
Kenan dan Alice duduk di sofa sambil meminum segelas teh hangat bersama dengan sangat mesra.
"Sayang, ayolah ikut bersama ku ke Kantor."bujuk Kenan kepada Alice.
"Mas, kita sudah tua lihat tu rambut kamu sudah banyak ubannya tau, malu sama anak-anak kita ... "ucap Alice yang tersenyum manis.
"Apa salahnya kita mesra dan romantis seperti dulu waktu kita baru menikah,"
"Kamu ya Mas, baiklah Alice ikut tapi, jangan macam-macam ya waktu disana." Alice mantap suaminya dengan tatapan tajam.
"Baiklah tapi, tidak janji bukankah tidak masalah bagi seorang suami menginginkan dimana pun bersama istrinya?"tanya Kenan yang mengedipkan sebelah matanya.
"Dasar mesum!" Alice berlalu pergi menuju kamarnya dan Kenan mengejarnya sampai kedalam kamar.
Tampa mereka sadari ternyata Dilan melihat dan mendengar percakapan antara mereka dari atas.
"Ternyata papa dan mama sangat romantis aku sangat bahagia, bisa melihat mereka selalu bersama dan tidak pernah aku melihat mereka bertengkar, " Dilan tersenyum dan ia bergegas turun ke bawa sesampainya ia di bawa ia duduk sambil memainkan ponselnya.
Ternyata tidak ada Dilara membuat hatiku sedih dan tidak bersemangat seperti saat ini, semoga saja dia cepat kembali aku sangat merindukanmu adik tapi sama usia, batin Dilan.
πΊπΊπΊ
Bastian dan Dilara berada didalam mobil meraka sama-sama diam dan tidak ada yang bersuara satupun, sehingga mereka sampai di rumah Azi Prananda. Mereka berdua turun dan Bastian mengambil koper milik Dilara dengan perlahan mendorong koper tersebut.
Aku ingin sekali membuka koper ini, mungkinkah ada batu didalam ini kenapa berat sekali, kalau bukan adikku sudah aku buang saja koper berat sekali, batin Bastian.
Setelah mereka masuk terlihat didalam Azi dan Riska sudah menunggu mereka, Dilara langsung berlari memeluk Kakeknya tersebut dan Bastian hanya diam dan melihat mereka saja.
"Cucu Kakek ini, kamu akan tinggal bersama dengan Kakek dan Oma disini. "ucap Azi yang melepaskan pelukannya dan ia menatap wajah Cucunya.
"Benar tapi, apa Kakek sudah tahu hukuman dari papa?"
Dilara menatap wajah Kakeknya yang tersenyum.
"Sudah mana mungkin menantu tersayang Kakek tidak bercerita. "
"Dilara ... "
Seorang wanita cantik memakai pakaian santai berlari menghampiri Dilara dan memeluk Dilara.
"Lepaskan Tante, kita selalu bertemu di kampus bukan? "
Alessandra melepaskan pelukannya dan ia tersenyum manis kepada Dilara.
"Maaf aku terbawa suasana sebab kau akan tinggal bersama dengan kami disini, kau tahu bukan aku tidak memiliki adik. Jadi aku kesepian disini ... "
Kata Alessandra sambil tersenyum menatap wajah Ayahnya.
"Ale, bawa Dilara masuk kedalam kamarnya," pinta Riska pada putrinya.
__ADS_1
"Baik, Ibu, ayo kita masuk kedalam kamar mu."
"Baik. Kak ayo bawakan koper Dilara." ucap Dilara yang berlalu pergi menuju atas.
Astaga, aku akan membawa koper batu ini ke atas, batin Bastian.
"Bastian kamu hanya diam saja, cepat bawa koper itu kita ada meeting penting bukan pagi ini?" ucap Azi yang menatap kearah Bastian.
Bastian tersenyum dan ia langsung berjalan dengan sekuat tenaganya membawa koper Dilara yang sangat berat, Bastian berlahan membawa koper tersebut sampai ia mengeluarkan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya.
Setelah sampai di atas Bastian bernafas lega sebab ia sudah sampai dan ia bergegas membawa koper tersebut masuk kedalam kamar Dilara, setelah sampai kamar ia langsung meletakkan koper tersebut di samping sofa lalu ia duduk di sofa.
"Kak Bastian, kenapa Kakak berkeringat?"ucap Dilara yang menatap wajah Kakaknya tersebut.
"Sebenarnya Kakak ingin jujur tapi, kamu jangan marah ya?"
