
Pada malam ini Alice menelfon Bagas agar menginap di rumahnya saja sebab besok adalah hari pertunangan Ameena dan Dilan.
Dan Bagas mengikuti ucapan mertuanya tersebut dan mereka sudah berangkat menuju rumah Kenan.
Alice sedang membuat jus yang di campur obat pera***sang untuk Kenan sebab Kenan sendiri yang memintanya, ia sudah selesai membuat jus tersebut dan sudah mencampur obat juga.
"Panggil papa dulu, agar dia segera minum jus ini. Entahlah dia suka sekali dengan permainan yang lama padahal sudah tua,"ucap Alice sambil berjalan menuju kamarnya.
Pada saat itu juga Dilara dan Bagas baru sampai dan mereka duduk di sofa, mata Bagas melirik kearah jus yang menggoda imannya ia langsung meminumnya sampai habis.
"Gas, kau tidak sopan meminum itu."ucap Dilara yang menatap Bagas menghabiskan jus tersebut.
"Hehehe, aku haus sekali."jawab Bagas sambil tertawa kecil.
Kenan sampai bersama dengan Alice dan Alice membuka mulutnya lebar-lebar, sebab jus untuk Kenan sudah habis tak bersisa mereka berdua duduk dan Alice memegang gelas kosong.
"Ma, mana jus untuk Papa?"tanya Kenan dan Alice hanya diam saja.
"Oh, maaf ya, Pa. Sebab Bagas yang meminumnya kalau begitu Dilara buatkan lagi."ucap Dilara yang bergegas pergi menuju dapur.
"Maaf, Pa. soalnya Bagas haus tadi,"ucap Bagas sambil tertawa kecil.
"Anu, ini, itu. Adu bagaimana menjelaskan semuanya ... "Alice tidak bisa menguruskan ucapannya sebab ia malu jika harus berkata juju kepada Bagas, sedangkan Kenan tertawa kecil dan di susuk oleh Bagas yang juga ikut tertawa.
Bagaimana aku menjelaskan, ah biarkan saja. kalau aku berkata juju malu sekali aku di hadapan anak-anakku. Batin Alice.
"Kok panas sekali, ya. Apa AC dirumah ini mati?"tanya Bagas sambil mengipas wajahnya menggunakan kedua tangannya.
"Itu, soalnya ada ..."belum sempat Alice menjelaskan semuanya kepada Bagas, Kenan langsung menjawabnya.
"Ada obat kuat didalamnya."sontak saja membuat Bagas langsung membuka mulutnya lebar-lebar.
"Apa!"teriak Bagas sontak membuat Dilara yang baru sampai terkejut.
"Ada apa?"tanya Dilara sambil memberikan jus untuk Kenan lalu ia duduk di samping Bagas.
"Tidak ada."jawab Bagas yang sudah bercucuran keringat.
"Sebaiknya kalian masuk kedalam kamar saja, dan jangan lupa untuk mengunci pintu."ucap Kenan yang di susul gelak tawanya bersama dengan Alice.
"Ada apa? Gas, katakan ada apa?"tanya Dilara dengan sangat penasaran sedangkan Bagas langsung bergegas pergi menuju kamar Dilara.
__ADS_1
"Ada apa, Ma?"tanya Dilara dengan sangat penasaran.
"Sebaiknya kalian masuk kedalam saja, pasti Bagas akan menjelaskan padamu."sahut Alice sambil tertawa kecil.
Ada apa sebenarnya, kenapa semuanya tertawa apa yang lucu. Apa Bagas membuat lelucon. Batin Dilara.
"Baiklah, Dilara masuk kedalam dulu."ucap Dilara yang bergegas pergi menuju kamarnya.
"Pa, obat itu berbahaya tidak untuk Bagas?"tanya Alice sambil menatap kepergian Dilara.
"Tidak, hanya saja mungkin mereka akan bangun telat besok pagi."jelas Kenan.
"Apa Papa tidak berfikir, bagaimana kita bersiap besok pagi kalau sampai Papa meminum jus itu, tadi?"ucap Alice dengan sangat lembut.
"Hehehe, maaf ..."ucap Kenan yang memeluk Alice dengan sangat mesranya.
...
Dilara masuk kedalam kamarnya dan ia melihat Bagas sedang duduk dengan keadaan yang sudah kacau, dan Dilara langsung menghampiri Bagas sebab ia cemas akan keadaan Bagas.
