
Dilara sedang memasukan uang senilai seratus juta kedalam tas milik Bagas lalu ia memberikannya kepada Bagas.
"Hati-hati ya, suamiku ... Apa aku tidak boleh ikut?"tanya Dilara sambil mencium tangan Bagas.
"Jangan, Ra. sebaiknya kamu tidur saja bukankah kepala mu sakit?"ucap Bagas dengan sangat lembut.
"Baiklah,"jawab Dilara.
"Aku pergi dulu, jaga diri baik-baik. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Bagas bergegas pergi menuju motornya di parkiran ia duduk di atas Motornya lalu ia memikirkan kalau Kenan tidak akan menerima keputusan.
"Semoga saja papa bisa mengerti, apa yang akan aku lakukan ini untuk kebaikan ku dan juga Dilara ... "ucap Bagas yang mulai melajukan motornya menuju Kantor Kenan.
Sebab Kantor Kenan tidak jauh dari Kantor Azi yang memudahkannya untuk segera bekerja, selama di perjalanan ia terus menerus memikirkan tentang dirinya, Ia berfikir bagaimana jika Kenan akan marah kepadanya sebab keputusannya saat ini.
Aku akan menjelaskan semuanya kepada papa, aku akan berkata jujur sebab aku sangat menyayangi papa. Batin Bagas.
Setelah Bagas sampai ia langsung turun dan menemui Resepsionis.
"Permisi, Mbak. Saya menantu Pak Kenan ingin menemui beliau,"ujar Bagas.
"Silahkan masuk saja, karena keluarga Pak Kenan selalu di perbolehkan masuk."jelas Resepsionis tersebut.
"Terimakasih, Mbak."ucap Bagas yang bergegas pergi menuju ruangan Kenan.
Setelah sampai ia langsung mengetuk-ngetuk pintu ruangan Kenan.
Tok, tok.
"Masuk."ucap Kenan dari dalam.
Bagas masuk kedalam dan ia duduk di hadapan Kenan.
"Apa ada maslah?"tanya Kenan yang mulai menatap wajah cemas Bagas.
"Em ... "Bagas tidak bisa melanjutkan ucapannya sebab ia merasa sangat takut dnegan apa yang akan ia sampaikan.
"Katakan saja, jangan takut."ucap Kenan dengan sangat lembut.
Bagas membuka tas miliknya lalu ia mengeluarkan uang senilai seratus juta, dan ia langsung memberikannya kepada Kenan membuat Kenan menaikan sebelah alisnya.
__ADS_1
"Maaf, Pa. Bagas tidak bisa menerima bantuan dari Papa lagi sebab Papa sudah sangat banyak membantu Bagas. Bagas tidak mau di remehkan oleh banyak orang sebab selalu menerima bantuan dari Papa, dari itulah Bagas akan berusaha sendiri agar Bagas tidak di remehkan oleh orang,"ungkap Bagas membuat Kenan tersenyum.
"Kamu tahu, dulu Papa tidak seperti saat ini. Dulu Papa hanya seorang OB saja sampai Papa bisa seperti saat ini karena hasil kerja keras Papa sendiri, Papa akan menerima keputusan kamu akan tetapi jika ada masalah jangan sungkan untuk meminta bantuan."jelas Kenan membuat Bagas langsung tersenyum.
"Terimakasih, Papa selalu memahami tentang Bagas. Bagas menyayangi Papa."ucap Bagas dengan sangat gembira.
"Gas, temui Bastian di rumah nenekmu. Dia sangat terpukul dengan apa yang terjadi sebab Dilara adalah menantunya saat ini,"ungkap Kenan yang mengingat kejadian Seminggu yang lalu.
Flashback on.
Pada malam hari ini Bastian menghampiri Kenan untuk meminta bantuan agar diri bisa membuat Bagas mengerti, kini ia dan Kenan berada di balkon hanya berdua saja mereka duduk saling berhadapan.
"Papa sudah tahu semuanya dari Bagas, dan Papa akan berusaha agar kalian bisa mengerti semuanya. Dari dulu Papa sudah mengatakan bahwa kamu harus berusaha mencari anak dan istri mu, akan tetapi kamu selalu membantah ucapan Papa."jelas Kenan.
