami terpaksa menikah. Sebab aku tidak mau apa yang di rasakan oleh mama di rasakan juga oleh Dilara, walaupun aku sangat mencintaimu aku harus melupakan mu sampai aku terbebas dari pernikahan ini ..."ucap Bagas lirih.
Bagas mendengarkan musik kesukaannya sambil menutup kedua matanya, ia menikmati angin yang menembus kulitnya sampai ia merasa kedinginan.
Ia masuk kedalam lalu ia bergegas masuk kedalam kamarnya ia mengambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi, ia mulai mandi menggunakan air hangat sebab ia merasa sangat dingin tadinya setelah selesai ia bergegas memakai handuk.
Ia keluar dan mendengar suara Adzan berkumandang ia langsung memakai baju Koko dan sarung, setelah itu ia membangunkan Dilara agar mereka Sholat berjamaah.
"Ra, bangun cepat mandi Sholat."ucap Bagas dengan sangat lembut dan Dilara membuka matanya.
"Iya,"ucap Dilara yang bergegas masuk kedalam kamar mandi.
Bagas menyadari kalau Dilara tidak membawa handuk dan ia langsung menyiapkan, ia juga mengambil baju untuk Dilara agar Dilara bisa berganti baju didalam kamar mandi.
10 menit kemudian ...
"Gas! Aku tidak membawa handuk!"teriak Dilara.
__ADS_1
Bagas tersenyum ia langsung bergegas membawakan handuk dan baju untuk Dilara, ia memberikan handuk dan baju dari sebalik pintu dan Dilara langsung mengambilnya.
"Terimakasih, Gas."ucap Dilara.
Dilara melihat bukan hanya handuk saja ia juga melihat baju dan celana bahkan ada bikini juga.
"Ya ampun, aku benar-benar sangat malu kepada Bagas. Dia mengambilkan ini untukku, sebaiknya aku cepat kasihan dia menunggu ku terlalu lama ..."ucap Dilara.
Setelah selesai memakai baju ia langsung berwudhu dan ia keluar saat ia sudah keluar ia melihat, sajadah dan Mukenanya sudah di siapkan oleh Bagas ia langsung menghampiri Bagas dan tersenyum.
"Terimakasih, kau adalah suami terbaik,"ujar Dilara.
"Yang benar?"tanya Bagas sambil tersenyum menatap Dilara yang sedang memakai mukenah.
"Ya, mungkin saja ..."jawab Dilara asal.
"Em,"
Mereka mulai melaksanakan Sholat Ashar berjamaah dengan sangat lancar, setelah selesai seperti biasanya Bagas membacakan doa untuk Dilara.
Bagas, kau memang laki-laki idaman wanita tapi. Aku tidak mencintaimu dan wanita yang mencintaimu akan sangat beruntung, batin Dilara.
"Jangan memikirkan aku terus, kalau kau tidak mau jatuh cinta padaku."ucap Bagas membuat Dilara tersadar dari lamunannya.
"Tidak, aku tidak memikirkan tentang mu, jangan kepedean ..."ucap Dilara sambil membuang pandangannya.
"Jangan seperti itu, aku hanya bercanda saja,"ungkap Bagas sambil mengelus-elus rambut Dilara.
"Becanda mu itu, tidak lucu ..."ucap Dilara sambil cemberut.
.
.
.
...Bersambung....
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Like, Vote Favorit, komen.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
Salam manis untuk kalian semua.
.
__ADS_1