"Apa kau baik-baik saja?"tanya Dilara dengan sangat cemas.
"Maksudnya, kau meminum jus yang ada obat kuatnya yang untuk papa itu?"tanya Dilara dengan sangat tidak percaya akan apa yang di dengarnya.
"Tolong, bisakah kita melakukannya?"tanya Bagas yang memegang pundak Dilara dengan kedua tangannya, Dilara menatap bola mata Bagas yang sudah mulai memerah lalu ia menelan ludahnya dalam-dalam.
Setahuku kalau laki-laki minum obat kuat, mereka akan menyiksa wanita mereka. Bagas tidak meminumnya saja sudah akut apa lagi dia meminumnya, bisa habis aku ini masuk rumah sakit lagi. Batin Dilara.
"Kita baca doa terlebih dahulu."ucap Bagas dan ia langsung membaca doa bersama dengan Dilara.
"Gas."Bagas langsung menyambar bibir ranum milik Dilara dengan sangat bergairah, membuat Dilara kewalahan menghadapi gairah Bahas yang sangat memuncak.
Bagas melepaskan bajunya sambil terus menelusuri rongga-rongga mulut Dilara, lalu ia menggendong tubuh Dilara tanpa melepaskan ******* nya.
Setelah ia menidurkan tubuh Dilara ia naik keatas tubuh Dilara, ia melepaskan pakaian Dilara satu persatu lalu ia meninggalkan jejak kepemilikan di seluruh leher Dilara.
"Gas, jangan seperti itu. Bisakah pelan-pelan saja?"tanya Dilara sambil menahan bibir Bagas yang akan melahap bibirnya kembali.
"Maaf, ini bukan keinginan ku akan tetapi ini efek dari obat itu."jelas Bagas sambil melanjutkan kembali pekerjaannya.
Ia mulai menyatukan gagang miliknya kedalam gua milik Dilara, dan Dilara menutup matanya sebab ia takut akan sakit seperti sebelumnya.
__ADS_1
Akan tetapi kali ini ia tidak merasakan sakit akan tetapi ia merasakan hal yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan, ia mulai menikmati setiap sentuhan dari Bagas bahkan ia melingkarkan tangannya di leher Bagas.
"Apakah kau ini merasakan sesuatu?"tanya Bagas sambil melajukan perjalanannya didalam gua milik Dilara.
"Boleh."sahut Dilara dan Bagas langsung bangun lalu ia membangunkan Dilara juga, lalu ia menidurkan tubuhnya di kasur.
"Kenapa kau tidur?"tanya Dilara sambil menatap wajah Bagas.
Bagas tidak mengatakan apapun ia menarik tangan Dilara dan ia membawa Dilara kedalam pelukannya, lalu ia mulai menyatukan gagang miliknya kedalam gua milik Dilara kali ini Dilara hanya diam saja.
"Kau goyangkan pinggul mu, seperti ini."ucap Bagas yang menyontohkan bagaimana caranya.
Rasa ini, kenapa sangat nikmat membuat ku tidak bisa berfikir jernih. Batin Dilara.
Dilara mengikuti langkah Bagas ia mulai menggoyangkan pinggulnya ke kanan dan kiri dengan perlahan, ia merasakan hal yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan dan ia mulai mempercepat lajunya.
Bagas menutup kedua matanya sebab ia juga merasakan apa yang di rasakan oleh Dilara, saat Dilara mempercepat lajunya ia merasakan akan ada yang tumpah di bawa sana.
"Gas, aku mau pipis."ucap Dilara sambil terus menggoyang pinggulku dengan sangat laju.
"Tumpahkan, sayang."ucap Bagas yang melahap gunung kembar milik Dilara.
"Aaahhhkkk!"teriak Dilara sebab ia sudah sampai di puncak ia menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Bagas, dan Bagas merasakan adanya kedutan dari gua milik Dilara membuatnya tersenyum.
Bagas menyingkirkan rambut Dilara dari wajahnya."Kau sudah merasakannya, sekarang turun dan biarkan aku melajukan gagang ini."
Dilara turun dan Bagas mulai melajukan gagang tegak miliknya dengan sangat cepat membuat Dilara menjerit-jerit, mereka melakukan bercocok tanam bersama selama tiga jam lamanya membuat Dilara kelelahan.
.
.
.
...Bersambung....
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
Salam manis untuk kalian semua.
__ADS_1