
Bagas langsung menangkap kecoak yang berjalan di bawa bangku yang di naiki oleh Dilara. Bagas keluar untuk membuang kecoa tadi setelah Bagas pergi Dilara turun dan ia duduk di bibir ranjang sambil bernafas lega.
Bagas kembali kedalam kamar lalu ia duduk di samping Dilara sambil menahan tawanya, Dilara menyadari bahwa Bagas sedang menahan tawa ia langsung menatap tajam kearah Bagas.
"Ada apa?"
Ketawa Bagas pecah ia langsung tertawa kekeh sambil menatap wajah Dilara.
"Hentikan tawamu, atau .."Dilara mengangkat tangannya lalu di tahan oleh Bagas.
"Aku sudah berhenti, aku hanya lucu saja sebab mafia seperti mu takut pada kecoa. Aku hanya membayangkan kalau kau menyekap penjahat lalu dia memberikan mu kecoa lalu dia menang, "ucap Bastian sambil tertawa kecil.
"Sudah?"ucap Dilara dengan sangat dingin.
Bagas langsung terdiam.
"Bagaimana ini, kita besok akan pergi untuk berbulan madu dan aku benar-benar tidak menginginkannya,"ungkap Dilara sambil menidurkan tubuhnya di atas kasur.
"Ra, bukankah kita akan berlibur lalu untuk apa menolaknya kita tidak akan melakukan apapun. Jangan takut aku akan melakukannya kalau aku sudah mencintai mu."jelas Bagas sambil menidurkan tubuhnya di samping tubuh Dilara.
Dilara menepuk pipi Bagas dengan perlahan.
"Tidak, akan pernah terjadi, aku tidak akan mencintaimu sebab aku mencintainya,"ungkap Dilara.
Bagas terdiam lalu ia menutup matanya.
"Gas, aku bicara padamu kenapa kau tidur."ucap Dilara sambil menggoyangkan tubuh Bagas.
"Ra, kepalaku sakit sekali."keluh Bagas yang masih menutup matanya.
"Tunggu sebentar ya, aku akan mengambil minyak kayu putih dan aku akan memijat kepalamu."ucap Dilara yang bergegas bangun.
Bagas hanya diam saja. Dilara mengambil minyak kayu putih didalam tas kecil miliknya lalu ia mulai mendekati Bagas.
Dilara mulai memijat kepala Bagas dengan perlahan membuat Bagas sangat nyaman dan tertidur.
Sepertinya dia sangat lelah sebab semalam kami sangat sibuk, sampai tidak bisa duduk karena tamu undangan yang ramai sekali, batin Dilara.
...
Pada pagi ini Dilan mengendarai motor sport miliknya menuju Kampus sebab hari ini ia ada mata Kuliah, saat ia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi ia hampir saja mebarak wanita yang akan menyebrang jalan.
"Aaahhhkkk!"teriak wanita tersebut.
Dilan mengatur nafasnya lalu ia turun dari motornya dan menghampiri wanita tersebut, ia membantu wanita tersebut bangun lalu ia menatap wajah wanita tersebut.
__ADS_1
"Maaf, saya tidak sengaja. Apa Ibu baik-baik saja?"tanya Dilan dan Wanita tersebut menatap wajah Dilan.
"Saya baik-baik saja, maaf saya tadi tidak melihat saat mau menyebrang jalan,"ungkap wanita tersebut.
"Tidak apa-apa, mari saya antar saja. Ibu mau kemana?"tawar Dilan.
"Kampus, hari ini pertama saya mengajar disana."jawab wanita tersebut sambil merapikan penampilannya.
"Kita satu arah, sebab saya anak murid disana."ucap Dilan sambil tersenyum.
"Benarkah, kalau begitu saya mau. Ayo kita berangkat sekarang takut telat ..."ucap Wanita tersebut.
"Perkenalkan nama saya, Dilan."Dilan mengulurkan tangannya dan wanita tersebut menerima uluran tangan Dilan.
"Saya Ameena,"
"Salam kenal, Bu Ameena ..."ucap Dilan sambil berjalan menaiki motor sport miliknya, lalu Ameena ikut naik ke atas motor milik Dilan.