"Katakan saja Kak Bastian pasti Dilara tidak akan marah bukan Dilara. " Alessandra menepuk pundak Dilara dengan perlahan.
"Sebenarnya kamu membawa apa didalam koper ini kenapa berat sekali ... "ucap Bastian dengan nafas ngos-ngosan dan ia menatap wajah Dilara.
Alessandra menatap wajah Dilara dan ia juga menatap kearah koper milik Dilara.
"Oh, didalam ada alat olahraga milik Dilara Kak ... " Kata Dilara sambil tersenyum manis sedangkan Bastian langsung lemas.
"Elo ya Ra, ada-ada aja kasian tu kakak elo, kan?" Alessandra menepuk pundak Dilara dengan perlahan.
"Kalau begitu Kakak pergi dulu ya, kamu jangan lupa siang ini ada jam kuliah bukan?" Bastian beranjak dari duduknya dan ia menatap wajah Adiknya tersebut.
"Baik Kak, terimakasih sudah mengantarkan Dilara, jangan lupa ya, nanti malam datang." pesan Dilara kepada Kakaknya.
"Nanti malam?"ucap Bastian dengan sangat bingung.
"Masa Kakak lupa, bukankah kita akan pergi ke ... "Dilara menghentikan ucapannya dan ia mengedipkan sebelah matanya.
"Katakan saja Kakak lupa."
"Cepat Ra, ada apa aku penasaran?"
"Em, sebenarnya setiap malam Minggu Dilara akan pergi ke Cafe untuk nyanyi maksudnya ngamen." ucap Dilara sontak saja Alessandra terkejut.
"Elo ngamen, yang benar aja, bukannya papa mama elo orang kayak terus buat apa lagi elo uang?"tanya Alessandra yang sangat penasaran.
"Bukan untuk uang Tante, tapi, Dilara hanya ingin membantu anak-anak yang kurang mampu itu saja."jelas Dilara.
"Baiklah nanti malam bersiaplah ..."ucap Bastian yang berlalu pergi.
Setelah kepergian Bastian, Alessandra menghampiri Dilara dan ia menatap wajah Dilara dengan sangat dalam.
"Elo, emang keponakan gue yang terbaik dan mulia. Kenapa elo enggak pinta uang aja sama kak Alice?"tanya Alessandra dengan sangat penasaran.
__ADS_1
"Benar sih tapi, aku juga mau menghasilkan uang sendiri tau. Aku sangat bangga pada diri aku sendiri Tan, "
"Ya udah, gue akan lihat elo deh entar malam ngomong-ngomong elo walaupun enggak memiliki sifat wanita tapi, elo memiliki jiwa wanita juga ya."
"Tante, aku juga wanita sebel deh,"
"Iya, enggak-enggak becanda doang."
πΊπΊπΊπΊ
Dilan sudah sangat rapi ia bersiap-siap untuk berangkat ke kampus dan ia berjalan menuju motor sport miliknya, ia segera menaikinya selama di perjalanan ia terus memperhatikan jalanan.
Setelah sampai ia langsung memarkirkan motornya dan ia membuka helem yang ia gunakan tadi, dan para wanita menatap wajahnya dengan sangat kagum dan terpesona.
"Dilan!" teriak seorang gadis cantik yang memakai dress berwarna merah seksi menghampiri nya.
"Maaf aku sudah terlambat."Dilan bergegas pergi meninggalkan wanita cantik tersebut, saat di jalan ia melihat wanita berjilbab dihadapannya dan ia menghentikan langkahnya.
"Siang Nona ... "sapa Dilan kepada wanita berhijab tersebut.
"Siang, maaf saya sudah ada kelas bukankah kamu juga sama?"tanya wanita berjilbab tersebut.
"Ha, iya benar sekali ayo kita sama-sama masuk kedalam kelas saja."ucap Dilan yang menatap wajah wanita berjilbab tersebut.
"Mari tapi, saya berjalan di belakang kamu saja sebab kita bukan mahram."ucap wanita berjilbab tersebut yang membuat Dilan bingung.
"Mahram?"
"Iya, itu artinya agama saya yang mengartikan kita tidak boleh bersentuhan dan tidak boleh berdekatan dan kita tidak boleh saling pandang."jelas wanita berjilbab tersebut.
"Hey, aku juga Islam ... "
"Oh maaf saya kira kamu non muslim, sebab kamu tidak pernah mengucapkan salam."
.
.
.
...Bersambung....
Hay teman-teman, jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya.
Like, Vote, Favorit komen.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
Salam manis untuk kalian semua.π
__ADS_1