"Pa, kali ini Bastian akan berubah dan benar-benar berubah untuk anak-anak Bastian. Papa tolong bantu Bastian sebab Bastian sangat hancur, mengetahui kalau Dilara sekarang menjadi menantu Bastian."ucap Bastian sambil meneteskan air matanya.
"Papa akan berusaha, sebab kita adalah besan ... "ucap Kenan yang menahan tawanya sebab ia merasa sangat lucu.
Ia dan anak sambungnya menjadi besan itu membuatnya merasa sangat lucu, ia berusaha agar ketawanya tidak pecah sebab ia takut melukai hati Bastian.
"Besan?"
"Iya, bukankah anak-anak kita sudah menikah lalu kita menjadi besan bukan?"ucap Kenan yang di susul gelak tawanya sebab ia sudah tidak bisa menahannya lagi.
Kenan tertawa membuat Bagas menaikkan sebelah alisnya sebab ia merasa tidak ada yang lucu.
"Pa, Bagas pamit dulu sebab Bagas sudah terlambat masuk kerja."jelas Bagas.
"Kamu bekerja dimana?"tanya Kenan yang sama sekali tidak tahu dimana Bagas bekerja.
"Perusahaan om Azi,"ungkap Bagas membuat Kenan terkejut.
"Apa! Kenapa Azi tidak pernah mengatakan apapun."
"Sebab Bagas hanyalah orang OB saja, dan om Azi sama sekali tidak mengetahui apa-apa tentang Bagas yang bekerja di perusahaan miliknya,"ungkap Bagas.
"Baiklah, Papa mengerti."ucap Kenan dan Bagas langsung bergegas pergi dari perusahaan Kenan.
Ia mengendarai motor Matic miliknya menuju Kantor Azi setelah sampai ia langsung bergegas berganti baju, lalu ia mengerjakan tugas-tugasnya dengan sangat baik sebagai OB.
...
Alessandra dan Riska sedang duduk santai sambil memakan sarapan mereka masing-masing, dan mereka di kejutkan oleh kedatangan Azi dan Kisya bersama dengan seorang anak laki-laki.
__ADS_1
"Doni."ucap Alessandra sambil menghampiri Ayahnya.
"Kalian semua duduk di sini."pinta Azi dan semuanya menuruti keinginan Azi semuanya duduk di sofa.
Apa Tante ini adalah selingkuhan Ayah, dan Doni itu anaknya Ayah dan selingkuhannya, batin Alessandra.
"Agam, cium tangan Ibumu."ucap Azi membuat Riska langsung menatap wajah anak laki-laki yang di hadapannya.
"Baik, Ayah."ucap Agam sambil mencium tangan Riska.
"A-a ... Agam ..."ucap Riska terbata-bata sambil meneteskan air matanya lalu ia memeluk Agam dengan sangat lembut.
Ternyata Doni adalah Abang ku, batin Alessandra.
"Agam, Ibu tahu kamu selama ini masih hidup!"teriak Riska sambil memeluk Agam dengan sangat erat. Agam hanya diam saja didalam pelukan Ibunya sebab ia bingung mau bicara apa.
"Agam! Hiks ... Hiks, hiks."Riska pingsan didalam pelukan Agam membuat semuanya panik.
"Ibu!"teriak Alessandra dan Agam bersamaan.
"Riska."Azi langsung menggendong tubuh Riska masuk kedalam kamar Agam dan Alessandra mengikuti langkah Ayahnya, sedangkan Kisya masa bodoh akan apa yang ia lihat barusan.
Azi meletakan tubuh Riska perlahan di tempat tidur lalu ia mengoleskan minyak kayu putih akan tetapi, Riska tak kunjung sadar membuat Azi sedikit cemas akan keadaan istrinya.
"Ayah, sebaiknya kita biarkan saja Ibu istirahat. Karen Ibu begitu syok akan apa yang dia lihat tadi."ucap Alessandra sambil menatap wajah Agam.
Pantas saja aku selalu melihat wajah Doni seperti tidak asing, ternya dia mirip dengan Ayah, batin Alessandra.
Pantas saja aku selalu ingin melindungi Alessandra, ternyata dia adalah adikku. Batin Agam.
"Ale, Agam. Kalian jaga Ibu ya, Ayah mau pergi dulu sebab ada urusan di Kantor yang sangat penting,"ujar Azi.
.
.
.
...Bersambung....
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
__ADS_1
Salam manis untuk kalian semua.