Dilan mulai melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju Kampus yang tidak jauh lagi, setelah sampai ia langsung menghentikan motornya di perkirakan Kampus.
Ameena turun dari motor Dilan lalu ia menatap wajah Dilan.
"Terimakasih, atas tumpangannya."ucap Ameena yang berlalu pergi.
Cantik sekali dosen baru itu, sepertinya umurnya masih mudah juga. Semoga saja dia mengakar di kelas kami, ah. Kenapa aku jadi berharap seperti ini, batin Dilan.
Wanita tersebut memeluk Dilan dengan sangat tidak malunya, Dilan langsung melepaskan pelukannya.
"Jaga sikapmu sebagai seorang wanita, jangan bersikap seperti wanita murah!"
Dilan berjalan meninggalkan wanita tersebut dan ia langsung berjalan menuju kelasnya, sesampainya ia didalam kelas hatinya bergetar hebat saat melihat Nona ada didepan matanya.
Sakit sekali hati ini, apa aku dan dia benar-benar tidak berjodoh sebab aku laki-laki jahat dan nakal. Aku sudah berubah bahkan aku juga tidak mau seperti dulu lagi untuk dia. Batin Dilan.
Nona membuang pandangannya kearah jendela sebab ia tahu kalau Dilan menatap dirinya.
Maaf Dilan, kita memang tidak berjodoh aku akan segera menikah dan melupakan mu. Semoga kamu juga segera mendapat pengganti ku, batin Nona.
Dosen mereka datang dan berdiri dihadapan mereka semuanya.
"Pagi, anak-anak."ucap Dosen mereka.
"Pagi, Pak."jawab mereka secara bersamaan.
"Saya akan memperkenalkan Dosen baru, dan dia adalah Adik saya. Ameena masuk,"ucap Dosen tersebut lalu Ameena masuk kedalam.
__ADS_1
Dilan membulatkan matanya sebab impiannya menjadi kenyataan.
Ternyata dia benar-benar akan menjadi Dosen disini, bahagia sekali aku sebab aku akan berkenalan dengannya, batin Dilan.
"Perkenalkan nama saya, Ameena. Saya akan menjadi Dosen baru kalian semoga kita bisa menjadi sahabat baik bukannya menjadi murid dan Dosen saja,"ungkap Ameena.
"Baik, Dosen Ameena!"teriak semua murid disana membuat Ameena tersenyum bahagia.
Mereka mulai pelajaran dengan sangat baik, selama pelajaran berlangsung meraka semua diam dan mengerjakan tugas mereka masing-masing.
Setelah selesai anak murid pulang semuanya lain halnya dengan Dilan, ia masih duduk di bangkunya sebab ia melihat Dosen baru itu masih memeriksa tugas-tugas anak muridnya.
Setelah kelas kosong Dilan langsung menghampiri Dosen baru tersebut.
"Di umur yang masih mudah, kenapa Ibu memilih menjadi Dosen?"tanya Dilan sontak membuat Ameena menoleh.
"Itu adalah cita-cita saya, kamu tahu dari mana umur saya masih mudah?"tanya Ameena sambil tersenyum kepada Dilan.
"Hanya menebak saja, apa umurmu masih dua puluh lima tahun?"tanya Dilan lagi-lagi tebakannya benar membuat Ameena tertawa kecil.
"Benar sekali, apa kau seorang indigo?"tanya Ameena sambil merapikan semua tugas anak muridnya.
"Tidak, hanya kebetulan saja. Bolehkah aku meminta nomor ponsel Ibu?"Dilan memberikan ponselnya, dan Ameena menerimanya dan langsung menuliskan nomor ponselnya.
Ameena berlalu pergi meninggalkan Dilan.
"Manis sekali, kami hanya selisih lima tahun saja dan aku belum menyukainya hanya saja aku ingin mengenalnya, "ucap Dilan yang berjalan berlahan menuju parkiran.
Saat ia hendak naik ke atas motor sport miliknya ia melirik kearah Kenta yang menghampirinya.
"Apa benar Dilara menikah?"tanya Kenta dengan sangat cepat tanpa basa-basi, sontak Dilan tersenyum.
.
.
.
Bersambung.
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Like, Vote, Favorit, komen.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
__ADS_1
salam manis untuk kalian semua.